Di dunia di mana yang kuat memangsa yang lemah, kebenaran tidak ditentukan oleh siapa yang benar, melainkan oleh siapa yang masih hidup.
Xuan Chen, seorang pemuda yang dikhianati dan dipandang sebelah mata, memilih melangkah di Jalan Demonic yang penuh darah. Berbekal rahasia Mata Dewa Iblis yang sanggup menembus segala hukum alam dan menaklukkan Qi Demonic yang liar, dia menginjak-injak aturan moralitas palsu dunia kultivasi.
Dari murid luar yang diburu hingga menjadi sosok yang ditakuti seluruh sekte, ini adalah kisah perjalanan dingin Xuan Chen menginjak setiap penentangnya, merebut kembali takdirnya, dan meniti jalan berdarah menuju puncak lima kaisar agung penguasa alam semesta.
"Qi Demonic ataupun Qi murni hanyalah kekuatan. Seberapa jauh kekuatan itu membawamu bergantung pada seberapa bijak kau mengendalikannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: SAMBUTAN DENGAN DARAH
Pedang terbang raksasa itu mendarat mulus di atas plat besi berukir yang menjadi tumpuan di luar batas segel formasi. Saat kaki Xuan Chen pertama kali menyentuh pijakan keras tersebut, dia mengedipkan matanya beberapa kali.
Tidak ada gelombang energi yang aneh. Tidak ada hawa dingin yang menusuk. Bahkan Array Pelindung Sekte yang biasanya digambarkan begitu agung dalam buku-buku kuno, sama sekali tidak memicu respons fisik di tubuhnya. Bagi Xuan Chen yang masih berada di Ranah Penempaan Tubuh, formasi itu tak ubahnya dinding tak kasat mata yang tenang.
Tetua Mo berdiri di depannya. Pria tua itu meraih sebuah token perunggu bercorak tengkorak dari balik jubah hitamnya, lalu mengarahkannya ke udara kosong di hadapan mereka.
Wussss!
Sebuah titik cahaya merah darah meledak dari ujung token, mengalir cepat membelah kabut tebal yang menyelimuti area puncak. Udara di sekeliling mereka mendadak bergetar hebat. Segel formasi sekte terbuka perlahan, menyibakkan celah kecil yang cukup untuk dilewati dua orang.
Namun, tepat di saat celah itu terbuka, gelombang Qi yang sangat pekat meluncur keluar bagaikan air bah yang jebol dari bendungan.
"Urgh!"
Xuan Chen menahan napas seketika. Dadanya terasa kram mendadak, seolah-olah ada batu berbobot ratusan kati yang dihantamkan tepat ke ulu hatinya. Udara yang dia hirup terasa sangat berat, pekat, dan dipenuhi aroma besi karat murni. Sensasi mencekik itu begitu kuat hingga membuat matanya memerah dan kakinya sempat mundur setengah jengkal.
“Ini... Qi Demonic ? Atmosfer di dalam sini benar-benar berbahaya!”
Seolah dapat merasakan guncangan fisik yang dialami calon muridnya, Tetua Mo melirik dari sudut mata. Bibirnya terangkat membentuk garis datar.
"Wajar bagimu merasa tertekan seperti itu," suara Tetua Mo terdengar santai, berbanding terbalik dengan kondisi Xuan Chen yang sedang menahan bobot udara. "Kau belum terbiasa dengan densitas Qi di wilayah dalam. Tanpa Dantian yang aktif, tubuh biasa akan merasa seolah-olah tenggelam di dasar samudra."
Tetua Mo mengangkat token di tangannya sebentar sebelum memasukkannya kembali. "Dan ingat, token yang kau genggam saat ini bukan hanya tanda pengenal statusmu di sekte, tetapi juga kunci utama untuk menembus Array Pelindung ini. Tanpa token itu, tubuhmu akan langsung dihancurkan oleh petir formasi dalam satu tarikan napas jika mencoba masuk secara paksa."
Tanpa menunggu balasan Xuan Chen, sang tetua melangkah masuk lebih dulu menembus celah formasi. Xuan Chen mengatur ritme napasnya yang tidak teratur, menegakkan punggungnya kembali dengan paksa, lalu menyusul dari belakang.
Begitu menembus formasi, pandangan Xuan Chen seketika terperana.
Di balik citranya sebagai sekte demonic yang kejam, pemandangan di dalam Sekte Jurang Jiwa sangatlah megah. Puncak-puncak gunung berdiri menjulang menembus lautan awan hitam. Istana-istana kuno berarsitektur megah dari batu hitam berdiri kokoh di atas tebing-tebing curam, dihubungkan oleh jembatan rantai besi raksasa yang menggantung di udara.
Meskipun aura spiritual di tempat ini sangat mencekik , keagungan struktur bangunan sekte tersebut tidak bisa dibantah. Ini adalah markas dari sebuah kekuatan besar yang telah berdiri selama ribuan tahun.
"Kau tunggu di sini," ucap Tetua Mo mendadak saat mereka tiba di sebuah platform batu luas yang dikelilingi patung iblis tanpa kepala. "Jangan bergerak terlalu jauh jika kau masih sayang dengan nyawamu."
Syuuuk!
Belum sempat Xuan Chen mengangguk, tubuh Tetua Mo telah meledak menjadi gumpalan asap hitam dan menghilang tanpa jejak dalam sekejap mata. Xuan Chen ditinggalkan sendirian di tengah platform batu yang sepi dan dingin.
Angin malam yang berhembus membawa aroma amis menusuk hidung Xuan Chen. Dia berdiri menyilangkan tangan di dada, matanya yang tajam tetap menyapu sekeliling dengan tingkat kewaspadaan maksimal. Dia mengingat dengan jelas kata-kata Tetua Mo : Yang kuat memangsa yang lemah.
Tidak perlu waktu lama bagi kata-kata itu untuk terbukti.
Wuuuuushhhhhh!
Hanya selang waktu menyeduh setengah cangkir teh setelah kepergian Tetua Mo, sebuah dorongan angin kencang meluncur deras dari balik patung batu di sebelah kiri Xuan Chen. Niat membunuh yang sangat pekat dan dingin langsung mengunci keberadaan Xuan Chen.
Aura membunuh itu begitu nyata hingga membuat bulu kuduk di lehernya berdiri tegak. Seorang pemuda berpakaian murid luar Sekte Jurang Jiwa melompat keluar dengan belati hitam di tangannya.
"Anak baru! Jadilah bahan kultivasi untuk teknik darahku! Hahaha!" tawa gila meledak dari mulut penyerang tersebut.
Belati hitam itu meluncur lurus mengincar dada kiri Xuan Chen dengan kecepatan yang sangat tinggi bagi ukuran praktisi Ranah Penempaan Tubuh.
Pada momen kritis itu, sensasi misterius kembali bergejolak di balik kelopak mata Xuan Chen.
Penglihatannya mendadak menyempit. Warna dunia sekitar seolah meredup, dan pergerakan penyerang yang tadinya secepat kilat mendadak melambat secara ilahi di mata Xuan Chen. Dia bisa melihat dengan jelas bagaimana sudut genggaman belati lawan agak miring, dan bagaimana otot kaki kiri penyerang itu goyah saat mendarat.
Mata Xuan Chen langsung bereaksi, membaca seluruh lintasan serangan musuh tanpa rasa panik sedikit pun.
Xuan Chen sama sekali tidak mencoba melompat mundur atau menghindar. Dia sengaja menggeser tubuh nya setengah inci ke kanan, membiarkan ujung belati hitam itu menyayat menggores dada nya.
Srkkkkk!
Jubah di bagian dadanya teroyak tipis, memercikkan sedikit goresan darah di kulit Xuan Chen. Namun, belati itu sama sekali tidak menembus jantungnya.
Pria penyerang itu melebarkan matanya. Seringai kemenangan di wajahnya mendadak membeku saat melihat respons dari korban yang diincarnya.
Bibir Xuan Chen justru perlahan terangkat, membentuk sebuah seringai dingin yang sangat mengerikan di bawah pancaran sinar bulan. Matanya yang memancarkan kilatan misterius menatap lurus ke dalam pupil mata si penyerang.
Perlahan, tawa dingin keluar dari tenggorokan Xuan Chen.
Penyerang itu merasakan hawa dingin menusuk punggungnya. Perasaan terancam yang sangat luar biasa mendadak mengepung jiwanya, membuatnya sadar bahwa ada sesuatu yang sangat salah dengan pemuda di depannya ini.
"A-apa yang kau tertawakan, bocah?!" bentak pria itu, berusaha menutupi rasa takut yang tiba-tiba muncul di dadanya.
Pria itu berniat menarik kembali belatinya dengan cepat untuk mundur dan mengambil jarak. Namun, mata Xuan Chen sudah memprediksi niat tersebut jauh sebelum otot lengan musuhnya bergerak.
Sebelum pria itu sempat menarik lengannya kembali, Xuan Chen melangkah maju satu tapak. Otot-otot di lengan kanannya mengeras seketika, dialiri seluruh tenaga dari Ranah Penempaan Tubuh yang telah dia latih di hutan perbatasan.
Brak!
Tangan kanan Xuan Chen meluncur bagaikan cakar besi yang dingin, mencengkeram erat kerongkongan leher pria itu dengan akurasi yang mematikan.
Krekkkkkk!
Suara remukan tulang leher dan jaringan otot yang tertekan hebat bergema nyaring di platform batu yang sunyi. Cengkeraman Xuan Chen begitu kuat hingga mengangkat tubuh pria itu beberapa inci dari atas tanah.
"Akkkhhh... ughhh!"
Mata penyerang itu membelalak hampir keluar dari kelopaknya. Seluruh aliran udaranya terputus seketika. Lidahnya terjulur keluar, dan belati hitam di tangannya terjatuh ke lantai batu dengan bunyi dentang yang keras.
Pria itu mencoba memukul dan mencakar lengan Xuan Chen dengan sisa tenaga di kakinya, namun lengan Xuan Chen berdiri kokoh bagaikan pilar besi yang tak tergoyahkan. Tatapan mata Xuan Chen tetap dingin dan datar, menatap proses sekarat musuhnya tanpa ada sedikit pun riak emosi atau rasa kasihan.
Rasa penyesalan yang sangat dalam meledak di dalam dada pria penyerang itu. Setiap inci sel di tubuhnya berteriak histeris menahan rasa sakit dan ketakutan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Pria itu bahkan tidak bisa lagi mengucapkan sepatah kata pun untuk memohon ampun.
Di dalam pikirannya yang makin menggelap, jeritan keputusasaan menggema dengan sangat jelas:
“Monster... Ini bukan murid baru! Aku... aku akan mati di tangan monster ini...!”
tapi so cerita nya menarik.