NovelToon NovelToon
Setelah Mati, Aku Hidup Kembali Untuk Balas Dendam

Setelah Mati, Aku Hidup Kembali Untuk Balas Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Dia meninggal dalam kesengsaraan, dikhianati oleh suami dan sahabatnya sendiri. Tapi takdir memberinya tiket pulang ke masa lalu. Siren terbangun kembali di tubuh mudanya, lima tahun sebelum tragedi itu menghancurkan hidupnya. Kali ini, dia bukan lagi istri penurut yang naif. Dengan ingatan utuh tentang setiap kebohongan Fadli dan setiap rencana jahat Nia, Siren bersiap memainkan skenario baru. "Kalian pikir aku lemah? Tunggu saja sampai kalian melihat siapa yang sebenarnya memegang kendali." Di kehidupan barunya, Siren tidak hanya fokus menghancurkan karir dan rumah tangga Fadli, tetapi juga membangun imperiumnya sendiri. Di tengah permainan kucing-kucingan yang penuh sarkasme dan ketegangan ini, hadir Arya Wijaya—konglomerat dingin yang di kehidupan sebelumnya ia abaikan. Arya bukan sekadar pelarian. Dia adalah sekutu cerdas yang menyadari perubahan drastis pada Siren. Bersama Arya, Siren mengubah air mata menjadi senjata, dan rasa sakit menjadi bahan bakar untuk bangkit. Siap-siap m

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PENGAKUAN

Restoran The Skyline kembali menjadi saksi bisu kami. Meja yang sama, pemandangan kota yang sama, namun atmosfer di antara kami terasa berbeda. Lebih ringan. Lebih hangat. Seperti es yang perlahan mencair di bawah sinar matahari pagi.

Arya memesan menu favoritku tanpa perlu bertanya lagi. Steak salmon dengan saus lemon dan salad quinoa. Ia tahu persis apa yang tubuhku butuhkan setelah ketegangan rapat direksi tadi pagi.

"Kamu tidak makan dari tadi pagi," ucapnya saat piring disajikan. Matanya menatapku, memastikan aku mulai menyantap makanan itu.

"Strategi butuh energi, Siren. Bukan hanya otak yang bekerja, tapi juga fisik."

Aku mengambil garpu, memotong potongan salmon kecil.

"Aku terlalu fokus pada Pak Hartono. Melihat wajahnya berubah dari arogan menjadi ketakutan... itu memberikan kepuasan yang aneh."

"Kepuasan karena keadilan ditegakkan," koreksi Arya lembut. Ia menyeruput air mineralnya, tatapannya tidak lepas dari wajahku.

"Bukan karena sadisme. Ingat perbedaan itu, Siren. Karena jika kamu lupa, kamu akan menjadi seperti mereka."

Aku berhenti mengunyah, menatapnya serius. "Apakah kamu pernah takut, Arya? Takut bahwa suatu hari nanti, kekuasaan ini akan mengubahmu? Mengubah kita?"

Arya meletakkan gelasnya pelan. Ekspresinya menjadi serius, jauh lebih dalam dari biasanya.

"Setiap hari," jawabnya jujur. Suaranya rendah, hampir berbisik agar tidak terdengar oleh meja sebelah.

"Kekuasaan adalah racun yang manis. Dia membuatmu merasa Tuhan. Tapi saya punya satu jangkar yang mencegah saya tenggelam."

"Apa itu?" tanyaku, jantungku berdegup sedikit lebih cepat.

"Kamu," jawabnya singkat. Tatapannya terkunci pada mataku, intens dan tak tergoyahkan.

"Melihatmu berjuang untuk kebenaran, bukan untuk keserakahan... itu mengingatkan saya mengapa saya memulai semua ini. Bukan untuk menghancurkan dunia. Tapi untuk membersihkannya. Dan kamu adalah cermin dari tujuan itu."

Rasa hangat menjalar di dadaku. Kata-kata itu sederhana, tapi dampaknya luar biasa. Selama lima tahun, aku hanya dianggap sebagai aksesori, sebagai ibu rumah tangga, sebagai beban. Tapi di mata Arya, aku adalah jangkar. Aku adalah tujuan.

"Arya..." gumamku, suaraku bergetar.

"Kenapa kamu begitu baik padaku? Aku hanya mitra bisnis. Aku hanya alat balas dendam yang kamu gunakan untuk menjatuhkan Fadli dan kroninya."

Arya menggeleng pelan. Senyum tipis, sedih, terbentuk di bibirnya.

"Kamu salah besar, Siren. Kamu bukan alat. Kamu adalah alasan. Sejak pertama kali saya melihat datamu—sejak saya membaca laporan intelijen tentang bagaimana kamu diperlakukan, bagaimana kamu dihina, bagaimana kamu dipaksa diam... ada sesuatu di dalam diri saya yang marah. Bukan marah secara bisnis. Tapi marah secara manusiawi."

Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan, mengurangi jarak di atas meja.

"Saya melihat wanita yang hancur, tapi tidak menyerah. Wanita yang kehilangan segalanya, tapi masih memiliki martabat. Dan saya ingin melindungi martabat itu. Saya ingin memastikan bahwa dunia tidak pernah lagi menginjak-injak harga dirimu."

Air mata menggenang di pelupuk mataku. Bukan air mata sedih. Tapi air mata lega. Lega karena finally ada orang yang melihat nilai diriku, bukan dari apa yang bisa kuberikan, tapi dari siapa diriku sebenarnya.

"Tapi... aku takut, Arya," bisikku, suara pecah.

"Aku takut berharap. Aku takut jika aku mulai mencintaimu, lalu kamu pergi. Atau ternyata kamu hanya memanipulasiku dengan cara yang lebih halus daripada Fadli."

Wajah Arya mengeras sejenak. Ada rasa sakit di matanya mendengar keraguanku.

"Lihatlah saya, Siren," perintahnya lembut namun tegas.

"Lihat mata saya. Apakah Anda melihat kebohongan di sana? Apakah Anda melihat niat jahat?"

Aku menatapnya dalam-dalam. Mata hitamnya jernih, terbuka, dan penuh ketulusan. Tidak ada bayangan manipulasi. Tidak ada topeng. Hanya seorang pria yang lelah berpura-pura kuat, dan menemukan kekuatan baru dalam kelemahannya bersamaku.

"Tidak," jawabku pelan.

"Saya tidak melihat kebohongan."

"Maka percayalah," ucap Arya. Ia mengulurkan tangannya di atas meja, telapak tangan terbuka, mengundang.

"Jangan percaya kata-kata saya. Percayalah tindakan saya. Saya tidak akan pergi. Saya tidak akan meninggalkan Anda sendirian menghadapi badai. Karena bagi saya, Anda bukan lagi sekadar mitra. Anda adalah... bagian dari jiwa saya yang selama ini hilang."

Jantungku berhenti berdetak sesaat. Kalimat itu begitu berat, begitu bermakna. Itu bukan sekadar pengakuan cinta. Itu adalah janji seumur hidup.

Perlahan, ragu-ragu, aku mengulurkan tanganku. Jari-jariku menyentuh telapak tangannya yang hangat. Sentuhan itu mengirimkan arus listrik yang menjalar ke seluruh tubuhku. Arya menggenggam tanganku erat, namun lembut. Jempolnya mengusap punggung tanganku dengan gerakan menenangkan.

"Saya juga... saya juga merasa hal yang sama, Arya," bisikku, air mata akhirnya jatuh menetes ke atas meja marmer.

"Saya takut mencintai lagi. Tapi bersama Anda, rasa takut itu terasa kecil. Terasa bisa dikalahkan."

Arya tersenyum. Senyum yang paling indah yang pernah kulihat. Senyum yang mencapai matanya, membuatnya berbinar bahagia.

"Maka mari kita hadapi sisa permainan ini bersama," ucapnya.

"Bukan sebagai Siren dan Arya, mitra bisnis. Tapi sebagai Siren dan Arya, pasangan yang saling melengkapi. Kita akan hancurkan sisa-sisa kekotoran Fadli dan Nia. Kita akan bangun imperium yang bersih. Dan kita akan lakukan itu... berdampingan."

Aku mengangguk, memegang tangannya lebih erat. Di tengah restoran mewah yang penuh dengan orang-orang penting, kami menciptakan dunia kecil kami sendiri. Dunia di mana kejujuran adalah hukum tertinggi, dan cinta adalah senjata terkuat.

Pelayan datang membawa dessert, tapi kami tidak peduli. Kami terlalu sibuk menatap satu sama lain, terlalu sibuk menikmati kehangatan yang finally ditemukan setelah bertahun-tahun kedinginan.

"Soren nanti," ucap Arya tiba-tiba, memecah keheningan manis itu.

"Ada dokumen penting dari pengacara Fadli. Dia mencoba mengajukan banding atas pembagian aset. Mengklaim bahwa tanda tangannya dipaksa."

Aku mengerutkan kening, kemarahan mulai muncul kembali.

"Dia benar-benar tidak tahu malu."

"Tenang," tenangkan Arya, jempolnya masih mengusap tanganku.

"Itu hanya usaha putus asa. Kami sudah menyiapkan rekaman CCTV ruang notaris yang menunjukkan dia menandatangani dengan sadar, bahkan meminta pulpen tambahan karena yang pertama macet. Bukti itu akan menghancurkan argumennya di pengadilan."

Aku menghela napas lega, kemarahanku mereda digantikan oleh kekaguman pada kesiapan Arya.

"Kamu selalu selangkah lebih depan."

"Hanya untuk memastikan Anda tetap tenang," jawabnya sambil tersenyum miring.

"Karena senyum Anda adalah aset paling berharga yang saya miliki saat ini. Dan saya tidak ingin aset itu rusak karena stres yang tidak perlu."

Aku tertawa kecil, tawa yang renyah dan bebas.

"Kamu memang licin, Tuan Arya. Tapi saya suka kelicianmu."

"Dan saya suka ketajaman Anda, Nyonya Siren," balasnya, matanya berbinar nakal.

Kami menghabiskan makan siang dengan obrolan ringan, jauh dari topik bisnis dan musuh. Kami berbicara tentang buku, tentang musik, tentang mimpi-mimpi kecil yang pernah kami pendam. Dan di setiap kata, di setiap tawa, ikatan di antara kami semakin menguat. Semakin tak terpisahkan.

Permainan baru saja memasuki babak keempat belas. Dan kali ini, aku tahu bahwa apapun yang terjadi, aku tidak akan pernah lagi jatuh sendirian. Karena ada tangan kuat yang siap menangkapku, dan hati hangat yang siap menampungku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!