Mia menikah muda di usia dua puluh satu tahun dengan Edo, pria yang tiga tahun lebih muda darinya. Awalnya, perbedaan usia bukanlah masalah. Satu tahun pertama pernikahan mereka dipenuhi cinta, tawa, dan mimpi sederhana sebagai pasangan muda.
Namun, setelah tiga tahun, semuanya berubah.
Edo yang pemalas mulai menggantungkan seluruh kebutuhan hidup kepada Mia. Sementara Edo menghabiskan uangnya untuk bersenang-senang.
Yang lebih menyakitkan, Edo merasa dirinya lebih berharga hanya karena lebih muda. Ia tak segan menghina Mia, menyebutnya tua, membandingkannya dengan perempuan lain, bahkan berkali-kali melakukan kekerasan. Keluarga Edo juga selalu membela Edo, menyebut Mia beruntung bersuamikan lelaki yang jauh lebih muda.
Mia terpuruk.
Hingga akhirnya ia sadar dan tak lagi menjadi wanita lemah.
"Aku pernah mencintaimu sampai lupa mencintai diriku sendiri. Tapi sekarang, aku memilih mencintai diriku sendiri!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Mia menunggu beberapa detik. Namun, bukannya suara Edo yang terdengar, suara operator justru menyambut dari seberang.
"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif. Silakan coba beberapa saat lagi."
Mia terdiam. Perlahan, ia menurunkan ponsel dari telinga. "Ya Allah..." desahnya berat. Ia menatap layar Nokia pink di tangannya. Nama Edo masih terpampang di sana. "Kenapa nomornya nggak aktif?" Mia mencoba menelepon sekali lagi. Barangkali tadi hanya gangguan jaringan. Namun, hasilnya tetap sama. Nomor yang dituju tidak aktif.
Mengembuskan napas panjang. Ada sedikit rasa kecewa yang menyelusup di dada Mia. Sebenarnya ia berharap Edo mengangkat telepon dan berkata akan segera menjemputnya.
Dulu, kalau Mia lembur sampai malam, Edo sering datang menjemput meskipun hanya menggunakan motor lamanya. Tapi sekarang semuanya terasa berbeda. "Sudahlah..." gumam Mia, berusaha mengusir pikiran buruk. "Mungkin ponselnya lagi mati." Ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas, kemudian memandang jalanan di depan kawasan pabrik. Beberapa tukang ojek masih terlihat mangkal di kejauhan.
Namun, tarif dari kawasan industri sampai rumah tentu tidak murah. Mia merogoh dompetnya. Ia menghitung uang yang tersisa. Tidak banyak. "Kalau langsung naik ojek dari sini, bisa-bisa uang bekalku habis sebelum gajian tiba." Ia terdiam sejenak. Akhirnya Mia mengambil keputusan. "Aku jalan dulu deh sampai keluar kawasan industri. Nanti kalau sudah agak dekat kontrakan, baru naik ojek." Mia menyampirkan tali tas ke bahunya dengan lebih kuat. Kemudian ia mulai berjalan. Langkahnya terasa berat.
Seharian bekerja di depan mesin jahit membuat kedua kakinya pegal. Telapak kakinya juga terasa panas karena sejak pagi memakai sepatu yang sama. Namun, Mia tetap berjalan.
Kawasan industri yang siang hari selalu ramai oleh kendaraan dan pekerja kini mulai lengang. Lampu-lampu dari beberapa pabrik masih menyala terang, tetapi sebagian jalan sudah jauh lebih sepi dibandingkan beberapa jam sebelumnya.
Mia berjalan sambil sesekali menoleh ke belakang. Setiap kali terdengar suara motor dari kejauhan, ia sempat berharap itu Edo. Namun, setiap motor yang melewatinya selalu berlalu begitu saja. Mia tersenyum getir. "Kenapa sih aku masih berharap dia datang?" Ia menundukkan kepala.
Menghela napas panjang Mia. "Yang penting aku sampai rumah dengan selamat." Ia kembali mempercepat langkah. Beberapa menit kemudian, ia mulai melihat kawasan yang lebih ramai. Masih ada warung kecil yang buka, beberapa pedagang yang sedang membereskan dagangan, dan beberapa tukang ojek yang duduk di atas motor mereka.
Mia merasa sedikit lega. "Alhamdulillah..." Ia berhenti sebentar di pinggir jalan untuk mengatur napas. Bahunya terasa berat. Ia membuka tas dan mengambil botol air minum, lalu meneguk beberapa kali. "Capek banget..." Mia memijat tengkuknya sendiri, lalu menatap langit malam. "Ya Allah, semoga rumah tanggaku dan Edo langgeng sampai nanti." Setelah selesai berdoa dalam hati, Mia kembali berjalan.
Tidak lama kemudian, seorang tukang ojek yang sedang duduk di atas motornya memperhatikannya. "Neng, mau ngojek?" tanyanya.
Mia berhenti. Ia melirik tukang ojek itu, lalu bertanya hati-hati. "Pak, kalau naik ojek dari sini ke gang Haji Banu berapa ongkosnya?"
"Sepuluh ribu, Neng. Mau?"
"Iya, Pak. Mau."
"Ayo naik, Neng. Tapi maaf, saya nggak bawa helm."
"Iya, Pak. Tidak apa-apa." Mia akhirnya naik ke jok belakang. Tasnya dipeluk erat di depan dada.
Motor pun mulai melaju membelah jalanan malam yang semakin larut.
Mata Mia terpejam sesaat. "Semoga Edo baik-baik saja dan sudah ada di kontrakan..."
Sekitar dua puluh menit kemudian, motor yang ditumpangi Mia akhirnya berhenti di depan gang Haji Banu, tempat kontrakannya berada.
"Sudah sampai, Neng," ujar tukang ojek.
Mia segera turun, membayar ongkos sesuai kesepakatan, lalu tersenyum sopan. "Terima kasih, Pak."
"Iya, Neng. Hati-hati."
Mia mengangguk. Setelah tukang ojek pergi, ia berdiri sebentar di mulut gang sambil memijat kedua kakinya yang terasa pegal. "Alhamdulillah, akhirnya sampai juga." Jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan hampir pukul sebelas malam. Ia menarik napas panjang, kemudian berjalan masuk ke gang.
Suasana di sekitar kontrakan cukup sepi. Beberapa rumah masih menyalakan lampu teras, sementara sebagian lainnya sudah gelap. Sesekali terdengar suara televisi dari dalam rumah warga.
Mia berjalan sampai akhirnya berhenti di depan area kontrakannya yang membentuk huruf U. Ia membuka gerbang menggunakan kunci yang diberikan pemilik kontrakan, lalu mengunci gerbang itu lagi.
Langkahnya terhenti sesaat di depan garasi khusus kendaraan penghuni kontrakan. Matanya berpendar mencari motor suaminya, "Lho, kok motor Edo nggak ada?" gumamnya. "Masa sih dia belum pulang? Pergi ke mana dia?" Pertanyaan itu menguar begitu saja tanpa mendapatkan jawaban.
Mia melanjutkan langkah menuju pintu kontrakannya, memasukan kunci dan memutar gagang pintu.
Ketika pintu terbuka, pemandangan yang menyambut gelap gulita. Mia meraba dinding di sebelah pintu dan menyalakan lampu. Cahaya langsung memenuhi ruangan kontrakan yang sederhana itu.
Kakinya segera melangkah ke kamar setelah melepas sepatu. Mia meletakkan tasnya di meja dekat kasur. Mengambil ponselnya dan menekan lagi nomor Edo, tapi tetap tidak aktif seperti tadi. "Bodo amatlah." Mia menyerah, ia merebahkan tubuhnya di atas kasur. Saking capek dan ngantuknya, ia pun terlelap tanpa mengganti pakaian.
Baru beberapa menit Mia terbang ke alam mimpi, telinganya menangkap deru knalpot motor Ninja. Mata Mia terbuka seketika, ia spontan melirik ke arah pintu kamar yang hanya ditutup gorden. "Itu pasti Edo." Ia bangkit dan berlari menuju pintu depan.
Belum sempat Mia membuka pintu, gedoran dari luar terdengar memekakan keheningan malam. Mia buru-buru memutar kunci dan Edo benar-benar berdiri di depannya dengan mata merah. "Kamu habis dari mana, Do? Kok jam segini baru pulang?" tanya Mia sambil bergeser, memberikan jalan pada Edo.
"Udah deh! Nggak usah banyak tanya!" semprot Edo. "Aku capek! Mau tidur!" Lelaki itu berjalan dan masuk ke kamar.
"Huh!" Mia hanya mampu mengembuskan napas kasar sambil menggelengkan kepala, mengunci pintu lagi. Ia mengikuti Edo masuk ke kamar. "Kamu udah makan belum?" tanya Mia kepada Edo yang sedang melucuti semua pakaian di depan lemari plastik.
"Udah." Lelaki itu menjawab singkat. Tangannya membuka lemari dan mengambil kaus serta kolor, memakainya. "Aku mau tidur. Jadi, nggak usah ngajak ngobrol lagi." Edo menjatuhkan tubuhnya ke kasur dan menarik selimut.
"Iya." Mia berjalan ke dekat lemari, memunguti pakaian Edo dan membawanya ke kamar mandi. Tangannya hendak memasukkan kemeja kerja berwarna abu muda itu ke dalam ember cucian ketika matanya tiba-tiba menangkap sesuatu di bagian kerah. Ia mengernyit. Ada noda kemerahan yang samar di sana.
Mia menarik kemeja itu lebih dekat ke wajahnya. Dengan ujung jari, ia menyentuh noda tersebut. "Ini apa?" Ia memperhatikan beberapa detik. Warna merah muda kemerahan itu membuat dadanya mendadak terasa tidak nyaman.
Mia mengusapnya sekali lagi. "Ini kok kayak bekas lipstik?" Tangannya seketika berhenti. Mia terdiam cukup lama. Matanya mendadak memanas. "Edo..." Nama itu keluar begitu saja dari bibir Mia. Ia menatap kemeja itu dengan tatapan tak percaya. "Jangan berpikir yang tidak-tidak dulu, Mia. Tenang." Ia menggeleng pelan.
Namun, saat ia hendak meletakkan kemeja itu, matanya kembali menangkap sesuatu. Sehelai rambut panjang berwarna hitam tersangkut di bagian bahu. Mia menarik rambut tersebut perlahan. Wajahnya seketika berubah. "Ini rambut siapa?" Rambut di tangannya jauh lebih panjang dari rambutnya sendiri. Mia menggenggamnya erat. Prasangka buruk datang menghantam. Jantungnya mulai berdegup lebih cepat. Belum sempat pikirannya menemukan jawaban, aroma asing kembali tercium dari kemeja tersebut. Wangi parfum perempuan. Lembut, manis, dan cukup kuat untuk membuat aroma itu masih tertinggal di kain.
Mia spontan menjauhkan kemeja dari tubuhnya. Matanya membesar. "Noda lipstik, helaian rambut panjang dan wangi parfum asing," lirihnya. "Apa mungkin Edo habis bertemu dengan perempuan lain?"
😁😁🤭
si setan edo kenapa g di bikin nyungsep aja sih thor ..laju laju membawa kendraan trus nyungsep luka luka hilang lah ketampanan yg di banggakanya👍👍💪