Di dunia Murim yang dikuasai oleh sekte-sekte besar dan tipu daya, Mu Jin hanyalah seorang tukang kayu dari desa terpencil. Hidupnya berubah total ketika desanya dibantai dalam satu malam oleh pasukan yang tak dikenal.
Tanpa tenaga dalam dan tanpa latar belakang beladiri, Mu Jin memulai perjalanan panjang ke utara. Di tengah perjalanan, dia berhadapan dengan kenyataan kejam dunia Murim: orang kuat menindas yang lemah, keadilan hanyalah topeng, dan dendam adalah satu-satunya hal yang membuatnya terus melangkah.
Sementara itu, di Puncak Awan Putih, Lu Chen, sosok yang dipuja sebagai pelindung keadilan, menggerakkan pengaruhnya di balik layar. Di utara, pemberontakan perlahan menguat di bawah pimpinan Lin Yu, anak haram yang ditolak oleh dunianya sendiri.
Di antara salju, darah, dan konspirasi, seorang tukang kayu biasa terus berjalan. Tanpa mengetahui apakah dia akan menjadi pahlawan, monster, atau hanya satu lagi mayat di jalanan Murim.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ginza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
Keheningan malam di perbatasan Kota Karang Es mendadak terkoyak oleh erangan tertahan dari sudut gang sempit yang gelap. Bau amoniak, belerang, dan ramuan busuk menyengat udara, mengalahkan wangi dupa dari Festival Musim Dingin yang masih berdenyut sayup-sayup di pusat kota.
Mu Jin melangkah keluar dari menara pengawas, berniat meninggalkan Kota Karang Es sebelum fajar menyingsing. Namun, langkah kakinya terhenti tepat di balik dinding batu yang lapuk.
Di bawah pendar remang lampion yang padam, sesosok pria tua berkerut dengan gaun serba hijau lumut sedang mencengkeram leher seorang anak kecil. Pria itu memiliki jemari yang memanjang hitam seperti cakar, dengan bibir membiru akibat puluhan tahun mengonsumsi bisa murni.
Dia adalah Tetua Du Kang, salah satu tokoh paling ditakuti dari Sekte Racun Jiwa, iblis tua yang kerap melintasi wilayah perbatasan untuk berburu tubuh manusia sebagai bahan eksperimen ramuan racun terlarangnya.
Di dalam cengkeraman jarinya yang membeku, anak gadis kecil penjual lentera tadi malam menggeletak lemas. Keranjang lenteranya yang hancur terinjak-injak di atas tanah bersalju, sementara wajah mungilnya memucat, tercekik oleh racun tipis yang memancar dari kulit Du Kang.
“Gadis kecil dengan darah murni utara...” desis Du Kang, suaranya parau menyerupai gesekan batu kali. “Jantungmu akan menjadi wadah yang sempurna untuk membesarkan Ulat Darah Merah milikku.”
Anak kecil itu tidak bisa menjerit. Matanya yang sayu menatap liar ke kegelapan gang, sampai akhirnya pupil matanya menangkap sosok tinggi tegap berbulu hitam yang berdiri tak jauh di depan sana.
Mu Jin menatap pemandangan itu. Wajahnya tetap kaku bagai batu ukir, tak ada keterkejutan atau letupan emosi moral dalam matanya yang mati. Dia tidak mengenal anak itu. Dia juga bukan seorang pahlawan yang terikat oleh sumpah keadilan Murim. Namun, gambaran jemari mungil yang memerah karena hawa dingin tadi malam kembali terlintas sejenak di kepalanya.
Mu Jin merayap maju. Langkah kakinya di atas tanah beku tidak menimbulkan suara sedikit pun.
“Lepaskan,” kata Mu Jin serak. Suaranya datar, tanpa tekanan qi, namun begitu dingin hingga sanggup menghentikan hembusan angin malam.
Tetua Du Kang memutar kepalanya yang bungkuk, menatap Mu Jin dengan pandangan meremehkan. “Cacing tanah bertubuh kusam? Kau berani mengganggu pekerjaan Sekte Racun Jiwa?”
Tanpa menunggu balasan, Du Kang mengibaskan lengan baju kirinya. Seberkas asap hijau pekat menyembur cepat bagai panah, langsung mengincar wajah Mu Jin. Racun Pembakar Daging yang sanggup melelehkan tulang manusia dalam hitungan detik.
WUSH!
Mu Jin tidak melompat menghindar. Dia menggeser tumpuan kakinya serendah mungkin, menahan napasnya, lalu menerjang lurus menembus kabut racun hijau itu.
Kulit pipi dan leher Mu Jin yang terbuka langsung melepuh, mengeluarkan asap tipis dan rasa terbakar yang teramat menyengat. Namun, mata Mu Jin tidak berkedip. Rasa sakit fisik hanyalah sinyal kosong baginya.
Sebelum Du Kang menyadari bahwa racun mematikannya diabaikan begitu saja, Mu Jin sudah berada di depan dadanya.
SRET. BOOM!
Mu Jin mencabut besi tebal bersegi empat dari punggungnya, lalu mengayunkannya secara horizontal dari bawah. Besi kaku tanpa mata tajam itu menghantam perut Du Kang dengan seluruh kekuatan otot punggung tukang kayunya.
CRACK!
Tetua Du Kang menjerit nyaring saat tulangnya berderak. Dia terlempar lima meter ke udara, memuntahkan darah hitam yang berbau busuk sebelum tersungkur menghantam dinding batu. Anak kecil dalam genggamannya terlepas, jatuh di atas salju.
Mu Jin menyambar tubuh anak kecil itu memakai tangan kirinya, lalu melemparnya pelan ke balik tumpukan kayu bakar di sudut gang agar terlindung dari paparan racun.
“Anjing liar sialan!” raung Du Kang gila. Noda darah hitam membasahi janggutnya yang kusam. Pria tua itu bangkit berdiri, matanya memerah penuh rasa malu dan amarah yang meledak-ledak. “Kau menolak mati oleh racunku?! Maka aku akan meremukkan organmu!”
Du Kang memutar tubuhnya, melancarkan Jurus Cakar Racun Sembilan Bayangan. Puluhan bayangan cakar hijau meluncur brutal, merobek udara malam.
Mu Jin mengangkat besi tebalnya untuk bertahan, namun Du Kang bukan sekadar ahli pertarungan jarak dekat. Dia adalah master racun yang licik.
KLANG! KLANG!
Setiap kali cakar Du Kang menghantam permukaan besi tebal Mu Jin, bubuk racun yang tak terlihat menyembur keluar, terserap melalui pori-pori kulit dan luka melepuh di wajah Mu Jin.
Langkah kaki Mu Jin mulai melambat. Penglihatannya mendadak mengabur, dipenuhi bintik-bintik hitam. Darah hitam mulai mengalir dari hidung dan telinganya. Racun kelumpuhan saraf dan racun perusak darah bekerja bersamaan di dalam pembuluh darahnya.
“Hahaha! Terlalu terlambat, Cacing!” jerit Du Kang tertawa histeris melihat Mu Jin bertumpu pada satu lutut di atas salju. “Racun Tujuh Organ Pembusuk milikku sudah menyebar ke jantungmu! Sebentar lagi kau akan—”
Belum sempat Du Kang menyelesaikan kalimatnya, Mu Jin mendongak.
Mata Mu Jin yang bersimbah darah tidak memancarkan ketakutan sedikit pun. Dalam kondisi racun merusak sarafnya, Mu Jin justru menggunakan sisa kesadarannya untuk mengunci posisi Du Kang yang sedang berdiri angkuh.
Dengan satu sentakan brutal yang memaksakan seluruh otot pahanya hingga merobek dagingnya sendiri, Mu Jin melompat maju dari posisi berlutut.
WUSH!
Besi tebal bersegi empat di tangannya meluncur lurus bagai tombak raksasa, mengincar dada Du Kang.
“Apa?!” Du Kang terperanjat panik. Dia berusaha menyilangkan kedua lengannya yang dilapisi pelat pelindung besi racun untuk menahan serangan mematikan itu.
BAM. CRACK!
Besi kaku Mu Jin menghantam telak lengan Du Kang. Kekuatan fisik masif tanpa qi milik Mu Jin meremukkan pelat besi dan patahan tulang tangan Du Kang sekaligus. Iblis tua itu menjerit histeris saat tubuhnya dihantamkan lurus ke tanah oleh berat masif besi Mu Jin.
Du Kang terbaring sekarat dengan kedua lengan hancur, namun Mu Jin sendiri tak lagi sanggup berdiri.
Efek gabungan dari racun melepuh, racun saraf, dan racun pembusuk darah akhirnya meruntuhkan ketahanan fisik luar biasa sang tukang kayu. Pandangan Mu Jin gelap gulita. Tubuhnya roboh miring di atas salju, persis di samping besi kaku dan anak kecil yang berhasil diselamatkannya.
Anak gadis kecil itu merayap keluar dari balik tumpukan kayu, menangis tanpa suara sambil mengguncang bahu mantel bulu hitam Mu Jin yang dingin.
Dari balik kegelapan gang, beberapa bayangan bergaun hijau lumut lainnya melompat turun dari atas atap. Mereka adalah para murid dan pengawal Sekte Racun Jiwa yang baru saja menyusul.
“Tetua Du Kang!” seru salah satu murid sambil memapah iblis tua yang merintih kesakitan itu.
Du Kang batuk memuntahkan darah hitam, matanya yang penuh rasa dendam menatap tubuh Mu Jin yang sudah tak berdaya.
“Jangan... jangan bunuh cacing ini...” desis Du Kang dengan napas memburu dan penuh kebencian. “Ketahanan fisiknya... sungguh tidak masuk akal. Bawa dia ke markas bawah tanah! Ikat dia dengan rantai besi hitam! Aku sendiri yang akan membedah tubuhnya dan menjadikannya wadah racun terhebat yang pernah ada!”
Para murid Sekte Racun Jiwa langsung menyeret tubuh Mu Jin yang tidak sadarkan diri, beserta besi tebal bersegi empatnya, melenyap ke dalam kegelapan malam utara.