Anaxa Daemyn Elrad, seorang mahasiswa psikologi, mulai menerima amplop cokelat berisi laporan penelitian yang menggambarkan kehidupan, kebiasaan, bahkan perilaku pribadinya secara terperinci.
Awalnya dia menganggapnya sebagai kebetulan. Namun, semakin banyak laporan yang muncul, semakin sulit baginya menyangkal satu kenyataan: seseorang sedang mengamati dirinya.
Di balik kehidupan kampus yang tampak biasa, tersembunyi sebuah proyek penelitian bernama EVA-213.
Siapa yang mengawasinya? Apa tujuan penelitian tersebut? Dan sejak kapan hidup Anaxa bukan lagi sepenuhnya miliknya?
Bagaimana jika seluruh hidupmu ternyata hanyalah data bagi seseorang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sara Zefa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AKU SUDAH TERBACA
Kalimat terakhir Alya terdengar seperti petir yang menyambar di pagi buta.
Kemudian keheningan mencekam melahap habis Anaxa dan Alya, pikiran mereka bedua mulai bekerja keras untuk mencari alasan yang cukup masuk akal untuk menjelaskan kejadian tersebut. Menit demi menit berlalu, namun semakin dipikirkan rasanya seperti menelusuri jalan yang ujungnya buntu.
Alya kembali melirik ke tumpukan kertas laporan diatas meja. Mengambilnya secara acak barang kali menemukan lebih banyak petunjuk. Dan kini, Anaxa juga ikut mencari dan membaca seksama tulisan di laporan. Pria itu juga sambil mengingat-ingat kejadian yang terjadi pada hari yang tertulis di kertas. Sampai akhirnya Alya menghentikan tangan Anaxa.
“Anaxa...”
“Hm?”
Alya kembali menyodorkan sebuah laporan. Dan Anaxa membacanya dengan seksama.
HARI 27
Subjek menunjukkan penurunan intensitas interaksi sosial.
Subjek beberapa kali membuka percakapan dengan beberapa individu, tetapi tidak mengirimkan pesan apa pun.
Subjek sempat memikirkan untuk meninggalkan seluruh lingkungan sosialnya dan tidak memberitahu siapa pun mengenai keberadaannya.
Subjek membayangkan bagaimana kehidupannya jika tidak ada seorang pun yang mengenalnya.
Subjek kemudian kembali melakukan aktivitas seperti biasa.
Subjek membuka aplikasi pesan dan menatap daftar kontak selama kurang lebih tujuh menit tanpa menghubungi siapa pun.
Anaxa terdiam. “Aku... pernah melakukan itu?”
Alya menatapnya. “Kamu gak ingat?”
Anaxa menggelengkan kepala perlahan. Tatapannya masih terpaku pada laporan tersebut. “Aku bahkan gak ingat pernah berpikir seperti itu.”
Dan justru kalimat terakhir itulah yang membuat wajah Alya perlahan berubah.
Karena laporan tersebut tidak hanya mengetahui apa yang dilakukan Anaxa. Laporan itu mengetahui sesuatu yang bahkan Anaxa sendiri sudah lupa pernah pikirkan.
"Tidak mungkin kan yang mengamati ku adalah hantu?" Anaxa melontarkan candaan yang daripada terkesan lucu malah terkesan putus asa dan gak tau lagi mau melakukan apa.
Namun Alya belum se putus asa Anaxa, dirinya kembali menghabiskan waktu untuk membaca beberapa laporan.
Sedangkan Anaxa melangkahkan kaki nya ke sofa, duduk, dan menyenderkan punggungnya disana. Anaxa menghela nafasnya lelah. Pria itu merasa dipermainkan karena awalnya Anaxa sempat lega terror amplop coklat tersebut berhenti, tapi perasaan amannya langsung hancur begitu saja.
"Apakah... Aku harus pindah kos an?"
"Bagaimana kalau masalahnya bukan di kos an mu?" Alya malah balik bertanya.
"Lalu apa hahh..."
Alya menghampiri Anaxa sambil membawa tumpukan tipis kertas laporan tersebut, menyuruh Anaxa membaca lagi "Mungkin, seseorang yang mengawasimu gak selalu perlu memakai alat pemindai dan perekam suara..." Alya berhenti sejenak. Gadis tersebut memperhatikan perubahan ekspresi Anaxa yang semakin tegang. "Setelah aku banyak baca, ternyata kamu punya pola rutinitas yang bisa di kenali dan di prediksi"
Gadis itu lanjut menjelaskan. “Kamu selalu melakukan hal yang sama ketika mulai tertekan. Mengurangi interaksi, membuka aplikasi pesan tanpa mengirim apa pun, memeriksa ulang barang-barangmu, lalu mengurung diri.”
Anaxa membelalakkan mata. Mulai menyadari ucapan Alya ada benarnya. “Setelah itu kamu biasanya kembali melakukan aktivitas normal seolah gak terjadi apa-apa. Bahkan laporan ini mencatat kapan kamu mulai menghindari orang, kapan kamu kembali mencari seseorang, sampai kapan kamu mulai melakukan kebiasaan tertentu.”
Alya menatap Anaxa. “Kalau seseorang sudah mengetahui polamu, dia gak perlu terus-terusan mengawasimu.”
Dan Anaxa kehabisan kata-kata. Dia sama sekali tidak mengira bahwa terror amplop coklat itu akan jadi se kompleks ini.
"Ini semua gila... Cukup untuk hari ini. Rasanya kepalaku ingin pecah." Ungkap Anaxa pada akhirnya. Dan Alya membalas ucapan Anaxa dengan anggukan. Gadis itu menaruh kembali setumpuk kertas laporan di atas meja, kemudian ikut mendudukkan diri di sofa tepat di sebelah Anaxa.
"Oke. Saatnya istirahat pikiran dulu."
Anaxa mengangguk patuh. Dan mereka berdua kembali terdiam, sibuk akan pikirannya masing-masing. Sampai akhirnya suara dari perut Anaxa terdengar. Alya langsung menoleh ke arah Anaxa, sementara pria itu mendadak salah tingkah karena sudah melakukan sesuatu yang memalukan.
"Rhh... Maaf... Sepertinya aku lupa kalau belum sarapan." Ucap Anaxa sembari menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal.
Dan Alya malah mentertawakan tingkah lucu Anaxa. "Kamu ada bahan makanan di kos?"
"Nasi... Belum dimasak. Bahan makanan lain belum di sempat dibeli. Cuma ada sereal... Dan roti yang mungkin belum kadaluarsa?" Senyum lemah kini terpatri di wajah Anaxa.
"Astaga. Baiklah. Makan yang ada dulu. Lain kali kamu harus lebih memperhatikan setok makanan. Makan yang cukup dan bergizi."
Anaxa malah menangkap ucapan Alya tadi sebagai omelan. Mau tak mau Anaxa mengangkat kedua tangannya tanda pasrah. "Siap melaksanakan, tuan putri."
Dan Alya tertawa setelah mendengar ucapan konyol Anaxa. Dalam hati gadis itu, Alya bersyukur karena suasana hati Anaxa jadi lebih baik dari sebelumnya.
"Oke calon raja, biarkan hamba membuatkan sarapan untuk anda." Ucapan Alya seterusnya membuat mereka tertawa bersamaan
Alya beranjak dari duduk dan melangkah ke dapur. Anaxa mengikuti gadis itu dibelakang nya, kemudian membiarkan Alya menyeduh sereal instant karena sayangnya roti tawar yang Anaxa sempat sebut sudah berjamur. Pria itu tertawa canggung melihat roti tersebut berakhir di tempat sampah.
"Oke... Seperti aku perlu serius dalam menyetok makanan..."
"Kalau tidak, kamu akan mati kering." Alya terkekeh pelan. Menyodorkan semangkuk sereal kehadapan Anaxa, dan pria itu menyambut sarapan nya dengan senang hati.
"Terimakasih banyak." Ucap Anaxa. Meraih sendok dan siap melahap sereal nya. Namun sebelum sempat masuk mulut, tiba-tiba ponsel Anaxa berbunyi berisik.
Anaxa langsung menaruh kembali sendoknya. Merogoh ponsel di saku celana. Mengecek ponsel. Ternyata Keenan menelepon dirinya. Dengan sedikit gusar, Anaxa menjawab panggilan telepon tersebut "Ya?"
"King! Where are you? Aku gak nemuin kamu di kelas tadi. Tumben? Lagi sakit kah?"
Anaxa langsung memberi jarak dari ponselnya karena Keenan terlalu berisik menanyai dirinya
"Di kos."
"What? Serius seorang Anaxa malah berada di rumah ketimbang di hadir di kelas? Mana Anaxa yang sebenarnya, gak dibawa pergi sama makhluk halus kan— WOY!"
"Berisik bodoh." Anaxa mulai memaki
Rupanya Keenan berteriak tiba-tiba karena ponselnya baru saja direbut oleh Dimas. Sekarang ganti Dimas yang menanyakan Anaxa. "Boleh minta alamat kos mu? Bu Aglaea memberi tugas kelompok lagi. Aku sama Keenan beres kelas langsung ke tempatmu."
"Oke." Ucap Anaxa. Langsung mematikan panggilan. Lalu share lock lokasi kos nya ke room chat Keenan. Setelah itu Anaxa menaruh ponselnya di atas meja. Pria itu berdecak pelan dan lanjut menyantap sarapannya yang sempat tertunda.
Diam-diam Alya memperhatikan interaksi Anaxa saat teleponan dengan Keenan dan Dimas. Seingat Alya, pria itu sebelumnya gak pernah se ekspresif ini. Wajahnya selalu datar dan dingin juga minum emosi. Namun kali ini, dengan kedua matanya sendiri, Alya menyaksikan beragam emosi dari Anaxa... takut, khawatir, bingung, kesal, bahkan gadis itu melihat Anaxa tertawa bersama nya.
Alya menyimpulkan senyum tipis. Dan ternyata Anaxa menotis itu. "Kenapa tiba-tiba senyum?" Tanya Anaxa. Namun hanya dibalas gelengan kepala oleh Alya. Gadis itu malah lanjut menyendok dan melahap serealnya.
"Hanya tiba-tiba memikirkan sebuah moment lucu." Ungkap Alya akhirnya.
"Oh..."
Dan mereka berdua pun lanjut menyantap sarapan sampai habis, tanpa menyadari bahwa badai akan datang lagi.
Mungkin... Badai dalam bentuk yang sama sekali mereka tak duga?