Dianggap tak berguna dan diperlakukan seperti pembantu, Laras akhirnya melancarkan pembalasan manis pada suami dan keluarga mertuanya.
Selama tiga tahun, mereka tidak pernah tahu bahwa fasilitas mewah yang mereka nikmati sebenarnya berasal dari bisnis rahasia Laras.
Malam saat mereka pulang merayakan kenaikan jabatan Bagas, Laras sudah menarik seluruh asetnya, menyisakan rumah kosong, gunung utang, dan surat cerai yang siap menghancurkan kesombongan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asrial, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ibu Melati Memohon Pada Laras
Laras duduk diam di ruang tamu apartemennya yang kini terasa jauh lebih tenang daripada sebelumnya. Ia menatap layar tablet di depannya yang menampilkan data mutasi rekening dan laporan inventaris aset yang telah berhasil ia tarik kembali dari tangan Bagas. Tidak ada lagi rasa iba yang tersisa, yang ada hanyalah ketegasan seorang wanita yang sedang menata kembali puing-puing hidupnya yang dulu sempat diinjak-injak.
"Nona Laras, tim hukum sudah siap di bawah," ucap Rina yang tiba-tiba muncul dari balik pintu ruang kerjanya. "Mereka menunggu instruksi Anda untuk eksekusi tahap akhir terkait properti sisa yang masih dipegang keluarga mereka."
Laras menutup tabletnya dengan gerakan perlahan, ia berdiri dan merapikan setelan blazer yang ia kenakan. Ia tahu hari ini adalah hari di mana ia harus menutup lembaran lama secara permanen agar tidak ada lagi celah bagi Bagas untuk kembali mengganggunya.
"Katakan pada Pak Hendra untuk langsung saja ke sana," ujar Laras dengan suara yang tenang namun dingin. "Aku ingin semuanya selesai hari ini tanpa ada perdebatan yang tidak perlu."
Rina mengangguk patuh lalu segera mengeluarkan ponselnya untuk memberikan perintah tersebut. Ia sudah terbiasa dengan sisi tegas majikannya yang tidak pernah ragu ketika dihadapkan pada ketidakadilan.
Sementara itu, di sebuah rumah tua yang letaknya cukup tersembunyi dari keramaian, Ibu Melati sedang sibuk mengomel di dapur yang berantakan. Ia membanting piring plastik ke atas meja karena kesal dengan stok bahan makanan yang menipis drastis.
"Siska! Apa kau tidak bisa sedikit saja membantu ibu mencari uang?" teriak Ibu Melati dengan suara melengking. "Lihatlah, nasi ini sudah hampir habis, dan kau hanya bisa duduk santai di depan ponsel itu!"
Siska yang sedang duduk di kursi kayu reyot segera menoleh dengan tatapan yang tidak kalah tajam. Ia merasa sangat tertekan dengan kondisi hidup mereka yang kini jauh di bawah standar yang dulu mereka nikmati.
"Bisa diam tidak, Bu?" sahut Siska dengan nada kasar. "Aku sudah lelah mencari lowongan kerja, tapi semua orang menolakku hanya karena aku tidak punya pengalaman."
Tiba-tiba, suara deru mesin mobil yang berat terdengar dari halaman depan rumah mereka. Ibu Melati dan Siska saling berpandangan, mereka merasa asing dengan tamu yang tiba-tiba muncul di tengah kondisi mereka yang sedang berantakan.
"Siapa itu?" gumam Ibu Melati sambil melangkah menuju jendela yang tertutup tirai kusam. "Jangan-jangan itu penagih utang lagi."
Siska ikut berdiri, ia merapikan rambutnya yang berantakan dengan jari, mencoba terlihat setidaknya sedikit layak meski hatinya sedang gemetar. Mereka melihat sebuah mobil hitam mewah berhenti tepat di depan gerbang, diikuti oleh dua orang pria berjas rapi yang keluar dari kendaraan tersebut.
Pak Hendra, pengacara yang sudah mereka kenal sebagai sosok yang paling ditakuti, melangkah turun dengan wajah yang sangat serius. Ia memegang map dokumen tebal di tangannya, tampak seperti malaikat maut yang siap menjemput akhir dari kenyamanan mereka.
"Buka pintunya, Bu," ucap Siska dengan suara bergetar. "Aku punya firasat buruk tentang kedatangan orang itu."
Ibu Melati dengan ragu-ragu membuka pintu kayu yang sudah mulai lapuk. Ia menatap Pak Hendra dengan sisa-sisa kesombongan yang masih ia pertahankan di wajahnya yang penuh kerutan.
"Mau apa lagi kalian ke sini?" tanya Ibu Melati dengan nada menantang. "Bukankah rumah ini sudah menjadi milik kami yang tersisa?"
Pak Hendra hanya menatap Ibu Melati dengan tatapan yang sangat datar, seolah ia sedang menatap sebuah benda mati yang tidak berharga. Ia tidak membalas sapaan kasar itu dengan kemarahan, melainkan dengan profesionalisme yang dingin.
"Saya datang bukan untuk berdebat," ucap Pak Hendra sambil menyerahkan dokumen di tangannya. "Ini adalah surat perintah penyitaan sisa aset yang masih terdaftar atas nama Nyonya Larasati, yang secara hukum harus dikembalikan segera."
Siska merebut map itu dari tangan ibunya dengan kasar, matanya membelalak saat membaca isi dokumen tersebut. Ia merasa dunianya seolah runtuh saat melihat detail barang-barang yang selama ini mereka anggap milik mereka ternyata akan ditarik paksa.
"Ini tidak bisa dibenarkan!" teriak Siska histeris. "Bagas yang membeli barang-barang ini! Laras tidak punya hak untuk mengambil ini!"
Pak Hendra memberikan isyarat kepada dua pria di belakangnya untuk mulai masuk ke dalam rumah. Mereka tidak menghiraukan teriakan Siska, melainkan langsung menuju ke sudut ruangan di mana perabotan yang dimaksud berada.
"Kalian tidak bisa melakukan ini!" teriak Ibu Melati sambil mencoba menghalangi jalan salah satu pria. "Kalian pencuri! Polisi! Tolong!"
"Tenanglah, Bu," ucap Pak Hendra dengan nada yang sangat tenang dan menekan. "Segala bentuk perlawanan hanya akan memperberat hukuman di depan hakim nantinya. Kami hanya menjalankan perintah pengadilan sesuai dengan bukti kepemilikan yang sah."
Siska terduduk lemas di lantai, ia menangis sesenggukan sambil memeluk lututnya sendiri. Ia baru menyadari bahwa selama ini mereka hidup di atas fondasi yang rapuh, dan sekarang, fondasi itu benar-benar runtuh berkeping-keping.
"Bagas pasti akan marah jika dia tahu kalian melakukan ini," ancam Siska dengan suara yang tertahan isak tangis. "Dia tidak akan membiarkan kalian begitu saja."
Pak Hendra tersenyum sinis mendengar nama Bagas disebut, senyum yang sangat merendahkan. Ia menatap Siska dengan tatapan yang menunjukkan bahwa ancaman tersebut tidak ada artinya.
"Bagas bahkan tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri dari lumpur kehancurannya," jawab Pak Hendra dingin. "Dia saat ini sedang belajar bagaimana caranya bertahan hidup sebagai seorang kuli, jadi jangan berharap dia akan datang untuk menyelamatkan kalian."
Ibu Melati terdiam seketika, wajahnya memucat mendengar kenyataan pahit tersebut. Ia baru tahu bahwa anaknya sedang berjuang di lokasi proyek sebagai pekerja rendahan, sementara ia masih bermimpi bisa hidup mewah kembali.
Para petugas mulai mengangkut sofa, televisi, dan beberapa perabotan elektronik lainnya ke dalam truk yang sudah menunggu di depan. Suara barang-barang yang digeser dan benturan perabotan terdengar memenuhi ruangan yang kini terasa semakin luas dan kosong.
Setiap barang yang dibawa keluar adalah saksi bisu dari kehidupan palsu yang mereka bangun selama tiga tahun ini. Siska hanya bisa menatap nanar saat televisi layar datar yang dulu sering ia pakai untuk bersantai kini dibawa pergi oleh orang asing.
"Masih banyak lagi yang akan disita setelah ini," lanjut Pak Hendra sebelum ia berbalik untuk meninggalkan rumah tersebut. "Saran saya, berhentilah bersikap arogan sebelum kalian benar-benar tidak memiliki tempat untuk berteduh."
Setelah Pak Hendra dan para petugas pergi, rumah itu kembali sunyi. Hanya tersisa Ibu Melati dan Siska yang kini duduk di lantai semen yang dingin, dikelilingi oleh ruangan yang kosong melompong.
Ibu Melati menatap dinding yang kini tampak kotor dan kusam setelah beberapa hiasan dinding dilepas. Ia merasa seolah-olah ia baru saja terbangun dari mimpi panjang yang indah, hanya untuk mendapati dirinya terdampar di tengah gurun yang kering.
"Siska," panggil Ibu Melati lirih, namun tidak ada jawaban dari putrinya yang masih terisak. "Apa kita benar-benar tidak punya apa-apa lagi?"
Siska tidak menjawab, ia hanya menatap kosong ke arah pintu yang terbuka lebar. Ia merasa dunianya benar-benar telah berakhir, dan di luar sana, matahari mulai terbenam seolah menertawakan kehancuran mereka yang total.
Di kejauhan, Laras sedang berdiri di balkon apartemennya, menatap cakrawala kota yang mulai menyala dengan lampu-lampu gedung tinggi. Ia menarik napas dalam, merasakan udara malam yang tenang dan bersih.
"Semuanya sudah berakhir," gumam Laras sendirian. "Dan inilah awal yang sesungguhnya untuk hidupku sendiri."
Ia menutup pintu balkon dan berjalan masuk ke dalam apartemennya yang nyaman. Di sana, tidak ada lagi bayangan Bagas, tidak ada lagi teriakan Ibu Melati, dan tidak ada lagi beban dari keluarga yang memanfaatkannya.
Laras duduk di sofa barunya, mengambil segelas teh hangat yang telah disiapkan Rina. Ia merasa damai, sebuah perasaan yang sudah lama sekali tidak pernah ia rasakan selama tiga tahun pernikahannya yang penuh dengan kepalsuan.
Ia tahu di depan sana tantangan baru mungkin akan datang, namun untuk saat ini, ia hanya ingin menikmati ketenangan ini. Laras telah memenangkan perang batinnya, dan sekarang, ia siap untuk masa depan yang ia rancang sendiri dengan tangannya.