Menjadi korban keegoisan orang tuanya pasca perceraian, membuat Auri lebih memilih mantan ART nya untuk menjadi walinya.
Perjalanan hidup Auri sejak masih kanak-kanak memang tak mudah. Bahkan kehidupan cintanya pun seolah tak berpihak padanya.
Namun sosok pemuda yang tak pernah ia sangka, hadir dalam hidupnya. Dan perlahan mengubah alur hidup Auri.
Ikuti perjalanan hidup Auri yukkk
Welcome di tulisan receh Mak Othor. Semoga Mak Othor bisa konsisten menulis lagi yakk...
Yang kemarin terpaksa hiatus.
terimakasih semua...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ibu ditca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Auri sudah tiba di sekolah. Ia kembali mengukir senyum di wajah manisnya tersebut.
Menghadapi anak-anak spesial tentu banyak menguji kesabarannya. Namun tak sering juga, anak-anak didiknya justru menjadi sumber tawa sehari-harinya.
Auri yang sedang berjalan tiba-tiba menghentikan langkahnya karena Kevin mendadak bersimpuh di hadapan nya dengan bunga mawar yang di arahkan kepadanya.
Kevin menunduk dalam seolah-olah ia malu menunjukkan wajahnya pada sang guru.
Auri berjongkok untuk menyeimbangkan posisinya agar sejajar dengan Kevin.
"Apa ini Kevin?" tanya Auri. Kevin mendongakkan kepalanya. Wajah khas anak DS itu menunjukkan senyum canggung.
"Kevin?" ulang Auri.
"Bunga, Bu Auri cantik!" jawabnya. Meski DS, Kevin termasuk sosok yang cukup pintar di bandingkan teman-temannya di sana. Dia bisa menyampaikan maksudnya, keinginannya, protesnya...bahkan seperti sekarang ini. Ia sedang menunjukkan sesuatu, tapi apa?
"Oh...bunganya buat bua Auri? Cantik sekali... haturnuhun Kevin!" Auri mengambil mawar merah tersebut.
Awan yang tak sengaja sedang berada di sekitar itu pun tersenyum tipis.
Gadis yang ia kagumi memang pantas untuk di kagumi! Selain rupanya yang cantik, hatinya pun tak kalah cantik. Wajar jika gadis pujaannya itu mendedikasikan dirinya mengajar di sekolah ini.
"Auri suka?" tanya Kevin tanpa embel-embel 'bu'.
Auri tersenyum dan mengangguk lalu memapah Kevin agar bangun.
"Makasih ya Kevin. Bunganya cantik sekali. Bunganya ibu simpan ya, sekarang Kevin ke kelas dulu. Oke anak pintar?"
Kevin mengangguk cepat. Ia pun gegas berlari menuju ke kelasnya.
Auri menghela nafas panjang sambil menatap punggung bocah itu.
"Fans fanatiknya Bu Auri ngga kaleng-kaleng!" kata Awan. Auri menoleh dan tersenyum pada rekan sejawatnya itu.
"Fans yang paling tulus ya kaya mereka ya pak Awan."
Keduanya tertawa pelan sambil berjalan menuju ke ruang guru untuk menyimpan tas mereka.
"Ya, mereka memang apa adanya" sahut Awan.
"Di mata kita, mungkin mereka memiliki kekurangan. Tapi...mereka tetap tersenyum dan tampak bahagia di setiap suasana. Tak ada beban hidup, dan.... beruntungnya mereka yang ada di sini mendapatkan dukungan dari orang-orang terdekatnya."
Awan menoleh perlahan dan menatap Auri dari samping. Entah mengapa, ada makna lain dari ucapan Auri yang terakhir.
Awan lulusan psikologi namun ia memilih untuk mengabdi di sekolah yang sama seperti Auri.
"Setidaknya mereka masih beruntung karena tangki cintanya penuh saat di rumah!" lanjut Auri.
Ya, kebanyakan yang bersekolah di sana dari kalangan menengah.
Awan tak menanggapi ucapan Auri. Namun keduanya pun sama-sama sudah tiba di ruang guru. Mereka akan berpisah di kelas masing-masing nantinya.
❤️❤️❤️
Rino membuka gerbang sebuah rumah yang katanya akan menjadi tempat tinggalnya bersama Candra selama menangani proyek di kabupaten itu.
Usai membuka lebar gerbang, ia kembali duduk di balik kemudi untuk memasukkan kendala roda empatnya.
Setelah mematikan mesin, Rino menoleh ke samping di mana Candra tampak kurang suka dengan rumah kontrakan itu.
"Ayo bro!" kata Rino. Dengan malas Candra pun menurunkan kakinya dari mobil inventaris kantor. Yups, benar! Papanya tak mengijinkannya membawa mobil miliknya. Ia hanya mendapatkan fasilitas mobil kantor, itu pun di pakai berdua dengan Rino.
Rumah yang di mata orang kampung pada umumnya di anggap sangat layak dan cenderung bagus namun tidak di mata Candra. Rumah mewah papanya amat sangat jauh berbeda dengan yang akan ia huni saat itu.
Rino menurunkan dua buah koper dari bagasi dan menyeretnya ke teras rumah.
"Kenapa?'' tanya Rino.
"Yakin tinggal di sini? Pasti ngga ada AC!''
Rino terkekeh pelan.
"Sedingin ini mau pakai AC?'' tanyanya yang lebih ke arah sindiran. Candra mendengus pelan. Ia tetap mengikuti langkah kaki Rino yang sedang membuka pintu.
Suara pintu terbuka berderit pelan. Kedua lelaki itu pun masuk dengan santai. Candra memindai ruangan berukuran empat kali empat meter tersebut. Cukup luas di jadikan ruang tamu.
"Lembab begini sih Rin! Berapa lama ngga di huni nih rumah?'' tanya Candra.
"Ngga tau berapa lama sih, tapi katanya sering di bersihin kok. Cuma ya...namanya juga rumah kosong. Harap maklum kalo ngga ada bau-bau manusianya. Anyep kata orang jawa mah!'' celetuk Rino.
"Maksud lo ngomong gitu kenapa?"
"Omongan yang mana?'' tanya Rino heran.
"Tadi, ngga ada bau-bau manusia...maksudnya hantu yang menghuni nih rumah? Ngaco!'' ujar Candra.
"Ckkkk...siapa juga yang ngomong ke arah sana. Maksud gu-- '' ucapan Rino terhenti saat ada sesuatu yang berdebum keras di belakang.
Bugh-bigh-bugh
Candra dan Rino saling melempar pandangan.
"Lo periksa sono! Apaan tuh yang tadi jatoh!'' Candra mendorong bahu Rino. Rino memicingkan matanya.
"Takut ya? Pasti mau bilang itu hantu, ya kan?''
"Kagak! Lo mah ya...!'' Candra menunjuk wajah Rino dengan kesal.
"Udah bareng aja! Lagian ngga mungkin juga ada hantu siang bolong begini!'' ajak Rino.
"Sialan Lo!'' pekik Candra kesal karena di dorong oleh Rino. Dan sekarang posisinya Candra di depan Rino. Keduanya pun melangkah menuju ke sumber suara. Dua pasang mata itu seolah saling berbicara.
Perlahan Candra membuka sebuah pintu yang di sinyalir sebuah gudang karena terlihat berbeda dengan beberapa pintu lainnya. Candra mencoba meraba dinding untuk mencari posisi saklar lampu. Dan akhirnya ia pun menemukannya.
Cetrek!
Ruangan yang merupakan gudang itu terasa begitu pengap. Dan tiba-tiba saja segerombolan tikus berlarian di dalam sana membuat dua pemuda itu terpekik kuat.
"Hua----tikus!'' pekik mereka berdua lalu menutup pintu gudang dengan keras. Candra dan Rino berlarian ke depan karena cukup geli dengan binatang pengerat tersebut.
"Lo bilang nih rumah di rawat. Tuh apaan? Tikus aja banyak begitu! Gue yakin ngga cuma sekeluarga tuh tikus, pasti seRt ngikut semua!'' protes Candra.
Rino memutar bola matanya dengan malas.
"Tanya aja sama pak bos ah...! Jangan protes ke gue!"
"Ya Lo sebagai asisten pribadi gue, minimal mikirin gitu gimana kek cari orang kek buat benar-benar bersihin nih rumah."
"Ogah banget berurusan sama makhluk pengerat itu. Nyari orang ke mana coba? Mau nyuruh anak-anak ke sini, keburu rapat paripurna tuh para tikus!"
"Lo kira tikus berdasi pake rapat paripurna segala??? Udah deh, kalo Lo ga beresin tuh para tikus, gue mau stay di hotel!"
Candra mengibaskan tangannya seolah ada debu yang menempel.
"Hotel mana? Yang deket tempat wisata tadi itu? Satu jam ke sini, mau?"
Gigi Candra bergemeletuk karena kesal menghadapi asisten laknat nya itu.
"Ngga guna banget jadi asisten, sumpah!"
Rino memilih abai mendengar ucapan bosnya itu. Untung temen! Walaupun kadang memang omongannya sering bikin sakit hati.
❤️❤️
Tit....tit....tit....
Suara klakson motor berbunyi nyaring saat sebuah mobil tiba-tiba saja keluar dari salah satu gerbang.
Beruntung motor itu bisa berhenti mendadak meski akhirnya harus terguling dengan gerakan slowmo karena kaki pengendara itu terkilir menahan beban motor yang akan jatuh.
Rino buru-buru keluar usai memposisikan mobilnya di tempat yang aman, di susul oleh Candra.
"Aduh... maaf-maaf mba...saya ngga tahu kalo ada motor. Kirain tadi jalannya sepi!" kata Rino membantu mengangkat motor yang roboh itu.
"Makanya lain kali pastiin dulu atuh! Untung we saya bisa ngerem mendadak. Kalo ngga bisa-bisa saya yang nabrak mobil kamu. Ujung-ujungnya saya juga yang suruh ganti rugi!"
Rino meringis mendengar omelan tersebut. Candra menghampiri dengan tatapan meremehkan.
"Ngga usah di besar-besarkan bisa kan? Lagi pula situ juga ngga kenapa-kenapa mba!", celetuk Candra.
Perempuan itu yang tak lain Auri menatap Candra dengan tatapan penuh kemarahan.
Rino sendiri agak kelabakan karena sikap Candra memang seringkali membuat orang kesal.
"Ngga usah di besar-besarkan kamu bilang?" Auri menghampiri Candra dengan jalan tertatih.
Candra melipat kedua tangannya saat Auri tepat di depannya.
"Ya kan emang situ ngga apa-apa. Cuma terkilir aja, paling di kampung begini banyak tukang urut. Orang kampung kaya kalian ini ngga usah modus deh...mau berapa sih, nih butuh duit bera-- "
Plakkkk!!!
Sebuah tamparan keras itu menyentuh pipi Candra yang mulus bak pualam. Kepala nya sampai menoleh ke samping saking kerasnya tamparan itu.
Rino sampai menganga sambil mengusap pipinya sendiri.
Nafas Auri memburu. Dadanya naik turun dengan cepat. Dari pada ia tak bisa menahan emosinya lagi, ia pun memilih untuk meninggalkan lokasi itu.
Candra menatap perempuan cantik itu yang tertatih menghampiri motornya. Candra terlalu syok dengan kejadian yang begitu cepat.
Baru kali ini ada perempuan yang berani menamparnya! Bahkan sama sekali tak terkesima dengan ketampanannya??
"Gila!!!" monolog Candra.
❤️❤️❤️❤️❤️
Segini dulu y ges... makasih 🫰🫰🫰