NovelToon NovelToon
RODA DUA Dan RAHASIA BIRU

RODA DUA Dan RAHASIA BIRU

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Zildiawan

Gavin Dewantara adalah pewaris tunggal Dewantara Group, salah satu keluarga old money terpandang di negeri ini. Bosan dengan kepalsuan kelas atas dan kekangan keluarganya, Gavin memilih kuliah di universitas negeri di luar kota, tinggal di kosan sederhana, dan menyembunyikan identitas aslinya. Di kampus, ia dikenal sebagai mahasiswa teknik yang slengean, ugal-ugalan, hobi naik motor tua, dan sering terlibat perkelahian jalanan menggunakan teknik bela diri praktis yang ia pelajari dari jalanan. Meski terlihat berandalan, Gavin memiliki prinsip hidup yang kokoh dan kesetiaan tanpa batas kepada teman-temannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zildiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4 Warung Kopi dan Teori Konspirasi

Rian membawa Gavin membelah gang-gang sempit di belakang area kampus. Mereka berhenti di bawah naungan pohon beringin tua yang rimbun. Di sanalah berdiri sebuah warung semi-permanen berkain terpal biru dengan tulisan cat semprot seadanya: Warkop Cak Min. Tempat itu berlantai semen kasar, dipenuhi aroma khas kopi hitam tubruk dan uap mi instan rebus yang menyerbak, bercampur dengan asap rokok dari beberapa mahasiswa yang sedang asyik bermain gaple.

Bagi Gavin, warkop sederhana ini terasa seribu kali lebih mewah dan hidup ketimbang restoran bintang lima di hotel-hotel milik keluarganya. Di sini tidak ada pelayan berpakaian jas yang membungkuk kaku, tidak ada denting sendok perak yang harus diatur jaraknya, dan yang paling penting, tidak ada kepalsuan.

"Cak! Mi instan rebus pakai telur dua, sama kopi saset hitamnya dua ya!" teriak Rian begitu mereka duduk di bangku kayu panjang yang agak bergoyang.

Seorang pria paruh baya dengan kaus kutang putih dan handuk kecil yang melingkar di lehernya menoleh dari balik panci besar yang mengepul. "Siap, Mas Rian! Loh, bawa temen baru toh?" sahut Cak Min dengan logat Jawa Timur-nya yang kental.

Gavin langsung mengangkat tangan, memberikan salam dua jari yang santai. "Gavin, Cak. Pengunjung baru yang bakal sering ngutang di sini," celetuk Gavin asal, membuat beberapa mahasiswa di sebelah mereka tertawa renyah.

Sembari menunggu pesanan datang, Cak Min yang sedang mengaduk kopi mulai mengoceh tentang berita di televisi tabung 14 inci yang bergambar agak bersemut di pojok warung. Berita itu menayangkan tentang kenaikan harga pangan dan telur ayam di pasar tradisional.

"Iki loh, Mas, negoro kok makin aneh," keluh Cak Min sambil meletakkan dua cangkir kopi panas di meja kayu penuh noda lingkaran hitam. "Harga telur naik terus. Ini pasti ada konspirasi dari tengkulak raksasa di Jakarta. Mereka sengaja nimbun telur biar kita yang di bawah ini makin kelaparan, trus mereka bisa beli mobil baru!"

Rian hanya mengangguk canggung, tidak enak hati untuk membantah. Namun, Gavin justru meletakkan cangkir kopinya, mencondongkan tubuh ke depan, dan ikut tersenyum miring.

"Wah, kalau soal itu, analisis Cak Min ada benarnya, tapi kurang melebar dikit," ujar Gavin dengan nada slengean yang khas. "Kenaikan harga telur sekarang itu bukan cuma karena tengkulak lokal, Cak. Itu efek domino dari inflasi harga pakan impor dan pergeseran subsidi logistik bahan bakar jalur pantura. Korporasi besar di Jakarta itu lagi muter arus kas buat nutupin defisit biaya operasional kuartal kedua mereka. Jadi, mereka neken harga di tingkat peternak, makanya pas sampai ke warung Cak Min harganya jadi selangit."

Cak Min tertegun, memegang sodetnya di udara. Beberapa mahasiswa yang sedang bermain gaple bahkan menghentikan kartunya dan menoleh ke arah Gavin. Analisis ekonomi makro yang barusan keluar dari mulut cowok berjaket jins lusuh itu terdengar sangat akurat, tajam, dan berbobot—meskipun dibungkus dengan bahasa warung yang ugal-ugalan.

"Walah, Mas Gavin ini mahasiswa teknik atau menteri keuangan toh? Bahasane kok tinggi men," puji Cak Min sambil menggeleng-gelengkan kepala penuh kagum, lalu buru-buru kembali mengurus mi rebus pesanan mereka.

Rian menyenggol lengan Gavin dengan takjub. "Gila, Gav. Lu tahu dari mana soal arus kas kuartal dan defisit logistik kayak gitu? Anak Teknik Kimia kok paham ginian?"

Gavin terkesiap kecil, menyadari dirinya hampir saja membocorkan latar belakang pendidikannya yang terbiasa mendengarkan laporan keuangan korporasi sejak remaja. Ia segera tertawa keras, menyeruput kopi sasetnya hingga memicu sendawa kasar yang sengaja dikencangkan.

"Halah, tahu dari mana lagi kalau bukan dari baca koran bekas pembungkus cabai di pasar, Yan! Lagian gue kan sering nonton video random di TikTok pas lagi gabut di toilet," dalih Gavin sambil terkekeh renyah.

Di dalam hati, Gavin tersenyum lega. Sendawa kasarnya, kopi saset tiga ribu rupiah, dan obrolan tanpa beban ini adalah kebahagiaan murni yang selama ini ia cari. Di tempat ini, tidak ada yang menuntutnya untuk menjadi sempurna. Tidak ada yang tahu bahwa anak berandalan yang baru saja berteori tentang inflasi telur ini memiliki hak waris atas gedung pencakar langit tempat para pemilik korporasi raksasa itu rapat setiap pagi.

1
Mey-mey89
lanjut
Azmi Zildiawan: Terima kasih sudah membaca
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!