NovelToon NovelToon
Dikejar Mafia, Tapi Gue Cuma Mau Lulus Skripsi

Dikejar Mafia, Tapi Gue Cuma Mau Lulus Skripsi

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Romansa / Komedi
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nisaicha

Target gue cuma satu,Lulus Skripsi. Tapi, gara-gara Abang kurir salah kirim paket barang ilegal, gue malah berurusan sama Arka, bos mafia paling ditakuti.
Bukannya dihabisin, gue malah disandera dan dipaksa jadi asisten pribadinya dengan ancaman gila, "selesaikan skripsimu, atau hidupmu tamat detik ini juga!"
Asli, kepala gue rasanya mau pecah, udah pusing mikirin revisian dosen killer, ditambah harus ngadepin bestie halu, Bara si bodyguard sedingin kanebo kering, dan Dino yang otaknya suka buffering pas lagi genting.
"Mas, tolong dong, mas.."Suara gue bergetar nahan nangis."Gue cuma mau revisi, bukan mau cari mati."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaicha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Skripsi di Sarang Penyamun

Suara ketikan laptop Beby begitu berisik memecah kesunyian ruangan. Di sudut dekat pintu, Bara duduk di lantai sambil mengelap laras senapannya pakai kain hitam. Tiap kali Beby memukul tuts laptop terlalu keras karena panik, pria itu menengok sekilas wajahnya tanpa ekspresi, namun sukses membuat nyali Beby ciut seketika.

Beby menyeka keringat di jidatnya pakai punggung tangan. Jarinya yang masih gemetar buru-buru mengetik password Wi-Fi di layar.

n-e-r-a-k-a.

Enter.

Sesaat kemudian, ikon sinyal di pojok kanan bawah langsung berubah hijau penuh.

"Yes!" desis Beby lega. Ia nyaris berteriak sebelum melihat Bara menarik kokang senjata untuk memeriksa peluru. Beby langsung membungkam diri, pura-pura fokus ke layar sambil menggigit bibir bawahnya.

Rara memeluk lututnya erat di sebelah Beby. Wajahnya sepucat kertas, pandangannya kosong menatap jendela kaca besar yang hanya menampilkan kegelapan total hutan di luar.

"Beb..." bisik Rara parau, suaranya bergetar hebat. "Lo beneran nekat mau ngirim email itu sekarang? Kita baru aja lolos dari kejaran orang-orang berdarah dingin, dan lo malah mikirin skripsi?"

Beby menarik napas panjang, berusaha menyelamatkan sisa kewarasannya. "Harus, Ra. Kalau enggak, semesta konspirasi buat bikin gue DO. Dospem gue jelmaan malaikat maut versi botak. Telat semenit, diancem disuruh rombak Bab 1 dari lembar pertama. Lo mau bayarin uang semesteran gue kalau gue di-DO?"

"Gila lo, sempat-sempatnya mikirin uang semesteran di tengah situasi kayak gini," cicit Rara pasrah.

Di depan panel CCTV, Dino melangkah mendekat. Pria itu menarik kursi besi, duduk santai persis di samping Beby sambil mengintip layar laptop tanpa beban.

"Font doang ribet amat, Mbak," komentar Dino santai sambil menggaruk alisnya. "Margin kiri empat, atas empat? Buat apaan sih itu? Kayak mau nambal jalanan pantura aja."

Beby langsung mendelik, meski suaranya ditekan sekecil mungkin. "Lo anak intelijen, nggak usah sok tahu soal tata tulis ilmiah! Ini aturan baku dari kampus, Dino! Kalau margin gue melenceng setengah sentimeter aja, nilai gue langsung digebug sama dospem gue!"

"Ribet bener hidup kamu, Mbak," cibir Dino geleng-geleng kepala. "Untung kerjaan gue cuma manggul senjata, nggak perlu mikirin margin."

"Bisa diam tidak?"

Suara itu berat, datar, dan tanpa ekspresi. Seketika membuat suhu ruangan anjlok drastis.

Bukan dari Dino. Dari arah lantai dua, Arka berdiri tegak di atas railing besi. Pria itu menatap mereka dari atas dengan tatapan setajam silet yang mutlak. Tangannya dimasukkan ke saku celana bahan yang masih rapi, posturnya memancarkan dominasi mutlak predator puncak rantai makanan.

Arka menuruni tangga perlahan. Langkah sepatunya mantap, meninggalkan gema pelan yang menusuk telinga. Ia melewati kelompok Beby begitu saja, acuh tak acuh seolah mereka cuma debu di lantai.

Begitu sampai di depan pintu besi ruang bawah tanah, Arka berhenti. Ia menoleh sedikit, menatap Beby tepat di mata.

"Suara kau mengganggu," ucap Arka dingin, suaranya rendah namun absolut. Ia melirik Bara sekilas. "Bara, kalau perempuan itu tidak bisa mengontrol mulutnya, habisi."

Bara langsung bangkit berdiri. Gerakannya cepat, efisien, nyaris tanpa suara. Dalam dua langkah lebar, algojo itu sudah berdiri tegak tepat di sebelah kursi Beby. Wajahnya lurus ke depan, tapi bayangan tubuhnya yang besar seolah membekukan seluruh oksigen di sekitar cewek itu.

Bara menunduk sedikit, menatap Beby tajam. "Kamu dengar apa yang Bos katakan? Kalau saya dengar satu suara lagi keluar dari mulut kamu, saya pastikan laptop itu jadi barang terakhir yang kamu lihat di dunia ini."

Beby menelan ludah kasar. Tenggorokannya terasa tersedak duri. Ia hanya bisa mengangguk kaku, menempatkan jarinya di atas touchpad laptop dengan tangan basah keringat.

Matanya melirik jam di pojok kanan bawah layar.

23.58 WIB.

Dua menit lagi.

Beby buru-buru mengeklik Attach File, memilih dokumen yang namanya sudah diganti menjadi Skripsi_Final_BGT_Fix_Pake_Banget.doc, lalu menekan tombol Send.

Sending...

Jantung Beby rasanya mau copot dari tempatnya.

Dino yang masih berdiri di belakang Beby mengedikkan bahu santai. "Sinyalnya lancar jaya kok, Mbak. Harusnya detik ini juga udah masuk inbox dosen kamu."

Pesan Terkirim.

Sekejap itu juga, tenaga Beby seperti tersedot habis. Cewek itu lemas seketika, bersandar lemas pada sofa sambil memegangi dadanya yang masih naik-turun kencang. Puji Tuhan, ia lolos dari jurang DO.

Arka, yang dari tadi menyaksikan adegan dramatis itu dari kejauhan, hanya mendengus tipis. Bagi bos mafia itu, urusan skripsi atau kelulusan adalah hal paling konyol di muka bumi. Keberadaan tiga cewek sipil di markasnya hanyalah beban sementara yang siap disingkirkan kapan pun jika mulai memancing pusing.

Arka memutar tubuhnya sepenuhnya menghadap pintu besi. "Kalian di sini hanya sampai besok pagi," ucapnya tanpa menoleh lagi. Suaranya mutlak tanpa butuh bantahan. "Jangan buat keributan yang tidak berguna di tempat saya. Atau kau tidak akan pernah melihat matahari terbit."

Ceklek.

Pintu besi terbuka, dan Arka langsung melangkah masuk ke dalam kegelapan di baliknya, meninggalkan sisa hawa dingin yang mencekam.

Bara masih berdiri kaku di tempatnya, menunduk pelan mendekati telinga Beby. "Denger kan?" bisik Bara tajam. "Jangan. Bersuara. Lagi."

Beby hanya bisa menutup mulutnya rapat-rapat dengan tangan, gemetar memeluk laptopnya di sarang para pembunuh berdarah dingin.

1
beybi T.Halim
ya Allah gak ada tenang nya 1 hr pun ,neng rara apa gak tauma berat itu waduh..,mana mau sidang lagi kudu konsentrasi🙈laa ini malah tembak2an ,kejar2an haih saket dadaku
nischa: Hahaha maafkan Rara ya kak, Ujian hidupnya emang paket komplit, urusan skripsi bonus kejar-kejaran mafia 😭 Makasih banyak ya udah ikutan gregetan sama ceritanya
total 1 replies
beybi T.Halim
🤣🤣🤣🤣kocak ini
beybi T.Halim
kita mampir.,suka karakter ceweknya di awal sedikit penakut tapii bar bar👍kita lanjutkan
nischa: makasih kak✨
total 1 replies
Yuyum Yunengsih
lanjut Thor pengen baca bab selanjutnya
Yuyum Yunengsih
mulai seru nih, interaksi antar tokohnya dapet banget
Yuyum Yunengsih
wah, awal cerita yang langsung bikin penasaran sama karakternya😍
Yuyum Yunengsih
keren banget ceritanya, nggak nyesel ikutan baca dari awal. pertahankan terus kualitas tulisannya author
nischa: makasih kak✨
total 1 replies
Yuyum Yunengsih
semangat💪cerita nya seru😍
Winna Yun
wah wahh seru ni ka, lanjut ka
nischa: siap,ka😍
total 1 replies
Erni Saputri
lama kali upnya Thor🥺
Erni Saputri: ok semangat💪💪💪
total 2 replies
Suzie
💪 mangatt
nischa: siap,makasih🤩
total 1 replies
Cilia
Ceritanya enteng banget! Enak buat dibaca pas lagi ngisi waktu kosong. Vibesnya berasa lagi baca AU yang target audience nya emang nyari bacaan pas lagi penat😆
nischa: Makasih banyak ya! Senang banget kalau ceritanya bisa jadi teman pas lagi santai atau penat. Enjoy terus ya bacanya! ✨
total 1 replies
partini
lucu banget ini mahasiswi
nischa: terimakasih kak sudah mampir😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!