NovelToon NovelToon
BESAN ADALAH MAUT

BESAN ADALAH MAUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: Barra Ayazzio

Handoko Priambodo dan Mellisa Ariani pernah saling mencintai saat masih kuliah. Namun, impian mereka kandas ketika Handoko melanjutkan studi S2 ke luar negeri, memaksa mereka berpisah dan menjalani kehidupan masing-masing.

Puluhan tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali di acara lamaran putra Handoko dengan putri Mellisa. Pertemuan itu membangkitkan kembali cinta lama yang seharusnya telah terkubur.

Di balik status mereka sebagai calon besan, terjalin kembali hubungan terlarang yang mengancam menghancurkan rumah tangga, melukai anak-anak mereka, dan mengoyak dua keluarga sekaligus.

Akankah mereka memilih cinta masa lalu, atau mempertahankan kebahagiaan anak-anak mereka?

Karena terkadang, **besan adalah maut**.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

4. Luka yang Belum Sembuh

Setelah keluarga Handoko meninggalkan rumah, Melisa masih berdiri beberapa saat di ambang pintu. Tatapannya mengikuti mobil yang perlahan menjauh hingga akhirnya menghilang di ujung jalan.

Wanita itu mengembuskan napas panjang. Ada perasaan aneh yang mengganjal di dadanya—campuran antara lega, canggung, dan kegelisahan yang sejak tadi berusaha ia sembunyikan.

Melisa kemudian menutup pintu rumah perlahan. Kesunyian seketika menyambutnya. Ia berjalan masuk ke ruang tengah, lalu duduk di sofa. Tangannya meremas ujung bajunya tanpa sadar. Pertemuan dengan Handoko beberapa saat lalu kembali terbayang begitu jelas. Tatapan pria itu ketika melihatnya... tatapan penuh keterkejutan yang seolah menyimpan begitu banyak cerita yang belum selesai.

Melisa menundukkan kepala. Ternyata setelah puluhan tahun berlalu, nama Handoko masih mampu membuat hatinya bergetar.

Ia mengusap wajahnya pelan, berusaha menepis kenangan yang mulai bermunculan. *"Kenapa harus bertemu lagi sekarang?"* batinnya lirih.

Padahal ia sudah mengubur masa lalu itu begitu dalam. Namun pertemuan hari ini seolah membuka kembali pintu yang selama ini susah payah ia tutup.

"Menurut Bunda, gimana keluarga Raka? Baik, kan?”Tiba-tiba Kania datang menghampiri Mellisa yang masih duduk di ruang tengah. Gadis itu langsung menjatuhkan tubuhnya ke sofa, lalu menyandarkan kepala di bahu sang bunda dengan manja.

Melisa tersenyum tipis, tangannya mengusap lembut rambut putrinya. "Menurut Bunda, mereka baik. Mereka juga welcome terhadap keluarga kita.”

Kania tersenyum lega. "Maminya lucu, ya, Bun. Banyak omong, tapi Kania suka. Kalau Kania ke rumahnya, beliau selalu punya banyak cerita.”

"Memangnya cerita apa saja?” Mellisa bertanya sambil menoleh.

"Banyak, lah, Bun.” Kania terkekeh kecil. “Tapi paling sering sih cerita tentang papinya Mas Raka.”

Mellisa terdiam sesaat. "Cerita tentang papinya?”

"Iya.” Kania mengangguk. “Katanya, papinya Mas Raka itu orangnya workaholic. Kerja terus sampai kadang lupa sama anak dan istrinya.”

Mellisa kembali terdiam. Entah mengapa, pembicaraan sederhana itu tiba-tiba membuat pikirannya terarah kepada sosok yang baru saja ditemuinya.

Handoko.

Pria yang puluhan tahun lalu pernah menjadi bagian penting dalam hidupnya.

"Kalau begitu, kamu jarang, dong, ketemu sama papinya Mas Raka?” tanya Mellisa, berusaha terdengar biasa.

"Jarang banget.” Kania mengangkat kepalanya dari bahu Melisa. “Malah baru sekarang ini Kania ketemu langsung sama beliau, loh, Bun.”

"Oh...” Melisa hanya bergumam pelan.

"Tapi walaupun sibuk begitu, kata Mas Raka, papinya itu sebenarnya orang yang sangat sayang keluarga.”

Melisa menatap putrinya. "Mas Raka yang bilang?”

"Iya." Kania kembali menyandarkan kepalanya di bahu Melisa.

"Kelihatan sih, Bun. Papinya Mas Raka memang kalem. Nggak banyak ngomong, tapi kayaknya perhatian.”

Mellisa tersenyum kecil, meski hatinya justru terasa semakin tidak tenang.

Kalem. Perhatian. Sayang keluarga. Entah kenapa, mendengar putrinya menggambarkan Handoko seperti itu membuat dada Mellisa terasa sesak.

Ia menundukkan pandangan. Puluhan tahun mungkin telah berlalu. Banyak hal mungkin telah berubah. Namun ternyata, mengenal sosok Handoko kembali melalui cerita putrinya saja sudah cukup untuk membuat kenangan lama yang selama ini terkubur kembali mengetuk-ngetuk pintu hatinya.

Dan Melisa mulai bertanya-tanya dalam hati, apakah pertemuan mereka hari ini benar-benar hanya sebuah kebetulan?

"Oh iya, Bun...” Kania tiba-tiba teringat sesuatu. "Menurut Bunda, kapan waktu pernikahan yang tepat, ya?”

Melisa menoleh kepadanya.

"Kebanyakan tadi dari keluarga Mas Raka bilangnya bulan Desember. Kalau menurut Bunda gimana?”

Melisa tersenyum lembut. Tidak ada raut keberatan sedikit pun di wajahnya. "Kalau menurut Bunda, kapan pun boleh. Semua waktu itu baik. Kalau Kania mau bulan depan, dua bulan lagi, atau mengikuti usulan keluarga Mas Raka, Bunda ikut saja.”

Melisa mengusap pelan tangan putrinya. "Yang penting Kania sendiri maunya kapan? Mau mengikuti keluarga Mas Raka atau punya keinginan sendiri?”

Kania berpikir sebentar, lalu mengangguk kecil.

"Sepertinya Kania ikut keluarga Mas Raka saja deh, Bun.”

"Kenapa?”

"Soalnya Ayah juga bilang begitu. Lebih baik bulan Desember. Katanya kalau Desember lebih mudah mengambil cuti.” Kania tersenyum lebar. "Jadi setelah menikah, Kania bisa langsung honeymoon di bulan itu.”

Melisa terkekeh melihat antusiasme putrinya.

"Wah, sudah kepikiran honeymoon saja.”

"Ya harus, dong, Bun.” Kania tertawa kecil. "Masa sudah menikah malah langsung sibuk kerja?”

Melisa menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum. "Ya sudah. Terserah Kania saja. Apa pun yang Kania mau, Bunda pasti ikuti.”

"Asyiiik!” Kania langsung memeluk lengan ibunya. "Makasih ya, Bun.”

Melisa tersenyum. Melihat kebahagiaan putrinya membuat hatinya ikut menghangat. Setelah sekian lama membesarkan Kania, rasanya baru kemarin gadis kecil itu masih berada dalam pelukannya. Kini, putrinya sudah bersiap memulai kehidupan baru bersama lelaki pilihannya.

"Oh iya, Bun...” Kania tiba-tiba bangkit. “Lupa! Aku harus telepon Ayah untuk ngabarin acara pagi ini.”

Melisa mengangguk. "Ya sudah, sana!”

"Aku ke kamar dulu, ya, Bun.”

Kania segera berdiri dan melangkah menuju kamarnya. Namun baru beberapa langkah, ia kembali menoleh.

"Bun.”

"Iya.”

"Kania senang banget hari ini.”

Melisa tersenyum. "Bunda juga senang melihat Kania bahagia." Kania ersenyum lebar sebelum akhirnya berlari kecil menuju kamarnya.

Melisa kembali sendiri di ruang tengah. Senyumnya perlahan memudar. Entah mengapa, setelah Kania pergi, pikirannya kembali tertuju pada pertemuan pagi tadi.

Pada Handoko.

Kali ini, Melisa menyadari bahwa lelaki dari masa lalunya itu kini bukan sekadar seseorang yang tiba-tiba muncul kembali dalam hidupnya. Handoko adalah ayah dari lelaki yang akan menjadi suami putrinya.

"Bu, keluarga Pak Riza mau pulang.”

Tiba-tiba Bi Asih, asisten rumah tangga Melisa, menghampiri.

"Oh, baik.”

Melisa segera bangkit dari duduknya. "Tolong kasih tahu Kania juga, Bi. Om dan Tantenya mau pulang.”

"Iya, Bu.”

Melisa langsung melangkah menuju bagian depan rumah. Di sana, keluarga Syahriza sudah bersiap meninggalkan rumah. Beberapa barang bawaan mereka telah dimasukkan ke dalam mobil.

Salah satu mantan iparnya tersenyum ketika melihat Melisa datang. "Mbak Mel, kami pulang dulu, ya. Insya Allah nanti pas hari H, kami datang lagi.”

"Oh, iya. Terima kasih banyak sudah datang.”

Melisa menyalami mereka satu per satu. Dengan salah satu mantan iparnya yang sudah cukup dekat dengannya, ia bahkan sempat berpelukan hangat.

Tak lama kemudian, Kania menyusul keluar.

"Tante, Om, makasih ya sudah datang mewakili Ayah.” Kania tersenyum ramah. “Nanti pas hari H harus datang, lho.”

"Iya, Insya Allah kami datang.”

"Jangan sampai lupa!”Mereka semua tertawa kecil.

Setelah berpamitan sekali lagi, keluarga Syahriza masuk ke dalam mobil. Melisa dan Kania berdiri di depan rumah, mengantar mereka sampai mobil itu perlahan meninggalkan halaman.

Melisa tetap berdiri di sana. Tatapannya mengikuti mobil tersebut hingga akhirnya menghilang di ujung jalan.

Senyumnya perlahan memudar.

"Mereka adalah ipar-ipar yang baik...” gumam Melisa lirih.

Ia menarik napas panjang. "Sayang, tidak seperti mantan suamiku." Kalimat itu keluar begitu saja, nyaris seperti bisikan.

Kania yang berada di sampingnya menoleh. Namun sebelum sempat bertanya, Melisa sudah berbalik dan melangkah masuk ke dalam rumah.

Ada luka yang ternyata tidak benar-benar hilang.

Ia hanya belajar menyimpannya dengan lebih rapi.

1
~Ni Inda~
Berattt
Hrsnya gak begini
Lawan dong...tolong
Masa...waktu.. sdh berganti
Pikirkan anak² kalian
Alihkan rasa cinta menjadi persaudaraan
Bisa...bisa kok
Asal kalian lakukan dg sadar...ikhlas
falea sezi
jalang lacur uda tua kok jd pelakor
Jamayah Tambi
Nak jawab macam mana tu Mel.Nak terus terang ke bohong.
sutiasih kasih
km akn meraskn yg di rsakn pratiwi.... saat ankmu mngalami hal yg sm....😔😔
sutiasih kasih
bukan cerita masa lalu... tpi masa skrg... yg kalian rajut....
smoga kalian psangan yg tak tau diri... mnyesal krna tak dpt brfikir jernih... lbh mnfedepsmkam nafsu... shingga tak memikirkn ank" kalian yg skn mnikah....
sebaiknya secptnya trbongkar.... ank" tak jdi.mnikah akn lbh baik... biar ank" mmbenci kelakuan tak patut kalian... handoko dan melisa🙄🙄🙄🙄
Jamayah Tambi
Tanya pada tempat yg betul.Tak tau apa jawaban Melissa.Jujur atau tipu
Jamayah Tambi
Berhenti Handoko,kau dah ada rumah mu sendiri.zPratiwi nak letak kat mana kalau kau mrnikahi Melissa
Jamayah Tambi
Kau ada bini,jaga je bini lau.Bini yg baik dan setia.Biar Melissa dan Randy.Mereka duda dan janda tak ada masalah.Simpan je perasaanmu Handoko
sutiasih kasih: handoko msih brnafsu mngejar bahagia semu di ujung jln kak....
nnti klo smua sdh hancur.... bru dia sadar dan mnyesali... krna tak ada jln untuk kmbali....
total 1 replies
Jamayah Tambi
Mana satu nak pilih Mel
Jamayah Tambi
Kesian juga Si Mellisa tak pernah mengecap bahagia setelah menikah .Kemudian menjada selama puluhan tahun.
Jamayah Tambi
Tak pasal2 bapak mertua jd bapak tiri.Hah pelik tp benar.Orang tua klu jatuh cinta lagi,mesumnya mengalahkan anak muda.
Jamayah Tambi
Jangan ikutvhati Handojo.Ingat umur.Bahagikan anak2 kalian.Mungkin kamu dan Melisa memang tidak berjodoh.Kalau kau menikahi Mekissa bagaimana dgn Pratiwi
Oma Gavin
melisa sadar jgn amnesia ingat anakmu perlu bahagia dgn calonnya jgnnlamu cuma mikir kebahagiaan dan kesenangan mu saja fintaylsma mu udah tutup buku ngga perlu dibuka lagi, jgn korbankan kania demi keegoisanku mu sendiri
Jamayah Tambi: Saranku ,jangan niksh dgn Handoko kerana banyak hati ygvterluka.Pratiwi,kina dan Raka.Klu Randy duda atau hujang terlajak ya nikah saja dgnnya.
total 1 replies
sutiasih kasih
lnjutkn kbodohan oleh nafsumu handoko....
prtemuanmu dgn melisa bukanlah cinta tpi hnya rasa penasaranmu krna km tk mnikah dgnnya saat dulu....
tpi kelak... saat km merealisasikn mnikahi melisa.... km akn tau rsanya mnyesali tindakn bodohmu...
Oma Gavin
feeling ku pernikahan anaknya ngga terealisasi karena kebongkar perselingkuhan ortu masing" mereka pasti malu lebih baik mundur daripada berantakan
Oma Gavin
lanjutkan dan jgn melek mata' kalian berdua kan lagi jatuh cinta jadi masing" buta dengan kebahagiaan anak" kalian tetaplah edan jgn sadar
sutiasih kasih: sadarnya nnti aj... klo sdh di hadpkn dgn khilangan dan kehancuran keluarga....
tak ada lgi jln pulang dri petualangan nafsu yg sesat....
🙄🙄
total 1 replies
sutiasih kasih
gmn klo smpe km tau knyataannya wi.... suamimu sdh main gila dgn calon besanmu....
Jamayah Tambi
Depan isteri kau boleh buat Handoko.Kalau ketahuan macam mana.Tak ke merusak hubungn anak2 kamu nanti
Jamayah Tambi
Masalah manusia ialah otak sihat kalah dgn hati yg bercelaru
Jamayah Tambi
Menikah kerana tanggungjawab, bukan cinta kerana hati masing2 mencintai yg lain
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!