NovelToon NovelToon
Stasiun Terakhir: S1 The Ice Wall

Stasiun Terakhir: S1 The Ice Wall

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Epik Petualangan
Popularitas:151
Nilai: 5
Nama Author: Ketoprak Encok

Dunia telah membeku dalam badai es abadi yang dikuasai dengan tangan besi oleh Aether Corp. Setelah adiknya tewas dibunuh secara kejam oleh pasukan korporasi, Ren yang sekarat bangkit dari ambang kematian berkat The Engine System—sebuah sistem purba misterius yang menyatu dengan jantungnya.

​Berbekal kereta rongsokan, Ren memulai pelarian maut sambil merekrut kru inti yang luar biasa: Leo (mekanik jenius), Soju (navigator handal), Yuna (koki dan dokter tangguh), serta Gavin (informan cerdas). Bersama-sama, mereka berjuang menaikkan level kereta dari rongsokan biasa menjadi mesin perang lapis baja kelas Dreadnought yang tak terbendung.

​Dari menembus Tembok Es Raksasa menuju Benua Aether Bawah yang penuh misteri, hingga melancarkan perang total melawan armada militer korporasi dan menembus jantung pusat bumi (Tartarus), perjalanan ini adalah pertaruhan hidup dan mati demi meruntuhkan tirani, menuntaskan misi balas dendam, dan merebut kembali kebebasan bagi umat manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 22

Deru sirene peringatan yang melengking nyaring memantul liar di dinding-dinding beton fasilitas dapur bawah tanah, menciptakan gaung yang memekakkan telinga. Lampu-lampu darurat berkedip dengan pendaran merah darah, menyinari kepulan uap panas dari puluhan panci raksasa yang mendidih. Di luar selubung pintu baja kedap udara, suara derap sepatu bot pasukan keamanan Korporasi Aether bergemuruh mendekat, siap merangsek masuk dan memuntahkan peluru panas ke segala arah.

Di tengah kekacauan dan kepanikan yang mencengkeram seluruh isi ruangan, Yuna berdiri terpaku di depan meja pemotong baja besar.

Apron putih usang yang membalut tubuhnya berlumuran noda bumbu dan cipratan es cair. Napasnya memburu tidak teratur, naik turun dengan cepat seiring debar jantungnya yang menghantam tulang dada. Wajahnya yang biasanya memancarkan ketenangan seorang seniman kuliner kini dipenuhi oleh bayangan keletihan yang luar biasa mendalam. lingkaran hitam tampak jelas di bawah kelopak matanya—bukti nyata dari siksaan eksploitasi kerja tanpa henti yang telah ia derita selama berminggu-minggu di bawah cengkeraman korporasi.

Selama ini, Yuna diperlakukan bukan sebagai manusia, melainkan sebagai mesin produksi pangan otomatis. Para petinggi korporasi memaksanya memasak porsi makanan kolosal tanpa henti, dengan waktu istirahat yang dirampas kejam hingga hanya tersisa empat jam dalam sehari. Tulang-tulang di kakinya terasa remuk, otot-otot lengannya pegal linu, dan jiwanya perlahan terkikis habis di bawah tekanan konstan pisau dapur dan ancaman senjata.

Tiga orang penjaga tambahan yang baru saja datang melangkah maju dengan tergesa-gesa, mengacungkan senapan laras panjang ke arah Yuna. Wajah mereka dipenuhi amarah karena jatuhnya rekan-rekan mereka sebelumnya akibat tendangan maut sang koki.

"Cukup sudah perlawananmu, Koki!" bentak komandan regu penjaga itu, suaranya melengking mengatasi suara sirene. "Sistem pangkalan dalam status siaga penuh! Jika kau menolak melanjutkan memasak batch makanan untuk para petinggi sekarang juga, kami tidak akan ragu untuk menghabisimu di tempat!"

Yuna mendongakkan kepalanya perlahan. Tatapan matanya yang tajam dan dingin menyorot lurus ke arah moncong senjata yang mengarah tepat ke dadanya. Tidak ada rasa gentar yang tampak di sana, melainkan gelombang kemuakan yang teramat sangat.

"Tidak," jawab Yuna dengan suara parau, datar namun mengandung ketegasan yang mutlak. Ia melepaskan pisau koki kesayangannya, menjatuhkannya ke atas meja baja dengan bunyi clank yang nyaring. "Aku tidak akan memasak lagi. Aku sudah selesai."

Komandan penjaga itu mendengus sinis, mengokang senapannya dengan kasar. "Kau pikir kau punya pilihan, hah?! Kau hanya tahanan budak dapur! Di dunia es ini, hidupmu tidak lebih berharga daripada sisa remah makanan yang kau buang ke tempat sampah! Cepat ambil pisaumu kembali atau peluru ini akan menembus jantungmu dalam hitungan detik!"

"Aku bilang, aku tidak mau!" teriak Yuna, suaranya pecah oleh luapan emosi, keputusasaan, dan kelelahan yang selama ini dipendamnya rapat-rapat. Ia menggebrak meja baja di hadapannya dengan kedua tangan telanjangnya, membuat wadah-wadah bumbu berjatuhan dan pecah berserakan di lantai. "Kalian membunuh waktuku! Kalian merampas tidurku! Kalian memperlakukanku seperti binatang buruan hanya demi memuaskan perut serakah para petinggi korporasi yang bahkan tidak tahu cara menghargai rasa sebuah hidangan!"

"Pilihan ada di tanganmu, Koki sialan!" geram sang komandan, jarinya mulai melengkung menempel pada pelatuk senapan. "Satu... dua...!"

Di balik bayangan sudut koridor yang gelap, Ren dan Soju mengamati situasi tersebut dengan ketegangan yang memuncak. Soju melangkah setengah inci ke depan, bersiap menarik busur balistiknya, namun Ren menahan bahu gadis itu dengan isyarat tangan, menyuruhnya menunggu aba-aba yang tepat.

Di hadapan moncong senjata yang siap merenggut nyawanya, Yuna merasakan gelombang ketakutan yang dingin merayap naik ke tenggorokannya.

Di dalam hatinya, sebuah gejolak batin yang dahsyat berkecamuk hebat. Yuna mengepalkan kedua tangan kosongnya kuat-kuat di atas meja. Buku-buku jarinya memutih, mencengkeram erat tepi besi meja hingga gemetar hebat.

Tidak... aku tidak mau mati di sini... batin Yuna menjerit penuh pemberontakan, air mata kepedihan dan amarah bergeming di sudut matanya yang lelah. Aku belum mau mati sekarang!

Bukan karena ia takut pada kegelapan kematian semata, melainkan karena ada satu hal besar yang belum sempat ia tuntaskan dalam hidupnya. Di dalam kepala Yuna, tersimpan sebuah arsip rahasia warisan leluhur keluarganya—sebuah buku resep kuno peninggalan era sebelum dunia membeku, yang berisi rahasia meracik hidangan-hidangan penunjang stamina ekstrem. Resep-resep legendaris yang mampu memulihkan energi biologis hancur, meningkatkan kapasitas sel tubuh sepuluh kali lipat, dan membangkitkan batas fisik maksimal manusia yang bahkan belum pernah ia uji coba seumur hidupnya.

Buku resep itu... catatan leluhurku... batin Yuna terus bergemuruh, dadanya sesak oleh penyesalan yang membara. Aku menghabiskan seluruh hidupku mempelajari resep-resep itu, tapi aku belum pernah punya kesempatan untuk menyeduh dan memasaknya untuk diriku sendiri! Aku mati-matian bertahan hidup di tempat jahanam ini hanya untuk suatu hari nanti bisa meracik hidangan pamungkas itu... dan sekarang aku akan mati ditembak oleh para bajingan ini?!

Kepalan tangan Yuna semakin erat. Rasa amarah yang membakar di dalam dadanya mendadak mengubah keputusasaan menjadi gelombang energi panas yang menjalar dari telapak tangannya, beresonansi secara aneh dengan denyut frekuensi rendah dari The Core Engine yang bersemayam di tubuh Ren di seberang ruangan.

"Tiga!" bentak sang komandan penjaga, melepaskan pengaman pelatuk senapannya.

Melihat laras senjata itu mulai terangkat lurus untuk melepaskan tembakan maut, Yuna menarik napas dalam-dalam, menutup matanya sejenak, lalu melirik ke arah tumpukan bahan-bahan herbal dan rempah-rempah langka yang tergantung di rak dapur di sampingnya.

Di detik terakhir sebelum peluru meledak meninggalkan larasnya, Yuna tidak lari. Dengan gerakan kilat yang melampaui refleks manusia normal, tangan kirinya yang terkepal kuat menyambar sebuah botol kaca berisi ekstrak rempah termal murni, sementara kaki kanannya melesat menendang ke atas dalam posisi berputar—Spinning Crescent Kick—menghantam telak senapan di tangan komandan penjaga hingga hancur berkeping-keping dan meledakkan percikan api di udara.

Suara dentuman tendangan itu memecah keheningan detik-detik kematian, mengguncang seluruh isi dapur dan membuat para penjaga lain terperanjat mundur dalam ketakutan yang teramat sangat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!