DI ANTARA DUA BAYANGAN
Kebangkrutan bisnis sang ayah memaksa Aira—gadis SMA yang polos, penakut, dan penurut—menjadi jaminan utang keluarga. Ia diserahkan ke kediaman megah keluarga Pradipta dan dijodohkan dengan Vino, pewaris tunggal yang arogan, playboy, dan tak segan mengintimidasinya. Bagi Vino, Aira tak lebih dari benalu dan pelayan terhormat. Di sekolah maupun di rumah, Aira harus menelan bulat-bulat rasa malu saat Vino terang-terangan memamerkan kemesraan dengan Caren, kekasihnya.
Di tengah kehempaan dan rasa takut yang menghimpit, muncul Darel. Sepupu Vino yang baru pulang dari luar negeri itu hadir bak pahlawan. Dengan tutur kata lembut, perhatian manis, dan senyum hangatnya, Darel menjadi satu-satunya tempat Aira bersandar.
Namun, Aira tak menyadari bahwa keselamatan yang ia rasakan hanyalah ilusi. Di balik topeng sempurnanya, Darel menyimpan obsesi gelap dan jiwa psikopat yang siap menghancurkan siapa saja. Saat Vino perlahan mulai menyadari perasaannya dan melihat bahaya ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: Ruangan Rahasia dan Petunjuk Tahun-Tahun Tersembunyi
Malam merambat makin pekat di kediaman Pradipta. Suasana rumah terasa sunyi mencekam pasca konfrontasi terbuka antara Vino dan Darel di tangga kemarin malam. Vino yang masih diliputi rasa cemas berlebihan melarang Aira keluar dari kamarnya sendirian. Namun, rasa haus yang tak tertahankan membuat Aira terpaksa menyelinap keluar kamar secara diam-diam menuju dapur lantai bawah.
Di lantai atas, Darel berdiri di depan meja kerjanya dengan rahang mengeras. Ponsel miliknya tergeletak di atas meja, menyala menampilkan galeri foto tersembunyi yang baru saja ia periksa. Saat Darel buru-buru turun ke area belakang untuk menyapa asisten rumah tangga yang sedang membersihkan ruang belakang, ia tidak sengaja meninggalkan ponselnya di meja kerja dalam keadaan tidak terkunci.
Saat Aira kembali menuju kamarnya membawa segelas air hangat, langkahnya terhenti di depan kamar Darel. Pintu kamar cowok itu sedikit terbuka, membiarkan pendar cahaya dari layar monitor dan ponsel di atas meja menerobos keluar ke lorong yang remang-remang.
Aira ragu-ragu. Ia bermaksud melangkah menjauh secepat mungkin. Namun, matanya tak sengaja menangkap pendar layar ponsel Darel yang menampilkan slide foto yang terus berganti secara otomatis.
Didorong oleh rasa curiga yang teramat sangat, Aira melangkah pelan memasuki kamar sepi itu. Jemarinya gemetar hebat saat ia mengambil ponsel pintar tersebut dan mengusap layarnya.
Napas Aira seketika tertahan di tenggorokan.
Di dalam folder rahasia bertajuk Koleksi Utama, bukan sekadar foto-foto pengintaian Aira selama tinggal di rumah Pradipta yang terpampang. Di sana terdapat ribuan berkas foto lama dengan tanggal digital yang terekam jauh ke belakang—foto-foto Aira saat masih mengenakan seragam SMP, foto saat ia berjalan sendirian di trotoar sepulang sekolah, foto saat ia duduk di taman kota, hingga foto-foto sudut kamar tidurnya di rumah lamanya dulu. Semua itu diambil dari balik semak-semak, kaca jendela, dan sudut-sudut tersembunyi.
Darel telah mengintai, merekam, dan melacak seluruh hidup Aira selama bertahun-tahun tanpa pernah Aira sadari sedikit pun. Kehadiran Darel di kehidupan Aira dan perpindahannya ke rumah Pradipta bukanlah sebuah kebetulan, melainkan skenario terencana yang disusun sangat rapi.
Rasa dingin merayapi punggung Aira. Air mata ketakutan merembes di sudut matanya, sementara tangannya berguncang hebat hingga ponsel di genggamannya hampir merosot jatuh ke lantai marmer.
"Indah, kan? Semua kenangan tentang kamu yang saya simpan rapi selama ini."
Suara berat dan dingin mendadak bergema dari ambang pintu yang terbuka. Aira terperanjat ngeri, refleks berbalik hingga punggungnya menabrak tepi meja belajar.
Darel berdiri mematung di sana dengan segelas air di tangan. Wajah santun nan manis yang biasa ia tunjukkan di depan orang-orang telah lenyap tanpa sisa, digantikan oleh pendar mata yang kosong, gelap, dan amat menakutkan.
"Kak... Kak Darel..." bisik Aira dengan suara bergetar habis, kehilangan kata-kata.
Darel melangkah masuk dengan santai, menutup pintu kamar di belakangnya, lalu menguncinya dari dalam dengan bunyi klik yang menggema bagai lonceng kematian bagi Aira.
"Saya sudah memperhatikan kamu sejak lama, Aira," kata Darel lembut, namun melangkah makin dekat memojokkan Aira. "Bahkan jauh sebelum Vino mengenal nama kamu. Jadi jangan berpikir kamu bisa lepas dari saya hanya karena sepupu bodoh saya itu mulai ikut campur."