Di Sekte Lembah Giok Hitam, menjadi "Murid Teladan" bukanlah kehormatan, melainkan vonis mati sebagai tumbal perpanjangan umur sang tetua.
Di malam sebelum darahnya dikuras habis di atas altar, Gu Yuan, seorang murid luar tanpa latar belakang, tak sengaja membangkitkan artefak peninggalan ayahnya: Kaca Kematian Awal (Yuan Sha Jing).
Setiap kali niat membunuh mengarah padanya, cermin kuno itu membekukan waktu dan memaksanya mati dalam ribuan cabang simulasi. Ia merasakan lehernya ditebas, meridiannya meledak, dan racun membakar jantungnya berulang kali, semua demi satu hal yakni menemukan satu-satunya jalan keluar hidup-hidup.
"Jika takdir menyuruhku mati sepuluh ribu kali, maka aku akan bangkit sepuluh ribu satu kali untuk memenggal takdir itu sendiri."
Bagi Gu Yuan, kematian bukan akhir, melainkan peta menuju keabadian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 003 - Gerbang Depan Berdarah
Gu Yuan memeriksa tali sandal jeraminya yang basah oleh air panas. Kulit punggung kakinya melepuh dan berdenyut nyeri, tetapi rasa sakit fisik itu justru membuat kepalanya tetap dingin dan waspada.
Di luar bilik, seorang pengawas lorong berpakaian abu-abu mondar-mandir dengan tombak kayu berujung besi di tangan. Langkah kakinya berat, menandakan ia berada di tingkat awal Ranah Pemurnian Raga—mungkin baru mencapai lapis kedua atau ketiga. Pria itu mengawasi deretan pintu barak dengan mata awas, memastikan tidak ada murid luar yang menyelinap keluar sebelum jam makan siang.
Cermin di dada Gu Yuan membutuhkan pemicu khusus untuk bekerja. Niat membunuh yang nyata. Artefak kuno itu tidak bisa dinyalakan sesuka hati untuk sekadar mengintip masa depan atau mencari jalan pintas yang nyaman. Jika ia ingin melihat rute pelarian lewat gerbang depan barak, ia harus membuat orang di luar sana benar-benar berniat menghabisinya.
Gu Yuan mengambil sebilah pasak besi pengorek arang dari samping tungku. Ujungnya patah dan kotor, tetapi cukup tajam untuk merobek kulit.
Ia melangkah perlahan ke balik daun pintu, lalu sengaja menendang peti kayu penahan pintu hingga menimbulkan suara debum keras di lantai tanah.
“Siapa di dalam?!” bentak pengawas di luar. Ujung tombaknya langsung menghantam daun pintu bambu hingga bilahnya retak terbelah. “Keluar dengan tangan di atas kepala!”
Gu Yuan tidak menjawab dengan kata-kata. Ia menarik pintu membuka secara mendadak, lalu melayangkan pasak besi berkarat itu lurus ke arah mata kiri sang pengawas.
Gerakan itu bukan sekadar ancaman kosong; ia meluncurkannya dengan tenaga penuh dan tatapan mata yang dingin menusuk. Sang pengawas terkejut, refleks memiringkan kepala ke samping hingga ujung pasak hanya menggores pipinya, meninggalkan garis luka merah yang meneteskan darah segar ke kerah jubah abu-abunya.
“Bocah keparat! Kau berani menyerang pengawas?!” Mata pria itu seketika memerah oleh amarah buas. Niat membunuh yang pekat dan mendidih memancar keluar dari dadanya, menusuk langsung ke arah leher Gu Yuan.
Tangan kiri Gu Yuan di balik saku jubah seketika tersengat panas membakar.
Dunia membeku; garis batas ruang retak menjadi pola perunggu abu-abu.
Mata tombak yang meluncur ke tenggorokannya berhenti di udara, hanya berjarak sejengkal dari kulit lehernya. Percikan darah di pipi pengawas melayang kaku seperti butiran batu delima beku. Seluruh warna dunia di sekelilingnya terkelupas, berganti menjadi lanskap abu-abu perunggu yang sunyi dan hampa.
...****************...
Kesadaran Gu Yuan ditarik ke dalam simulasi pelarian.
Ia tidak menangkis tombak pengawas di depannya, melainkan merunduk cepat ke samping, membiarkan mata tombak menghantam tiang kusen pintu. Gu Yuan menendang lutut pengawas tersebut hingga roboh, lalu melesat keluar ke jalan setapak barak dengan kecepatan penuh.
Kakinya yang melepuh menjejak tanah berbatu dengan rasa sakit yang menusuk tulang, tetapi ia mengabaikannya. Tujuannya adalah gerbang depan barak timur—sebuah pagar kayu besi setinggi dua zhang yang memisahkan area barak luar dengan lereng tebing menuju hutan pinus.
Di atas gerbang, berdiri sebuah menara pengawas bertingkat dua dengan tiga pemanah bersenjata busur silang beracun.
Gu Yuan berlari zig-zag di antara deretan jemuran kain dan tumpukan kayu bakar. Jaraknya ke gerbang tinggal tiga puluh langkah. Dua puluh langkah. Sepuluh langkah.
Wus! Wus! Wus!
Suara desing tali busur yang dilepaskan membelah udara secara serentak. Tiga kilatan hitam meluncur dari puncak menara dengan kecepatan yang mengerikan, menukik tajam ke arahnya tanpa memberi ruang untuk menghindar.
Anak panah pertama menembus bahu kanannya, mematahkan tulang belikat dan memaksanya terhuyung ke depan.
Anak panah kedua bersarang tepat di lambung kirinya, menembus lapisan kain jubah dan merobek usus.
Rasa sakitnya bukan sekadar robekan fisik; ujung anak panah itu dilumuri racun empedu ular tanah. Rasa dingin yang membakar seketika menjalar cepat menyusuri pembuluh darahnya, membekukan paru-parunya dan menghentikan detak jantungnya dalam dua tarikan napas.
Gu Yuan tersungkur mencium tanah merah yang becek, kedua tangannya mencakar kerikil tajam. Sebelum kelopak matanya terkatup rapat, anak panah ketiga menghantam bagian belakang lehernya, memutus urat nadinya seketika.
Pandangannya gelap.
Namun di detik terakhir sebelum kematian merenggut kesadarannya, telinganya sempat menangkap suara lonceng di menara utama berdentang tiga kali di kejauhan. Bersamaan dengan dentang ketiga itu, ketiga pemanah di menara menurunkan busur mereka dan berbalik ke tangga untuk bertukar posisi dengan regu jaga siang. Selama sepuluh hitungan napas, puncak menara itu kosong tanpa seorang pun pemanah yang mengawasi gerbang.
Celah sepuluh tarikan napas tepat saat dentang ketiga lonceng tengah hari.
...****************...
Udara kembali berhembus, tetesan keringat dingin jatuh ke tanah tepat di detik yang sama.
Gu Yuan tersentak mundur selangkah ke dalam biliknya. Ujung tombak pengawas meluncur menyambar udara kosong tepat di depan hidungnya, merobek sehelai benang dari kerah jubah abu-abunya.
Tubuh Gu Yuan gemetar hebat. Rasa sakit dari tiga anak panah yang menembus bahu, lambung, dan lehernya seolah masih berdenyut di dalam dagingnya. Darah segar hangat menetes keluar dari lubang hidung kanannya, membasahi bibir atasnya dengan rasa asin tembaga yang pekat.
Efek samping dari kematian simulasi kedua dalam waktu kurang dari satu jam. Batas toleransi jiwanya di Ranah Pemurnian Raga lapis ketiga hampir menyentuh ambang bahaya.
Pengawas di depannya menarik kembali tombaknya dengan wajah geram, bersiap menusukkan gagang kayunya ke rahang Gu Yuan. “Bocah gila! Kau pikir kau bisa lolos setelah menggores mukaku?!”
“Pengawas Wu!” potong Gu Yuan dengan suara parau dan berat, tangannya terangkat menunjuk ke arah ujung jalan setapak di luar barak. “Lihat siapa yang datang di belakangmu.”
Pengawas itu terkejut dan secara refleks menolehkan kepalanya ke arah tikungan jalan setapak. Tidak ada siapa-siapa di sana selain kabut pagi yang mulai menipis ditiup angin lembah.
Namun tipuan satu detik itu sudah lebih dari cukup.
Gu Yuan tidak menyerang lagi; ia menendang daun pintu bambu menutup sekuat tenaga, lalu membanting peti perkakas tambang yang berat untuk mengganjal bagian bawah pintu. Mata tombak pengawas menghantam bilah bambu dari luar berkali-kali, diiringi makian kotor dan ancaman pembantaian, tetapi pintu kayu keras itu tetap tertahan rapat.
Gu Yuan menyeka darah di bawah hidungnya menggunakan punggung lengan jubah. Napasnya terengah-engah di sudut bilik yang pengap.
Informasi vital telah ia dapatkan: gerbang depan barak adalah jebakan maut jika diterobos sembarangan. Tiga pemanah di menara memiliki sudut tembak sempurna yang mengunci seluruh jalan setapak. Satu-satunya peluang adalah sepuluh hitungan napas saat lonceng tengah hari berdentang tiga kali—jika ia bisa bertahan hidup sampai saat itu tiba.
Gu Yuan melangkah perlahan ke dinding samping biliknya, mendekatkan matanya ke celah anyaman bambu untuk mengawasi situasi di luar.
Pengawas yang hidungnya berdarah tadi mendadak menghentikan amukannya pada pintu. Pria itu buru-buru menarik tombaknya dan berdiri tegak dengan kepala menunduk hormat.
Langkah kaki terdengar mendekati bilik bambu.
Seorang pria bertubuh jangkung dengan pedang baja berkarat yang sudah terhunus di tangan kanan melangkah santai melewati kabut. Di pelipis kanannya melintang bekas luka goresan pedang yang sudah mengering lama.
Luo Biao telah kembali.
Pria itu tidak menunggu sampai dua batang dupa atau waktu tengah hari. Pedang berkarat di tangannya memantulkan kilatan dingin di bawah sinar matahari pagi, dan senyum di wajahnya yang tirus tampak jauh lebih buas daripada sebelumnya.
“Gu Yuan,” panggil Luo Biao dengan nada pelan yang bergetar penuh ancaman dari balik pintu yang terganjal. “Buka pintunya sekarang. Tetua Mo berubah pikiran; ia ingin melihat bejana darahnya lebih awal.”