Satu Atap Bersama Mantan
Aira seorang gadis yang hobi berbelanja menggantungkan hidupnya pada pundi-pundi kekayaan keluarganya terpaksa menerima perjodohan demi menyelamatkan rekening banknya yang terancam diblokir papinya.
Namun di hari pernikahannya niatnya untuk kabur justru malah bertemu mantan pacarnya yang 8 tahun lalu mencampakkannya dengan alasan dingin.
Devan, cinta pertama Aira sekaligus mantan Aira yang sangat ia benci ternyata adalah calon suaminya.
Dua orang yang masih sama-sama sayang, tapi sangat gengsi dalam mengakui perasaannya.
Bagaimana kehidupan rumah tangga mereka kedepannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 : Cinta Pertama
Delapan tahun lalu. Saat Aira masih berumur tujuh belas tahun, dengan kepolosannya yang percaya bahwa cinta pertama akan bertahan selamanya.
Sampai pria itu—Devan Argawinata—memutuskan hubungan mereka secara sepihak di hari ulang tahunnya, dengan alasan bahwa ia mau pergi ke luar negeri dan sudah tidak mencintai Aira lagi.
Aira menggelengkan kepalanya cepat, berusaha mengusir bayangan wajah Devan yang melintas di ingatannya.
Ngapain juga gue ngingat-ingat si brengsek itu? batinnya kesal.
"Intinya," lanjut Aira dengan suara yang kembali dinaikkan, menyembunyikan getar emosi di dadanya, "pernikahan ini cuma formalitas atas kertas demi menyelamatkan rekening gue. Titik."
Hari-hari berikutnya berlalu dengan kecepatan yang bikin Aira makin stres.
Meski acara pernikahannya dikatakan "privat", persiapan dari pihak keluarga Hermawan benar-benar tidak main-main.
Rumah Aira diserbu oleh tim perancang busana ternama, dekorator ternama, hingga katering kelas atas.
Kamar Aira penuh dengan contoh kain, brosur bunga, dan draf undangan terbatas.
Aira memilih untuk bersikap seapatis mungkin.
"Aira, kamu mau warna bunga dekorasinya baby pink atau champagne?" tanya Mami Maya suatu sore di ruang keluarga, memegang dua sampel bunga anggrek impor.
Aira yang sedang rebahan di sofa sambil scroll TikTok merespons pendek, "Terserah Mami aja. Bunga kamboja juga boleh."
"Aira! Kamu ini mau nikah, kok ngomongnya gitu!" tegur Mami Maya gusar.
"Kan Aira cuma menjalankan kewajiban sebagai anak yang berbakti, Mami," sahut Aira santai, menatap langit-langit rumah.
"Lagian yang penting buat Aira kan kartu kreditnya balik. Bunga mau warna hitam juga Aira nggak peduli."
"Kamu itu ya... calon suami kamu itu sibuk banget urus kepindahan bisnisnya, makanya dia serahkan semua urusan dekorasi ke kita. Harusnya kamu bersyukur dikasih kebebasan!"
Aira cuma memutar matanya malas. Sibuk bisnis atau emang nggak peduli juga? pikirnya sinis.
Baguslah kalau cowok itu juga sama-sama tidak peduli. Itu artinya rencana perceraian dalam tiga bulan bakal makin mudah dijalankan.
Dua minggu menjelang hari H, sebuah kotak hitam besar tiba di rumah Hermawan. Kotak itu diantar langsung oleh kurir berjas rapi yang mengaku sebagai perwakilan dari calon pengantin pria.
Mami Maya membawa kotak itu ke kamar Aira dengan wajah berbinar-binar. "Aira! Lihat ini! Calon suami kamu ngirim sesuatu buat kamu!"
Aira yang sedang duduk di depan meja rias sambil memakai masker wajah menoleh malas. "Apaan tuh? Bom?"
"Hush! Sembarangan kalau ngomong!" Mami Maya meletakkan kotak itu di atas tempat tidur Aira. "Buka dong! Mami penasaran banget."
Dengan helaan napas berat, Aira bangkit dari kursinya dan berjalan mendekati tempat tidur.
Namun, begitu kotaknya terbuka, mata Aira agak melebar.
Di dalam kotak itu terdapat sebuah gaun pengantin berwarna putih gading yang sangat indah.
Potongannya A-line dengan detail renda Prancis yang dikerjakan secara buatan tangan, terlihat sangat mewah namun tetap elegan dan tidak berlebihan.
Di samping gaun itu, ada sepasang heels dari desainer ternama dunia—yang ukuran kakinya persis ukuran kaki Aira, nomor 37.
Dan di sudut kotak, ada sebuah kartu ucapan kecil berwarna hitam dengan tulisan tangan menggunakan tinta emas yang sangat rapi.
Aira meraih kartu itu, membukanya, dan membaca kalimat pendek yang tertera di sana:
> Pakai ini di hari pernikahan kita. Jangan coba-coba kabur, Calista.
>
Aira membeku.
Jemarinya yang memegang kartu itu gemetar. Jantungnya berdegup kencang.
Calista?
Hanya ada satu orang di dunia ini yang selalu memanggilnya dengan nama tengahnya itu.
Hanya satu orang yang tahu kalau Aira benci dipanggil "Calista" oleh orang asing, tapi selalu luluh kalau pria itu yang mengucapkannya delapan tahun lalu.
Aira dengan panik membalikkan kartu ucapan itu, mencari nama pengirimnya di bagian bawah.
Hanya ada inisial huruf tunggal yang terukir indah dengan tinta emas:
D.
"Aira? Kamu kenapa, Nak?" tanya Mami Maya, heran melihat wajah anaknya yang pucat. "Kok mukanya kaget gitu? Tulisannya apa? Calon suami kamu romantis ya?"
Tenggorokan Aira terasa tersumbat. Matanya menatap huruf D itu dengan rasa takut dan ketidakpercayaan.
Nggak mungkin, batin Aira histeris, mencoba menolak kenyataan yang mulai merayap masuk ke otaknya.
Nggak mungkin Devan! Ini pasti cuma kebetulan! Banyak cowok yang inisial namanya D! Banyak orang yang tahu nama tengah gue! Ini pasti cuma kebetulan!
Aira melempar kartu ucapan itu kembali ke dalam kotak.
Ia bernapas terengah-engah, memegangi dadanya yang berdenyut.
"Aira? Kamu sakit?" Mami Maya mendekat, memegang dahi Aira dengan cemas.
"G-gue... Aira nggak apa-apa, Mi," bisik Aira terbata-bata, suaranya bergetar. "Aira cuma... cuma capek aja. Aira mau istirahat."
"Oh... ya udah, kamu istirahat ya. Jangan lupa gaunnya dicoba nanti," ujar Mami Maya sambil mengelus kepala Aira lembut, lalu melangkah keluar dari kamar dan menutup pintu.
Begitu pintu tertutup rapat, Aira merosot jatuh ke lantai di samping tempat tidurnya. Ia memeluk lututnya sendiri, menatap kotak hitam di atas kasur dengan pandangan menerawang.
Siapa sebenarnya sosok "anak rekan bisnis" yang bakal mengikat janji dengannya bulan depan? Kenapa inisialnya harus D? Dan kenapa... kenapa cara bicaranya di kartu itu terasa begitu familiar dan mengintimidasi?
"Nggak..." gumam Aira pada dirinya sendiri, mencoba menenangkan jantungnya yang masih berdetak liar.
"Itu bukan Devan. Devan udah di luar negeri, dia udah nggak peduli sama gue. Ini cuma permainan takdir yang jelek banget."
Aira memejamkan matanya, berdoa dalam hati agar ketakutan terbesarnya tidak berubah menjadi kenyataan di hari pernikahan nanti.
semangat thorr💪💪😍
siapa ya yang di ruangan itu🤔