NovelToon NovelToon
The Last Aether Knight: Ksatria Aura Yang Bangkit Kembali

The Last Aether Knight: Ksatria Aura Yang Bangkit Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Fantasi
Popularitas:361
Nilai: 5
Nama Author: Arian verse

Dia bukan pahlawan. Dia adalah bencana yang berjalan.

Terlahir kembali di dunia yang hancur oleh perang kuno, Arlen membawa ingatan dari kehidupan sebelumnya sebagai Aster Valerius-sang ksatria legendaris. Tapi kali ini, dia tidak terikat oleh kode kehormatan yang rapuh. Dia memiliki sesuatu yang lebih berbahaya: Aether, sumber kekuatan asli yang mampu memotong sejarah dan menghancurkan realitas itu sendiri.

Dari hutan terlarang hingga takhta dewa, Arlen akan menginjak siapa pun yang menghalanginya. Monster? Dia akan menyerap darahnya. Dewa? Dia akan meremukkan takhtanya. Manusia yang berkhianat? Dia akan mengajarkan mereka arti ketakutan sejati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arian verse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Menerobos ke tingkat 2

Hari-hari berlalu seperti arus sungai yang tenang. Setiap pagi, Arlen berlatih di halaman, meniru gerakan kaku ayahnya demi menjaga rahasia. Namun, setiap kali Cedric pergi ke pasar atau sibuk memperbaiki atap, Arlen akan menyusup ke gudang tua di belakang rumah.

Di sana, di antara tumpukan jerami dan peralatan berkarat, ia melatih bentuk sejati. Bukan sekadar ayunan, tetapi meditasi bergerak.

Ranting-ranting kayu yang ia gunakan berganti setiap minggu. Mereka mengering, retak, dan akhirnya patah berkeping-keping saat Arlen mulai meningkatkan intensitas Aliran Jiwanya. Bagi Arlen, patahnya kayu bukan kegagalan, melainkan tanda bahwa cangkang luarnya tidak lagi mampu menahan potensi dalamnya.

Suatu sore, ketika matahari mulai condong ke barat, mewarnai langit dengan jingga dan ungu, Arlen duduk bersila di atas tumpukan kayu bakar di gudang. Ia sedang memejamkan mata, mengatur napasnya, ketika suara kedua orang tuanya menembus dinding kayu tipis yang memisahkan gudang dari ruang tengah.

“Kau dengar kabar dari Ibu Kota minggu lalu?” Suara Elena, ibunya, terdengar gemetar, dipenuhi kecemasan yang tertahan.

Ada hening sejenak, diikuti helaan napas berat Cedric. “Aku mendengarnya. Para Inquisitor Gereja Suci telah tiba. Mereka menyisir desa-desa pinggiran.”

“Mereka bilang itu untuk keamanan,” desis Elena, suaranya semakin pelan. “Tapi semua orang tahu, Cedric. Gereja tidak pernah bertindak tanpa agenda tersembunyi. Mereka mencari sesuatu. Atau seseorang.”

“Anehnya,” lanjut Cedric dengan nada frustrasi, “Raja diam saja. Seolah-olah takhta emas itu telah menjadi boneka di tangan Uskup Agung. Kekuasaan Gereja kini melampaui hukum kerajaan.”

“Mereka mencari jejak Kekuatan Kuno, Cedric,” bisik Elena, nadanya hampir seperti tangisan. “Cerita-cerita lama yang dilarang... tentang kekuatan yang tidak berasal dari Mana alam, tapi dari dalam diri manusia itu sendiri. Konon, kekuatan itu bisa menantang dewa.”

Di balik dinding, jantung Arlen berdegup kencang, namun wajahnya tetap datar.

Gereja Suci.

Nama itu memicu ingatan-ingatan kelam yang terkubur dalam. Ribuan tahun lalu, mereka dikenal dengan nama lain: lingkaran suci Merekalah yang memimpin pembantaian terhadap kaum Kesatria Aura, menyebutnya sebagai pembawa bencana karena menolak ketergantungan pada sihir eksternal. Mereka membakar perpustakaan, menghancurkan monumen, dan membunuh siapa pun yang menunjukkan tanda-tanda kebangkitan Aura.

Dan sekarang, mereka masih ada. Masih mengintai. dan Masih saja busuk.

Arlen mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya menusuk telapak tangan. Ia harus lebih berhati-hati. Satu kesalahan kecil, satu getaran Aura yang lolos dari kendali, bisa membawa malapetaka bagi keluarganya. Cedric dan Elena hanyalah rakyat biasa; mereka akan hancur jika terseret dalam konflik tingkat tinggi ini.

Namun, ketakutan itu justru menjadi bahan bakar. Ia tidak bisa terus bersembunyi selamanya. Untuk melindungi mereka, ia harus menjadi lebih kuat. Lebih cepat.

Malam itu, bulan purnama menggantung tinggi di langit, memandikan halaman belakang dengan cahaya perak yang dingin. Angin malam berhembus kencang, menggoyangkan dedaunan hingga berbunyi seperti bisikan hantu.

Arlen berdiri di tengah halaman, sendirian. Kali ini, ia tidak membawa ranting kecil. Ia memegang sebatang kayu ek sepanjang satu meter, seukuran pedang pendek Gladius.

Ia menutup matanya. Dunia sekitarnya menghilang. Yang tersisa hanyalah detak jantungnya dan aliran hangat di dalam jiwa-nya.

Bangun, perintahnya pada energinya. Alir. Jadikan satu.

Perlahan, cahaya mulai muncul. Bukan cahaya putih menyilaukan seperti sihir elemen, melainkan cahaya perunggu yang padat dan berat. Cahaya itu merembes keluar dari pori-pori kulit Arlen, membungkus tubuhnya seperti lapisan zirah transparan. Cahaya itu merambat ke lengannya, menyatu dengan batang kayu di tangannya.

Kayu itu kini tampak seperti terbuat dari logam cair yang membeku.

Arlen membuka matanya. Iris matanya yang biasanya abu-abu kini bersinar samar dengan warna tembaga.

Ia mengayunkan pedang kayunya.

SRAKK!

Udara terbelah. Gelombang kejut kecil terbentuk di ujung ayunan, membuat rumput di depannya tertekuk rata. Tanah di bawah kakinya retak halus.

Satu ayunan. Dua ayunan. Seratus ayunan.

Tubuh kecilnya bergerak dengan presisi mesin. Keringat mengucur deras, uap panas keluar dari tubuhnya karena gesekan energi yang intens. Napasnya berat, namun ritmenya teratur. Ia mendorong batasannya. Ia memaksa jiwa nya untuk berputar lebih cepat, menyerap energi alam sekitar dan memadatkannya menjadi Aura.

Tiba-tiba, sebuah penghalang tak terlihat di dalam dirinya bergetar. Selama ini, ada dinding yang membatasi seberapa banyak Aura yang bisa ia keluarkan. Dinding itu terasa tebal, keras, dan menakutkan.

Tembus, teriak Arlen dalam hati. Jangan berhenti!

Ia mengumpulkan seluruh sisa tenaganya, memusatkan semuanya ke satu titik di dada, lalu meledakkannya ke seluruh tubuh.

KRACK!

Suara itu bukan berasal dari luar, tapi dari dalam jiwanya. Batasan itu runtuh.

Cahaya perunggu di sekelilingnya berubah warna. Ia menjadi lebih pekat, lebih gelap, mendekati warna tembaga kemerahan yang solid. Getaran yang sebelumnya kasar menjadi halus dan stabil. Udara di sekitarnya terasa lebih berat, seolah gravitasi meningkat khusus di area tempat Arlen berdiri.

Arlen menghentikan gerakannya. Ia mengangkat kedua tangannya, menatap telapak tangannya. Lapisan cahaya tembaga itu berdenyut lembut, selaras dengan detak jantungnya.

Tingkat 2. Aura Perunggu.

Kebanggan meluap di dada Arlen. Di kehidupan sebelumnya, ia membutuhkan sepuluh tahun latihan brutal di Akademi Militer untuk mencapai tahap ini. Di kehidupan ini, dengan bantuan ingatan dan teknik yang sempurna, ia mencapainya sebelum usia enam tahun.

Namun, perasaan bahagia itu cepat diredam oleh realitas. Ini hanya permulaan, batinnya mengingatkan. Aura Perunggu cukup untuk mengalahkan serigala atau bandit jalanan. Tapi terhadap Inquisitor Gereja? Terhadap Penyihir Tinggi? Ini tidak cukup. Aku butuh Besi. Aku butuh Baja. Aku butuh Emas.

Tiba-tiba, suara engsel pintu berderit dari arah rumah utama.

Dalam sepersekian detik, Arlen menarik kembali Auranya. Cahaya tembaga lenyap, diserap kembali ke dalam tubuhnya tanpa meninggalkan jejak. Posturnya yang tegak dan mematikan kembali menjadi santai seperti anak kecil yang lelah bermain.

Elena keluar dari pintu belakang, membawa selimut wol tebal. Wajahnya pucat dalam cahaya bulan, matanya menyapu kegelapan halaman sebelum akhirnya tertuju pada putra kecilnya yang duduk di atas batu.

“Arlen?” panggilnya lembut, mendekat dengan langkah hati-hati. “Kau belum tidur? Udara malam ini sangat dingin, nak.”

Ia membungkus bahu Arlen yang masih sedikit berkeringat dengan selimut itu, lalu mengelus rambut hitam anaknya yang berantakan. Sentuhan ibunya hangat, kontras dengan dinginnya malam.

“Kau sedang apa di sini sendirian? Merenung?” tanya Elena, mencoba membaca ekspresi anaknya.

Arlen mendongak. Ia menatap wajah ibunya yang cantik namun diliputi kerutan kekhawatiran. Di mata wanita itu, ia melihat cinta tanpa syarat, cinta yang rapuh namun kuat. Cinta yang layak untuk dilindungi dengan nyawa.

Arlen tersenyum, senyuman yang tulus dan menenangkan.

“Aku hanya berjanji pada diriku sendiri, Bu,” jawab Arlen pelan, suaranya jernih di malam yang sunyi. “Suatu hari nanti... aku akan membuat tempat ini menjadi benteng yang tak tertembus. Tidak ada siapa pun—baik manusia, monster, maupun dewa palsu—yang akan berani mengganggu Ayah dan Ibu lagi.”

Elena tertegun. Kalimat itu terdengar terlalu dewasa, terlalu berat untuk diucapkan oleh bocah enam tahun. Namun, ketika ia menatap mata Arlen, ia tidak melihat kebohongan atau kegilaan anak-anak. Ia melihat keteguhan baja. Ia melihat janji seorang ksatria.

Air mata menggenang di pelupuk mata Elena, namun ia tersenyum bangga. Mungkin ia tidak mengerti sepenuhnya, mungkin ia menganggap itu hanya khayalan anak-anak. Tapi naluri keibuannya mengatakan bahwa anaknya istimewa.

“Kami percaya padamu, Arlen,” bisik Elena, mencium kening putranya. “Apa pun yang terjadi, kami selalu ada di sini. Bersamamu.”

Malam itu berakhir dengan keheningan yang damai, namun di dalam hati Arlen, api perang telah dinyalakan.

Ia tidak takut pada Gereja Suci. Ia tidak takut pada bayangan masa lalu. Ia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh dunia ini: Pengetahuan yang terlupakan, teknik yang hilang, dan tekad yang ditempa di medan perang terbesar dalam sejarah umat manusia.

Arlen akan tumbuh dalam diam. Ia akan menjadi akar yang menjalar di bawah tanah, kuat dan tak terlihat, hingga tiba saatnya ia bisa menjelma menjadi pohon raksasa yang menaungi keluarganya.

Dan ketika dunia siap untuk dihakimi, kekuatan kuno itu akan bangkit kembali. Bukan sebagai penghancur, melainkan sebagai pelindung.

Di sudut kecil Kerajaan Aurelia, legenda baru telah dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!