Namanya Raisha, seorang karyawan korporat cantik dan terkesan cuek. Dia belum mengenal debaran cinta seperti apa. Banyak tuntutan orang disekitarnya untuk memulai suatu hubungan dengan seorang pria. Meskipun enggan, Raisha melakukan semua tuntutan itu meskipun tanpa menggunakan hati. Satu pria, gagal. Dua pria, gagal. Hingga tak terasa beberapa pria Raisha mencoba mencari debaran itu, tapi gagal.
Hingga julukan 'Playgirl' menempel padanya.
Hingga datang seorang Aldo. Pria tampan dan maskulin, membuat Raisha merasakan debaran itu. Tapi ketika Raisha mulai mendekati Aldo, ada sesuatu dari diri Aldo yang janggal. Yang membuat Raisha merasakan debaran yang melayang tapi menyakitkan.
Bagaimana kisah cinta Raisha dan Aldo kedepannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chikaku_chiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4 : JATUH CINTA
Beberapa kali dalam beberapa hari berikutnya, kesempatan membuat mereka kembali berpapasan atau terlibat interaksi singkat terkait koordinasi dokumen antar-divisi.
"Ini berkas rekap operasional mingguan yang minta ditandatangani tim kamu ya, Raisha," ujar Aldo suatu siang, berdiri di samping meja Raisha sambil menyerahkan sebuah folder biru.
Raisha mendongak, menyambut folder itu. "Oh, iya. Makasih ya, Al..."
Saat jemari mereka tak sengaja bersentuhan tipis di tepi folder, sensasi tersetrum itu kembali hadir. Dan kali ini, Raisha tidak bisa menyembunyikannya.
Saat mendongak dan menatap mata Aldo dari jarak dekat, tatapan mata Raisha menunjukkan sesuatu yang sangat berbeda dari biasanya. Tidak ada lagi pendar mata yang datar, dingin, atau lempeng seperti yang biasa dia berikan pada pria-pria di masa lalunya.
Ada binar kebingungan bercampur ketertarikan yang sangat dalam di dalam sepasang mata jernih itu, sebuah tatapan telanjang dari seorang wanita yang untuk pertama kalinya dalam hidup, mulai merasakan apa artinya terpesona pada seorang pria.
Aldo yang menerima tatapan itu sempat tertegun sejenak, menangkap perubahan aura di mata Raisha yang biasanya terkenal sangat dingin di lantai kantor tersebut. Aldo berkedip dan senyum tipis mencuat dari bibirnya. Seolah sudah membaca sesuatu yang bagus.
Raisha dengan terburu-buru mengalihkan pandangannya kembali ke folder, mencoba menetralkan detak fisiknya yang berpacu liar. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Raisha menyadari satu hal yang menakutkan sekaligus mendebarkan: hatinya yang selama ini mati rasa, perlahan-lahan mulai berdetak untuk seorang Aldo Otavian.
Perubahan dalam diri Raisha terjadi tanpa disadarinya sendiri. Seseorang yang biasanya paling malas melangkahkan kaki dari kubikelnya, bahkan rela menahan haus demi tidak perlu berinteraksi dengan orang lain, kini mendadak menjadi karyawan paling rajin berkeliaran di area koridor utama.
Setiap kali ada dokumen yang perlu diantar ke divisi sebelah, Raisha adalah orang pertama yang sukarela menawarkan diri.
"Biar gue aja yang antar ke sana," ucapnya santai pada Siska, yang saat itu hanya bisa mengernyit heran melihat keaktifan sahabatnya yang sangat tidak wajar. Terlebih ketika harus menyerah dokumen ke beberapa divisi, itu hal yang paling Raisha hindari, enggan malah.
Tidak hanya itu, frekuensi Raisha pergi ke pantry juga meningkat drastis. Dari yang biasanya hanya dua kali sehari untuk mengisi ulang air putih, kini Raisha bisa bolak-balik hingga lima kali. Dan tujuannya sudah jelas terbaca.
Rutenya selalu sama: berjalan sedikit melambat ketika melintasi kubikel kerja Aldo, membiarkan sepasang matanya mencuri pandang ke arah pria berkemeja rapi yang tengah fokus menatap layar monitor. Setiap lirikan yang Raisha buat untuk mencuri pandang ke arah Aldo, degub jantungnya langsung berisik, seolah bereaksi untuk yang hal yang dilihat matanya.
Usaha tersembunyi itu ternyata tidak se-terselubung yang Raisha kira. Di kantor yang sekat-sekatnya terbuat dari gosip, gestur kecil Raisha cepat sekali terbaca.
"Eh, si cewek playgirl itu kayaknya lagi incer anak baru divisi analitik deh," bisik seorang staf di pantry pada suatu siang.
"Lihat saja, apa anak baru itu bakalan jadi korban cewek itu selanjutnya?" tawa cekikikan terdengar lirih diruang pantry.
Desas-desus itu merambat cepat di antara selentingan rumor lama tentang julukan playgirl yang melekat pada Raisha.
Dan yang paling menakutkan, rumor itu akhirnya sampai ke telinga Aldo sendiri.
Namun, alih-alih menjauh atau menunjukkan raut risih, respons Aldo justru di luar dugaan. Pria itu tidak berubah dingin. Justru sebaliknya, setiap kali Raisha lewat di depan meja kerjanya, Aldo sering kali sengaja mendongak, menyunggingkan senyum manis, atau melempar sapaan kecil yang membuat dada Raisha berdesir hebat. Mereka seolah sedang memainkan permainan tarik-ulur terselubung yang hanya dimengerti oleh mereka berdua.
Hingga pada suatu sore jam empat, takdir akhirnya mempertemukan mereka secara tidak sengaja di dalam pantry.
Suasana pantry sedang sepi. Hanya ada suara dengung halus dari mesin pendingin minuman. Raisha sedang berdiri membelakangi pintu, menunggu gelas keramiknya terisi air hangat dari dispenser, ketika langkah kaki halus terdengar mendekat.
"Lagi ngisi air juga?" suara baritone yang hangat itu terdengar dari samping kanan Raisha.
Raisha terperanjat pelan. Dia menoleh dan menemukan Aldo sudah berdiri di sana, memegang cangkir stainless steel miliknya. Aroma parfum maskulin yang lembut bercampur wangi kopi langsung menyeruak, membuat saraf-saraf di leher Raisha mendadak tegang.
"Eh... iya, Al," jawab Raisha, berusaha sekuat tenaga menetralkan nada suaranya agar tidak terdengar gemetar.
"Mau bikin teh."
Aldo tersenyum manis, memiringkan kepalanya sedikit seraya menyandarkan sebelah pinggulnya ke tepi meja sintetis dapur.
"Tiap hari aku perhatiin kamu sering banget ke pantry. Rajin minum ya?"
Pipi Raisha merona tipis. Dia dengan cepat mengalihkan pandangan ke cangkirnya yang sudah penuh. Rupanya Aldo memperhatikan gerak-geriknya. Apa Aldo juga tahu alasan dirinya sering ke pantry? pikir Raisha.
"Iya, biar nggak dehidrasi aja."
Terjadi jeda beberapa detik. Percakapan basa-basi itu mengalir pelan, hingga tiba-tiba Aldo memutar posisi tubuhnya agar menghadap Raisha secara penuh. Matanya menatap Raisha dengan binar menelisik yang terasa sangat intim.
"Kamu... pasti udah punya pacar ya?" tanya Aldo santai, senyum tipis masih terukir di bibirnya.
"Cewek secantik kamu nggak mungkin single di kantor sebesar ini." lanjutnya lagi.
Jantung Raisha serasa melompat dari dada. Suara desiran halus di dalam hatinya mendadak bergemuruh hebat. Pertanyaan soal status? Apakah ini sinyal kalau dia tertarik? pikir Raisha kegirangan dalam hati. Perasaan lega dan harapan manis membuncah seketika.
"Nggak kok," jawab Raisha cepat, gelengan kepalanya tegas. "Aku jomblo. Nggak punya pacar."
Raut wajah Aldo berubah sedikit. Lipatan alisnya samar-samar merapat, seolah tidak siap menerima jawaban tersebut.
"Masa sih? Jangan bohong ah."
"Swear, aku single banget," Raisha meyakinkan, menyunggingkan senyum terbaiknya yang jarang dia perlihatkan pada pria lain. Meyakinkan Aldo bahwa dirinya memang tidak sedang menjalin hubungan dengan siapapun.
"Nggak lagi ada hubungan sama siapa-siapa sekarang."
Namun, di luar ekspektasi Raisha, raut wajah manis Aldo justru mengeras pelan. Senyum ramah yang tadi menghiasi wajahnya menyurut perlahan, berganti menjadi berekspresi datar dan agak dingin. Binar hangat di matanya meredup seketika.
"Oh... gitu ya."
Hanya itu. Tiga kata datar yang diucapkan tanpa emosi.
Tanpa menunggu balasan dari Raisha, Aldo mematikan kran dispenser, mengambil cangkirnya yang baru terisi setengah, lalu berbalik melangkah pergi keluar dari pantry.
Pintu besi pantry tertutup rapat, meninggalkan Raisha yang berdiri terbengong sendirian di depan dispenser. Cangkir keramik di tangannya terasa makin berat, seiring dengan rasa bingung luar biasa yang mendadak menenggelamkan rasa bahagianya tadi.