Bagi Davina, Barra adalah cinta pertama masa kecil yang tiba-tiba menghilang. Sepuluh tahun berlalu tanpa kabar, Barra kembali ke desa, bukan lagi sebagai pemuda hangat yang ia kenal, melainkan pria asing yang dingin. Tanpa basa-basi, Barra menyodorkan penawaran gila: pernikahan kontrak.
Demi membiayai pengobatan neneknya, Davina terpaksa setuju. Namun, berharap bahagia, hidupnya berubah menjadi mimpi buruk. Setelah menikah, Barra bersikap sangat kejam, hingga puncaknya pria itu pergi keluar negeri dan mengabaikannya selama dua tahun.
Saat masa kontrak hampir habis, Barra mendadak pulang. Anehnya, sikap pria itu berbalik 180 derajat menjadi sosok yang lembut, hangat, dan penuh perhatian, persis seperti Barra yang dulu ia cintai.
Perubahan drastis membuat Davina didera kecurigaan. Mengapa di saat kontrak akan berakhir, Barra justru ingin mempertahankannya? Rahasia besar apa yang sebenarnya disembunyikan Barra selama sepuluh tahun ini? Apa motif dibalik pernikahan kontrak mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HAK PENGUASA PEMILIK MANSION
Suasana di dalam mobil sedan hitam mewah itu terasa begitu membeku sepanjang perjalanan kembali ke Mansion milik Barra. Davina memilih memalingkan wajahnya menatap jalanan kota yang temaram, sementara Barra fokus pada kemudi dengan rahang yang mengeras kokoh. Pergelangan tangan Davina masih terasa hangat, bekas cengkeraman tegas namun lembut dari Barra di restoran tadi. Kalimat ancaman tentang "kewajiban istri" terus berputar di kepala Davina, menciptakan spekulasi mengerikan yang membuat dadanya sesak penuh kepanikan.
Begitu mobil berhenti di depan Mansion, Barra turun lebih dulu tanpa bersuara. Davina mengikuti dari belakang dengan langkah yang diseret. Begitu pintu utama Mansion mewah itu tertutup dengan dentuman pelan, Davina langsung membalikkan badannya, menantang punggung tegap suaminya.
"Apa maksudmu dengan kewajiban istri, Barra?" tanya Davina langsung, menyuarakan ketakutan yang sejak tadi ia bendung. Suaranya sedikit bergetar. "Di dalam kontrak kita jelas tertulis tidak ada kontak fisik. Kamu tidak bisa memaksaku untuk... untuk melakukan hal yang melanggar kesepakatan!"
Barra menghentikan langkahnya di depan tangga. Ia berbalik perlahan, melepas jam tangan mewahnya lalu memasukkannya ke dalam saku celana. Tatapan mata elangnya menatap Davina lekat-lekat, menyusuri pasmina marun yang membingkai wajah pucat istrinya. Seulas senyum tipis, hampir tak terlihat, terukir di bibirnya.
"Kamu berpikir terlalu jauh, Davina," ucap Barra, suaranya bariton, rendah, dan sangat tenang. "Aku tidak sepicik itu untuk memaksakan hak biologis kepada wanita yang hatinya belum sepenuhnya untukku."
Davina mengembuskan napas lega yang sangat kentara, bahunya yang tegang perlahan merileks. "Lalu apa?"
Barra melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga aroma parfum maskulin yang khas kembali mengintimidasi indra penciuman Davina. "Kewajiban yang kumaksud adalah hal-hal domestik yang seharusnya dilakukan oleh seorang istri sah. Mulai malam ini, kamu harus pindah dari kamar ujung koridor itu ke kamar utamaku."
"Apa?!" Davina membelalakkan matanya sempurna. "Satu kamar denganmu? Tidak mau!"
"Ini bukan penawaran, Nyonya Alfarizi," potong Barra dengan nada absolut yang tak terbantahkan. "Dua tahun ini kamu sudah hidup bebas di rumah ini tanpa perlu mengurusku. Di sisa waktu dua bulan ini, aku ingin kamu menyiapkan keperluan kerjaku setiap pagi, memasak untukku, dan menemaniku di setiap acara formal perusahaan tanpa ada alasan menghindar lagi. Aku ingin kamu mengurusku sebagai suamimu."
Davina mengepalkan tangannya di sisi tubuh. "Kamu sengaja melakukan ini untuk menyiksaku, kan? Kamu tahu aku ingin cepat-cepat pergi!"
Barra menunduk sedikit, menatap tepat ke dalam manik mata Davina dengan jarak yang begitu dekat. "Aku melakukan ini agar kamu sadar, bahwa selama dua bulan ke depan, ruang gerakmu untuk melupakanku sudah tertutup. Sekarang, bawa barang-barang yang sudah kamu kemas di kardus itu ke kamarku. Atau aku yang akan memindahkannya sendiri?"
Melihat kilatan tegas di mata Barra, Davina tahu berdebat pada pria ini adalah hal yang sia-sia. Dengan hati yang dongkol dan penuh kejengkelan, Davina terpaksa melangkah ke kamarnya, mengambil kardus pakaian yang baru setengah ia cicil untuk dikemas, lalu memindahkannya ke kamar utama Barra yang terletak di tengah koridor lantai dua.
Kamar utama Barra sangat luas, didominasi warna abu-abu gelap dan putih yang memberikan kesan maskulin sekaligus dingin. Sebuah ranjang berukuran king size berdiri angkuh di tengah ruangan. Davina meletakkan kardusnya di pojok ruangan dengan kasar, lalu menatap ranjang tersebut dengan pandangan waswas.
"Kamu tidur di sebelah kiri, aku di sebelah kanan. Dan ini batasnya," kata Barra seolah bisa membaca pikiran Davina. Pria itu melempar sebuah guling besar tepat di tengah-tengah ranjang, memisahkan dua sisi tempat tidur.
Davina tidak membalas. Ia segera merebahkan tubuhnya di sisi kiri, memunggungi Barra dan menarik selimut hingga sebatas dada. Sepanjang malam, Davina sama sekali tidak bisa memejamkan mata. Pendengarannya mendadak menjadi sangat sensitif, ia bisa mendengar deru napas teratur Barra di sampingnya, mendengarkan setiap pergerakan kecil pria itu. Kedekatan fisik ini terasa seperti siksaan emosional yang luar biasa, memaksa jantung Davina berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya.
Keesokan paginya, alarm alami di tubuh Davina membuatnya terbangun tepat saat azan Subuh berkumandang. Setelah menyelesaikan salat dan bersiap-siap dengan pakaian kerjanya, Davina teringat akan perintah Barra semalam. Dengan perasaan enggan, ia melangkah menuju lemari besar milik Barra untuk menyiapkan pakaian kerja suaminya.
Ia memilih sebuah kemeja sewarna biru dongker, dipadukan dengan jas hitam dan celana kain senada. Saat Davina sedang menata pakaian itu di atas kasur, pintu kamar mandi terbuka. Barra keluar dengan rambut basah yang acak-acakan dan handuk yang mengalung di lehernya. Pria itu tampak segar dan tampan, membuat Davina buru-buru mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Pakaianmu sudah siap," ujar Davina ketus, bersiap untuk melangkah pergi dari kamar.
"Tunggu, Davina," panggil Barra. Pria itu dengan cepat memakai kemejanya, namun membiarkan bagian kerahnya berantakan. Ia mengambil sebuah dasi sutra berwarna abu-abu gelap dari laci, lalu menyodorkannya pada Davina. "Pasangkan."
Davina mengernyitkan dahi. "Pasang sendiri, Barra. Kamu punya dua tangan yang sehat."
"Ini salah satu kewajiban yang kubilang semalam. Jangan membantah," sahut Barra pelan namun tegas.
Davina mengembuskan napas berat. Ia melangkah mendekati Barra, mengambil dasi tersebut dengan sisa-sisa kesabaran yang menipis. Karena perbedaan tinggi badan mereka yang cukup signifikan, Davina terpaksa mendongak, sementara Barra sedikit menundukkan kepalanya.
Jarak mereka kini terkikis berjarak tak lebih dari beberapa sentimeter. Davina mulai melingkarkan dasi itu di kerah kemeja Barra. Tangannya yang memegang kain sutra itu mendadak gemetar hebat. Ia bisa merasakan embusan napas hangat Barra yang menerpa keningnya, serta aroma sabun mandi maskulin yang begitu pekat merasuki inderanya. Davina berusaha keras memfokuskan matanya hanya pada simpul dasi, menolak untuk menatap wajah Barra yang kini sedang memperhatikannya dengan intens.
Suasana di dalam kamar itu mendadak menjadi sangat hening dan intim, hanya menyisakan suara gesekan kain dan detak jantung Davina yang bertalu-talu bagai genderang perang. Davina merasa dadanya begitu sesak, ia ingin menyelesaikannya secepat mungkin agar bisa menjauh dari magnet penguasa di depannya ini.
Tepat saat Davina selesai merapikan simpul dasi dan hendak menarik tangannya kembali, Barra tiba-tiba bergerak. Kedua tangan kekar pria itu naik, mencengkeram lembut kedua sisi pinggang Davina, menahan wanita itu agar tetap berada di posisi semula.
Davina tersentak, matanya membelalak menatap dada bidang Barra. "Barra, lepas... aku sudah selesai."
Barra tidak melepaskannya. Pria itu justru menunduk lebih dalam, hingga bibirnya berada tepat di samping telinga Davina yang terbalut hijab. Binar mata elangnya mengunci manik mata Davina yang bergerak gelisah penuh kepanikan.
"Bagaimana kamu bisa pergi ke pengadilan agama untuk meminta cerai dua bulan lagi, Davina..." bisik Barra dengan suara bariton yang sangat rendah, bergetar penuh sensasi yang membuat bulu kuduk Davina meremang. "...kalau memasangkan dasi suamimu saja tanganmu masih gemetar sehebat ini?"