Ulfa Apriyani (Ketua OSIS, perfeksionis, anti-kriminal) harus menelan pil pahit saat dijodohkan paksa dengan musuh bebuyutannya, Langit Pradipta (Kapten Basket, bad boy, biang onar).
Masalahnya, Langit sudah punya pacar yang sama populernya: Zara Aprilia (Kapten Cheerleader).
Di sekolah mereka perang dingin, di rumah mereka terpaksa tinggal satu atap.
Awalnya Langit cuek dan kasar karena menjaga hati Zara, tapi perlahan, pesona ketegasan Ulfa mulai meruntuhkan tembok ego Langit.
Saat Langit mulai jatuh cinta, rahasia pernikahan mereka bocor. Badai besar pun dimulai, memaksa Langit harus memilih antara ego masa mudanya atau kehilangan Ulfa selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mesra Di Depan Ulfa 04.
Acara perjodohan konyol itu baru lewat belasan jam, tapi dampaknya membuat seluruh sendi Ulfa terasa kaku saat melangkah melewati gerbang SMA Garuda.
Ulfa mengeratkan pegangannya pada tali tas ransel. Sebagai Ketua OSIS, dia punya reputasi yang harus dijaga. Tegas, disiplin, dan tak tersentuh.
Namun, di dalam dadanya, ada gemuruh yang melelahkan. Bagaimana mungkin cowok yang tadi malam duduk kaku di ruang tamunya dengan pandangan penuh permusuhan—adalah orang yang sama yang saat ini sedang menjadi pusat perhatian di koridor utama?
Langit. Kapten tim basket yang terkenal dengan julukan rebell, sekaligus cowok yang secara resmi telah terikat komitmen masa depan dengannya akibat bisnis kedua orang tua mereka.
"Ulfa! Area mading aman, tapi anak-anak kelas sebelas agak telat bubar dari kantin," lapor Rian, Seksi bidang divisi Mading OSIS, yang tiba-tiba menyusul langkahnya.
Ulfa mengerjapkan mata, memaksa otaknya kembali ke mode kerja. "Biar aku yang cek ke kantin habis ini. Kamu urus absensi petugas upacara buat senin depan, ya."
Suaranya tenang, datar, dan profesional. Sempurna. Tidak ada yang boleh tahu bahwa semalam ia baru saja dipaksa menerima takdir menjadi tunangan rahasia dari musuh bebuyutannya sendiri.
Namun, ketenangan itu langsung diuji saat Ulfa berbelok di koridor dekat loker olahraga.
Di sana, di bawah cahaya lampu koridor yang agak redup, Langit sedang bersandar pada loker besi.
Jaket basket merah-hitamnya tersampir longgar di bahu. Dan di depannya, ada Zara. Gadis cheerleader itu sedang tertawa manja, memilin ujung rambutnya sambil mendongak menatap Langit.
Begitu menyadari langkah kaki Ulfa mendekat, tatapan Langit langsung berubah. Sudut bibirnya terangkat, membentuk seringai provokatif yang sangat Ulfa kenali. Cowok itu sengaja menegakkan tubuhnya, lalu dengan gerakan perlahan yang tampak natural namun penuh kalkulasi, ia mengulurkan tangan untuk merapikan poni Zara yang berantakan.
"Nanti pulang sekolah aku tunggu di parkiran, ya?" suara Langit sengaja dinaikkan satu oktav, cukup jelas untuk menggema di koridor yang mulai sepi karena bel masuk hampir berbunyi.
Zara tersipu, wajahnya memerah. "Beneran, Bee? Bukannya kamu ada rapat kapten?"
"Buat kamu, bisa diatur," jawab Langit, matanya sama sekali tidak menatap Zara, melainkan terkunci lurus pada netra Ulfa yang sedang berjalan melewati mereka.
Tindakan Langit adalah sebuah deklarasi perang. Langit sedang menegaskan posisinya,
Di rumah, kita mungkin akan dijodohkan. Tapi di sekolah, kamu bukan siapa-siapa. Aku punya duniaku sendiri, dan kamu gak punya hak atas itu.
Praktis, seorang gadis yang baru dijodohkan akan merasa cemburu atau setidaknya terganggu melihat calon tunangannya bermesraan dengan cewek lain. Ada cubitan perih yang sempat mampir di ulu hati Ulfa—sebuah reaksi manusiawi saat ego seorang perempuan diabaikan secara sengaja.
Namun, akal sehat Ulfa bergerak lebih cepat dari emosinya. Dia tahu persis watak Langit yang keras kepala dan benci diatur. Ini hanyalah taktik kekanak-kanakan untuk memancing reaksinya.
Saat jarak mereka hanya tersisa dua langkah, Zara menoleh dan agak canggung menyapa, "Eh... Pagi, Kak Ul."
Ulfa menghentikan langkahnya tepat di depan kedua orang itu. Alih-alih melirik Langit atau menunjukkan gurat kemarahan, Ulfa justru menatap Zara dengan senyum tipis—senyum formal yang biasa ia gunakan saat menyambut tamu sekolah.
"Pagi, Zara. Tolong diingatkan temannya ya, bel masuk tinggal tiga menit lagi. Sebagai kapten tim, harusnya bisa kasih contoh yang baik, bukan malah bikin macet koridor," kata Ulfa, suaranya sangat tenang tanpa ada getaran emosi sedikit pun.
Senyum Langit langsung luntur. Tatapan matanya menajam, merasa serangannya mental begitu saja. Dia berharap melihat Ulfa kesal, mendengus, atau setidaknya membuang muka dengan gusar. Namun, ekspresi tak acuh Ulfa justru membuat Langit merasa dirinya seperti anak kecil yang sedang tantrum dan diabaikan oleh orang dewasa.
"Gak usah bawa-bawa jabatan, Fa. Ini koridor umum," sahut Langit dingin, suaranya terdengar ketat.
Ulfa mengalihkan pandangannya ke arah Langit untuk pertama kalinya pagi itu. Tatapan Ulfa kosong, seolah ia sedang melihat tiang listrik atau benda mati lainnya di sekolah. Tidak ada dendam, tidak ada luka yang diperlihatkan, meski di dalam dadanya rasa sesak itu mulai terkumpul.
"Justru karena ini koridor umum, Langit. Semua orang melihat," balas Ulfa datar. Dia melirik jam tangannya sekilas. "Dua menit lagi. Silakan masuk kelas sebelum saya minta seksi keamanan OSIS mencatat nama kalian."
Tanpa menunggu jawaban, Ulfa kembali melangkah. Kakinya bergerak konstan, ritmenya tidak berubah, menolak untuk terlihat terburu-buru seperti orang yang sedang melarikan diri.
Setelah berbelok di ujung koridor dan benar-benar hilang dari pandangan mereka, Ulfa baru menghentikan langkahnya.
Dia bersandar pada dinding semen yang dingin, menutup matanya rapat-rapat, dan membuang napas panjang yang sejak tadi tertahan di dada.
Tangannya yang memegang map laporan sedikit bergetar. Hatinya terluka, tentu saja.
Siapa yang tidak sakit hati melihat orang yang akan sah secara hukum adat, dengan sengaja menggunakan perempuan lain untuk merendahkannya? Namun Ulfa tahu, di sekolah ini, emosi adalah kelemahan.
Dan dia menolak kalah dari permainan ego seorang Langit.
......................
...****************...
Tbc,
sekarang gimna rasanya jatuh sejatuh"nya🥳🥳