Bagi Jema (24 tahun), hidup ini hanya tentang bau oli, tagihan listrik, dan obat Ibunya yang mahal. Lulusan S1 Elektro yang terpaksa jadi montir ini punya hati sedingin es dan tidak punya waktu untuk urusan cinta.
Sampai akhirnya, Maikel (18 tahun) datang mengacaukan segalanya.
Ceria, berisik, dan kaya raya. Bocah SMA bad boy itu sengaja merusak mobil sport mewahnya berkali-kali hanya agar punya alasan sah untuk menggoda Jema di bengkel.
Jema mati-matian menjaga jarak. Baginya, Maikel hanyalah gangguan berisik. Namun, saat Maikel pelan-pelan menyusup ke titik paling rapuh di hidup Jema, benteng pertahanan itu mulai goyah.
Sanggupkah Jema mengabaikan perbedaan usia enam tahun dan jurang status sosial di antara mereka? Apalagi ketika dunia remaja Maikel yang liar mulai menyeret hidup Jema ke dalam bahaya.
"Gue punya alasan sah buat ngerusak mobil gue tiap hari, biar bisa dapet servis dari montir pribadi hati gue." — Maikel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nura_thequeen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ANGKA YANG MENGHIMPIT
Malam telah larut, menyisakan keheningan yang mencekam di dalam kamar rawat Ibu. Suara detak jam dinding yang monoton berpadu dengan dengung halus dari mesin monitor di dekat ranjang.
Ibu sudah terlelap sejak satu jam yang lalu, napasnya naik-turun dengan teratur berkat pasokan obat dan kantong darah yang mengalir ke tubuh rentanya.
Namun, mataku sama sekali tidak bisa terpejam. Aku duduk kaku di kursi samping ranjang ibu terbaring, menatap nanar selembar kertas rincian biaya yang kuterima dari bagian administrasi sore tadi.
Total Biaya Perawatan & Transfusi Darah: Rp23.657.000,00.
Angka itu tercetak jelas tanpa belas kasihan. Dua puluh tiga juta enam ratus lima puluh tujuh ribu rupiah. Bagiku, deretan angka itu terasa seperti gunung batu yang siap runtuh dan menimbun hidupku kapan saja.
Bagaimana mungkin aku bisa memejamkan mata dengan tenang? Gajiku sebagai montir pemula di showroom hanya Rp3.000.000,00 per bulan. Jika seluruh gajiku ditabung total tanpa dipakai makan atau bayar listrik sekalipun, aku butuh waktu hampir delapan bulan hanya untuk melunasi utang pada bocah SMA itu.
Aku mengusap wajahku yang terasa kaku dan lelah. Rasa bersalah dan harga diri yang terluka bergejolak menjadi satu di dalam dada. Aku tidak bisa terus-menerus berutang budi pada Maikel. Aku harus membayar setiap rupiah yang telah dia keluarkan dengan peluhku sendiri.
Aku meraba kantong celanaku, mengeluarkan ponsel pintar yang layarnya sudah sedikit retak di bagian sudut. Dengan sisa-sisa energi yang kupunya, aku mulai berselancar di dunia maya, mencari lowongan pekerjaan secara daring. Aku berharap ijazah S1 Teknik Elektro yang kuperjuangkan setengah mati itu akhirnya bisa berguna malam ini.
Satu per satu situs pencari kerja kubuka. Aku mengunggah dokumen CV, mengirimkannya ke berbagai perusahaan manufaktur, pembangkit listrik, hingga perusahaan rintisan teknologi. Aku berharap ada keajaiban, ada satu saja perusahaan yang mau melirik kemampuanku dan memberikan gaji yang jauh lebih layak untuk seorang sarjana teknik.
Tak puas sampai di situ, aku membuka aplikasi pesan singkat. Aku menghubungi beberapa teman kuliahku dulu, mengetik pesan dengan jari yang sedikit gemetar karena rasa malu yang kupendam rapat-rapat.
“Eh, sorry ganggu malam-malam. Di tempat kerja lo lagi ada lowongan paruh waktu enggak? Apa aja deh, yang penting bisa dikerjain malam hari. Jam kerja gue di bengkel kan cuma sampai jam 3 sore aja. Tolong info ya kalau ada.”
Aku menunggu dengan cemas yang menggebu. Setiap kali ponselku bergetar, jantungku berdegup kencang berharap ada kabar baik datang. Namun, balasan yang masuk justru membuat dadaku semakin sesak.
“Wah, Jem, di kantor gue lagi pengurangan karyawan malah.”
“Aduh, Jema, susah kalau malam. Rata-rata shift malam butuh yang udah berpengalaman megang genset pabrik.”
Beberapa notifikasi surel dari perusahaan yang kukirimi CV juga masuk hampir bersamaan. Isinya seragam, berupa kalimat penolakan otomatis yang dikirim oleh sistem:
“Mohon maaf, saat ini kualifikasi Anda belum memenuhi ketersediaan posisi yang kami butuhkan karena keterbatasan pengalaman kerja.”
Air mataku hampir menetes, namun kutahan kuat-kuat di sudut mata. Dunia kerja terasa begitu kejam untuk seorang lulusan baru sepertiku. Meski begitu, aku mencoba menguatkan hati yang mulai rapuh.
Masih ada sebagian perusahaan yang status lamarannya menggantung dan belum membalas surelku. Lembaran-lembaran surel yang belum dibalas itulah yang kini menjadi satu-satunya benteng harapan tersisa bagiku untuk bisa keluar dari jerat utang ini.
Jarum jam sudah menunjuk ke angka dua dini hari. Kepalaku terasa sangat berat, berdenyut-denyut karena kurang tidur dan tekanan batin yang datang bertubi-tubi. Ponsel di tanganku perlahan tergelincir, jatuh ke atas pangkuanku saat layar digitalnya meredup.
Sambil melipat kedua tangan di atas tepi ranjang rumah sakit, aku menyandarkan keningku di sana, tepat di samping tubuh Ibu yang masih terlelap.
Dengan posisi duduk yang tidak nyaman dan tubuh yang didera kelelahan hebat, kesadaranku perlahan menipis. Aku akhirnya tertidur, hanyut dalam mimpi buruk tentang angka-angka tagihan dan wajah jail Maikel yang terus membayangi hariku.
Sentuhan lembut di puncak kepalaku membuat kesadaranku perlahan kembali. Usapan itu begitu pelan, penuh kasih sayang yang sangat kukenali.
Aku mengerjapkan mata berulang kali, menyesuaikan diri dengan cahaya lampu kamar rawat yang masih menyala terang. Saat mendongak, aku mendapati Ibu sudah terbangun, menatapku dengan mata yang berkaca-kaca.
Tangannya yang kurus beralih mengusap pipiku lembut.
"Jema... anak Ibu yang kuat. Maafkan Ibu, ya. Ibu selalu saja jadi beban buat kamu. Ibu tahu kamu lelah sekali menanggung semuanya sendirian..." Suara Ibu bergetar hebat, menyiratkan rasa bersalah yang teramat dalam karena merasa telah merenggut masa muda putri tunggalnya.
Mendengar itu, dadaku terasa seperti dihantam godam tak kasat mata. Aku tidak boleh membiarkan Ibu memelihara rasa bersalah itu. Detik itu juga, aku langsung membuang jauh-jauh rasa masih ngantuk dan kecemasanku.
Aku menegakkan tubuh, menggenggam erat tangan Ibu, lalu mengulas senyum paling hangat dan bersemangat yang bisa kuciptakan.
"Ibu ngomong apa, sih? Kok bilang begitu?" ujarku dengan nada ceria, seolah-olah tidak ada beban belasan juta rupiah yang sedang menghimpit pundakku saat ini.
"Jema sama sekali enggak lelah, Bu. Jema ini kan lulusan teknik elektro, kuat dan tangguh. Merawat Ibu itu sudah jadi tugas dan kebahagiaan Jema. Ibu jangan mikir yang aneh-aneh, fokus sembuh aja, oke?"
Aku tertawa kecil untuk meyakinkannya, padahal di dalam kepala, pikiranku sudah hancur lebur dan kacau. Otakku masih berputar memikirkan bagaimana caranya mendapatkan uang tambahan, melunasi utang, dan berharap ada satu saja dari belasan surel lamaran kerja semalam yang membalas dengan kabar baik.
Cklek.
Suara pintu kamar rawat yang terbuka dari luar memotong momen hangat kami. Begitu menoleh, sesosok remaja laki-laki dengan seragam putih-abu-abu yang kancing atasnya sengaja dibuka menyembul dari balik pintu. Di kedua tangannya, ia menjinjing beberapa kantong plastik besar yang mengeluarkan aroma makanan yang sangat menggugah selera.
"Selamat pagiii! Wah, Tante udah bangun? Kelihatan makin seger aja nih hari ini!" sapa Maikel dengan suara ceria yang langsung memecah kesunyian kamar. Senyumnya terkembang sangat lebar dan hangat.
Dia melangkah masuk tanpa canggung, langsung meletakkan kantong-kantong bawaannya ke atas meja.
"Saya bawa bubur ayam yang terkenal enak itu, Tante. Terus ini ada teh anget, sama buah-buahan lagi buat stok. Ini buat Tante, yang ini buat Kak Jema, dan yang ini buat suster jaga di depan juga udah saya bagiin," cerocosnya riang sambil membagi-bagikan kotak makanan dengan cekatan.
Wajah Ibu seketika berubah cerah melihat kedatangan bocah itu.
"Ya ampun, Nak Maikel... pagi-pagi begini kok sudah ke sini? Belum jam masuk sekolah, ya? Terima kasih banyak, kamu baik sekali," ujar Ibu tulus.
Di mata Ibu, Maikel hanyalah seorang anak sekolahan yang memiliki hati luar biasa baik dan perhatian kepada sesama.
Sangat berbeda dengan perasaanku yang justru mendadak risih. Kehadirannya yang terlalu sering dan sikapnya yang terlampau perhatian membuatku merasa kikuk sekaligus tidak nyaman.
Aku bertahun-tahun hidup mandiri tanpa pernah didekati oleh laki-laki mana pun, dan kini aku harus menghadapi kepedulian yang intens dari seorang bocah SMA yang usianya jauh di bawahku. Sungguh situasi yang canggung.
Namun, egoku kali ini harus mengalah pada realitas. Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha menekan rasa risih itu sedalam mungkin. Aku sadar diri, bagaimanapun juga, nyawa Ibuku terselamatkan berkat kartu kredit hitam miliknya. Utang budiku padanya terlalu menumpuk untuk dibalas dengan ketajaman lidahku.
Aku memaksakan diri untuk tersenyum tipis ke arahnya.
"Makasih ya, Maikel... repot-repot bawa sarapan sebanyak ini."
Maikel menoleh ke arahku. Saat melihat senyum normalku yang jarang sekali ia dapatkan di bengkel, binar matanya langsung berubah semakin jenaka.
Dia mengedipkan sebelah matanya dengan gaya jail yang membuatku ingin sekali melemparnya sendok bubur kearah wajahnya itu.
"Sama-sama, Kak Jema. Dimakan ya, awas kalau enggak habis. Nanti gue aduin ke Tante kalau lu suka pilih-pilih makanan," bisiknya pelan saat berjalan melewatiku, kembali ke mode usilnya yang asli.