Seorang wanita ahli pengobatan dan racun tiba-tiba memasuki tubuh seorang gadis lemah bernama Feng Wu. Terbangun di tempat asing, ia sempat mengira semua itu hanyalah mimpi. Namun, tempat dan kehidupan baru yang dihadapinya ternyata benar-benar nyata.
Jika Feng Wu sebelumnya dikenal sebagai gadis bodoh dan lemah yang selalu diremehkan, maka kedatangan jiwa baru akan mengubah segalanya.
Mulai sekarang, Feng Wu bukan lagi gadis yang mudah ditindas.
Karena sudah masuk ke tubuh Feng Wu, maka wanita itu akan menuntut balas atas perlakuan buruk pada pemilik tubuh asli.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Abu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
Jenderal Wen mengangguk pelan, lalu menyandarkan tangan besarnya di bahu Feng Wu, membimbing cucunya masuk ke dalam benteng. "Masuklah, Wu'er. Anggaplah ini rumahmu mulai sekarang."
Ruangan itu sederhana namun gagah, dinding batu yang kokoh, dihiasi peta wilayah dan senjata yang tergantung rapi. Di tengah ruangan terdapat meja kayu jati yang besar dan kursi empuk. Jenderal Wen mempersilakan Feng Wu duduk, namun matanya tak lepas dari sosok gadis di hadapannya itu.
Ia menatap pakaian sederhana yang lusuh, tangan yang kasar dan penuh bekas luka, serta wajah cantik yang pucat meski berusaha tampil tegar. Hatinya yang keras dan berkarat karena perang tiba-tiba terasa perih, seakan ada pisau tajam yang membelahnya perlahan.
Air mata yang selama bertahun-tahun tak pernah ia izinkan jatuh, kini menetes tanpa sanggup ia tahan. Pria yang gagah berani, yang tak pernah gentar menghadapi ribuan musuh, kini gemetar hanya melihat keadaan cucunya sendiri.
"Wu'er..." suaranya parau, bergetar menahan emosi. "Katakan pada Kakek... Apakah kediaman Feng yang mengusirmu seperti ini? Atau... apakah kau kabur sendiri karena mereka memperlakukanmu tidak baik di sana?"
Feng Wu menatap kakeknya dengan tatapan tenang namun sedih. Ia tidak berbohong, tidak menyembunyikan apa pun. Ia menceritakan semuanya secara rinci, jelas, dan tanpa menyisakan satu pun luka yang tersembunyi.
"Kakek... sejak hari kelahiranku, aku sudah dianggap pembawa malapetaka," ucap Feng Wu lembut namun tegas. "Ibu meninggal saat melahirkanku, dan Selir Yu memanfaatkan kesedihan Ayah. Ia membawa peramal yang disuap, mengatakan bahwa aku akan membahayakan seluruh kediaman Feng. Ayah percaya, lalu... aku diasingkan."
Feng Wu berhenti sejenak, menelan ludah yang terasa pahit, lalu melanjutkan.
"Aku tumbuh di gubuk reyot di pegunungan, jauh dari ibukota. Bukan hidup seorang putri bangsawan, Kakek. Aku makan sisa makanan, memakai pakaian compang-camping, bekerja seperti budak sejak kecil. Setiap hari aku dihina, dipukul tanpa alasan. Selir Yu tidak pernah membiarkanku hidup tenang, ia selalu mengirim orang untuk memastikan aku menderita. Hingga akhirnya... ia mengirim orang untuk meracuniku hingga mati."
Jenderal Wen mendengarkan setiap kata dengan napas yang semakin berat. Wajahnya yang tegas dan berwibawa kini pucat pasi, tangannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih. Setiap kalimat yang keluar dari mulut cucunya terasa seperti pukulan berat yang menghantam dadanya.
"Racun...?" bisiknya gemetar. "Mereka berani... mereka berani mencoba membunuh darah daging sendiri?"
"Aku selamat karena mungkin keajaiban, Kakek. Namun aku tahu, selama aku tetap di sana, atau kembali ke sana suatu hari nanti, nyawaku tak akan pernah aman. Selir Yu tidak akan berhenti sebelum aku benar-benar tiada."
Mendengar itu semua, Jenderal Wen yang gagah, pria yang tak pernah menangis walau terluka di medan perang, pria yang tatapannya saja mampu membuat musuh gemetar pada akhirnya runtuh.
Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, dan tangisan yang tertahan itu akhirnya meledak histeris, penuh penyesalan, kemarahan, dan kesedihan yang tak terlukiskan. Bahunya terguncang hebat, air mata jatuh membasahi telapak tangannya.
"Maafkan Kakek... Wu'er, maafkan Kakek..." isaknya dengan suara tertahan. "Kakek bodoh... Kakek pergi ke perbatasan karena kesedihan, padahal cucuku menderita begitu hebatnya di dunia ini... Kakek tidak tahu... Kakek tidak melindungimu..."
Ia melepaskan tangannya, menatap Feng Wu dengan mata yang basah dan penuh amarah yang membara. "Mereka berani melakukan ini pada putri Ning..... Feng Yuan! Bagaimana bisa ia membiarkan hal seperti ini terjadi pada darah dagingnya sendiri?!"
Feng Wu segera bangkit, mendekat, dan memeluk kakeknya dengan lembut menenangkan pria yang selama ini menjadi pelindung banyak orang, namun kini hancur karena rasa bersalah yang begitu dalam.
"Kakek... jangan menangis untukku, jangan menyesali masa lalu," bisik Feng Wu lembut di pelukannya. "Itu bukan salah Kakek. Itu salah mereka, orang-orang yang penuh kebohongan dan keserakahan. Dan aku tidak ingin kembali ke sana."
Jenderal Wen melepaskan pelukannya perlahan, menatap cucunya dengan tatapan bingung namun penuh harap. "Tidak kembali? Tapi... ini adalah hakmu, Wu'er. Kediaman Feng, nama keluarga, kedudukanmu semua itu milikmu."
Feng Wu menggeleng pelan namun tegas, matanya menyala dengan tekad yang tak tergoyahkan.
"Aku tahu itu milikku, Kakek. Tapi aku tidak ingin kembali hanya untuk menjadi putri yang lemah dan meminta belas kasihan. Aku ingin bangkit. Bangkit dari keterpurukan ini dengan kekuatanku sendiri. Aku ingin menjadi kuat begitu kuat hingga suatu hari nanti, saat aku kembali, mereka semua tidak berani lagi meremehkanku. Aku akan membuktikan bahwa aku bukan pembawa malapetaka... melainkan kebangkitan yang akan mengguncang seluruh Qincheng."
Jenderal Wen terpaku, menatap cucunya lekat-lekat. Di mata gadis itu, ia tidak melihat kelemahan atau keputusasaan. Yang ia lihat adalah api, api keberanian, kecerdasan, dan tekad yang jauh lebih kuat daripada siapa pun di usianya. Perlahan-lahan, air matanya berhenti mengalir. Kesedihannya berubah menjadi kekaguman yang mendalam.
"Wu'er..." ucapnya pelan, penuh rasa bangga. "Kau benar-benar putri Ning. Kau mewarisi keteguhan hati ibumu... dan bahkan lebih kuat dari itu."
Ia menggenggam tangan cucunya erat, seakan berjanji di saat itu juga.
"Baiklah. Jika itu keputusanmu, Kakek akan mendukungmu sepenuhnya. Kita tidak akan kembali sebagai orang yang ditindas. Kita akan membangun kekuatan kita sendiri. Dan suatu hari nanti... Kakek akan menemanimu kembali bukan untuk memohon, melainkan untuk membuat mereka semua berlutut meminta maaf atas segala luka yang telah mereka berikan padamu."
Feng Wu tersenyum, senyum yang penuh syukur dan tekad. Di sisinya kini berdiri pelindung terkuat yang ia miliki. Dan di dalam dirinya sendiri, ia memegang kekuatan yang jauh lebih besar daripada pengetahuan, keberanian, dan masa depan yang ia bangun sendiri.