NovelToon NovelToon
The Last Crown

The Last Crown

Status: tamat
Genre:Fantasi / Drama / Tamat
Popularitas:652
Nilai: 5
Nama Author: Inkbound

The Last Crown adalah buku pertama dari The Hollow Thorne Trilogy. Bercerita tentang perjalanan Pangeran Kal Valdyr, pewaris takhta Izengard yang kehilangan segalanya setelah istana jatuh dalam pengkhianatan berdarah. Dari seorang pangeran yang dibesarkan untuk memerintah, Kal berubah menjadi buronan yang hanya membawa satu hal, nama keluarganya yang hampir musnah.

Dengan petunjuk terakhir dari ayahnya, Kal mencari Marlow Renad, Nightingale terakhir yang pernah bergerak di balik bayangan mahkota. Bersamanya, Kal mulai menempuh jalan gelap untuk merebut kembali apa yang dirampas darinya.

📢 Visualisasi karakter atau hal penting lainnya dapat dilihat pada postingan di profil saya, Visualisasi itu saya buat dengan bantuan AI berdasarkan gambaran saya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inkbound, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tiga Puluh Tujuh Keping Perak

Kirren adalah salah satu pelabuhan yang berdiri di tepi Blue Lake, tetapi kemiripannya dengan Evergreen berakhir pada air yang sama-sama menyentuh dermaga mereka. Evergreen masih terasa seperti desa nelayan yang tumbuh terlalu dekat dengan danau, rumah-rumah kayu, jalan sempit, kapal kecil, dan orang-orang yang saling mengenal. Kirren jauh lebih besar. Penduduknya cukup banyak untuk membuatnya disebut kota, dan dari kapal aku dapat melihat alasan sebutan itu bahkan sebelum kaki kami menginjak daratan.

Bangunan-bangunannya memenuhi garis pantai dalam lapisan yang terus meninggi ke arah bukit. Gudang batu berdiri di belakang dermaga, sebagian setinggi tiga lantai, dengan katrol besar menggantung dari balok-balok yang menjorok di atas pintu. Menara pengawas mengapit mulut pelabuhan. Kapal barang, perahu nelayan, dan beberapa kapal penumpang berdesakan di antara tiang-tiang tambat, membuat permukaan air dipenuhi bayangan layar dan tali.

Udara sore membawa bau yang lebih pekat daripada Evergreen. Ikan, minyak, garam, kulit basah, asap batu bara, rempah-rempah, dan kotoran kuda dari jalan pelabuhan menyatu sampai aku tidak dapat memisahkan satu aroma dari yang lain. Suara manusia datang dari segala arah. Pedagang berteriak menawarkan jasa angkut. Para pekerja memanggil nomor peti. Rantai logam berderak ketika muatan diangkat dari lambung kapal. Burung-burung danau berputar di atas kepala sambil memekik, menunggu seseorang menjatuhkan ikan.

Perjalanan dari Evergreen memakan waktu hampir satu hari penuh. Matahari sudah turun di sisi barat ketika The Greymere memasuki pelabuhan, meninggalkan cahaya berwarna tembaga di atas Blue Lake. Setelah kapal merapat, para awak segera bekerja menurunkan layar dan mengikat lambung pada tiang dermaga. Papan penghubung diletakkan, tetapi Marlow menyuruhku menunggu sampai sebagian besar pekerja memindahkan muatan pertama.

Aku tetap berada di dekat tumpukan peti, memasukkan barang-barang ke dalam tas.

Barang yang kami miliki tidak banyak, tetapi hampir semuanya harus disimpan dengan cara tertentu agar tidak rusak atau menghambat gerak. Botol minyak kamelia kubungkus dengan kain sebelum diletakkan di dasar tas. Belati dimasukkan ke sarung kecil dan diselipkan pada sisi yang mudah dijangkau. Kain tebal yang kami gunakan untuk tidur kugulung serapat mungkin, lalu kuikat dengan tali rami.

Mantel Rosh terlipat di sampingku.

Aku telah menawarkannya kepada Ishar untuk kubawa sejak kami masih berada di tengah danau. Awalnya ia langsung menolak. Ia menarik mantel itu lebih dekat ke tubuh, seolah permintaanku merupakan usaha mengambil benda terakhir yang masih menghubungkannya dengan kakeknya.

Aku tidak memaksanya saat itu. Baru ketika kami mulai melihat bangunan-bangunan Kirren, aku kembali mengatakan bahwa ia tidak membawa tas apa pun ketika meninggalkan Arlenville. Ia terus memegang mantel selama perjalanan, bahkan ketika membantu awak memasak atau bergerak di atas geladak. Di kota sebesar Kirren, kedua tangannya harus bebas. Membawa kain tebal di lengan hanya akan menyulitkan bila kami perlu berjalan cepat atau menyelinap di antara kerumunan.

Ishar masih tidak menyukainya, tetapi akhirnya menyerahkan mantel itu kepadaku.

Ia mengawasi ketika aku melipatnya. Matanya mengikuti setiap gerakan tanganku, memastikan tidak ada bagian kain yang terseret di lantai atau tertindih barang lain. Aku menaruhnya di bagian paling atas tas, jauh dari botol minyak, bilah, dan semua benda yang dapat merusaknya.

Saat itu Ishar tidak berada di dekatku. Aku tidak tahu ke mana ia pergi. Mungkin berdiri bersama Marlow di sisi lain kapal, mengamati dermaga sebelum kami turun. Mungkin berbicara dengan salah seorang awak yang menemaninya menyiapkan makan siang. Selama perjalanan, ia lebih mudah berbicara kepada orang asing daripada kepadaku, meskipun sesekali masih menanyakan hal kecil yang membuatku cukup bodoh untuk merasa senang sepanjang satu jam berikutnya.

Aku mengencangkan tali tas, lalu memeriksa kembali isinya. Minyak kamelia. Kain wol. Belati. Kain tidur. Tali. Mantel Rosh. Sebuah kantong kecil berisi sisa makanan. Tidak ada benda yang benar-benar bernilai kecuali satu keping perak yang masih kusimpan di dalam kantung pakaian.

Koin Nightingale.

Aku menyentuhnya melalui kain tanpa mengeluarkan. Sejak Dad memberikannya di istana, aku memeriksa benda itu lebih sering daripada yang ingin kuakui. Kadang hanya untuk memastikan aku belum kehilangan satu-satunya benda yang secara langsung berpindah dari tangannya ke tanganku pada malam terakhir kami bertemu.

Suara langkah mendekat di belakang.

Aku mengira Marlow datang untuk menyuruhku bergerak lebih cepat, tetapi ketika menoleh, ia tidak sendirian. Kapten The Greymere berjalan di sampingnya. Pria itu sudah melepas mantel laut tebal yang dipakainya pagi tadi. Kemejanya terbuka sedikit pada bagian leher, memperlihatkan kulit yang memerah karena matahari dan angin.

Mereka berhenti tepat di hadapanku.

Aku tetap berjongkok di samping tas dan mendongakkan kepala untuk melihat wajah kedua pria itu.

“Ada apa?”

Marlow membuka telapak tangan kanannya.

“Koinmu.”

Aku tidak langsung bergerak.

Telapak tangannya tetap terbuka di antara kami. Tidak ada penjelasan. Tidak ada permintaan maaf atau usaha membuat kata-katanya terdengar lebih lembut. Hanya satu kata, seolah ia meminta tali atau pisau.

Aku melihat wajahnya, lalu kapten. Pria itu menunggu dengan kedua tangan di pinggang dan pandangan tertuju kepadaku, bukan pada Marlow.

“Untuk apa?”

“Berikan kepadaku.”

Nada Marlow tidak meninggi. Justru ketenangannya membuat kecurigaan tumbuh lebih cepat.

Aku berdiri perlahan. Tali tas masih berada dalam genggamanku. Untuk beberapa detik aku mempertimbangkan menolak, tetapi Marlow tidak akan meminta koin itu tanpa alasan. Ia bahkan jarang mengakui keberadaannya sejak kami meninggalkan Gisa.

Tanganku masuk ke kantung.

Ujung jariku menyentuh logam dingin. Aku menggenggamnya sebelum menarik keluar, menahan benda itu di dalam kepalan sesaat lebih lama daripada seharusnya.

Kemudian kuserahkan kepada Marlow.

Koin perak itu tampak kecil di atas telapak tangannya. Ukiran burung dengan sayap terbuka menangkap cahaya senja, sementara bagian tepinya yang halus menunjukkan bahwa benda itu tidak pernah dipakai sebagai uang biasa. Marlow menutup jemari, membalik tubuh sedikit, lalu memperlihatkannya kepada kapten kapal.

“Kau bisa melihatnya sendiri,” katanya. “Perak murni. Dibuat pada masa pemerintahan Raja Agraf, ayah Raja Jerrod.”

Kapten mengambil koin itu.

Jemarinya yang kasar menyentuh ukiran burung. Ia membalik benda tersebut, memeriksa bagian belakang, lalu mengangkatnya mendekati cahaya. Kukunya menggesek tepian perak, seolah mencari sambungan atau lapisan yang dapat membuktikan bahwa benda itu palsu.

“Aku tahu siapa Raja Agraf,” katanya.

Ada sedikit kejengkelan dalam suaranya. Ia tidak menyukai cara Marlow berbicara seolah seorang kapten kapal dari Kirren tidak mengenal nama raja yang pernah memerintah seluruh Asterra.

Aku memandang koin di tangannya.

“Hei, apa yang kau lakukan?”

Tidak seorang pun menjawab.

Kapten menimbang koin itu di telapak, menggoyangkannya sedikit, lalu menatap Marlow.

“Tiga puluh.”

“Lima puluh.”

Kapten tertawa pendek tanpa kegembiraan. “Tiga puluh lima.”

“Empat puluh.”

Keduanya saling memandang beberapa saat. Suara pelabuhan terus bergerak di sekitar kami, tetapi semua bunyi lain terasa menjauh. Aku baru memahami apa yang sedang mereka lakukan ketika kapten mengangguk.

“Baiklah.”

Ia memasukkan koin Dad ke dalam kantung mantelnya.

Tubuhku menegang.

Kapten mengeluarkan kantong kulit lain dari pinggang. Koin-koin di dalamnya beradu ketika ia membuka tali. Ia menghitung keping perak satu per satu ke telapak Marlow, membentuk tumpukan kecil yang jauh lebih banyak daripada uang terakhir yang kami gunakan untuk membayar Lakeview Inn.

Aku berdiri tanpa mampu bergerak.

“Kau menjual koin itu kepadanya?”

Marlow tidak menatapku. Ia menghitung ulang uang yang diterimanya, memastikan kapten tidak mengurangi jumlah yang disepakati.

Kapten berhenti setelah menghitung seluruhnya, lalu mengambil kembali tiga keping dari tangan Marlow.

“Aku ambil tiga sebagai biaya perjalanan.”

Marlow tidak memprotes.

Pria itu mengikat kantong uangnya kembali, kemudian memasukkan koin Nightingale lebih dalam ke balik mantelnya. Benda yang diberikan Dad kepadaku kini menghilang di antara barang-barang milik seorang asing.

“Senang berbisnis denganmu.”

Kapten menepuk bahu Marlow sekali, lalu berbalik dan berjalan menuju bagian depan kapal.

Aku mengikuti gerakannya dengan mata. Setiap langkah membawanya semakin dekat ke papan penghubung dan semakin jauh dariku. Aku melihat ujung kantungnya bergerak pada pinggang, tempat koin Dad kini disimpan bersama uang, kunci, atau benda apa pun yang dibawa seorang pedagang.

“Apa yang kau lakukan?”

Suaraku keluar lebih keras daripada yang kurencanakan.

Marlow memasukkan keping-keping perak ke dalam kantung kosong di tasnya. Gerakannya tetap tenang. Ia memisahkan beberapa koin kecil, lalu mengikat tali kantung dengan simpul ganda.

“Kita membutuhkan uang.”

“Itu bukan uang.”

Marlow akhirnya memandangku. “Itu perak.”

“Itu pemberian Dad.”

“Aku tahu.”

Jawabannya membuat dadaku semakin panas.

Aku menoleh ke arah kapten. Ia sudah berbicara dengan seorang awak di ujung geladak. Bila aku mengejarnya sekarang, aku masih dapat merebut koin itu kembali. Aku dapat mengembalikan keping-keping perak, atau memaksanya menyerahkan benda tersebut sebelum meninggalkan kapal.

Marlow berpindah sedikit, menutup jalurku tanpa terlihat sengaja.

“Kita tidak memiliki cukup uang untuk membeli makanan, tempat tidur, ataupun persediaan menuju barat,” katanya. “Koin itu dapat digunakan. Karena itu aku menggunakannya.”

“Kau tidak berhak menjualnya.”

“Dan kau tidak membawa apa pun selain benda yang tidak bisa kita makan.”

Tanganku mengepal.

Marlow mengangkat tas dan memasangnya pada bahu.

“Perjalanan ini tidak akan memakan waktu selama ini kalau kita tetap melewati Mitenn Highroad.”

Ia tidak mengucapkannya dengan marah.

Tidak perlu.

Makna perkataannya jatuh di antara kami dengan cukup jelas. Blue Lake, Evergreen, kapal barang, kebutuhan membeli kamar, makanan yang menipis, dan uang yang habis. Semuanya terjadi karena aku menarik pedang di jalan suci. Seandainya aku menahan diri, kami mungkin sudah jauh lebih dekat ke Dark Mountain. Marlow tidak perlu menjual benda terakhir yang diberikan Dad. Kami tidak perlu bersembunyi di ruang muatan atau menyuap kapten-kapten kapal.

Aku tahu ia benar.

Namun kebenaran itu tidak memadamkan amarah. Ia justru menambahkan rasa malu ke dalamnya, membuat panas di dadaku semakin sulit ditahan.

Koin itu bukan sekadar perak.

Dad menekannya ke telapak tanganku saat darah membasahi pakaiannya. Ia menyuruhku mencari Marlow dan pergi. Benda itu menjadi bukti bahwa malam terakhir kami benar-benar terjadi, bahwa tangannya pernah menggenggam tanganku, bahwa perintah terakhirnya bukan mimpi yang kubentuk agar pelarianku terasa lebih terhormat.

Sekarang benda itu berada pada orang asing yang menilainya dari berat perak dan usia pembuatannya.

“Kau…”

Kata-kata tidak selesai. Tenggorokanku terlalu sempit, rahang terlalu tegang.

Marlow tetap berdiri di hadapanku.

Ia pasti melihat apa yang akan kulakukan. Beberapa kali ia sudah memperingatkan agar aku tidak membiarkan amarah bergerak lebih cepat daripada pikiran. Di Mitenn Highroad. Di luar Arlenville. Di penginapan Evergreen.

Namun egoku lebih sulit dijinakkan daripada banteng liar.

Aku menerjang.

Tinju kananku bergerak menuju wajahnya. Aku tidak memikirkan posisi kaki, luka pada rusuk, atau kenyataan bahwa Marlow telah melatih tubuhnya selama puluhan tahun untuk menghadapi serangan yang jauh lebih cepat daripada milikku.

Ia hanya menggeser tubuh.

Tinju melewati pipinya dan menghantam udara. Berat badanku terbawa ke depan. Sebelum sempat menarik lengan kembali, tangan Marlow menyentuh bahuku untuk mengubah arah tubuh, lalu lututnya naik tepat ke perutku.

Benturannya tidak terdengar keras.

Namun seluruh udara di paru-paruku terpaksa keluar.

Tubuhku terlipat. Mulut terbuka, tetapi tidak ada napas yang masuk. Rasa sakit menyebar dari perut menuju rusuk, tajam dan dalam. Kakiku kehilangan kekuatan. Aku jatuh pada satu lutut, kemudian kedua tangan menghantam papan geladak agar wajah tidak menyusul.

Dunia di sekelilingku menjadi suara yang jauh.

Aku mencoba menarik napas. Dada bergerak, tetapi paru-paru seolah lupa bagaimana mengisi diri. Air liur jatuh dari bibir ke papan. Perutku mengeras di bawah kedua lengan, menolak disentuh sekaligus memaksaku memeganginya.

Marlow berdiri beberapa langkah di depan.

Ia tidak mengepalkan tangan. Tidak memasang sikap bertarung. Lutut yang baru menghantamku sudah kembali diturunkan, dan wajahnya tetap sama seperti sebelum aku menyerang.

Aku akhirnya berhasil menarik sedikit udara. Napas pertama masuk kasar dan pendek, membuat tenggorokan berbunyi.

“Bangsat…”

Kata itu keluar sebagai desis.

“Berdiri,” kata Marlow.

Aku mengangkat wajah.

Ia tidak menawarkan tangan.

Tidak ada rasa kasihan dalam tatapannya, tetapi juga tidak ada kesenangan. Ia tidak memukulku untuk menghukum atau mempermalukan. Ia hanya menghentikan serangan, sama mudahnya seperti menyingkirkan cabang dari jalan.

Rasa malu membakar lebih keras daripada lututnya.

Aku mencoba bangkit. Otot perut langsung menegang dan membuat tubuh kembali turun. Telapak tanganku menekan papan yang kasar. Aku dapat merasakan serpihan kecil menancap pada kulit, tetapi rasa sakit itu hampir tidak berarti dibandingkan denyutan di dalam perut.

Beberapa awak kapal mulai menoleh. Salah seorang berhenti mengangkat tali. Yang lain berbisik kepada temannya. Aku membenci mereka karena melihatku seperti itu, pangeran Izengard terjatuh di dek kapal barang setelah gagal memukul satu orang.

Aku membenci Marlow lebih keras karena membuatnya terlihat mudah.

Namun yang paling kubenci adalah diriku sendiri.

Aku kembali kehilangan kendali. Bukan karena tentara mengancam keluarga, bukan karena Ishar berada dalam bahaya, bukan karena Dann berdiri di hadapanku. Hanya karena sebuah benda diambil tanpa izinku dan harga diriku tidak mampu menerima bahwa Marlow memilih kebutuhan perjalanan daripada perasaanku.

Aku mengangkat satu kaki, mencoba berdiri lagi.

Saat itulah suara langkah cepat datang dari sisi kapal.

“Apa yang terjadi di sini?”

Aku mengenali suara Ishar sebelum melihatnya.

Ia berdiri beberapa langkah dari kami, mantel Rosh tidak lagi berada di tangannya. Gaun birunya bergerak diterpa angin pelabuhan. Wajahnya berubah ketika melihatku berlutut di atas geladak sambil memegangi perut, sedangkan Marlow berdiri tegak di hadapanku dengan sekantong koin perak tersimpan di tangannya.

1
Annabelle
Oke lah
Annabelle
Numpang mampir
Nomnom Yumyum
ceritanya seru, serasa baca novel translate an luar. ditunggu eps selanjutnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!