Hari pernikahan yang seharusnya menjadi momen terindah berubah menjadi bencana bagi keluarga Abraham. Kakak kandung Alice Sabrina Catrine (Cesa) mendadak kabur tepat di hari H pernikahan demi menghindari perjodohan sepihak. Demi menjaga martabat keluarga, Cesa tidak punya pilihan lain. Menggunakan gaun pengantin yang bukan miliknya, Cesa terpaksa melangkah ke pelaminan untuk menggantikan posisi sang kakak.
Cesa sama sekali tidak mengenal siapa laki-laki yang menjabat tangan ayahnya di depan penghulu. Detik berikutnya, dunia seolah runtuh saat ia mengetahui identitas sang suami: Devano Alvian Mahendra.
Devan adalah paket lengkap dari definisi masalah: terkenal galak, tengil, nakal, dan punya hobi kelayapan malam yang mendarah daging. Sialnya, Cesa bukanlah gadis penurut yang lemah lembut. Cesa adalah gadis cantik berkulit mulus dengan sumbu pendek alias emosi yang mudah meledak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon manggiskaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
posisi mulai tergantikan
Malam harinya, suasana di mansion megah keluarga Mahardika tampak begitu benderang dan meriah. Lampu-lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit ruang tengah dinyalakan seluruhnya, memantulkan cahaya berkilauan pada pilar-pilar marmer yang kokoh. Dari arah dapur utama, aroma masakan bintang lima mulai menguar, memancing selera siapa pun yang menghirupnya.
Di atas sofa kulit premium berharga ratusan juta, duduklah Papa Kenan—papa kandung Devan yang memiliki wibawa luar biasa—bersama Sang Kakek, sang patriark keluarga yang terkenal sangat tegas dan pelit pujian. Namun malam ini, wajah kedua pria berkuasa itu dipenuhi oleh senyuman lebar yang sangat jarang terlihat.
Di hadapan mereka, berdiri Devan yang baru saja pulang kerja. Setelan jas hitamnya sudah tampak sedikit kusut, dasinya sudah dilonggarkan, dan wajahnya mencerminkan kelelahan fisik serta mental yang luar biasa. Namun, bukan kelelahan itu yang membuatnya menderita, melainkan pemandangan di sebelahnya.
Cesa berdiri dengan gaya petantang-petenteng andalannya. Pakaian kuning lebah sultan yang ia pakai ke kantor tadi siang masih melekat di tubuhnya, lengkap dengan jepit bulu ayam merah muda yang bergoyang genit di rambutnya. Tangan kanannya dengan santai bertolak pinggang, sementara tangan kirinya memegang rantang plastik merah muda neon kosong yang ia pamerkan bak piala kejuaraan dunia.
"Devan! Cesa! Sini duduk, Nak!" seru Papa Kenan dengan suara menggelegar penuh kegembiraan. "Papa baru saja menerima laporan dari sekretaris Andi tentang keberhasilan rapat siang tadi. Luar biasa! Kontrak ratusan miliar dengan delegasi Yokohama langsung ditandatangani hari ini juga! Kakekmu sampai tidak percaya!"
Kakek Devan yang duduk di kursi goyang jati berdehem kencang, namun matanya menatap Cesa dengan binar kagum. "Benar. Selama puluhan tahun kakek berbisnis dengan orang Jepang, mereka selalu butuh waktu berminggu-minggu untuk menganalisis draf. Tapi hari ini, mereka takluk dalam waktu kurang dari satu jam. Andi bilang, ini semua karena... strategi diplomasi yang diajukan oleh Cesa? Benar begitu, Devan?"
Devan langsung menelan ludah dengan susah payah. Urat di pelipisnya mendadak berdenyut lagi. Ia melirik Cesa yang sengaja memasang wajah sok imut dan penuh kemenangan di sebelahnya.
"E-eh... itu, Kek, Pa... sebenarnya itu bukan strategi bisnis formal, tapi—"
"Tapi itu adalah *Diplomasi Jengkol*, Papa Kenan! Kakek!" potong Cesa dengan volume suara yang cempreng nan barbar, memotong ucapan suaminya tanpa ragu sedikit pun. Cesa langsung melangkah maju, meninggalkan Devan, dan duduk di antara Papa Kenan dan Kakek dengan sangat santai.
"Jadi begini ceritanya," lanjut Cesa berapi-api sembari menggerakkan tangannya secara dramatis. "Si Devan ini kan tadi siang lemas banget kayak sayur lodeh basi karena stres mikirin berkas. Nah, sebagai istri sholehah nan berbakti yang tahu segalanya, gue langsung berinisiatif membawakan pasokan gizi suci nan berenergi tinggi dari dapur mansion: Jengkol Balado! Pas rapat dimulai, aroma kejantanan jengkol itu langsung menyerang ruangan! Investor Jepang yang awalnya muka kaku kayak kanebo kering langsung terpesona! Mereka bilang itu bau dedikasi seorang ksatria! Makanya mereka langsung rebutan tanda tangan!"
Mendengar dongeng tingkat tinggi dari mulut barbar Cesa, Devan rasanya ingin menghilang dari muka bumi saat itu juga. Ia menutupi wajahnya dengan satu tangan, menahan malu yang teramat sangat. *“Aroma kejantanan jengkol matamu, Cesa!”* umpat Devan dalam hati dengan dendam kesumat.
Namun, reaksi dari Papa Kenan dan Kakek benar-benar di luar nalar sehat Devan.
"HAHAHAHA! Luar biasa! Brilian!" Papa Kenan malah meledak dalam tawa yang sangat puas, menepuk-nepuk pundak Cesa dengan bangga. "Hanya menantu Papa yang punya pemikiran *out of the box* seperti ini! Menggunakan kearifan lokal untuk menaklukkan pasar internasional! Memang dari awal Papa Kenan tidak salah pilih pengganti! Kamu benar-benar aset berharga keluarga Mahardika, Cesa!"
Kakek juga mengangguk-angguk setuju, mengetuk-ngetukkan tongkatnya ke lantai dengan ritme penuh kemenangan. "Benar. Pemimpin itu harus berani tampil beda. Cesa, kakek sangat bangga padamu. Mulai besok, kakek akan pastikan fasilitas belanja bulananmu dilipatgandakan! Dan kamu, Devan..." Kakek menatap Devan dengan pandangan tajam bin menuntut. "...kamu harus dengarkan semua kata istrimu! Jangan berani-berani membantah atau membentak cewek jenius seperti dia!"
Devan melongo, matanya membelalak tidak percaya. "Hah?! Tapi Kek, Pa! Dia ke kantor pakai baju kuning gonjreng mirip lebah madu obralan, bawa rantang anak TK, terus bikin ruang kerja direktur bau sambal terasi! Masa yang kayak begini dibilang jenius?!" protes Devan dengan suara meninggi, emosinya yang tertahan sejak siang akhirnya meledak juga.
Cesa langsung memasang wajah cemberut buatan, matanya dikedip-kedipkan seolah-olah ia adalah korban penindasan paling malang di dunia. "Tuh kan, Papa Kenan... Kek... lihat sendiri. Di depan kalian aja dia berani ngebentak gue yang udah menyelamatkan aset ratusan miliar ini. Padahal di kantor tadi gue dihina-hina sama mantan pacar taruhannya yang mukanya mirip tepung terigu kurangan air. Sekarang di rumah malah dibentak suami sendiri. Nasib gue malang banget ya ampun..." Cesa pura-pura menyeka air mata gaib di sudut matanya.
"DEVAN!!!" teriak Papa Kenan dan Kakek serempak dengan nada yang sangat menggelegar, membuat Devan tersentak mundur satu langkah.
"Minta maaf sekarang juga pada istrimu!" perintah Papa Kenan mutlak, matanya melotot tajam ke arah anak laki-lakinya. "Dan apa tadi? Mantan pacar taruhan? Siapa cewek kurang ajar yang berani menghina menantu kesayangan Papa di kantor?! Besok Papa Kenan suruh HRD blacklist semua keluarganya dari rekan bisnis kita!"
Devan benar-benar mati kutu, terpojok di sudut ring tanpa jalan keluar. Ia menatap Cesa yang kini diam-diam menjulurkan lidahnya ke arah Devan di balik punggung Papa Kenan, memberikan senyuman kemenangan mutlak yang luar biasa menyebalkan.
Dengan perasaan campur aduk antara ingin menangis, murka, dan pasrah pada takdir pernikahannya yang hancur berantakan, Devan akhirnya melangkah mendekati Cesa. Ia mengepalkan tangannya di samping tubuh, giginya bergemelatuk menahan geram saat ia terpaksa membungkuk sedikit di depan gadis barbar itu.
"Maof... ya... istriku... sayong..." ucap Devan dengan nada suara yang ditekan sedalam mungkin, setiap katanya terdengar seperti ancaman pembunuhan terselubung.
"Nah, dimaafkan kok, suamiku yang tengil dan emosian," balas Cesa dengan senyum lebar tanpa dosa, lalu dengan bar-bar menepuk-nepuk pipi Devan dengan kencang di depan Papa Kenan dan Kakek, seolah-olah Devan adalah anjing pudel peliharaan barunya.
Malam itu, di meja makan mewah saat makan malam keluarga besar berlangsung, posisi Cesa sebagai "Istri Sultan" semakin tak tergoyahkan. Sementara Devan hanya bisa mengunyah makanannya dengan wajah super suram, menyadari bahwa hidupnya sebagai pengangguran kaya raya yang tenang telah musnah sepenuhnya, digantikan oleh hari-hari penuh huru-hara bersama sang istri pengganti yang kebarbarannya di luar nalar manusia normal.