Kael Dravenhart, Pahlawan Perang Kerajaan Valdoria, menagih janji pernikahan dari sang Raja. Ia mengira akan menikahi sang putri tercantik, Liana. Namun, takdir berkata lain ketika Raja memberikannya Virelia; sang putri pertama yang terkenal gila, kasar, dan suka melempar vas ke kepala orang.
Kael mengira rumah tangganya akan menjadi neraka karena harus mengurus istri yang gemar berteriak, menyuruhnya memanjat bulan. Ia tidak tahu bahwa di balik tawa kosong dan lemparan garpunya, sang istri adalah Raven, ketua pembunuh bayaran paling berbahaya sekaligus pemimpin revolusi yang bersumpah untuk menggulingkan sang Raja tiran!
Ketika komedi pernikahan paksa berpadu dengan aksi pembunuhan berantai dan rahasia istana, sang Serigala Perang harus memilih: melaporkan istrinya ke istana, atau ikut membantu sang ratu bayangan menjungkirbalikkan takhta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28. SANG RATU AWAN
Satu bulan telah berlalu sejak pertemuan rahasia di taman belakang yang mengubah arah perlawanan Kediaman Duke Dravenhart. Di bawah permukaan yang tampak tenang, roda persiapan kudeta berputar kencang. Jaringan Black Dawn di bawah komando Johan dan Lila bergerak sinkron dengan faksi militer utara pimpinan Marquis Vane, sementara Kael menyusun strategi pengamanan garnisun pusat bersama Julian.
Di tengah kesibukan itu, siang ini suasana di dalam kamar utama terasa begitu damai. Virelia, yang kini telah pulih sepenuhnya dari luka tusuk di perutnya, duduk bersandar nyaman di kursi sofa beludru dekat jendela. Mengenakan gaun rumah berwarna hijau zamrud berpotongan longgar, ia sedang fokus membaca gulungan laporan terbaru tentang pergerakan intelijen Black Dawn serta gerak-gerik mencurigakan di lingkaran dalam istana Raja Lucien.
Tok. Tok.
Suara ketukan pelan membuyarkan konsentrasinya. Pintu kamar terbuka, dan Elaine melangkah masuk dengan ekspresi wajah yang tampak cemas dan gelisah.
"Yang Mulia, ada utusan resmi dari istana yang datang menemui Yang Mulia Duke secara mendadak," lapor Elaine dengan nada berbisik, mendekati Virelia.
Virelia mengangkat sebelah alisnya, menggulung perkamen di tangannya.
"Utusan istana? Siapa? Apakah menteri keuangan atau utusan pribadi raja?" tanya Virelia.
"Bukan menteri, Yang Mulia. Kudengar dari Anne yang tadi mengantar teh, dia adalah seorang bangsawan tinggi kepercayaan Raja Lucien bernama Lord Cassian. Dan sepertinya perbincangan mereka tidak berjalan baik sama sekali. Kata Anne, ia melihat Lord Cassian membentak dengan nada tinggi ke Yang Mulia Duke," jelas Elaine, dahinya berkerut cemas.
Mendengar suaminya dibentak oleh anjing suruhan istana, tatapan mata Virelia langsung berubah tajam. Ia menutup gulungan laporan itu, meletakkannya ke atas meja, lalu berdiri dari kursinya dengan gerakan cepat dan anggun.
"Berani sekali tikus istana itu meninggikan suaranya di bawah atap kediamanku. Elaine, tunjukkan di mana mereka berada," geram Virelia dingin.
"B-Baik, Yang Mulia!" jawab Elaine patuh.
Virelia melangkah keluar kamar dengan langkah tegap, dikawal oleh Elaine di belakangnya. Sepanjang koridor sayap timur, para pelayan dan pengawal yang melihat Duchess mereka berjalan dengan aura mengintimidasi langsung membungkuk hormat. Namun, Virelia mengangkat tangan kanannya, memberi isyarat tanpa suara agar mereka tetap diam dan tidak membuat keributan.
Tidak butuh waktu lama bagi Virelia untuk tiba di depan pintu ganda ruang tamu kehormatan, ruangan khusus tempat Duke Kael biasanya menerima tamu-tamu penting kenegaraan.
Begitu gadis itu mendekati pintu yang sedikit terbuka, suara melengking yang angkuh dan menyebalkan langsung terdengar dari dalam.
"Jangan lupa posisimu, Duke Kael Dravenhart! Kau hanyalah seekor anjing penjaga perbatasan yang digaji oleh mahkota! Raja Lucien menginginkan hak pengelolaan tambang bijih besi di perbatasan timur itu, dan kau tidak punya hak untuk menolaknya hanya karena alasan logistik militer yang mengada-ngada!" teriak Lord Cassian dari dalam ruangan, suaranya terdengar sangat merendahkan dan arogan.
Di luar pintu, tangan Virelia yang mengepal di samping gaunnya langsung bergetar karena amarah.
Anjing istana ini berani sekali merendahkan seorang Duke di rumahnya sendiri! batin Virelia mendengus tajam, giginya bergemeretup geram.
Seketika, sebuah ide cemerlang sekaligus menghibur melintas di kepalanya. Selama sebulan terakhir, ia memang sudah berkata pada Kael untuk menjadi wanita normal. Tapi demi membela kehormatan suaminya dan memberikan pelajaran mematikan pada utusan tiran tersebut, sepertinya tidak ada salahnya jika Virelia menghidupkan kembali peran favoritnya.
Virelia menoleh ke arah Elaine dengan mata berbinar-binar penuh kelicikan.
"Elaine?" bisik Virelia pelan namun tegas.
"Ya, Yang Mulia?"
"Lepaskan ikatan pita rambutku sekarang juga."
"Hah? Pita rambut?" Elaine terperanjat bingung, namun ia buru-buru menuruti perintah itu, menarik pita sutra hijau yang mengikat gulungan rambut pirang panjang Virelia hingga tergerai berantakan ke segala arah.
"Bagus," bisik Virelia puas. Ia mengacak-acak rambutnya sendiri menggunakan kedua tangannya hingga tampak seperti sarang burung yang disambar badai. "Sekarang, ambilkan benda terdekat yang ada di dekat meja hias itu, apapun itu, vas, buku, atau patung kecil," lanjutnya.
Dengan cepat, Elaine menyambar sebuah patung porselen berbentuk bebek kecil yang terletak di atas meja hias koridor, lalu menyerahkannya kepada Virelia.
"Sempurna," seringai Virelia.
Begitu sandiwara itu siap, Virelia menarik napas dalam-dalam, memasang ekspresi wajah kosong yang menyeramkan, dan
BRAK!
Virelia mendorong pintu ganda ruang tamu itu hingga terbuka lebar dengan hantaman keras.
Suara dobrakan pintu yang menggelegar itu serta-merta menghentikan perdebatan di dalam ruangan.
Di dalam, Duke Kael Dravenhart sedang duduk tenang di kursi singgasana dengan rahang mengetat dingin. Di seberangnya, berdiri Lord Cassian, seorang bangsawan paruh baya berbadan gempal dengan mantel beludru merah yang mahal dan wajah memerah karena marah.
Kedua pria itu menoleh serempak ke arah pintu.
Dan pemandangan yang menyambut mereka adalah pemandangan paling absurd dalam sejarah Kekaisaran Valdoria.
Putri Virelia, sang Duchess kini berdiri di ambang pintu dengan rambut pirang acak-acakan menutupi sebagian wajahnya, mata terbelalak lebar liar, dan tangan kanannya menggenggam erat sebuah patung porselen berbentuk bebek kecil.
"Hahahaha! Pasukan bebek kristal dari dimensi kesebelas telah tiba untuk menculik pria busuk!" teriak Virelia histeris, melompat-lompat masuk ke dalam ruangan dengan gaya berjalan yang disengaja aneh dan tidak beraturan.
Lord Cassian terperanjat mundur hingga hampir menabrak meja. Pria paruh baya itu membelalakkan matanya, menatap wanita di hadapannya dengan ngeri.
"A-Apa-apaan ini?! Siapa wanita gila ini?!"
Kael, yang awalnya sempat terkejut melihat istrinya mendadak mengamuk, langsung menangkap gelagat di balik mata Virelia. Sang panglima perang menahan bibirnya agar tidak tersenyum lebar, lalu memasang ekspresi datar setenang batu karang.
"Ah, maafkan istriku, Lord Cassian. Sepertinya penyakit gilanya kambuh lagi hari ini. Beliau sangat sensitif jika mendengar suara teriakan bernada tinggi di rumah kami," ucap Kael dengan nada datar yang dibuat-buat pasrah.
"Istrimu?! Putri Virelia yang tidak waras itu?!" cicit Lord Cassian panik, keringat dingin membasahi pelipisnya saat melihat Virelia mulai merangkak mendekatinya dengan cepat di atas karpet beludru.
"Bebek! Bebek busuk berbau selokan istana! Jangan ambil mahkota awanku! Atau akan kusebarkan pasukan cacing tanah raksasa untuk memakan janggut palsumu!" jerit Virelia dramatis, berdiri di hadapan Lord Cassian dan mengibaskan patung porselen bebek di depan hidung sang utusan.
"J-Janggut palsu?! Ini janggut asli, kau wanita tidak waras!" geram Lord Cassian tersinggung, melotot marah meski tubuhnya gemetar ketakutan melihat tatapan liar Virelia.
"Napasmu bau sekali, Beruang selokan!" seru Virelia.
"Jauhkan dirimu dariku! Duke singkirkan istrimu yang gila ini atau aku akan melaporkan tindakan tidak sopan ini langsung kepada Yang Mulia Raja!" ancam si pria gempal itu.
Virelia mendengus nyaring. Alih-alih mundur, ia justru melompat ke atas kursi sofa di sebelah Lord Cassian, mencengkeram kerah mantel beludru merah bangsawan itu dengan cengkeraman kuat yang tidak mencerminkan kelemahan fisik sama sekali.
"Raja? Hahaha! Raja Lucien adalah seekor kelinci merah muda yang suka memakan sandal kotor!" tawa Virelia histeris tepat di depan telinga Lord Cassian, lalu ia mulai memukul-mukul kepala sang utusan pelan menggunakan patung porselen bebek.
BUGH! BUGH! BUGH!
"Rasakan ini, kelinci merah muda! Jangan membentak suamiku! Suamiku adalah serigala suci pemakan petir!" seru Virelia tak terkendali.
"Argh! Hentikan! Tolong! Dia memukulku dengan bebek porselen! "Duke Kael! Panggil istrimu! Ini pelecehan terhadap utusan kerajaan!" seru Lord Cassian histeris, melompat-lompat kesakitan berusaha melepaskan cengkeraman Virelia dari mantelnya.
Kael menyandarkan punggungnya di kursi, melipat kedua tangannya di dada, lalu menatap Lord Cassian dengan ekspresi wajah paling acuh tak acuh di dunia.
"Sudah kukatakan, Lord Cassian, istriku sedang tidak waras. Dan di kediaman ini, tidak ada seorang pun yang berani membentakku di depan istriku yang sedang 'kambuh', karena itu hanya akan membuat khayalannya semakin liar. Lagi pula dia adalah Putri Mahkota, bagaimana mungkin aku sembarangan dengan dia walau dia adalah istriku," jawab Kael dengan nada dingin tanpa sedikit pun rasa bersalah.
"Kau! Kalian berdua sama gila!" pekik Lord Cassian putus asa.
Melihat mangsanya sudah ketakutan setengah mati, Virelia memutuskan untuk memberikan pukulan pamungkas. Ia melompat turun dari sofa, mendesis tajam seperti kucing liar, lalu melempar patung porselen bebek itu tepat ke arah vas bunga di sudut ruangan hingga hancur berkeping-keping.
PRANG!
"Keluar! Keluar dari istana awanku, atau kusedot nyawamu lewat sedotan es teh! Berani sekali menganggu Ratu Awan!" ancam Virelia dengan mata melotot lebar dan senyuman menyeramkan.
Lord Cassian yang sudah kehilangan seluruh sisa keberaniannya tidak berani tinggal sedetik pun lagi. Pria gempal itu berbalik badan, berlari terbirit-birit keluar ruangan seperti orang kesurupan, bahkan nyaris terpeleset di ambang pintu koridor.
"Awas kalian! Aku akan adukan kekejaman ini pada Baginda Raja!" teriakan ketakutan Lord Cassian menggema di sepanjang koridor puri, semakin lama semakin menjauh.
Di dalam ruang tamu kehormatan, suara langkah lari sang utusan akhirnya hilang di balik pintu.
Keheningan yang pekat menyusul.
Virelia berdiri tegak di tengah ruangan. Ia menarik napas panjang, merapikan sedikit helai rambut peraknya yang berantakan, lalu menoleh ke arah suaminya dengan sebelah alis terangkat angkuh dan senyuman kemenangan yang cerah.
Di sofa, Kael tidak lagi bisa menahan diri. Tawa lepas panglima perang itu meledak memenuhi ruangan besar tersebut.
"Hahahaha! Luar biasa. Aksi pemukulan menggunakan patung bebek porselen adalah improvisasi terbaik dari seluruh sandiwara gilamu, Ratu Awan," puji Kael di sela-sela tawanya, berdiri dari kursi dan melangkah menghampiri istrinya.
Virelia mendengus bangga, melipat kedua tangannya di dada. "Biar anjing istana itu tahu rasa. Berani-beraninya dia datang ke rumah kita dan membentak seorang Duke. Kalau bukan karena aku sedang menahan diri agar tidak membunuhnya langsung, aku sudah memberinya makan cacing tanah sungguhan," katanya.
Kael berhenti tepat di hadapan Virelia. Pria itu tersenyum hangat, menatap istrinya dengan sorot mata yang dipenuhi oleh rasa cinta yang meluap-luap. Ia merapikan sisa-sisa helai rambut pirang Virelia yang masih berantakan di dahi sang gadis.
"Terima kasih sudah membelaku, Virelia. Tapi, bersiaplah, karena setelah ini, laporan tentang 'kegilaan Duchess Dravenhart yang memukul utusan raja dengan bebek porselen' pasti akan segera sampai di meja istana," ucap Kael lembut, lalu mengecup kening Virelia penuh kasih sayang.
Virelia menyeringai tajam, matanya memancarkan binar penuh percaya diri.
"Bagus. Biarkan Raja Lucien semakin kesal dannitu semakin bagus untuk memprovokasinya," balas Virelia mantap.
Kael hanya tersenyum bangga pada istrinya ini.
masuk akal si
tapi...aku sama anakku suka ngakak
kalau cerita jaman dulu banyak yg menuliskan.
kalau nanya alamat rumah
" kisanak,apakah rumah mu masih jauh?
dijawab nya
tidak kisanak,hanya dibalik bukit ini
palingan membutuhkan 2-3 hari lagi
🫣🫣🤣🤣🤣
helooo..itu bukan bukit,itu gunung
kita kepuncak aja butuh belasan jam ke puncak dr jakarta
apalagi anda jalan hai para kisanak 🤣🤣🤣
jadi....tau kan kenapa orang jaman dulu jarang ada yg stroke di masa muda🫣🤣🤣🤣
cekep amet bahasamu Thor
4 jempol dr akyuuuu😍😍
ketemu mantan tersayang nya kah??🥹🥹
negaraku
kaya gini🫣🤣🤣🤣
menjadikan aku lebih tegar dan terlihat serba bisa .
siapapun yg selalu didorong kepinggir jurang setiap saat,pastinya mekanisme perlindungan diri nya lebih aktif 🥹🥹
" menjadi seorang perempuan harus serba bisa
bahkan ketika kita memakai gaun yg cantik,kita harus bisa berdiri tegak di dalam sebuah pertempuran."
ratu awan lu
Elaine mana?
syok ga liat boneka Barbie nya bisa begitu🤣🤣🤨
sweet banget si mereka😍😍
dah kayak Mak Mak komplek
pas bgt itu🤣🤣
ga usah malu
bangga donk ah
ajaran siapa itu🤣🤣🤣