NovelToon NovelToon
Aku Dan Anakku Bisa Hidup Tanpamu

Aku Dan Anakku Bisa Hidup Tanpamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Penyesalan Suami
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Ketika suaminya berselingkuh hingga menghamili wanita lain, tak ada lagi kata maaf yang tersisa di hati Nadia.

Dengan tekad yang bulat, ia mengajukan gugatan cerai. Tanpa menoleh ke belakang, Nadia memilih meninggalkan rumah megah yang selama ini menjadi tempat tinggalnya, beserta segala kemewahan yang pernah ia nikmati.

Baginya, harga diri dan ketenangan batin jauh lebih berharga daripada hidup bergelimang harta bersama seorang suami yang telah mengkhianati kepercayaan dan cinta yang selama ini ia jaga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1

Malam itu hujan turun sejak magrib, membasahi jalanan hingga mengkilapkan aspal seperti cermin. Nadia menggenggam erat tangan kecil Kian yang berjalan di sampingnya sambil membawa kantong berisi bubur ayam kesukaan ibu mertuanya. Sudah dua hari Reno tidak pulang. Pesan yang dikirim suaminya selalu sama, singkat dan terdengar meyakinkan, "Ibu sedang sakit. Aku menginap di rumah beliau dulu."

Nadia tidak pernah curiga. Selama tujuh tahun menikah, ia percaya pada laki-laki yang menjadi ayah dari anaknya itu. Bahkan ketika Reno hanya mengirim kabar lewat pesan singkat dan menolak dihubungi dengan alasan sedang menjaga ibunya, Nadia tetap berpikir suaminya sedang kelelahan. Karena itulah, malam ini ia memutuskan datang tanpa memberi tahu siapa pun. Ia ingin memberi kejutan. Mungkin ibu mertuanya akan senang melihat cucunya datang. Mungkin Reno juga akan tersenyum karena istrinya begitu perhatian.

Rumah itu tampak jauh lebih ramai daripada yang Nadia bayangkan. Halaman dipenuhi beberapa mobil yang dikenalnya sebagai milik kakak ipar dan adik iparnya. Lampu ruang tamu menyala terang, suara tawa terdengar sampai ke teras, bahkan aroma makanan memenuhi udara. Nadia mengernyit. Bukankah Reno bilang ibunya sedang sakit? Mengapa rumah ini justru seperti sedang mengadakan syukuran? Ia mengangkat tangan hendak mengetuk pintu, tetapi suara seseorang dari dalam membuat langkahnya terhenti.

"Pelan-pelan, Karin. Kamu kan lagi hamil." Suara Reno.

Bibir Nadia perlahan membeku. Dadanya mendadak sesak. Ia mengenal suara itu lebih dari siapa pun. Namun ada kelembutan yang selama ini tidak pernah lagi ia dengar ketika Reno berbicara kepadanya. Pintu yang tidak tertutup rapat terbuka lebih lebar saat Kian tanpa sengaja mendorongnya. Semua orang menoleh. Dan dalam satu detik, dunia Nadia seperti runtuh.

Reno berdiri di tengah ruang tamu sambil merangkul pinggang seorang perempuan muda berwajah cantik. Gaun longgar yang dikenakan perempuan itu tidak mampu menyembunyikan perutnya yang sudah membuncit. Tangan Reno bahkan masih bertumpu di perut itu dengan gerakan begitu hati-hati, seolah bayi di dalam kandungannya adalah harta paling berharga di dunia. Kantong bubur yang dibawa Nadia terlepas dari genggamannya. Isinya tumpah ke lantai.

"N-Nadia..." Reno terkejut. Wajahnya pucat sesaat, tetapi keterkejutan itu hanya berlangsung sekejap sebelum berganti menjadi tatapan datar.

Kian mendongak polos ke arah ayahnya. "Ayah... kenapa peluk tante itu?"

Tidak ada yang menjawab. Ruangan yang semula riuh berubah sunyi. Bahkan suara hujan di luar terdengar jauh lebih keras daripada napas orang-orang di dalam rumah.

Tatapan Nadia berpindah dari wajah Reno ke tangan yang masih melingkari pinggang perempuan itu. Lalu ke perut yang membuncit. Berkali-kali ia mencoba menolak kenyataan yang terpampang di depan matanya, tetapi semua terasa begitu nyata hingga membuat lututnya gemetar. "Siapa dia?" suaranya lirih, hampir tak terdengar.

Reno mengembuskan napas panjang. Bukannya melepaskan pelukannya, ia justru menggenggam tangan perempuan itu semakin erat. "Namanya Karin." Hanya itu. Tidak ada penjelasan. Tidak ada rasa bersalah. Seolah Nadia hanyalah tamu yang kebetulan datang di waktu yang tidak tepat.

Perempuan bernama Karin itu menatap Nadia dengan ragu. "Mbak Nad,"

Belum sempat kalimat itu selesai, Reno memotongnya. "Aku memang mau bilang ke kamu, Nad. Sekalian sekarang saja."

Jantung Nadia berdetak begitu keras hingga telinganya berdenging.

"Karin hamil." Empat huruf itu terasa seperti palu yang menghantam kepalanya berkali-kali.

Nadia memandang Reno dengan mata yang mulai dipenuhi air mata. "Lalu...?"

Reno mengusap tengkuknya tanpa sedikit pun terlihat panik. "Anak itu darah dagingku."

Kalimat itu menghancurkan sisa harapan Nadia. Ia menunggu. Menunggu Reno mengatakan semua ini adalah kesalahan yang ingin diperbaiki. Menunggu suaminya meminta maaf. Menunggu penyesalan. Namun yang keluar justru sesuatu yang tidak pernah terbayangkan olehnya.

"Aku ingin kamu menerima Karin. Dia akan tinggal di rumah ini. Aku mau bertanggung jawab sama kalian berdua."

Dunia Nadia benar-benar berhenti berputar. "Apa?"

"Aku ingin adil. Kamu tetap istriku. Karin juga akan jadi istriku."

Tamparan itu bahkan terasa lebih menyakitkan daripada perselingkuhan itu sendiri. Nadia tertawa pelan. Tawanya terdengar asing, getir, dan nyaris seperti tangisan. "Jadi... selama dua hari ini kamu bilang menjaga ibu yang sakit..." suaranya bergetar. "Ternyata kamu sedang mengurus perempuan yang hamil anakmu?"

Reno tidak membantah.

Yang membuat Nadia semakin hancur justru suara ibu mertuanya yang terdengar dari sofa. "Nadia, jangan membesarkan masalah. Laki-laki memang kadang khilaf. Yang penting Reno mau bertanggung jawab."

Nadia menoleh perlahan. Perempuan yang selama ini ia rawat ketika sakit, yang ia hormati seperti ibunya sendiri, kini duduk dengan wajah tenang, seolah tidak ada yang salah.

"Karin sedang mengandung cucu kami," sambung ibu mertuanya. "Kasihan kalau anak itu lahir tanpa ayah."

Darah Nadia berdesir dingin. "Lalu bagaimana dengan anak saya?" tanyanya lirih.

Tidak ada yang menjawab. Yang terdengar justru kakak iparnya berkata pelan, "Kamu perempuan yang sabar, Nad. Mengalah sedikit demi keutuhan keluarga."

Mengalah. Kata itu membuat dada Nadia sesak. Selama bertahun-tahun ia mengalah. Mengalah saat Reno pulang larut. Mengalah ketika uang belanja semakin sedikit. Mengalah saat suaminya lebih mementingkan keluarganya daripada istri dan anaknya. Dan hari ini, mereka masih meminta dirinya mengalah agar suaminya bisa hidup bahagia dengan perempuan lain.

Kian yang sejak tadi diam tiba-tiba memeluk kaki Nadia. "Bu... kita pulang saja."

Suara polos anaknya menyadarkan Nadia sepenuhnya. Ia menghapus air mata yang akhirnya jatuh tanpa izin, lalu menatap Reno untuk terakhir kalinya malam itu. "Aku akan pulang," katanya pelan, tetapi setiap katanya terdengar tegas. "Tapi bukan untuk memberimu kesempatan."

Reno mengernyit.

Nadia menggenggam tangan Kian erat-erat. "Aku pulang untuk mengemasi sisa harga diriku. Setelah itu... kamu tidak akan pernah melihatku memohon agar tetap menjadi istrimu."

Reno mengembuskan napas panjang, lalu menatap Nadia tanpa sedikit pun rasa bersalah. Tangannya masih menggenggam jemari Karin yang berdiri di sampingnya. "Kamu jangan sembarang bicara, Nadia," ucapnya datar. "Maumu apa sekarang? Toh semuanya sudah terjadi."

Nadia menatap laki-laki yang selama ini menjadi sandaran hidupnya. Rasanya asing. Wajah yang dulu membuatnya merasa aman kini hanya menyisakan luka. "Apa yang baru saja kamu katakan?" tanyanya lirih. "Kamu ingin aku menerima perempuan yang mengandung anak hasil perselingkuhanmu?"

"Iya." Reno menjawab tanpa ragu. "Aku nggak mungkin ninggalin Karin. Dia hamil anakku. Aku harus bertanggung jawab."

"Dan tanggung jawabmu sebagai suami? Sebagai ayah Kian?"

"Itu tetap jalan. Aku bisa adil."

Nadia tertawa pelan. Tawanya hambar, dipenuhi rasa kecewa yang tak lagi mampu disembunyikan. "Adil?" Tubuh Nadia gemetar menahan emosi. "Menurutmu membawa perempuan lain ke hadapan istrimu lalu memintanya berbagi suami itu namanya adil?"

1
falea sezi
knp jd bertele tele thor😒 kayak ikan terbang🤣
falea sezi
kenapa Fachri jd goblokk🤣🤣 niat bantuin. g sih
Iffanaya 😽
kk aku ikutan mewek...pls Thor bikin kian balik ke ibunya trs bongkar kebusukan karin Thor gk tega liat kian tertekan 😭😭
Muji Lestari
lanjutt thorrr
falea sezi
lanjut
falea sezi
makanya jd istri jangan bego wkt jd istri nabung yg banyak kuras harta sembunyikan klo suami selingkuh qm cerai g susah 😒
Iffanaya 😽
ditunggu lanjutannya kk 🫶
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!