Alya Pramesti kehilangan segalanya dalam satu hari karier sebagai dokter yang dibangunnya bertahun-tahun hancur karena fitnah, dan tunangannya sendiri memilih berpaling ke pelukan wanita lain di depan matanya.
Di titik paling rendah dalam hidupnya, dia justru bertemu Raka Wirawan CEO dingin dan misterius yang menawarkan kesepakatan tak masuk akal: menjadi istri kontrak selama satu tahun. Bukan karena cinta, tapi demi memenuhi permintaan terakhir sang nenek yang sekarat.
Alya menerima, tanpa ekspektasi apa pun selain bertahan hidup dan membuktikan diri.
Namun semua berubah saat sebuah malam krisis memaksa Alya mengambil alih sebagai dokter menyelamatkan nyawa nenek Raka saat semua orang panik. Untuk pertama kalinya, pria yang selalu terlihat tanpa emosi itu melihat Alya bukan sekadar "istri di atas kertas", melainkan seseorang yang nilainya jauh lebih besar dari yang pernah disadari siapa pun termasuk orang-orang yang dulu membuang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aren Vely, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukti Pertama
Nenek Raka yang akrab dipanggil semua orang di rumah itu dengan sebutan Oma Ratna terbaring lemah di atas tempat tidurnya, tubuhnya sesekali masih diguncang kejang ringan, keringat dingin membasahi seluruh dahi dan lehernya. Wajahnya pucat pasi, bibirnya sedikit membiru, napasnya tersengal tidak teratur.
Alya segera duduk di tepi ranjang, memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan wanita tua itu dengan jari-jarinya yang terlatih, lalu meletakkan punggung tangannya di dahi Oma Ratna untuk merasakan suhu tubuhnya, dan memeriksa refleks pupil matanya dengan cekatan menggunakan senter kecil dari ponselnya.
"Ini bukan demam biasa," gumam Alya lebih kepada dirinya sendiri, dahinya berkerut serius sambil terus memeriksa. "Denyut nadinya tidak beraturan, dan gejala kejang ini muncul terlalu tiba-tiba. Ada kemungkinan ini reaksi obat, bukan sekadar infeksi." Dia menoleh cepat ke arah para staf yang masih berdiri gugup di sekeliling ranjang. "Apakah Oma baru saja minum obat baru akhir-akhir ini? Ada perubahan resep apa pun dalam seminggu terakhir?"
Salah satu perawat pribadi Oma Ratna, seorang wanita muda yang wajahnya masih tampak panik, mengangguk cepat. "I-iya, Dokter Alya. Dokter keluarga baru saja mengganti obat jantung beliau minggu lalu, katanya untuk mengontrol tekanan darah yang naik turun."
Mendengar itu, Alya segera bangkit dan memeriksa kotak obat-obatan yang tersusun rapi di meja nakas di samping tempat tidur. Dia mengambil beberapa kemasan obat, membaca label komposisi pada masing-masing dengan sangat teliti, matanya bergerak cepat menelusuri setiap huruf kecil di kemasan itu.
Matanya menyipit tajam saat menemukan yang dia cari.
"Ini interaksi obat," katanya tegas, suaranya penuh keyakinan seorang dokter yang sudah terlatih menangani situasi darurat. "Obat jantung yang baru ini golongan antiaritmia tidak boleh dikombinasikan dengan obat pengencer darah yang biasa dikonsumsi Oma untuk mencegah stroke. Kombinasi keduanya bisa memicu gangguan ritme jantung akut, dan itu sangat berbahaya kalau dibiarkan tanpa penanganan cepat."
Tepat pada saat itu, suara langkah kaki tergesa terdengar dari arah pintu. Raka muncul, wajahnya jauh lebih pucat dari biasanya, rambutnya berantakan seolah baru saja bangun dari tidur dan langsung berlari turun begitu mendengar keributan ekspresi paling manusiawi yang pernah Alya lihat dari pria yang sejak awal pertemuan mereka selalu tampak begitu terkendali dan dingin.
"Apa yang terjadi padanya?" suaranya nyaris tak terkendali, sangat berbeda dari nada datar dan tenang yang biasa dia gunakan.
"Oma butuh penanganan medis segera di rumah sakit, tapi kondisinya bisa saya stabilkan sementara sebelum ambulans tiba," jawab Alya cepat, tangannya sudah bergerak lincah membuka tas P3K darurat yang diambilkan salah satu staf. "Saya butuh air hangat sekarang juga, dan tolong segera hubungi rumah sakit terdekat beri tahu mereka untuk bersiap menangani kasus aritmia jantung akibat interaksi obat, supaya tim di sana sudah siap begitu Oma tiba nanti."
Perintah-perintah itu keluar cepat dan jelas, membuat para staf yang tadinya panik dan kebingungan langsung bergerak sigap mengikuti instruksinya satu per satu. Bahkan Raka, yang biasanya adalah orang yang selalu memberi perintah, kali ini hanya berdiri di sudut ruangan, menyaksikan dengan tatapan campur aduk antara khawatir dan kagum, membiarkan Alya sepenuhnya mengambil alih situasi.
Sepuluh menit berikutnya terasa seperti waktu paling mencekam dalam hidup semua orang di ruangan itu. Alya bekerja dengan tenang dan penuh konsentrasi, memantau napas dan denyut nadi Oma Ratna tanpa henti, sesekali memberikan instruksi singkat pada staf yang membantunya. Tangannya sama sekali tidak gemetar, meskipun di hadapannya terbaring nenek dari pria paling berkuasa di kota ini satu kesalahan kecil saja bisa berakibat fatal, bukan hanya untuk nyawa pasiennya, tapi juga untuk masa depannya sendiri yang baru saja dia coba bangun kembali dari nol.
Perlahan tapi pasti, kondisi Oma Ratna mulai membaik. Napasnya kembali teratur, kejangnya mereda sepenuhnya, warna wajahnya perlahan kembali normal meskipun masih terlihat lemah.
Saat tim medis darurat akhirnya tiba sekitar lima belas menit kemudian dan segera membawa Oma Ratna ke rumah sakit terdekat untuk observasi lebih lanjut, Raka berdiri mematung di lorong rumah, menatap Alya yang baru saja melepas sepasang sarung tangan lateks yang sempat dia pinjam dari kotak P3K. Tangan Alya akhirnya mulai sedikit gemetar bukan karena takut, melainkan reaksi keterlambatan tubuh setelah menahan ketegangan luar biasa selama sepuluh menit yang menegangkan itu.
Raka melangkah mendekat, berdiri tepat di depannya, menatap wajah Alya dengan sorot mata yang jauh berbeda dari sebelumnya — tidak ada lagi jarak dan kedinginan yang biasa dia tunjukkan.
"Terima kasih," katanya pelan, suaranya jauh lebih lembut dari yang pernah Alya dengar sejak mereka pertama bertemu di tengah hujan beberapa hari lalu. "Aku... salah menilaimu. Sepenuhnya salah."
Alya tidak tahu harus menjawab apa. Untuk pertama kalinya sejak pernikahan kontrak ini dimulai, dia melihat sesuatu yang nyata di mata pria di hadapannya bukan sekadar CEO dingin yang menandatangani kontrak tanpa emosi, melainkan seorang cucu yang benar-benar mencemaskan neneknya, dan seseorang yang baru saja menyaksikan kemampuan Alya yang sesungguhnya, jauh dari bayang-bayang fitnah yang menghancurkan kariernya.