NovelToon NovelToon
KEBANGKITAN JIWA TERLARANG

KEBANGKITAN JIWA TERLARANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Epik Petualangan / Mengubah Takdir
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Fery Oktavian

Terlahir kembali dengan ingatan masa lalu yang utuh, Shen Jue dipandang sebelah mata di Akademi Canglan hanya karena membangkitkan belati kecil berkarat yang dianggap rongsokan tak berharga. Tanpa menyadari bahwa belati tersebut menyimpan rahasia kelam pemutus aliran energi alami, para murid bangsawan terus berusaha menindasnya hingga Shen Jue membongkar kelemahan mereka satu per satu dengan ketenangan yang mematikan. Bersama Ruan Xi'er dan Gongsun Zhi, ia menapak jalur petarung yang dingin di tengah himpitan intrik klan-klan besar yang haus kekuasaan. Mampukah Shen Jue membuka segel rahasia di balik belati rongsoknya dan menghentakkan takdirnya sebagai penguasa abadi di Benua Tianwu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KJT 34

Fajar merebak perlahan di ufuk timur, membiaskan garis-garis cahaya keemasan pucat yang menembus kepekatan kabut Rawa Barat. Dinding karang Tebing Batu Hitam yang semalam menjadi saksi pertempuran sengit kini tampak kian suram, dipenuhi garis-garis darah kental yang mengering di atas tanah batu. Di dekat sisa-sisa arang api unggun yang tak lagi berasap, Ruan Xi'er mengikat kantung kain di pinggangnya yang kini terasa jauh lebih berat dari sebelumnya.

"Delapan belas Inti Roh serigala biasa dan satu Inti Roh tingkat tinggi," pungkasi Xi'er seraya menepuk kantung kainnya dengan binar mata puas.

"Kalau dihitung dengan poin Babi Hutan Berduri kemarin, posisi kita di daftar peringkat ujian pasti langsung melonjak drastis!" tambah Xi'er gembira.

Gongsun Zhi mengangguk setuju, menepuk-nepuk bahunya yang terasa agak kaku usai menahan gempuran semalaman. "Kawasan hutan ini makin berbahaya kalau siang. Apa kita sebaiknya mulai bergerak ke area perbatasan luar untuk mengamankan poin ini?" tanya Gongsun Zhi ragu.

Shen Jue yang sedang membebat pergelangan tangan kanannya dengan kain linen bersih mendongak pelan. Matanya yang gelap memantulkan sinar fajar dengan ketenangan yang dingin dan sukar diterka.

"Perbatasan luar bisa menunggu," pungkasi Shen Jue datar seraya berdiri tegak.

"Ada urusan yang harus kita selesaikan lebih dulu sebelum meninggalkan tempat ini," sambung Shen Jue dingin.

Xi'er memiringkan kepalanya, sepasang telinga musang imajinernya seolah menegak penuh minat. "Maksudmu... tiga ekor lalat yang melempar racun pemancing serigala semalam?" tanya Xi'er penasaran.

"Tepat," sahut Shen Jue seraya melangkah mendekati bibir tebing.

"Darah Pemancing Roh tidak hanya memikat binatang buas, tapi juga menyisakan jejak bau belerang yang teramat pekat pada pakaian orang yang membukanya," jelas Shen Jue mantap.

Gongsun Zhi mengepalkan tangannya rapat-rapat, mencengkeram erat batang Tombak Besi Hitam-nya. "Arahkan jalannya, Shen Jue. Aku akan memastikan orang itu membayar biaya pengurasan stamina kita semalam!" seru Gongsun Zhi geram.

"Jangan terburu-buru," pungkasi Shen Jue tenang sambil merogoh sekelompok helai Daun Penghapus Bau dari kantung herbalnya.

"Musuh yang merasa dirinya aman adalah musuh yang paling mudah dilumpuhkan," lanjut Shen Jue sistematis.

Shen Jue membagikan helai daun herbal itu kepada Xi'er dan Gongsun Zhi untuk dioleskan pada telapak kaki dan pakaian mereka, menetralkan bau tubuh agar tak memicu desiran angin. Ketiganya kemudian melompati tumpukan bangkai serigala di celah tebing, bergerak meluncur turun menyusuri lereng berbatu tanpa menimbulkan suara sedikit pun.

Di bawah naungan rimbun pohon cemara yang terletak di sebuah ceruk jurang dangkal, tiga ratus langkah dari Tebing Batu Hitam, suasana tampak amat kontras.

Zhongli Chen duduk bersandar di atas akar pohon tua dengan wajah pucat keabu-abuan. Seragam kain sutra mahalnya kini kusam dan berjelaga akibat hawa dingin rawa yang menusuk tulang sepanjang malam. Di sampingnya, Gao Feng dan Mo Qi terduduk lemas dengan mata merah kurang tidur, tubuh mereka gemetar tiap kali mendengar desiran angin di antara semak-semak.

"Tuan Muda... bagaimana ini?" bisik Gao Feng dengan suara serak yang memburu.

"Semalam kita mendengar sendiri tidak ada lagi suara pertempuran di atas tebing. Jangan-jangan kawanan serigala itu sudah habis dan... mereka masih hidup?" tanya Gao Feng gemetar.

"Tutup mulutmu!" gertak Zhongli Chen dengan mata membelalak marah.

"Satu kawanan Serigala Bayangan berisi belasan ekor! Mana mungkin tiga orang murid baru dari desa terpencil sanggup menghabisi semuanya tanpa ada yang tewas?!" raung Zhongli Chen murka.

"Tapi Tuan Muda," sambung Mo Qi ketakutan seraya mengusap lengannya.

"Cairan Darah Pemancing Roh itu... waktu Tuan Muda melemparkannya ke celah tebing semalam, angin sempat berhembus ke arah sini. Pakaian kita juga ikut terkena percikannya..." tambah Mo Qi panik.

"Goblok! Kenapa baru bilang sekarang?!" amuk Zhongli Chen seraya menampar bahu Mo Qi keras-keras.

Namun, sebelum kegusaran Zhongli Chen berlanjut, suara langkah kaki yang teramat teratur mendadak bergema dari celah mulut jurang. Suara menapak yang tenang dan mantap itu memotong keheningan ceruk batu bagai dentang lonceng kematian.

Zhongli Chen seketika membeku. Ia melompat berdiri, menarik pedang panjang berukir peraknya dari sarung seraya menatap lurus ke arah kabut pagi yang tersingkap perlahan.

Dari balik selubung kabut kelam, tiga sosok manusia melangkah keluar dengan tenang.

Gongsun Zhi berdiri di sebelah kiri, memanggul Tombak Besi Hitam yang masih bernoda darah serigala yang telah mengering. Di sebelah kanan, Ruan Xi'er melangkah enteng dengan pendar cahaya perak yang melingkari kuku-kuku cakarnya. Dan di tengah-tengah mereka, Shen Jue berjalan dengan kedua tangan tersembunyi santai di balik saku jubah abu-abunya.

Tidak ada bekas luka fatal pada tubuh ketiganya. Tidak ada kepanikan, dan tidak ada kelelahan berat yang dibayangkan oleh Zhongli Chen.

"Kau... bagaimana bisa kalian...!" pekik Zhongli Chen dengan suara bergetar tertahan.

"Bagaimana bisa kami masih hidup?" pungkasi Xi'er menyambung ucapan musuhnya dengan nada menyindir yang amat manis.

"Maksudmu begitu, Tuan Muda Zhongli yang terhormat?" tanya Xi'er tertawa pelan.

Gao Feng dan Mo Qi refleks mundur dua langkah, memegang senjata mereka dengan tangan yang gemetaran hebat. Aura ketenangan yang memancar dari kelompok Shen Jue justru menghadirkan tekanan mental yang jauh lebih mengerikan daripada gertakan kasar.

Shen Jue menghentikan langkahnya tepat lima belas langkah di depan Zhongli Chen. Matanya yang gelap menatap lurus ke arah pecahan botol porselen yang masih tergantung di sabuk pinggang Zhongli Chen.

"Pilihan bahan kimia yang cukup menarik," pungkasi Shen Jue jernih tanpa nada amarah sedikit pun.

"Darah Pemancing Roh yang dikombinasikan dengan belerang rawa. Kau sengaja memancing Serigala Bayangan agar menguras tenaga kami sepanjang malam, bukan?" tanya Shen Jue menusuk.

Wajah Zhongli Chen memerah padam akibat perpaduan antara rasa malu yang luar biasa dan ketakutan yang tak tertahan. "Bicara sembarangan! Bukti apa yang kau miliki untuk menuduhku?!" seru Zhongli Chen panik.

"Bukti?" pungkasi Shen Jue seraya menyunggingkan senyum tipis yang amat dingin.

"Bau belerang di jubah mahalmu cukup menyengat untuk memanggil sisa-sisa Serigala Bayangan yang terpisah dari kawanannya di hutan utara," lanjut Shen Jue santai.

Saat kata-kata Shen Jue terlontar, desiran gerak dari balik semak-semak di sekeliling ceruk jurang mendadak kembali terdengar. Empat ekor Serigala Bayangan sisa semalam yang berkeliaran di lereng bawah mulai bermunculan dari balik pohon, mata merah mereka seketika terkunci lurus pada Zhongli Chen dan dua pengikutnya yang mengeluarkan bau cairan pemancing terpekat.

"G-Grrr... GROAARRR!"

Serigala-serigala itu menggeram rendah, memutari posisi Zhongli Chen dari belakang, sepenuhnya mengabaikan kelompok Shen Jue yang telah diolesi daun penetral bau.

"S-Serigala?!" teriak Gao Feng histeris seraya mengayunkan pedangnya secara acak ke udara.

"Shen Jue! Kau memancing mereka ke sini?!" jerit Zhongli Chen penuh kepanikan.

"Bukan aku yang memancing mereka," sahut Shen Jue santai seraya bersedekap dada.

"Kau sendiri yang mengundang mereka dengan kebodohanmu. Kami hanya datang untuk memastikan undanganmu terbalas dengan tuntas," sambung Shen Jue dingin.

"Bagaimana rasanya, Tuan Muda? Hadiah semalam dari kami benar-benar cocok untukmu, kan?" tanya Ruan Xi'er geli.

Zhongli Chen mengepalkan giginya hingga berderak keras. Rasa terpojok, hinaan dari murid desa, dan ancaman taring serigala di sekelilingnya membakar sisa-sisa akal sehatnya menjadi kemarahan liar yang tak terkendali. Energi spiritual berwarna kuning keemasan meledak tiba-tiba dari dalam tubuhnya, membiaskan bayangan sesosok serigala raksasa bersisik besi di balik punggungnya.

"Bocah-bocah sampah!" raung Zhongli Chen dengan mata merah berapi-api.

"Jangan kira kalian bisa mempermainkan klan Zhongli seenaknya!" teriak Zhongli Chen emosi.

Shen Jue hanya memperhatikan kebangkitan energi roh musuhnya dengan mata menyipit tipis, jemari tangannya di balik saku jubah perlahan menyentuh dinginnya mata belati berkarat. Keadaan telah berbalik sepenuhnya, dan konfrontasi berdarah kini tak lagi bisa dihindari.

1
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor.........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ....,......
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .........
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!