NovelToon NovelToon
Menikahi Sang Pewari

Menikahi Sang Pewari

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintamanis / Cinta setelah menikah
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Sari

Senja Liem tidak punya pilihan selain menikah dengan Rayhan Wijaya — pewaris konglomerat paling dingin di Jakarta. Pernikahan kontrak dua tahun, tanpa cinta, tanpa sentuhan. Tapi dia tidak tahu bahwa suaminya diam-diam sudah membeli dua pulau atas namanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5

Bab 5

Sanggar Tari

Mobil Wijaya berhenti dua bangunan sebelum Sanggar Tari Jefri.

"Pak Hadi, di sini saja," kata Senja cepat.

Sopir menoleh melalui kaca spion, menunggu keputusan Pak Hadi yang duduk di kursi depan. Pria tua itu memandang gedung sederhana di sisi jalan, lalu melihat Senja yang sudah memegang tas latihan di pangkuan.

"Tuan muda meminta Nyonya diantar sampai pintu."

"Aku tahu." Senja menekan tali tasnya. "Tapi kalau mobil ini berhenti tepat di depan sanggar, semua orang akan bertanya."

Mobil hitam itu terlalu mencolok. Kacanya terlalu gelap. Plat nomornya terlalu mudah dikenali oleh orang-orang yang rajin membaca berita bisnis. Sanggar Tari Jefri berada di deretan ruko lama yang diubah menjadi ruang latihan, diapit kedai kopi kecil dan toko alat musik. Kehadiran mobil semahal itu akan seperti lampu sorot di tempat yang biasanya hangat dan biasa saja.

Pak Hadi menimbang beberapa detik.

"Saya akan menunggu di seberang," katanya akhirnya. "Nyonya tidak perlu pulang sendiri."

Senja mengangguk lega. "Terima kasih."

"Dan tolong makan siang tepat waktu. Tuan muda sudah berpesan."

Langkah Senja hampir terhenti. "Rayhan?"

"Iya, Nyonya."

Pak Hadi mengatakannya dengan tenang, tanpa maksud menggoda. Tetapi tetap saja dada Senja terasa aneh. Semalam pria itu memberinya daftar larangan sepanjang layar. Pagi ini dia mengatur agar Senja makan tepat waktu.

Keduanya sama-sama perintah.

Hanya rasa di dadanya yang berbeda.

Senja turun dari mobil dan berjalan cepat ke sanggar. Begitu membuka pintu kaca, aroma yang dikenalnya langsung menyambut: lantai kayu yang dipoles, keringat, minyak kayu putih, dan sedikit wangi kopi dari ruang tunggu.

Tubuhnya seperti bisa bernapas lagi.

"Nyonya Wijaya datang!" suara Lara terdengar dari sudut ruangan.

Beberapa penari menoleh. Ada yang bersiul kecil, ada yang tertawa, ada yang langsung menghampiri untuk melihat cincin di jari Senja.

Senja menutup wajah dengan satu tangan. "Lara..."

"Apa? Aku harus membiasakan diri memanggilmu begitu." Lara menggandeng lengannya. "Ya ampun, cincinmu cantik banget. Berat nggak?"

"Berat di hati," jawab Senja sebelum sempat menahan diri.

Lara langsung berhenti bercanda. Tatapannya melembut.

"Dia jahat?"

Senja menggeleng. "Tidak."

"Dingin?"

Senja teringat punggung Rayhan di sisi kanan tempat tidur, suara datarnya saat berkata pernikahan ini kesepakatan, dan cara dia melarang kacang masuk ke dapur utama.

"Sangat."

Lara menghela napas panjang. "Aku tidak tahu harus lega atau tambah khawatir."

"Aku juga."

"Senja." Suara Ko Jefri memotong dari tengah ruangan.

Jefri Oei berdiri dengan kaus hitam dan celana latihan longgar, rambutnya diikat pendek di belakang. Di tangannya ada buku catatan koreografi. Tatapannya menyapu wajah Senja, lalu turun ke bahunya, pinggangnya, posisi berdirinya.

Dia selalu melihat tubuh penari sebelum mendengar alasan.

"Kamu tidur berapa jam?"

Senja tersenyum kecil. "Cukup."

"Cukup untuk orang kantor atau cukup untuk penari?"

Lara menjawab lebih cepat. "Pasti nggak cukup untuk manusia."

Ko Jefri mengangguk seolah sudah menduga. "Hari ini kamu tidak ikut bagian loncatan. Kita fokus pada tangan dan transisi."

"Ko, aku bisa latihan penuh."

"Aku tidak bertanya."

Senja menutup mulut.

Nada itu berbeda dari perintah Rayhan. Ko Jefri juga tegas, tetapi tegasnya berasal dari perhatian pada tubuhnya, bukan dari kebutuhan mengatur hidupnya.

"Pemanasan," kata Ko Jefri. "Pelan."

Musik gamelan kontemporer mulai mengalun. Bunyi kendang elektronik bercampur saron yang direkam lembut, memberi ruang bagi tubuh untuk mencari jalannya sendiri. Senja melepas cardigan, berdiri di depan cermin bersama penari lain.

Begitu hitungan dimulai, semua beban di kepalanya turun ke lantai.

Satu.

Telapak kaki menekan kayu.

Dua.

Pergelangan tangan membuka perlahan, mengambil bentuk dari gerak Bedhaya yang dia pelajari sejak remaja.

Tiga.

Bahu turun, leher memanjang, mata mengikuti arah jari.

Dalam tari kontemporer Jawa yang dia kembangkan bersama Ko Jefri, gerakan tidak sekadar indah. Gerakan harus menahan sejarah. Harus tahu kapan tubuh patuh pada irama, kapan melawan, kapan diam tetapi tetap bicara.

Senja selalu menyukai bagian diam itu.

Karena di rumah Liem, diam berarti kalah.

Di lantai latihan, diam bisa menjadi kekuatan.

"Lebih pelan di transisi kedua," Ko Jefri memberi instruksi. "Jangan terburu-buru jatuh. Biarkan penonton melihat kamu menahan."

Senja mengulang.

Kali ini dia membiarkan lututnya menekuk sedikit lebih lama, tangan kanan menggantung di udara seperti seseorang yang ingin meraih sesuatu tapi menahan diri. Di cermin, matanya terlihat asing. Ada lelah, ada takut, tapi ada juga sesuatu yang tidak padam.

"Itu," kata Ko Jefri. "Simpan rasa itu."

Senja berhenti, napasnya naik turun.

"Rasa apa, Ko?"

"Rasa orang yang ingin hidup dengan caranya sendiri."

Kalimat itu menancap terlalu tepat.

Lara yang berdiri di sampingnya menyentuh bahunya sebentar. Tidak perlu banyak kata. Senja tahu Lara mendengarnya juga.

Latihan berlangsung hampir tiga jam. Ko Jefri benar-benar melarangnya melakukan loncatan, tetapi tetap membuatnya berkeringat sampai punggung bajunya basah. Saat istirahat, Lara menarik Senja ke sudut dekat kipas angin.

"Ceritakan semuanya," desak Lara sambil menyerahkan botol air.

"Tidak ada yang menarik."

"Kamu menikah dengan Rayhan Wijaya, tidur di Wijaya Mansion, dan sekarang ada mobil hitam menunggu di seberang. Jangan bilang tidak menarik."

Senja minum. Air dingin melewati tenggorokannya, memberi jeda sebelum dia menjawab.

"Ada kontrak."

Lara membeku. "Kontrak?"

Senja mengangguk. Dia tidak menyebut semua pasal, hanya garis besarnya. Dua tahun. Rp 50 miliar. Tiga bulan batas fisik. Aturan rumah. Larangan ini dan itu.

Semakin dia bicara, wajah Lara semakin sulit dibaca.

"Senja," Lara berkata pelan, "ini bukan pernikahan. Ini seperti kamu pindah ke sangkar yang lebih mahal."

Senja memandang lantai kayu di bawah kakinya.

"Mungkin," katanya. "Tapi setidaknya sangkar itu punya pintu ke sanggar."

Lara terlihat ingin menangis dan marah bersamaan. "Kamu selalu begini. Selalu mencari sisi yang bisa kamu tahan."

"Kalau tidak begitu, aku tidak tahu harus bagaimana."

Lara meraih tangannya. "Kamu masih punya aku."

Senja tersenyum. Kali ini benar-benar tersenyum sedikit. "Aku tahu."

Siang menjelang sore, Ko Jefri memanggilnya ke ruang kecil di belakang studio. Di meja ada jadwal latihan baru.

"Pertunjukan bulan depan tetap jalan," katanya. "Tapi aku akan menyesuaikan porsimu selama beberapa minggu."

"Karena aku menikah?"

"Karena tubuhmu belum stabil." Ko Jefri menatapnya tajam. "Dan karena hidupmu baru berubah besar. Penari yang baik tahu kapan harus memaksa tubuh dan kapan harus mendengarkannya."

Senja mengangguk.

"Satu lagi," lanjutnya. "Kalau keluarga barumu melarangmu menari, bilang padaku."

"Mereka belum melarang."

"Belum."

Kata itu membuat Senja terdiam.

Ko Jefri mendorong jadwal itu ke arahnya. "Tari bukan tempat kamu bersembunyi selamanya. Tapi untuk sekarang, kalau ini satu-satunya tempat kamu bisa bernapas, pertahankan."

Senja menatap kertas jadwal di tangannya.

Dia ingin menjawab dengan kuat. Ingin berkata, ya, dia akan mempertahankannya.

Tetapi ponselnya bergetar sebelum dia bicara.

Nama Serena muncul di layar.

Jantung Senja langsung turun.

Dia membuka pesan itu.

Serena: Menyenangkan jadi Nyonya Wijaya? Nikmati hidup curianmu, pengganti.

Di bawah kalimat itu, Serena mengirim foto. Foto Senja turun dari mobil Wijaya hitam, diambil dari seberang jalan, tepat saat dia menunduk agar tidak menarik perhatian.

Darah di wajah Senja menghilang.

Ko Jefri melihat perubahan itu. "Ada apa?"

Lara yang baru masuk ikut mendekat. "Sen?"

Senja menggenggam ponsel sampai tangannya gemetar.

Selama beberapa jam, dia sempat lupa bahwa di luar ruang latihan ini, ada orang-orang yang tidak akan membiarkannya bernapas terlalu lama.

Pesan berikutnya masuk.

Serena: Jangan terlalu nyaman. Semua orang akan tahu kamu cuma pengganti.

1
D..
👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!