"Kakak gak boleh sama perempuan lain, karena aku yang akan menjadi pengantin wanita untuk kakak," kalimat itu selalu terngiang di benak Arsen.
"Aku mencintai dia yang sejak kecil selalu menolong dan rela berkorban untuk ku dan ternyata itu bukan kamu yang selama ini ku cintai ..."
"Apakah aku mencintai orang yang salah?
Pada siapa kah sesungguhnya hati ini pantas berlabuh?"
"Pada dia ataukah dirimu ?"
"Apakah cinta bisa datang karena terbiasa ataukah karena terpaksa ??"
Semua pertanyaan itu kini berkecimpung di benak Rezfatih Arsenal Harfi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Nu Yayan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gugurkan Kandungan Mu ....
"Raline … kamu teh ngapain malam- malam masih nonton televisi?” Anita menghampiri Raline di ruang tengah.
“Eh, Bunda kok belum tidur?” tanya Raline terkejut.
“Eh, bunda nanya kok malah balik nanya?”
“Em … aku lagi nungguin kak Arsen, Bunda.” jawab Raline.
“Dia masih belum pulang? Gak biasanya dia pulan larut …Apa kamu sudah menelponnya?” Anita kembali bertanya.
“Sudah berkali- kali, tapi gak diangkat. Dan sekarang malah gak aktif.”
“Dasar anak itu!!” Anita menghela nafas panjang . “Raline … ini sudah setengah sebelas malam, sebaiknya kamu tidur saja. Kalau dia pulang jangan dibukakan pintu, biarkan saja tidur di luar.”
“Tapi Bunda ….”
“Raline, mata kamu teh udah sayu gitu … kasihan bayi mu kalau kamu kurang istirahat, nanti bisa sakit.” Anita justru mengkhawatirkan Raline.
“Tapi … aku belum bisa tidur sebelum melihat kak Arsen,” ucapnya tersipu malu.
Anita tersenyum melihat hal itu. “Yasudah atuh, ayok bunda temani sampai kamu tidur.” Anita lalu duduk di sofa.
“Bu bukan gitu Bunda … em … kemarin malam juga aku susah tidur, dan bisa tidur hanya saat di dekat kak Arsen… Aku juga gak tahu kenapa tiba- tiba jadi seperti ini,” ucapnya merasa heran sekaligus malu mengakui hal itu pada mertuanya.
“Oh biasa itu mah, bawaan bayi ….”
“Maksudnya?” Raline nampaknya belum paham.
“Ternyata bayi mu ingin dekat- dekat dengan bapak nya ya. hehehe … oh iya, apa kamu sudah telpon ke hotel?” tanya Anita lagi.
“Astagfirullah … kenapa aku gak kepikir kesana ya, Bunda,” ucapnya lalu mencari nomor telpon hotel milik Opa nya tersebut di kontak ponselnya. Ia pun dengan segera menghubungi hotel tempat suaminya bekerja.
Belum juga tersambung, sudah terdengar suara mobil berhenti. Kemudian kembali terdengar suara dorongan pintu gerbang.
“Nah, itu Arsen ….” ucap Anita yang sudah hafal suara mobil Arsen.
Raline pun membatalkan panggilannya. Ia berdiri dan hendak melangkah untuk menyambut kedatangan suaminya.
“Raline, biar bunda saja yang membukakan pintu. Kamu di sini saja.” cegah Anita.
“Tapi Bunda aku____”
“Pamali kalau lagi hamil gak boleh keluar rumah malam- malam.”
Raline pun kembali duduk di sofa, walau sebenarnya ia ingin sekali menyambut kedatangan suaminya layaknya seorang istri pada umumnya.
“Pamali? Apalagi itu … sepertinya aku memang harus belajar bahasa sunda. Keluarga Bunda orang Sunda semua,” gumamnya berdialog sendiri.
Sementara Bunda menyambut kedatangan Arsen dengan raut wajah kesal. Ia membukakan pintu utama yang dikunci dari dalam.
“Jam berapa ini?” Anita langsung menodongkan pertanyaan pada Arsen yang baru dilihatnya di depan pintu yang baru saja ia buka.
“Hampir jam sebelas ….” Arsen menjawab dengan malas. Ia pun masuk.
“Kenapa kamu teh baru pulang?” Anita kembali bertanya.
“Di hotel lagi sibuk, Bunda.” Arsen melanjutkan langkahnya menuju kamar dan Anita mengekorinya.
“Biasanya kamu teh gak pernah pulang semalam ini. Katanya teh gak suka lembur- lembur, capek. Kasihan tuh istri kamu dari tadi gelisah nungguin kamu.”
“Aku gak minta dia untuk menunggu ku.”
“Astagfirullah … kamu teh harus ingat, kalau sekarang sudah punya istri dan sebentar lagi jadi seorang ayah. Kamu teh sudah punya tanggung jawab besar. Jangan seenaknya seperti ini.” cerocos Anita.
“Aku habis kerja, Bunda. Bukan keluyuran gak jelas …. Lagi pula kalian kan tahu aku kerja dimana, hal seperti ini saja dipermasalahkan.”
“Terus kenapa telpon dari istrimu gak diangkat- angkat? Kamu tahu betapa khawatirnya dia? Dan sampai sekarang dia teh gak bisa tidur.”
“Sudahlah Bunda, jangan mengajak ku berdebat … aku benar- benar capek.” Arsen meninggalkan Anita yang terus mengoceh, ia pun masuk ke dalam kamarnya.
“Apa kakak sudah makan? Mau aku siapkan?” Raline yang baru masuk ke kamar, langsung menawarkan makan.
“Tidak perlu!”
“Atau kakak mau mandi? Biar aku siapkan air hangat-nya?” ucapnya lagi.
“Berhenti mengganggu ku … aku capek dan ingin segera tidur,” ucap Arsen ketus yang kemudian membuka lemari dan mengambil pakaian ganti.
Arsen berganti pakaian di dalam kamar tanpa memperdulikan keberadaan Raline di sana. Justru malah Raline yang merasa malu melihatnya dan ia segera membalikan tubuhnya sehingga membelakangi Arsen.
Arsen langsung berbaring di atas tempat tidur. Sepertinya rasa lelah membuatnya melupakan jika ia tak ingin tidur seranjang dengan Raline.
Sementara Raline memunguti pakaian bekas Arsen yang dilempar ke lantai semaunya. Ia memasukannya ke dalam keranjang cucian.
Ia lalu mendekat pada tempat tidur dan nafas Arsen terdengar beraturan yang menandakan jika suaminya itu sudah tidur pulas. Ia pun ikut berbaring di sebelah Arsen yang hanya terhalang oleh sebuah guling.
**
Keesokan harinya usai sarapan, Arsen kembali mual muntah. Sepertinya ia benar- benar mewakili Raline mengalami morning sicknes.
Setelah istirahat beberapa saat dan meminum ramuan yang sama yang dibuatkan oleh Raline, tubuhnya yang sempat lemas kembali segar. Ia pun tetap pergi bekerja meski sudah dilarang oleh Anita yang merasa khawatir terjadi sesuatu di perjalanan, karena Arsen menyetir sendiri.
“Raline, usia kandungan teh sudah berapa minggu?” tanya Anita yang menghampiri Raline di dalam kamar.
“Em … sepertinya delapan minggu bunda, eh apa sembilan minggu ya,” ucap Raline tak yakin.
“Loh, masa kamu teh gak tahu usia kandungan mu sendiri? Memangnya sudah berapa kali kamu memeriksakan kandungan mu ke dokter?” tanya Anita heran.
“Em, baru sekali Bunda … saat aku baru tahu hamil.”
“Apa? Jadi kamu teh belum pernah periksa lagi?” Anita terkejut mendengar nya. Namun ia tak menyalahkan, karena ini kali pertamanya Raline hamil dalam umur yang masih sangat muda.
“Belum, Bunda ….” Raline menggelengkan kepala.
“Raline, harusnya setiap bulan kamu check up ke dokter untuk mengetahui kesehatan dan pertumbuhan janin dalam kandungan mu … Mana coba Bunda lihat buku KIA-nya.”
“Buku apa, bunda?” tanya Raline bingung.
“Buku kesehatan ibu dan anak … itu loh buku yang sampulnya warna pink yang diberikan oleh dokter kandungan atau bidan saat pertama kali kamu memeriksakan kandungan mu.”
“Oh iya ada Bunda. Sebentar aku ambil dulu.”
Raline mengambil buku itu dari dalam laci sebelah tempat tidurnya. “Ini Bunda ....” ia memberikan buku KIA beserta satu buku lagi yang lebih kecil.
“Oh, jadi dokter kandungan mu teh Dandy?” ucap Bunda saat melihat buku yang satunya lagi.
“Iya, Bunda … karena saat itu aku belum menikah jadi Kak Dandy membawa ku ke tempat prakteknya untuk memastikan kehamilan ku.”
“Kalau gitu, sekarang kita periksakan kandungan mu ya. Bunda temani, sekalian Bunda teh pengen lihat calon cucu bunda. Sekarang sudah setengah sembilan, masih ada setengah jam sebelum prakteknya dimulai.”
“Iya, Bunda … aku ganti baju dulu.”
“Bunda juga mau ganti baju, sekalian nitipin mimih ke mbak iyem. Hehehe,” ucapnya lalu beranjak pergi.
Setelah beberapa saat, keduanya pun selesai bersiap- siap. Tiba- tiba terdengar suara klakson mobil dari luar pintu gerbang. Raline yang baru keluar dari kamar, bertemu dengan Anita yang baru turun.
“Raline, bunda minta maaf gak bisa menemani kamu check up. Tadi ada telpon dari butik, karyawan bunda bilang ada masalah di sana. Tapi bunda udah telpon Dandy untuk membuat janji, dan sepertinya Arsen sudah menjemput mu tuh di depan.”
“Kak Arsen? bukannya dia lagi kerja, Bunda.” Raline terkejut sekaligus merasa heran melihat keberadaan suaminya di jam kerja.
“Sudah sana, kamu pergi sama suami mu saja ….” ucap Anita menyuruh Raline segera keluar menemui suami yang sudah menjemputnya.
Raline pun beranjak pergi setelah pamitan dan mencium punggung tangan Anita.
“Lama banget sih! Aku tuh lagi banyak kerjaan. Pakai minta Bunda menyuruh ku mengantar mu ke dokter lagi!” cerocos Arsen kesal.
“Aku gak pernah minta bunda melakukan hal itu. Kalau kakak gak mau nganter, aku tinggal naik taksi saja.”
“Sudah cepat naik!!” titahnya semakin kesal.
“Iya.” Raline pun masuk ke dalam mobil dengan perasaan sama kesalnya.
Sepanjang perjalanan tidak ada percakapan diantara mereka. Setelah sampai di depan klinik, Raline pun turun, sementara Arsen malah pergi dan melajukan mobilnya kembali.
“Dasar menyebalkan … Tahu gini, aku tadi naik taksi saja. Apa bedanya dengan di yang hanya mengantarkan ku alu pergi begitu saja. Dia benar- benar keterlaluan, sama sekali tidak memperdulikan anaknya sendiri.” Raline menggerutu pelan sembari berjalan masuk ke dalam klinik. Ia langsung ke meja pendaftaran.
“Dengan ibu Raline Eliana Harfi?” tanya salah satu perawat yang berada di tempat pendaftaran pasien.
“Iya.” Sahut Raline.
“Mari ikut saya ke dalam, dokter Dandy sudah menunggu kedatangan anda.”
“Iya, Sust.” Raline pun mengikuti perawat tersebut hingga memasuki sebuah ruangan.
“Loh, kok sendirian? Arsen mana?” Tanya Dandy saat Raline sudah masuk dan menghampiri meja nya.
“Eng, tadi aku datang bersama nya. Cuman dia lagi banyak kerjaan katanya, jadi langsung kembali ke hotel. Mungkin dikiranya aku harus menunggu antrian. Tahu kan Kak, dia orangnya gak sabaran.” Meski kesal pada suaminya, ia tak mau menjelek- jelekan suaminya di depan orang lain, apalagi kakaknya sendiri.
“Hmmm, dasar anak itu.” Dandy lalu membuka buku milik Raline yang diberikan oleh suster. “Seharusnya kamu check up dua minggu yang lalu … Pasti karena sibuk mempersiapkan acara pernikahan ya.”
“Iya, Kak. Hehehe.”
“Ayok kita langsung USG.” Dandy bangkit dan Raline pun beranjak ke ranjang tempat USG. Ia berbaring dan suter membantunya mengangkat baju dan menurunkan sedikit celana kulot yang dipakainya.
“Janinnya sehat, dan pertumbuhannya juga bagus. Kamu jangan sampai kecapekan dan harus makan makanan yang bergizi seimbang. Susu dan vitamin jangan lupa dikonsumsi juga ya setiap hari. Kakak akan meresepkan vitaminnya lagi.”
“Iya, Kak.”
“Suster, bisa tolong tinggalkan kami sebentar? Ada yang saya harus bicarakan dengan adik saya.”
“Baik, Dok.” Suster pun bergegas keluar.
“Raline ….”ucap Dandy dengan tatapan serius.
“Iya, Kak.”
“Begini Raline … mengingat kamu pernah mengidap penyakit jantung dan pernah melakukan transplantasi jantung. Kakak sarankan kamu berkonsultasi pada dokter spesial jantung … Akan lebih baik pada dokter yang dulu menangani penyakit mu.”
“Em, memangnya kenapa kak? Apa kandungan ku bermasalah?” tanyanya mulai cemas.
“Kandungan mu baik- baik saja. Justru kamu yang kakak khawatirkan.”
“Maksudnya?” tanya Raline bingung.
Dandy menghela nafas panjang dengan memejamkan matanya sejenak. Ia kembali membuka matanya.
“Maaf Raline, kakak tidak bermaksud menakut- nakuti kamu. Kakak hanya khawatir, jika kehamilan mu bisa mengganggu kesehatan mu. Semakin perut mu membesar, takutnya akan memberi tekanan pada jantung mu, apalagi kamu melakukan transplantasi jantung baru tiga tahun yang lalu. Dan itu____” Dandy tak kuasa melanjutkan perkataannya.
“Dan itu apa kak?” Raline semakin penasaran.
“Itu sangat beresiko, takutnya akan terjadi komplikasi saat persalinan nanti,” ucap Dandy.
“Maksudnya aku bisa saja meninggal saat melahirkan bayi ku?” Raline menyimpulkan perkataan Dandy.
Dandy tak menjawab, ia hanya menundukkan kepalanya.
“Kak ….” Raline menunggu jawaban.
Dandy kembali menghela nafas panjang.
“Itulah sebabnya kakak menyarankan mu berkonsultasi pada dokter spesialis jantung. Mumpung kandungan mu baru berusia delapan minggu.”
“Maksud kakak apa?” Raline mulai ketakutan.
“Jika dokter jantung mengatakan itu membahayakan mu. Kakak saran kan agar dilakukan tindakan abortus provokatus," ucap Dandy.
“Maksudnya?” Raline nampaknya belum paham bahasa medis yang diucapkan Dandy.
“Menggugurkan kandungan mu, Raline.” Dandy memperjelas ucapnya.
“Apa?” Raline terkejut mendengar Dandy, ia membekap mulutnya sendiri.
---------------TBC-----------
****************************
kumaha atau teh ngegantung gitu.
aku suka ceritanya
udah makin menarik ceritanya....😀😀😀
tth othor yg baik hati dan tidak sombong kalo bisa masa kecilnya jangan terlalu panjang, cukup ambil garis besar pas masa masa tertentu aja soalnya di novel nya naz udah banyak cerita tentang masa kecil mereka, kalo bisa langsung masa sekarangnya aja tentang masa saling perjuangin cinta mereka yg memang blom terungkap d novelnya naz arfin, ya aku tau emang setiap cerita pasti ada proses perjalanannya cmn secara garis besar semua pembaca cahaya sang anas udah tau garis besar jalan cerita tentang olin arsen...😊
maaf ya tth othor ini cuman pendapatku aja kok bukan untuk menjatuhkan samasekali apalagi buat ngerusak alur ceritanya nggak samasekali, aku tetap menikmatinya kok....😀
dan sebagai masukan tth coba bikin pemberitahuan di novelnya cahaya sang anas kalo novel ini udah rilis, aku yakin blom banyak yg tau kalo tth udah bikin novelnya arsen buktinya aku aja telat tau kalo novel ini udah mulai up...😊
semangat dan selamat berkarya tth othor aku mendukungmu,.....💪😉😊😊😊
Ama arsen...
duh bpk2 tu emang ya kalau udah emosi...
kan kasian anaknya atuh sampai demam gitu...
kesian arsen, senakal nakalnya anak gak seharusnya d hukum dengan kekerasan atau sesuatu yg bikin anak trauma karna itu akan mempengaruhi mental anak itu sendiri....😇😇😇
tititnya kenapa atuh?