NovelToon NovelToon
Terapi Sentuhan untuk Bos Dingin

Terapi Sentuhan untuk Bos Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / CEO
Popularitas:298
Nilai: 5
Nama Author: Arka R.

Renard mengidap *skin hunger syndrome* — tubuhnya mendambakan kontak kulit, tapi mysophobia-nya membuatnya mual jika disentuh orang lain. Satu-satunya pengecualian? Gadis mungil berkulit putih pucat yang baru saja menjadi asistennya.

Sebuah kontrak rahasia pun dibuat: Liana menjadi "terapis sentuhan" Renard — identitas ganda yang tidak boleh diketahui siapa pun, termasuk Renard sendiri. Setiap Sabtu malam, di mansion gelap dengan mata tertutup, sang CEO yang paling ditakuti di Jakarta menyerahkan dirinya di tangan seorang gadis yatim piatu.

Tapi bagaimana caranya menjalankan terapi untuk bos sendiri — tanpa jatuh cinta?

Apalagi ketika bos itu mulai menatapnya terlalu lama di kantor...
Mencium telapak tangannya tanpa sadar...
Dan berbisik dengan suara serak: *"Sentuh aku lagi, Nona Terapis."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arka R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32

Bab 32: Formula yang Hilang, Jari yang Menuduh

Sabtu malam, Renard menepati keputusannya.

Di ruang terapi, dengan kain sutra hitam menutup mata, ia bertanya, "Kalau aku ingin melihat wajahmu, boleh?"

Liana duduk di sisinya sebagai Nona Terapis. Jarinya berhenti di punggung tangan Renard.

Ia menulis satu kata.

`Belum.`

Tangan Renard terangkat ke arah simpul di belakang kepala. Ujung jarinya tinggal beberapa sentimeter dari kain. Liana menahan napas, tetapi tidak perlu mencegahnya.

Renard menurunkan tangan sendiri.

Liana mengendurkan genggaman pada seprai. Ia menyentuh punggung tangan pria itu dan mengetuk sekali, tanda terima kasih yang tidak tercantum dalam kontrak.

"Aku hampir yakin," kata Renard. "Tapi yakin bukan berarti berhak."

Liana menulis perlahan di telapaknya.

`Takut jawaban berubah?`

Renard diam cukup lama. "Nggak. Aku takut caraku mendapatkan jawaban membuatmu nggak mau kembali."

Jari Liana berhenti.

Ia menggeser telapak tangannya ke bawah tangan Renard, membiarkan pria itu merasakan bahwa ia masih ada. Bukan jawaban tentang identitas, tetapi jawaban atas ketakutannya.

"Baik," katanya. "Kalau suatu hari jawabanmu berubah, bilang kepadaku."

Sesi berlanjut sesuai jadwal. Tidak ada aturan yang dilanggar. Namun sepanjang malam, Liana tidak bisa melupakan betapa mudahnya Renard bisa mengambil kebenaran, dan betapa sadar ia memilih tidak melakukannya.

***

Senin pukul delapan lewat dua belas menit, alarm keamanan internal berbunyi di divisi parfum.

Satu berkas formula lini premium, varian melati-cendana yang belum diumumkan, terdeteksi disalin pada Minggu dini hari. Sistem mencatat token pengguna milik Liana.

Ketika ia tiba, dua petugas keamanan sudah berdiri di depan ruang server. Staf berkumpul dalam kelompok kecil. Percakapan berhenti setiap kali Liana lewat.

Seorang staf junior buru-buru meminimalkan jendela WhatsApp Web. Yang lain pura-pura sibuk menyusun blotter. Hanya kepala laboratorium yang menyapanya seperti biasa dan meminta semua orang kembali bekerja.

Liana menyimpan detail tersebut tanpa marah. Dalam krisis, orang menunjukkan siapa mereka sebelum sempat memperbaiki wajah.

Ia menyerahkan laptop kerja kepada petugas keamanan di depan saksi. Nomor seri dicatat, perangkat dimasukkan ke kantong bukti, dan Liana meminta salinan berita acara penerimaan.

"Mbak nggak keberatan?" tanya petugas.

"Justru harus diperiksa. Tapi prosedurnya juga harus melindungi saya."

Petugas itu mengangguk dan menyerahkan salinan.

Nadia berdiri di dekat meja vendor, mengenakan kartu K-17.

"Liana," katanya dengan wajah prihatin. "Aku dengar akunmu dipakai. Semoga cuma salah sistem."

Kalimatnya terdengar mendukung. Nadanya memastikan semua orang tahu siapa yang dicurigai.

Bayu datang dari lift dan berdiri di samping Liana. "HRD minta Mbak ke lantai tujuh."

"Siapa yang memberi tahu kamu?"

"Dimas. Kami bertiga diminta menyerahkan catatan jadwal Jumat."

Liana mengangguk. "Berikan apa adanya. Jangan hapus percakapan apa pun."

"Kami tahu."

Saat lift tertutup, ponsel beberapa staf berbunyi bersamaan. Pesan di grup internal sudah menyebar.

`Katanya asistennya Pak Renard ambil formula.`

`Pantas sering masuk lab.`

`Bukannya dia dekat banget sama bos?`

Liana membaca tiga baris, lalu mematikan notifikasi.

Ia sudah tahu tahap ini akan datang.

***

Di ruang HRD, kepala HRD meletakkan hasil awal di meja.

"Token akses atas nama Anda digunakan pukul 02.14 Minggu. Ada unduhan sebesar empat puluh delapan megabita."

"Perangkat apa?" tanya Liana.

"Masih diperiksa."

"Alamat jaringan?"

"Tim IT belum memberikan laporan lengkap."

"Lalu kenapa saya dipanggil sebelum datanya lengkap?"

Perempuan di seberang meja menarik napas. "Karena kredensialnya milik Anda. Kami perlu mencatat penjelasan."

"Baik. Saya berada di rumah pada waktu itu. Kamera lobi apartemen dan riwayat koneksi jaringan bisa memverifikasi. Saya juga meminta salinan log autentikasi lengkap, identitas perangkat, riwayat token, dan CCTV koridor server dari Sabtu malam sampai Senin pagi."

"CCTV termasuk data internal."

"Karena itu saya meminta audit resmi, bukan mengambilnya sendiri. Saya siap menyerahkan perangkat kerja untuk pemeriksaan dengan berita acara."

Kepala HRD menatapnya lebih lama. Liana tidak menangis, tidak meninggikan suara, dan tidak memohon dipercaya.

"Sampai audit selesai, akses Anda dibekukan sementara."

"Saya mengerti. Tolong tulis bahwa pembekuan itu prosedural, bukan putusan bersalah."

Pintu terbuka sebelum jawaban datang.

Renard masuk bersama kepala IT dan Bu Ratna.

Wajahnya dingin. Begitu melihat Liana, tatapannya berhenti pada tangan perempuan itu yang terlipat tenang di pangkuan.

Ia tidak berjalan ke sisinya. Tidak menyentuh bahunya. Tidak memberi siapa pun alasan menyebut proses ini sandiwara perlindungan atasan kepada orang dekat.

Renard duduk di ujung meja.

"Mulai sekarang, tidak ada kesimpulan dari log awal," katanya. "Bekukan kredensial terkait, amankan rekaman asli dengan hash, dan audit semua perangkat internal serta vendor yang menyentuh sistem dalam tujuh hari terakhir."

Kepala IT mengangguk. "Termasuk perangkat staf tetap?"

"Semuanya. Termasuk milikku kalau relevan."

Kepala IT membuka tampilan awal. "Ada satu hal. Token memang atas nama Mbak Liana, tapi jenis perangkatnya tidak sama dengan laptop kantor yang terdaftar."

Ruangan hening.

"Kenapa itu nggak ada di laporan pertama?" tanya Bu Ratna.

"Alarm awal hanya membaca identitas token. Detail perangkat baru masuk beberapa menit lalu."

Liana tidak bereaksi berlebihan. "Apakah perangkat itu pernah terdaftar sebagai vendor?"

"Kami perlu mencocokkan nomor perangkat dan gateway."

"Lakukan," kata Renard. "Simpan hasilnya di ruang bukti terpisah. Akses hanya IT audit dan legal."

Kepala HRD merapatkan map. Tuduhan yang tadi terlihat sederhana kini memiliki retakan pertama.

"Pak Renard," kepala HRD berkata hati-hati, "informasi ini sudah tersebar di grup pegawai."

"Kirim pemberitahuan bahwa investigasi berlangsung dan penyebaran tuduhan sebagai fakta akan ditindak. Jangan sebut nama siapa pun."

Liana menatap Renard.

Pria itu tidak mengatakan bahwa ia percaya padanya. Ia membangun proses yang tidak membutuhkan kepercayaan pribadi untuk membuktikan kebenaran.

Itu jauh lebih melindungi.

***

Menjelang siang, Liana keluar dari ruang HRD dengan akses kerja dibekukan sementara. Rizal, Bayu, dan Dimas menunggu di ujung koridor.

"Kami antar ke atas," kata Dimas.

"Saya bukan tahanan."

"Kami tahu," jawab Rizal. "Kami juga kebetulan mau naik. Bertiga. Pada jam yang sama."

Liana hampir tersenyum.

Di belakang mereka, dua pegawai berbisik bahwa Renard pasti ikut campur karena Liana asistennya. Bayu berbalik.

"Audit semua perangkat itu namanya ikut prosedur," katanya. "Kalau kalian punya data, kasih ke IT. Kalau cuma punya gosip, simpan buat grup keluarga."

Keduanya langsung diam.

Liana tidak berterima kasih saat itu. Ia hanya berjalan di antara tiga rekan yang sengaja membentuk ruang aman di sekelilingnya.

Ponselnya bergetar.

Satu notifikasi tag berubah menjadi sepuluh. Lalu tiga puluh. Nama pengguna yang tidak dikenal memenuhi layar.

Di paling atas, sebuah unggahan dari akun gosip menampilkan fotonya turun dari mobil Renard.

Nadia sudah menekan `Terbitkan`.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!