Apa jadinya jika pengetahuan kultivasi tingkat dewa dimiliki oleh jiwa pemuda modern
Qin Feng terbangun di dalam goa isolasi sebagai Master Legendaris Gu Tian. Namun, alih-alih bisa terbang membelah langit, musuh utamanya saat ini adalah encok, pinggang kram, dan jalur meridian yang kaku.
sang "Master Tua" berjiwa pemuda ini harus memutar otak agar tidak mati konyol untuk kedua kalinya di tengah kepungan musuh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HINDRA10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4
Qin Feng menyandarkan kepalanya ke dinding batu goa yang dingin, menghela napas panjang yang terasa sangat berat.
Di dalam kepalanya, ingatan milik Gu Tian sudah tertata rapi. Dia kini tahu persis bagaimana struktur jalur meridian manusia, teknik pemusatan napas, hingga metode menyerap energi alam (Qi) untuk mengisi kembali Dantian-nya yang kosong melompong. Pengetahuan kultivasi tingkat tinggi yang diimpikan jutaan orang di dunia ini sudah berada di luar kepalanya.
"Secara teori, aku cuma perlu menarik Qi murni di udara, menyaringnya lewat meridian paru-paru, lalu mengendapkannya di Dantian bawah..." gumam Qin Feng sambil memejamkan mata tua yang berkerut.
Namun, baru saja dia mencoba menarik napas dalam-dalam sesuai metode kultivasi dasar, rasa nyeri menusuk langsung menyengat dadanya.
Uhuk! Uhuk!
Qin Feng terbatuk keras hingga wajah keriputnya memerah. Tubuh tua ini benar-benar dalam kondisi terburuk! Jalur meridiannya menyempit dan kaku akibat kegagalan breakthrough pemilik sebelumnya. Jika dia memaksa menyerap Qi secara langsung tanpa bantuan obat pemulih, pembuluh darah tuanya bisa pecah seketika.
"Sialan... jangankan mengisi Dantian, bernapas agak dalam sedikit saja rasanya seperti menyedot duri!" serunya merutuki nasib.
Mata tuanya kemudian menyapu sekeliling ruangan goa. Di sekitarnya terhampar tumpukan batu permata, pedang pusaka yang memancarkan aura dingin, hingga gulungan kitab tua berdebu. Meskipun ingatan Gu Tian sudah menyatu dengan otaknya, Qin Feng yang berjiwa orang modern masih merasa asing dan kesulitan membedakan mana barang yang benar-benar berguna saat ini dan mana yang cuma pajangan berkilau.
Tiba-tiba, pandangannya tertuju pada sebuah botol porselen berwarna hijau zamrud yang tergeletak di atas batu datar, sekitar dua meter di hadapannya.
Dari botol yang tersumbat kain tipis itu, mengalir aroma herbal yang sangat pekat dan menenangkan—aroma yang dalam ingatan Gu Tian teridentifikasi sebagai Pil Pembersih Sumsum atau Pil Pemulih Meridian.
"Itu dia!" mata Qin Feng berbinar. "Kalau bisa meminum pil di dalam botol itu, jalur meridianku yang kaku bisa dilunakkan lagi. Aku bisa mulai mengisi Dantian-ku!"
Masalahnya sekarang cuma satu: botol itu berada dua meter di depannya. Bagi seorang pemuda dua puluh empat tahun di Bumi, jarak dua meter hanya butuh dua langkah kecil. Tapi bagi tubuh kakek-kakek yang baru selesai bersila kaku selama satu minggu penuh dan baru saja kena encok parah, jarak dua meter itu terasa seperti melintasi lautan pasir.
"Ayo, Qin Feng... bergeraklah," bisiknya menyemangati diri sendiri.
Dia mencoba mengangkat kaki kanannya, namun persendian lututnya terasa kaku seperti kayu lapuk yang siap patah. Sendi-sendinya berderit pelan saat dipaksa memindahkan tumpuan tubuh.
Krak!
"Aduh, aduh, aduh! Dengkulku!" Qin Feng meringis memegangi lutut tuanya.
Sensasi kram dan pegal luar biasa kembali menyergap. Tubuhnya seolah menolak untuk diajak bekerja sama. Rasa lelah dan putus asa sempat terlintas di benaknya. Di kehidupan sebelumnya di Bumi, dia selalu menyerah pada keadaan karena tekanan utang yang tak ada habisnya hingga akhirnya mati konyol.
Tapi kali ini beda. Dia sudah diberi kesempatan hidup kedua di dunia fantastis yang penuh keajaiban ini. Dia tidak mau mati konyol lagi hanya gara-gara gagal meraih botol obat di dalam goa!
"Aku tidak boleh menyerah di sini!" tegasku dalam batin dengan gigih. "Kehidupan manja di Bumi sudah selesai. Kehidupan sebagai penagih utang sudah tamat. Kalau berjalan tidak bisa, aku bakal merayap!"
Dengan tekad bulat, Qin Feng merebahkan tubuh tuanya ke lantai goa yang dingin. Dia membuang jauh-jauh gengsi sebagai mantan "Master Legendaris Gu Tian" yang ditakuti dunia.
Secara perlahan dan penuh perjuangan, kakek berjanggut putih itu mulai merayap di atas tanah batu. Tangannya yang keriput mencengkeram celah-celah batu permata untuk menarik tubuhnya maju beberapa sentimeter demi sentimeter. Punggungnya menjerit kesakitan, pinggangnya terasa terbakar, dan janggut putih panjangnya menyapu debu di lantai goa, namun matanya tetap terkunci rapat pada botol porselen hijau di hadapannya.
"Satu sentimeter lagi... sedikit lagi..." napasnya terengah-engah, peluh dingin membasahi dahi berkerutnya.
Setiap inci gerakan adalah pertempuran hidup dan mati melawan penuaan fisik. Setelah perjuangan dramatis selama hampir lima belas menit yang sangat menyiksa, ujung jari keriput Qin Feng akhirnya berhasil menyentuh dinginnya permukaan porselen hijau tersebut.
Clink!
"Dapat!" jerit Qin Feng kegirangan.
Dia memeluk botol kecil itu ke dadanya bagaikan menemukan harta karun paling berharga di semesta. Tanpa membuang waktu, dengan tangan gemetar, dia mencabut sumbat botol tersebut dan mencium aroma segar yang seketika membuat pikirannya terasa jernih.
Terima kasih sudah membaca cerita ini /Smile//Smile/