NovelToon NovelToon
Dijodohkan, Malah Dimanja Tuan Muda

Dijodohkan, Malah Dimanja Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Cinta Terlarang
Popularitas:179
Nilai: 5
Nama Author: Awan

**Naila Kinanti Prasetya** baru delapan belas tahun ketika kedua orang tuanya terbang ke Amerika demi bisnis, lalu menitipkannya di rumah keluarga **Adiwangsa** — keluarga konglomerat yang sudah menjodohkannya dengan putra mereka sejak Naila masih kecil.

Tapi sebelum mereka sempat bertemu, sang tuan muda, **Radhika Arya Adiwangsa**, lebih dulu mengirim tiga aturan lewat WhatsApp:

> 1. Perjodohan ini tidak aku akui.
> 2. Jangan naik ke lantai tiga.
> 3. Jangan dekat-dekat aku.

Naila cuma membalas satu kata: *"oke."*

Enam tahun lebih tua, dingin, dan menyebalkan — Naila pikir "Mas" yang satu ini benar-benar membencinya. Sampai ia sadar: pria yang katanya cuma menganggapnya adik itu diam-diam menanam empat pohon lemon di balkon khusus untuknya, menyimpan diam-diam setiap fotonya sejak kecil, dan menghajar siapa pun yang berani menyakitinya.

*"Katanya jaga jarak,"* Naila mengadu, matanya berkaca-kaca. *"Katanya aku cuma adik…"*

Radhika menyudutkannya ke daun pintu, suaranya rendah dan berbahaya. *"Lari kenapa? Emang Mas bakal makan kamu?"*

…tapi malam itu, Mas ingkar janji.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30

Bab 30: Bukan Cara Kakak Memandang Adik

Di dekat mobil, Radhika menurunkan Naila agar bisa membuka pintu.

"Kuncinya di saku celana sebelah kanan," katanya. "Tolong ambil."

Naila memasukkan tangan dengan gerakan tidak terarah. Alih-alih menemukan kunci, telapaknya meraba sisi depan celana terlalu dekat dengan bagian pribadi Radhika.

Tubuh lelaki itu langsung kaku.

"Berdiri yang benar."

Ia menangkap pergelangan Naila dan memindahkan tangannya, lalu mengambil kunci sendiri. Naila hanya berkedip, sama sekali tidak sadar apa yang dilakukan.

Radhika mendudukkannya di kursi penumpang dan berjalan beberapa langkah menjauh. Ia menyalakan rokok, menarik napas kasar, lalu mematikannya sebelum habis setengah.

Telapak tangannya menekan atap mobil. Ia menunggu sampai tubuhnya kembali tenang sebelum mendekati Naila. Tidak boleh ada kemarahan yang diarahkan kepada gadis itu. Tidak boleh pula ia menggunakan keadaan mabuk Naila sebagai pembenaran untuk sentuhan apa pun selain yang diperlukan demi keselamatan.

Salahku, bukan salah dia.

Naila mabuk. Menjadikan sentuhan tanpa sengaja itu sebagai sesuatu yang lain adalah kesalahan Radhika sendiri.

Selama perjalanan, Naila mengeluh kepanasan dan membuka kancing mantel. Radhika menyetir dengan satu tangan sambil menarik kain itu kembali menutupi tubuhnya.

"Jangan dibuka. AC-nya Mas dinginkan."

"Sesak."

"Longgarkan sabuknya sedikit, bukan dilepas."

Ia memberi air sedikit demi sedikit dan berhenti sekali di tempat aman untuk memastikan Naila tidak muntah atau kehilangan kesadaran.

Setiba di Menteng, Radhika kembali mengangkatnya. Ia membawa Naila ke kamar lantai satu, melepas sepatu, memeriksa plester tumit, lalu menyelimuti sampai bahu.

"Tidur," katanya.

"Mas jangan pergi."

"Mas di atas. Panggil kalau perlu."

Radhika menunggu sampai napasnya teratur sebelum keluar.

Ia meletakkan botol air, kantong muntah, dan ponsel Naila dalam jangkauan. Pintu kamar dibiarkan sedikit terbuka. Setiap lima belas menit, ia turun untuk melihat apakah napasnya tetap normal. Setelah kunjungan ketiga, Naila tampak tidur pulas dan tidak menunjukkan tanda bahaya.

Tengah malam, Naila terbangun dengan tubuh lengket dan kepala berat. Ia ingin mandi agar lebih nyaman. Namun, shower di kamar mandi lantai satu tidak mengeluarkan air meski keran sudah dibuka penuh.

Ia mencoba wastafel. Air tetap mengalir di sana. Hanya shower yang mati.

Dalam keadaan setengah sadar, Naila naik ke lantai tiga dan mengetuk pintu Radhika.

"Mas, aku mau mandi. Airnya mati."

Radhika yang belum tidur langsung keluar. Ia mencoba shower kamar Naila, lalu kamar tamu lantai dua dan dua kamar lain. Semua shower tidak berfungsi. Keran biasa tetap hidup. Hanya kamar mandi Radhika yang normal.

"Aneh," gumamnya.

Teknisi tidak menjawab pada jam selarut itu. Radhika membawa handuk bersih ke kamar mandi pribadinya.

"Pakai shower saja. Jangan berendam. Kamu masih mabuk. Pintu jangan dikunci. Kalau pusing, panggil Mas."

Naila mengangguk.

Radhika menunggu di ruang duduk. Sepuluh menit kemudian, tidak ada suara air. Ia mengetuk.

"Naila?"

Tidak ada jawaban.

Ia membuka pintu. Naila ternyata mengisi bak mandi dan berbaring di dalamnya. Tubuhnya melorot, wajah miring dekat permukaan air, mata tertutup.

"Naila!"

Radhika mengangkatnya keluar, membungkus tubuhnya dengan handuk besar, lalu membaringkannya di lantai kering. Naila tidak merespons dan tidak bernapas normal.

Ia menelepon layanan darurat dengan pengeras suara. Setelah menyebut alamat dan kondisi, Radhika mengikuti instruksi petugas: membuka jalan napas, memeriksa napas singkat, lalu memulai kompresi dada dan bantuan napas dengan pola yang diarahkan.

"Ayo, Nai. Bangun."

Setiap kompresi terasa seperti pengakuan bahwa ia gagal menjaga janji. Beberapa jam lalu Naila berkata tidak ingin ditinggalkan. Sekarang tubuh gadis itu diam di bawah tangannya, dan Radhika tidak tahu apakah napas berikutnya akan datang.

Petugas darurat di telepon menghitung ritme dengan suara tegas. Radhika mengikuti tanpa berhenti, meski pandangannya mulai kabur.

Setelah dua rangkaian, Naila batuk keras. Air keluar dari mulutnya dan napas kembali masuk tersendat.

Radhika memiringkan tubuhnya ke posisi pemulihan. Tangannya gemetar hebat.

Ia menyingkirkan rambut basah dari wajah Naila dan memastikan jalan napas tetap terbuka. Kelegaan belum datang. Batuk setelah terendam tidak berarti risiko selesai, dan petugas telepon memintanya terus mengamati napas sampai tim tiba.

"Nggak apa-apa," katanya dengan suara pecah. "Jangan takut. Mas di sini."

Naila membuka mata sedikit. "Dada sakit."

"Karena kompresi. Jangan bergerak dulu."

Tim medis dari rumah sakit terdekat tiba beberapa menit kemudian. Dokter keluarga juga datang setelah menerima panggilan Radhika. Mereka memeriksa kesadaran, saturasi oksigen, paru-paru, tekanan darah, dan efek alkohol. Naila sudah bernapas stabil dan dapat menjawab pertanyaan, tetapi tetap diobservasi cukup lama.

"Kalau batuk bertambah, sesak, muntah berulang, bingung, demam, atau mengantuk tidak wajar, langsung ke IGD," tegas dokter. "Jangan dibiarkan sendiri malam ini. Alkohol dan air panas bisa menurunkan kesadaran dengan cepat."

Paramedis menawarkan membawa Naila ke IGD untuk observasi lebih lanjut. Setelah pemeriksaan dan diskusi, Naila yang sudah sadar setuju tetap dipantau di rumah dengan dokter berjaga, oksimeter terpasang, dan kendaraan siap. Radhika menandatangani catatan tindakan serta memastikan keputusan itu dicatat, bukan sekadar dianggap “sudah baik-baik saja”.

"Kalau satu angka turun, kita berangkat," katanya.

Dokter mengangguk. "Jangan menunggu gejala berat."

Radhika mengangguk. Ia mencatat semua tanda bahaya dan meminta pemeriksaan ulang pagi hari.

Setelah Naila dipindahkan ke ranjang, ia duduk di sisi tempat tidur. Mata Radhika merah, bukan karena asap.

"Mas lupa mengingatkan jangan berendam," katanya.

Naila sudah terlalu lelah untuk memahami rasa bersalah itu. "Aku ngantuk."

"Tidur. Mas jaga."

Ketika kondisi stabil, Radhika keluar ke balkon dan menelepon Larasati.

"Bunda, kenapa semua shower kamar tamu mati?"

"Lho, airnya nggak keluar, ya?"

Radhika tertawa tanpa humor. "Aku nggak bilang airnya nggak keluar. Aku bilang shower mati."

Di seberang, Larasati terdiam.

"Bunda sengaja?"

"Bunda cuma mau kalian bicara lebih banyak. Papa yang mengutak-atik katup shower. Bunda terpaksa mengancam akan mencabut semua anggreknya kalau dia nggak mau membantu."

"Naila hampir tenggelam."

Suara Larasati langsung berubah panik. "Apa?"

Radhika menjelaskan singkat bahwa Naila sudah sadar dan diperiksa. "Besok pulang. Kita bicara. Jangan pernah buat permainan seperti ini lagi."

Ia menutup telepon sebelum amarahnya keluar lebih jauh.

Menjelang subuh, setelah pemeriksaan kedua menunjukkan keadaan Naila tetap stabil, Radhika menaruh sebuah robot kecil berbentuk lemon di meja samping ranjang. Itu prototipe Cakra Tech bernama Si Lemon, dilengkapi pengenalan wajah, suara, pengingat, dan lokasi untuk keadaan darurat.

"Jaga dia," perintah Radhika.

Lampu mata robot menyala. "Si Lemon siap menjaga Naila."

Radhika mengatur Si Lemon agar hanya berbagi lokasi dengan Naila sendiri dan kontak darurat yang disetujui keluarga, bukan memantau percakapan pribadi. Robot itu juga dihubungkan ke sensor jatuh kamar dan tombol bantuan. Teknologi tidak menggantikan manusia, tetapi setidaknya bisa mempercepat pertolongan jika kejadian lain muncul.

Pagi hari, Naila bangun tanpa ingatan jelas setelah perjalanan pulang. Ia hanya ingat bernyanyi, lalu tidur. Dada sedikit nyeri, dan dokter sudah menjelaskan bahwa ia sempat pingsan di kamar mandi.

"Hai, Naila," kata robot di meja. "Minum air dua ratus mililiter."

Naila tertawa lemah. "Kamu siapa?"

"Aku Si Lemon. Dibuat oleh Radhika untuk mengingatkan, menemani, dan memanggil bantuan jika diperlukan."

"Kamu bisa nyanyi?"

"Bisa. Tapi Radhika menilai suaraku mengganggu."

Naila tertawa lalu meringis memegang dada.

Radhika langsung terbangun. "Sakit? Sesak?"

"Cuma nyeri sedikit kalau tertawa."

Ia memeriksa oksimeter dan memanggil dokter ke kamar, tidak menerima jawaban ringan Naila begitu saja. Setelah dipastikan stabil, barulah ketegangan di bahunya sedikit turun.

Naila menoleh ke sofa. Radhika tertidur di sana dengan pakaian semalam dan wajah sangat lelah.

Ia tidak membangunkannya.

Beberapa saat kemudian, Radhika berpindah ke kamarnya setelah dokter datang lagi. Begitu tubuhnya akhirnya menyerah pada tidur, ia bermimpi.

Dalam mimpi, Naila berdiri sangat dekat di bawah pohon lemon. Tidak ada panggilan Mas. Tidak ada jarak aman. Radhika menunduk dan menciumnya, sementara kedua tangan Naila menahan dadanya seperti malam saat ia bertanya apakah dirinya cantik.

Mimpi itu tidak berlangsung lama, tetapi cukup untuk menghapus semua alasan yang ia susun. Wajah perempuan di hadapannya bukan sosok samar. Itu Naila, lengkap dengan tahi lalat kecil dan suara yang dikenalnya sejak bayi.

Radhika terbangun mendadak. Napasnya berat, tubuhnya bereaksi dengan cara yang tidak bisa disalahartikan.

Ia duduk di tepi ranjang, menutup wajah, lalu mengganti seprai dan masuk ke kamar mandi dengan air dingin. Setelah itu ia bersandar pada dinding, mata terpejam.

Tatapan pada bibir Naila, tahi lalat kecil di pergelangan kakinya saat ia menyelimuti, reaksi terhadap sentuhan dekat saku, dan mimpi barusan bukan cara seorang kakak memandang adiknya.

Itu cara seorang laki-laki menginginkan seorang perempuan.

Yang membuatnya semakin malu adalah Naila tidak pernah memberikan persetujuan untuk dilihat dengan cara itu. Kepercayaan gadis itu tidak boleh dianggap undangan. Radhika harus memisahkan cinta dari hak memiliki, dan menjaga keselamatan Naila tanpa menuntut balasan.

Kalau jarak adalah satu-satunya cara mempertahankan batas itu, ia harus sanggup menanggung tatapan kecewa Naila setiap hari. Lebih baik dirinya sendiri terluka daripada mengubah rumah aman gadis itu menjadi tempat yang suatu saat membuatnya takut.

"Aku nggak boleh serendah ini," bisiknya.

Namun, pengakuan itu tidak membuat perasaannya hilang sedikit pun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!