NovelToon NovelToon
ISTRI RAHASIA SANG MAFIA

ISTRI RAHASIA SANG MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Jefika Isabell

“Dia menikahiku untuk menyelamatkan kerajaannya. Aku menikahinya untuk menyelamatkan keluargaku. Namun, tak satu pun dari kami menyadari bahwa cinta akan menjadi pengkhianatan paling berbahaya.”

• Dante Alessandro Vieri (32 tahun): Bos mafia Italia yang tampan, gagah, bermata biru safir, dingin, penuh perhitungan, dan tidak pernah memaafkan pengkhianatan. Di balik kekuasaannya, ia menyimpan luka lama yang membuatnya tidak percaya pada cinta.

• Bianca Elena Laurent (24 tahun): Gadis cantik keturunan Spanyol dan Timur Tengah, bermata cokelat keemasan, berambut hitam panjang, cerdas, berani, serta memiliki harga diri yang tidak mudah dihancurkan. Ia tidak pernah membayangkan akan menjadi istri rahasia seorang mafia.

• Luciano Vieri: Adik tiri Dante yang menginginkan takhta keluarga.

• Isabella Moretti: Perempuan dari masa lalu Dante yang menyimpan rahasia tentang kematian ibunya.

• Adrian Laurent: Kakak Bianca yang menghilang setelah membawa sebuah dokumen berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jefika Isabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 — Malam yang Mengubah Segalanya

Suara tembakan kedua mengguncang Villa Vieri.

Bianca menunduk di balik meja mahoni, sementara Dante berdiri di depannya dengan pistol terangkat. Wajah pria itu berubah dingin, matanya yang biru safir mengeras seperti es. Dalam sekejap, sosok suami yang sesekali memperlihatkan kelembutan kepadanya menghilang, digantikan oleh sang Don yang ditakuti seluruh Roma.

“Dante, apa yang terjadi?” bisik Bianca.

“Orang-orangku sedang mengamankan pintu belakang.”

“Bagaimana jika mereka berhasil masuk?”

Dante menoleh sekilas. “Tetap di belakangku.”

“Aku tidak akan—”

“Bianca.” Suaranya rendah, tetapi tegas. “Kali ini, dengarkan aku.”

Sebelum Bianca sempat membalas, pintu ruang kerja terbuka keras. Marco, kepala keamanan Dante, masuk dengan senjata di tangan.

“Don, tiga orang berhasil menembus gerbang belakang. Dua sudah dilumpuhkan. Satu melarikan diri menuju taman.”

“Identitas mereka?”

“Belum diketahui. Mereka memakai topeng dan tidak membawa tanda pengenal.”

Dante mengumpat pelan. “Periksa semua akses keluar. Aku ingin tahu bagaimana mereka bisa melewati penjagaan.”

Marco mengangguk, lalu melirik Bianca.

“Signora, Anda harus dibawa ke ruang aman.”

“Tidak,” jawab Bianca cepat. “Aku tetap di sini.”

“Bianca,” Dante memperingatkan.

“Aku tidak akan bersembunyi sementara kalian semua memutuskan apa yang boleh dan tidak boleh kuketahui.”

Dante menatapnya tajam. Namun, kali ini ia tidak memaksanya. Ia hanya mengambil sebuah rompi pelindung dari lemari, lalu menyerahkannya kepada Bianca.

“Kenakan ini. Dan jangan menjauh dariku.”

Bianca menerima rompi itu. “Aku bisa menyetujuinya.”

Dante hampir tersenyum, tetapi suara Marco memotong suasana.

“Don, kami menemukan sesuatu di dekat jendela ruang kerja.”

Marco mengeluarkan sebuah benda kecil dari kantong bukti. Sebuah kancing jas hitam dengan lambang bulan sabit berkelopak delapan terukir di permukaannya.

Bianca merasakan darahnya seolah berhenti mengalir.

Lambang yang sama terdapat pada liontin ibunya, cincin di dalam laci Dante, dan dokumen-dokumen lama yang baru saja mereka temukan.

“Apakah itu milik penyerang?” tanya Dante.

“Sepertinya begitu. Tetapi ada hal lain.” Marco mengeluarkan sebuah amplop kecil. “Seseorang menyelipkannya di bawah pintu sebelum serangan dimulai.”

Dante mengambil amplop itu dan mengeluarkan selembar kertas.

Hanya ada satu kalimat di sana.

Bawalah cincin itu ke tempat Alessandro mengembuskan napas terakhirnya, atau Adrian akan mati sebelum matahari terbit.

Bianca langsung meraih lengan Dante.

“Kita harus pergi sekarang.”

“Kita tidak tahu apakah pesan ini jebakan.”

“Dan kita tidak tahu berapa lama Adrian bisa bertahan!”

Dante menatap wajahnya. Ketakutan Bianca begitu nyata hingga ia tidak sanggup menyuruhnya diam.

“Aku akan menemukan kakakmu,” katanya.

“Bersama-sama,” koreksi Bianca.

Untuk beberapa detik, Dante tampak hendak menolak. Namun, ia akhirnya mengangguk.

“Baik. Bersama-sama.”

Empat puluh menit kemudian, dua mobil hitam meninggalkan Villa Vieri menuju sebuah rumah sakit tua di pinggiran Roma.

Menurut arsip keluarga, Alessandro Vieri menghabiskan jam-jam terakhir hidupnya di sana setelah ditemukan pingsan di ruang kerjanya sendiri. Penyebab kematiannya tercatat sebagai serangan jantung, meskipun Dante tidak pernah mempercayai laporan tersebut.

Bianca duduk di samping Dante di kursi belakang. Hujan membasahi jendela, memburamkan lampu-lampu jalan menjadi garis-garis keemasan.

Di antara mereka terletak kotak beludru berisi cincin perak.

“Dante,” panggil Bianca pelan.

“Ya?”

“Ketika kau mengatakan bahwa ayahku keluar dari kamar ayahmu dengan tangan berlumuran darah, apakah kau melihat wajahnya sendiri?”

Dante terdiam.

“Aku masih muda malam itu,” jawabnya akhirnya. “Aku baru berusia dua puluh tahun. Ayahku menyuruhku tetap di kamar, tetapi aku mendengar suara pertengkaran. Ketika aku keluar, aku melihat seorang pria berjalan menjauh dari ruang kerja.”

“Dan kau yakin itu ayahku?”

“Aku mengenali wajahnya.”

Bianca menelan ludah.

“Kenapa kau tidak pernah memberitahuku?”

“Karena selama bertahun-tahun aku tidak tahu apakah yang kulihat benar-benar terjadi atau hanya ingatan yang tercampur oleh ketakutan.” Dante memandang ke luar jendela. “Ketika aku akhirnya menemukan hubungan antara keluargamu dan ayahku, aku mulai mencari pria itu. Namun, dia sudah menghilang.”

“Lalu kau menikahiku.”

“Aku menikahimu karena ada seseorang yang mengincar keluargamu dan aku membutuhkan cara untuk melindungimu di dalam wilayahku.” Dante berhenti sejenak. “Tetapi aku tidak pernah memperkirakan bahwa aku akan mulai takut kehilanganmu.”

Bianca menoleh.

Pengakuan itu tidak diucapkan dengan kata-kata manis atau senyum menggoda. Dante mengatakannya dengan wajah serius, seolah mengakui sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada kelemahan fisik.

“Apakah kau masih mencurigaiku?” tanya Bianca.

Dante menatapnya. “Aku mencurigai semua orang.”

“Termasuk aku?”

“Tidak lagi.”

Jawaban sederhana itu membuat dada Bianca terasa sesak.

Ia mengulurkan tangan dan menyentuh jemari Dante. Pria itu menunduk, memandang tangan mereka yang bertaut, kemudian membalik telapak tangannya untuk menggenggam tangan Bianca dengan lembut.

Namun, kehangatan singkat itu tidak bertahan lama.

Mobil mendadak berhenti.

“Don!” seru pengemudi dari depan. “Ada kendaraan menghalangi jalan!”

Dante segera melepaskan sabuk pengamannya dan melihat ke luar.

Sebuah van putih melintang di jalan sempit. Lampu depannya menyala terang, tetapi tidak ada seorang pun di balik kemudinya.

“Marco, tetap bersama Bianca,” perintah Dante melalui alat komunikasinya.

Ia keluar dari mobil bersama dua pengawal.

Bianca mengintip melalui jendela. Hujan turun semakin deras. Dante bergerak mendekati van dengan pistol terangkat, sementara Marco berdiri di sisi mobil, melindungi Bianca.

Kemudian terdengar ledakan kecil.

Lampu jalan di atas mereka padam.

“Bianca, merunduk!” teriak Marco.

Sebuah benda menghantam kaca belakang mobil. Bianca menjerit dan menjatuhkan tubuhnya ke lantai kendaraan. Marco segera membuka pintu dan menariknya keluar melalui sisi berlawanan.

Tembakan terdengar dari ujung jalan.

“Dante!” Bianca berteriak.

“Jangan bergerak!” Marco berusaha membawanya berlindung di balik mobil.

Namun, Bianca melihat Dante berlari ke arah mereka. Wajahnya penuh kemarahan, tetapi langkahnya tetap terarah. Ia meraih Bianca dan menariknya ke dalam pelukannya tepat ketika sebuah peluru menghantam pintu mobil.

“Apa kau terluka?” tanyanya cepat.

Bianca menggeleng, napasnya tersengal-sengal.

Dante memegang kedua bahunya, memeriksa wajah dan lengannya dengan mata penuh kecemasan.

“Lihat aku. Kau yakin tidak terluka?”

“Aku baik-baik saja.” Bianca mencengkeram kemejanya. “Tapi kau—”

Dante meringis.

Barulah Bianca melihat darah merembes dari lengan kirinya.

“Dante!”

“Hanya goresan.”

“Itu bukan goresan kecil!”

“Bianca, kita harus pergi.”

Marco dan para pengawal berhasil memukul mundur para penyerang. Salah seorang dari mereka tertangkap, sementara yang lain melarikan diri ke arah hutan kecil di sisi jalan.

Dante menolak kembali ke villa. Mereka melanjutkan perjalanan dengan mobil cadangan, dan seorang dokter keluarga dipanggil untuk merawat lukanya setelah mereka tiba di rumah sakit tua.

Rumah sakit itu tampak seperti bangunan yang telah dilupakan dunia.

Dindingnya mengelupas, beberapa jendelanya pecah, dan lorong-lorongnya dipenuhi debu. Namun, bagian bawah gedung masih memiliki ruang penyimpanan yang terkunci rapat.

Dante dan Bianca turun bersama Marco.

“Menurut arsip, kamar ayahku berada di lantai dua,” kata Dante. “Tetapi sebelum meninggal, ia dipindahkan ke ruang perawatan bawah tanah.”

“Kenapa?”

“Laporan resminya mengatakan karena kerusakan sistem listrik.”

Bianca menatapnya dengan curiga. “Atau karena seseorang ingin mengisolasinya.”

Mereka menyusuri lorong hingga menemukan sebuah pintu besi. Di atasnya terdapat pelat nama yang nyaris tidak terbaca.

Ruang Perawatan 08.

Dante memasukkan cincin bulan sabit ke dalam lubang kecil di samping gagang pintu. Ternyata, di sana terdapat mekanisme tersembunyi yang bentuknya menyerupai bagian dalam cincin tersebut.

Terdengar bunyi klik.

Pintu terbuka perlahan.

Di dalam ruangan, mereka menemukan sebuah meja kecil, lemari obat tua, dan ranjang besi yang berkarat. Di atas meja terletak sebuah perekam suara dengan label bertuliskan nama Alessandro Vieri.

Dante membeku.

“Ayah,” bisiknya.

Bianca berdiri di sampingnya ketika ia menekan tombol putar.

Suara berdesis memenuhi ruangan, disusul suara seorang pria yang terdengar lemah tetapi jelas.

“Jika rekaman ini ditemukan, berarti aku sudah mati dan rahasia keluarga kita tidak lagi bisa dikubur.”

Dante menahan napas.

Suara Alessandro berlanjut.

“Dante, jika kau mendengarkan ini, jangan percaya kepada Luciano. Dia mengetahui apa yang terjadi pada Elena. Namun, dia bukan satu-satunya orang yang harus kau takuti.”

Bianca merasakan jemari Dante menegang di tangannya.

Lalu terdengar kalimat berikutnya.

“Perempuan yang melahirkan Bianca bukanlah satu-satunya perempuan yang menjadi korban malam itu. Ada seorang anak lain. Anak yang dibawa pergi sebelum fajar, dan yang keberadaannya dapat menghancurkan keluarga Vieri.”

Rekaman terputus oleh suara benturan keras.

Beberapa detik kemudian, suara Alessandro kembali terdengar, kali ini lebih pelan.

“Dan jika anak itu masih hidup, berarti pembunuhku telah membesarkannya di depan mataku sendiri tanpa pernah kusadari.”

Rekaman berhenti.

Bianca menatap Dante dengan wajah pucat.

“Anak lain?” bisiknya. “Siapa yang dimaksud ayahmu?”

Dante tidak menjawab. Tatapannya terpaku pada perekam suara.

Tiba-tiba, ponsel Marco berdering. Ia mengangkatnya, mendengarkan beberapa detik, lalu wajahnya berubah tegang.

“Don, kami baru menerima informasi dari orang yang kami tangkap.”

“Apa katanya?”

Marco menelan ludah.

“Penyerangan tadi bukan untuk membunuh kita. Mereka hanya ingin memastikan kita sampai ke tempat ini.”

Dante mengangkat pistolnya, mengarahkan pandangan ke pintu.

“Kenapa?”

Marco menatap Bianca sebelum menjawab.

“Karena seseorang sudah menunggu kita.”

Dari pengeras suara tua di sudut ruangan, terdengar bunyi statis. Kemudian suara seorang pria memenuhi ruangan, membuat Bianca seketika mengenalinya.

Suara ayahnya.

“Bianca, jika kau mendengar ini, berarti Dante akhirnya membawamu ke tempat yang seharusnya tidak pernah kau temukan.”

Bianca membeku.

Suara itu melanjutkan, dingin dan tanpa penyesalan.

“Maafkan aku, Nak. Ada satu hal yang tidak pernah berani kukatakan kepadamu.”

Hening sejenak.

Lalu kalimat berikutnya menghancurkan semua keyakinan Bianca.

“Adrian bukan satu-satunya anak dalam keluarga kita yang selama ini kuselamatkan dari keluarga Vieri.”

Pengeras suara mati.

Bianca menatap Dante, air mata mulai memenuhi matanya.

Sebelum salah satu dari mereka sempat berbicara, sebuah pintu di ujung ruangan terbuka perlahan.

Seorang pria berdiri dalam kegelapan.

Di pergelangan tangannya melingkar gelang kulit hitam yang sama dengan milik Adrian.

Pria itu mengangkat wajah.

“Bianca,” katanya lirih. “Akhirnya kau datang.”

Bersambung — Bab 15: Nama yang Tertulis dalam Darah

1
nnda
ceritanya dipercepat kah kak? kok tiba² udah punya anak si Bianca sama Dante
Isabell: iya kak mohon maaf update hari ini agak amburadul 😖 ada bab yang hilang, nanti aku ubah dulu kak 🙏
total 1 replies
Frida
💪
Yiruma Nitya
Bagus loh kak sumpah, semangat terus, jangan lupa mampirin aku jg ya
Yiruma Nitya
Jadi penasaran
Zendyaa4
aku baca baca ini kak,tapi pelan pelan. semangat kakk💪
jangan lupa mampirr🤭
niaww
semngat trus kak isabelll
Isabell: terima kasih kak 😍semangat juga untuk mu kak 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!