Di tengah pusaran takdir yang gelap, Kai terjebak di antara kutukan membara dan bisikan mistis Sang Naga Merah. Namun, bahaya terbesar justru datang dari keanggunan empat wanita penuh misteri di sekelilingnya:
Yuki, dengan topeng kitsune penutup niat aslinya.
Rei, si rambut perak penyimpan rahasia terdalam.
Hana, yang menyimpan kelembutan sedingin es.
Mai, dengan tatapan penjerat jiwa yang mematikan.
Ketika cinta, darah, dan ambisi berjalin menjadi satu, setiap senyuman manis bisa menjadi jebakan yang mematikan. Siapakah di antara mereka yang akan menjadi penyelamat Kai, dan siapa yang justru menjadi duri yang menghancurkannya?
"Satu bisikan naga, satu pemuda, dan empat takdir wanita. Siapa yang akan bertahan saat rahasia terungkap?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayang Pembuktian di Tengah Ketakutan
Udara malam di Benteng Timur terasa kian mencengkeram. Meski kobaran api pemberontakan telah dipadamkan dan sisa pengikut Draka telah dijebloskan ke dalam sel tahanan bawah tanah, ketegangan baru justru menjalar halus di antara dinding-dinding batu kediaman utama. Kehadiran Mai yang kembali bernapas membawa atmosfer yang ganjil, sebuah keajaiban yang dipeluk hangat oleh kasih Hana, namun ditatap dingin dengan penuh kecurigaan oleh Kai dan para petinggi benteng.
Di dalam kamar pengasingan bersudut kecil di sayap utara benteng, Mai duduk melipat lutut di atas pembaringan tipis. Pintu kayu beruji besi di depannya dijaga ketat oleh dua prajurit kepercayaan Komandan Boma yang tak pernah mengalihkan pandangan mereka. Setiap kali derak langkah kaki terdengar di lorong, dada Mai berdesir hebat oleh rasa bersalah yang teramat sangat.
Langkah kaki tegap yang amat dihafalnya mendekat. Pintu lorong terbuka, memunculkan figurnya yang tegap berbalut jubah hitam. Kai melangkah masuk sendirian, tanpa membawa pedang yang terhunus, namun aura keberadaannya sudah cukup membuat udara di ruangan kecil itu terasa menyempit.
Kai berhenti tepat di luar jeruji kayu, bersedekap sembari menatap Mai dengan pandangan sekeras karang perbatasan. "Kau belum tidur," ujar Kai datar, tanpa ada hangat sedikit pun dalam intonasinya.
Mai mendongak pelan, mengusap telapak tangannya yang dingin di atas kain gaun lusuhnya. "Bagaimana aku bisa tidur, Kai... ketika setiap kali memejamkan mata, aku melihat bayangan kejahatan yang pernah kuperbuat pada kalian berdua?"
"Baguslah jika kau masih mengingatnya," balas Kai dingin, suaranya pelan namun menusuk tajam. "Karena aku tidak akan pernah melupakannya. Hana mungkin cukup suci untuk melupakan pengkhianatanmu demi sebuah kesempatan kedua, tapi tugas pertamaku di tempat ini adalah memastikan Hana tidak terluka untuk kesekian kalinya."
Mai perlahan berlutut di atas lantai batu yang dingin, menundukkan kepalanya hingga menyentuh kayu pembaringan. "Aku tidak meminta kepercayaanmu, Kai. Aku tahu, apa pun yang kuucapkan sekarang hanya akan terdengar seperti racun di telingamu. Tapi demi darah Hana yang telah membebaskan jiwaku dari kegelapan... aku rela menyerahkan nyawaku jika itu bisa membuktikan bahwa aku tak lagi memiliki niat jahat."
Kai menyipitkan matanya, mengamati gurat gemetar di bahu Mai. Ada bagian dari dirinya yang merasakan ketulusan dari penyesalan gadis itu, namun bayang-bayang masa lalu ketika Mai membocorkan rahasia Kuil Lembah Bintang kepada Rei masih tercetak terlalu jelas dalam ingatan perangnya.
"Nyawamu tidak ada harganya jika Hana harus kembali meneteskan air mata," tukas Kai rendah. Ia memutar badannya separuh, membelakangi Mai. "Esok pagi, setelah lukamu sepenuhnya pulih oleh racun herbal, Boma akan membawamu ke pemukiman luar di batas utara. Kau tidak akan tinggal di dalam benteng ini."
"Kai, tunggu!"
Suara lembut Hana membelah ketegangan lorong. Hana melangkah cepat menghampiri mereka dengan balutan kain kasa yang masih melingkari lengan atasnya. Wajahnya menunjukkan keberatan yang amat sangat atas keputusan Kai.
"Kau tidak bisa mengasingkannya ke luar benteng saat sisa-sisa sihir hitam di Lembah Bintang belum sepenuhnya stabil, Kai," tegas Hana, berdiri tepat di samping Kai seraya menatap lurus sepasang mata pemuda itu. "Di luar sana, para tetua klan masih memandangnya sebagai musuh. Mengirimnya ke sana sama saja membawanya menuju kematian."
Kai menoleh menatap Hana, gurat kekerasan di wajahnya perlahan melunak oleh kehangatan pandangan sang gadis suci, namun keputusannya belum teroyahkan. "Itu adalah tempat paling aman untuk benteng ini, Hana. Aku tidak bisa mengambil risiko membiarkan seseorang yang pernah menjual rahasia kita berkeliaran di dekat kediamanmu."
Hana menggenggam jemari Kai yang terkepal di samping tubuhnya, menyalurkan kehangatan murni yang selalu sanggup meredam gejolak amarah darah naga. "Jika kau tidak bisa mempercayai Mai, maka percayalah padaku, Kai. Darah murni yang mengalir di dalam tubuhnya kini adalah bagian dari doaku. Jika dia berniat jahat, jiwaku yang akan pertama kali merasakannya."
Kai terdiam panjang. Tatapan matanya bertautan dengan mata bening Hana yang dipenuhi keteguhan dan ketulusan murni. Di belakang jeruji, Mai menahan napasnya, menunggu takdir yang akan ditentukan oleh dua jiwa yang kini memegang kendali atas seluruh tanah perbatasan tersebut.
🛡️ ── 🗡️ ── 🛡️ ── 🗡️ ── 🛡️
Kai menarik napas panjang, mengembuskannya perlahan sembari menatap dalam-dalam ke dalam manik mata bening Hana. Dalam keheningan lorong batu yang temaram oleh pendaran lampu minyak, ia bisa merasakan kesungguhan yang tak tergoyahkan dari Gadis Suci di hadapannya. Namun, tatkala pandangan Kai kembali bergulir ke arah Mai yang merintih di balik jeruji kayu, sebuah memori kelam mendadak menerjang benaknya, sebuah rekaman masa lalu yang terpatri begitu dalam dan menjadi alasan utama mengapa hatinya sekeras batu.
Flashback
Malam itu, beberapa tahun sebelum kehancuran Kuil Lembah Bintang, hujan deras mengguyur benteng tua dengan gemuruh angin yang mencekam. Di sebuah ruangan rahasia di bawah tanah yang hanya diterangi oleh pendaran lilin kebiruan, Mai berdiri berhadapan dengan Rei. Wajah Mai kala itu tak menunjukkan setitik pun rasa iba atau keraguan; matanya menyala oleh ambisi dingin dan kehausan akan kekuasaan.
"Kai mulai mencurigai pergerakan prajurit di perbatasan utara, Rei," bisik Mai kala itu dengan nada suara yang penuh kelicikan, menyerahkan gulungan peta pertahanan benteng yang ia curi dari meja kerja Kai. "Dia percaya penuh padaku. Dia pikir aku membantunya menjaga Hana, padahal setiap langkahnya selalu berada dalam genggamanku."
Rei menyeringai licik, menerima gulungan peta itu sembari mengusap permukaan bilah racun di tangannya. "Bagus sekali, Mai. Dengan peta jalur rahasia ini, kita bisa menjebak Kai di celah tebing es besok malam. Tanpa pendaran darah naganya, Hana tidak akan memiliki pelindung dan kuil akan jatuh ke tangan kita tanpa perlawanan."
"Pastikan kau tidak memberi Kai kesempatan untuk menarik pedangnya, Rei," balas Mai tanpa rasa bersalah sedikit pun, bibirnya melengkungkan senyum tipis yang penuh racun. "Biarkan dia mati di dalam kegelapan tebing itu, membayangkan bahwa aku adalah sahabat paling setia yang pernah ia miliki."
Kenangan pahit akan bayang-bayang kejahatan itu berkelebat begitu nyata, membuat rahang Kai kembali mengeras dan jemarinya meremas hulu pedang hingga memutih. Bayangan senyuman licik Mai di masa lalu adalah luka lama yang tak pernah benar-benar sembuh dari ingatan sang pelindung benteng.
Mai, yang seolah bisa membaca bayangan kelam di dalam mata Kai, menundukkan kepalanya semakin dalam hingga dahinya menyentuh dinginnya lantai batu. Isak tangisnya pecah tanpa bisa ditahan lagi.
"Aku ingat semuanya, Kai..." tutur Mai dengan suara parau yang sarat akan kehancuran jiwa. "Aku ingat betapa kejamnya aku waktu itu... betapa racun ambisi telah membutakan mataku hingga tega merencanakan kematianmu di celah tebing utara. Setiap detik dari ingatan itu kini menjadi siksaan yang membakar batinku sendiri."
Hana mengelus lembut lengan Kai, menyadarkan pemuda itu dari pusaran ingatan masa lalu. "Kai, masa lalu itu memang kelam dan tak bisa diubah. Tapi jiwa yang berlutut di depanmu sekarang bukan lagi Mai yang dikuasai ambisi dingin. Sihir hitam telah terbakar habis, dan yang tersisa hanyalah jiwa yang menangisi kesalahannya."
Kai memejamkan mata sejenak, menetralkan gertakan aura darah naga yang sempat bergejolak di dalam dadanya. Ketika ia kembali membuka mata, dingin di wajahnya tak sepenuhnya sirna, namun gurat kemurkaan telah berganti menjadi kepatuhan atas rasa cintanya pada Hana.
"Dia tidak akan dikirim ke batas utara malam ini," ujar Kai akhirnya dengan nada suara rendah dan tegas. "Tapi dia akan tetap berada di bawah pengawasan ketat Boma di sayap barat benteng. Sampai aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bahwa jiwa barunya benar-benar murni, dia tak boleh melangkah satu tapak pun mendekati aula utama."
Mai mendongak dengan air mata yang membasahi pipinya, mengangguk pasrah dan penuh rasa terima kasih atas kepatuhan yang diberikan. "Terima kasih, Kai... Terima kasih karena masih memberiku kesempatan untuk bernapas dan menebus dosa-dosaku di tanah ini."
Kai tidak menjawab lagi. Ia merangkul bahu Hana dengan lembut, membimbing sang Gadis Suci melangkah pergi meninggalkan lorong temaram itu, membawa serta ketegangan masa lalu yang kini perlahan mulai diuji oleh ketulusan sebuah kesempatan kedua.