NovelToon NovelToon
Jenderal, Rotiku Bukan Untukmu

Jenderal, Rotiku Bukan Untukmu

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Transmigrasi / Fantasi / Tamat
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ketoprak Encok

Shania, seorang gadis modern, terjebak dalam tubuh Aurelia Valerius—istri dari Damian Valerius, jenderal tiran yang kejam dan membencinya. Mengetahui takdir aslinya akan berujung pada kehancuran dan penyiksaan, Shania memilih kabur diam-diam dan merintis hidup baru sebagai pembuat roti di sebuah kota kecil.

Sementara itu, Damian yang awalnya merasa lega mendadak tersiksa oleh kehampaan di rumahnya. Ketika ia berhasil menemukan sang istri yang kini hidup mandiri namun diliputi ketakutan mendalam, sang jenderal harus membayar mahal semua dosa masa lalunya untuk mendapatkan kembali hati wanita yang dulu ia abaikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 4

Cahaya matahari pagi yang pucat merembes melalui celah tirai beludru tebal, memberikan sedikit penerangan di sudut kamar tidur utama yang luas dan sunyi itu. Di atas meja rias antik berlapis ukiran emas yang kini dibiarkan berdebu, sebuah kalender meja bergaya kuno dengan halaman perkamen tua terbuka.

Shania duduk bersila di atas karpet wol tebal di depan meja tersebut. Di tangannya, sebuah pena bulu kecil memegang peran penting; ia menggarisbawahi sebuah tanggal dengan goresan tinta hitam yang tebal dan tegas, seolah sedang menandai batas akhir dari hidupnya sendiri.

Mata hijaunya menatap lekat-lekat angka-angka yang tertera di atas perkamen. Di dalam kepalanya, roda gigi kalkulasi bertahan hidup berputar tanpa henti. Berdasarkan alur waktu dari novel asli yang dibacanya sebelum jiwa dan raganya tertukar, perang besar di perbatasan utara kekaisaran akan meletus tepat pada musim dingin tahun depan. Perang itu bukan sekadar bentrokan militer biasa, melainkan titik balik runtuhnya reputasi keluarga Valerius dan momen di mana Damian kembali ke ibu kota dengan membawa tuduhan pengkhianatan palsu, yang berujung pada eksekusi brutal Aurelia.

Shania menarik napas panjang, menghitung mundur hari-hari yang tersisa.

"Enam bulan..." bisiknya pelan, suaranya serak dan nyaris tak terdengar di tengah kesunyian kamar. "Aku hanya punya waktu enam bulan sebelum badai itu datang dan menghancurkan tempat ini."

Bagi Shania, tinggal di kediaman sang Jenderal Agung bukanlah sebuah kemewahan, melainkan duduk di atas kursi panas yang sewaktu-waktu bisa meledak. Ia tahu betul bahwa jika ia hanya berdiam diri menunggu takdir berjalan, kepalanya pasti akan terpisah dari leher di alun-alun kota. Ia tidak bisa mengandalkan belas kasihan Damian—pria dingin bermata abu-abu yang hingga detik ini masih mencurigainya sebagai mata-mata politik.

Satu-satunya jalan keluar adalah kabur. Pergi jauh dari ibu kota sebelum perang utara meletus, menanggalkan status kebangsawanannya, dan hidup tenang sebagai orang biasa di desa terpencil yang tidak tersentuh kekuasaan kekaisaran.

Namun, pelarian membutuhkan modal. Dan di dunia bangsawan ini, kebebasan tidak bisa dibeli dengan angan-angan kosong.

Shania mengalihkan pandangannya dari kalender menuju sebuah kotak kayu kecil berukiran bunga mawar yang tersembunyi di balik tumpukan kain di dalam lemari pakaian. Dengan hati-hati, ia membuka penutup kotak tersebut. Di dalamnya terdapat beberapa sisa perhiasan kecil dari mahar pernikahan Aurelia—cincin berlian perak, bros safir berukuran sedang, dan beberapa koin emas murni berukir lambang kekaisaran yang belum sempat disentuh atau dipamerkan oleh Aurelia semasa hidupnya yang boros.

Perhiasan-perhiasan ini adalah tiket kebebasannya.

Namun, menguangkan barang-barang berharga milik seorang Nyonya Valerius tanpa memicu kecurigaan bendahara istana atau mata-mata Damian adalah pekerjaan yang sangat berbahaya. Jika bendahara istana mencatat adanya barang mahar yang hilang, laporan itu akan langsung sampai ke meja kerja sang Jenderal, dan kepalanya akan langsung dianggap sebagai pengkhianat yang berniat melarikan diri.

Shania harus bergerak secara diam-diam. Ia harus menjadi sosok yang "tak kasat mata" di rumah ini—hantu yang kehadirannya diabaikan oleh semua orang, sehingga tidak ada yang peduli apa yang ia simpan atau apa yang ia buang.

Tiba-tiba, suara derap langkah sepatu bot militer yang berat terdengar sayup-sayup melintasi koridor di luar kamar.

Jantung Shania langsung melonjak ke tenggorokan. Tubuhnya menegang seketika, dan napasnya tertahan. Ia mendengarkan dengan saksama, menajamkan pendengaran di balik pintu kayu yang tebal, menunggu hingga suara langkah sepatu itu perlahan menjauh dan menghilang di ujung koridor utara.

Barulah setelah suasana benar-benar sunyi, Shania menghembuskan napas panjang dengan gemetar. Keringat dingin merembes di pelipisnya. Ketakutan itu belum sepenuhnya hilang; setiap kali bayangan Damian atau suara prajurit melintas di dekat kamarnya, kepanikan lamanya langsung bangkit kembali.

Fokus, Shania. Kamu harus tenang, baktinnya merapal doa di dalam hati.

Pintu kamar mandi dalam berderit pelan, dan sesosok gadis muda bergaun pelayan abu-abu sederhana melangkah keluar membawa seember air hangat. Itu adalah Lily, seorang pelayan magang berusia enam belas tahun yang baru bekerja di kediaman ini dan menjadi satu-satunya orang yang dipercaya Shania untuk membantunya secara diam-diam.

Lily melihat majikannya terduduk tegang di lantai, buru-buru meletakkan ember dan mendekat dengan langkah senyap.

"Nona..." bisik Lily cemas, berlutut di samping Shania. "Anda baik-baik saja? Saya mendengar suara langkah pengawal patroli tadi."

Shania mengangguk pelan, meredakan debar jantungnya. Ia meraih tangan Lily, menarik gadis itu lebih dekat, lalu berbicara dengan nada berbisik yang sangat hati-hati, memastikan suaranya tidak bisa menembus dinding kamar.

"Lily, apa kamu ingat daftar desa-desa di perbatasan provinsi selatan yang pernah kita bicarakan kemarin?" tanya Shania dengan mata berbinar penuh keseriusan.

Lily mengangguk ragu. "I-ingat, Nona... tapi... kenapa Anda terus menanyakan wilayah terpencil seperti itu? Itu adalah daerah perbukitan yang jauh dari ibu kota, jalurnya sulit dijangkau, dan kehidupannya sangat sederhana..."

"Justru itu yang kuinginkan," potong Shania cepat, sorot matanya tajam dan penuh perhitungan. "Dengar, Lily. Aku butuh tempat yang jauh dari jangkauan pusat kekaisaran. Tempat di mana nama 'Valerius' tidak memiliki kuasa apa pun. Apakah kamu bisa membantuku mencari seseorang di pasar kota bawah yang bisa diandalkan untuk menukar perhiasan kecil ini menjadi uang tunai tanpa menarik perhatian para pengawas istana?"

Lily membelalakkan mata kaget, menatap kotak kecil berisi permata di tangan Shania. "Nona! Menjual perhiasan mahar secara sembunyi-sembunyi? Jika Tuan Jenderal atau kepala pelayan mengetahui hal ini—"

"Mereka tidak akan tahu jika kita melakukannya dengan sangat hati-hati, Lily," potong Shania tegas namun lembut, memegang erat tangan pelayan muda itu untuk menyalurkan keyakinannya. "Kamu adalah satu-satunya orang di tempat ini yang bisa kupercayai. Tolonglah aku... Ini satu-satunya cara bagiku untuk bertahan hidup di tempat ini."

Melihat binar keputusasaan bercampur tekad baja di mata majikannya yang telah berubah drastis itu, Lily akhirnya luluh. Gadis muda tersebut menundukkan kepala perlahan lalu mengangguk kecil. "B-baiklah, Nona... Saya akan mencoba menghubungi paman saya di pasar kota bawah lusa malam. Dia pedagang rempah yang sering keluar-masuk gerbang benteng."

Sebuah senyuman lega terukir di bibir Shania. Ia segera mengambil sekantung kecil beludru berisi beberapa butir permata dan koin emas yang telah ia pisahkan dari kotaknya.

Shania merangkak maju menuju sudut kamar, tepat di dekat sisi ranjang besar di mana lantai kayunya memiliki sedikit celah tersembunyi di balik karpet tebal. Dengan menggunakan ujung pisau kecil yang tumpul, ia mencongkel perlahan salah satu papan lantai yang longgar. Di bawah papan kayu tua itu terdapat rongga kosong yang gelap dan aman—tempat persembunyian yang sempurna dari pandangan siapa pun yang membersihkan kamar ini.

Dengan napas tertahan, Shania memasukkan sekantung kecil permata itu ke dalam rongga lantai, lalu merapikan kembali papan kayu dan menutupnya dengan karpet tebal hingga tidak meninggalkan jejak sedikit pun.

Ia menghela napas panjang, merasa sedikit lega karena langkah pertama dari rencana pelariannya telah berhasil disembunyikan dengan aman.

Namun, tepat pada detik ketika Shania menarik tangannya dari balik karpet dan hendak berdiri...

Kit... cklek.

Tanpa ada ketukan peringatan sedikit pun. Tanpa suara langkah kaki yang mendekat.

Daun pintu kamar tidur utama yang sangat besar itu mendadak terbuka lebar dengan dorongan yang kuat dari luar!

Shania terkejut setengah mati. Jantungnya serasa berhenti berdetak seketika, dan darah di sekujur tubuhnya membeku dalam satu detik yang mengerikan. Ia terduduk kaku di lantai, menatap ngeri ke arah ambang pintu!

1
Murni Dewita
finish
Dian Utami
shania petakut thor harus nya pemberani
Ketoprak Encok: huhuhu.... makasih koreksinya kak
total 1 replies
Renjana
👣
mampir diceritaku juga ya😊
Murni Dewita
lanjut dan tetap semangat
Murni Dewita
gantung thor
Murni Dewita
gantung thor double up donk
Ketoprak Encok: sip kak
total 1 replies
Murni Dewita
👣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!