Dua tahun lalu, Rian dengan dingin meletakkan surat perceraian di hadapan Nadia. Saat itu, Nadia rela melepaskan segalanya demi mendukung impian suaminya. Namun Rian memandangnya rendah, menganggapnya tak berguna, dan memilih meninggalkannya demi wanita yang ia harap bisa mempercepat kesuksesannya.
Rian tak pernah tahu, wanita yang ia usir itu adalah pewaris tunggal Grup Arka—perusahaan raksasa yang namanya disegani. Nadia sengaja menyembunyikan identitasnya saat menikah, ingin dicintai apa adanya, namun justru diperlakukan semena-mena.
Setelah berpisah, Nadia bangkit kembali. Ia memimpin Grup Arka dengan tegas dan cerdas, menjadi CEO misterius yang dikagumi banyak orang. Sementara itu, Rian berjuang mengembangkan usahanya sendiri, tak sadar bahwa semua peluang besar yang ia cari kini berada di tangan mantan istrinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: POSISI BARU: PEMIMPIN UTAMA GRUP ARKA
Siang itu, sinar matahari menyelinap lewat kaca dinding setinggi langit-langit ruangan rapat, memantul membias pada wajah Nadia yang tenang namun memancarkan wibawa yang tak bisa diragukan. Setelah pidato pembuka yang membuat seluruh jajaran direksi terdiam dan segan, rapat berlanjut membahas laporan perkembangan perusahaan setahun terakhir. Nadia mendengarkan dengan saksama, mencatat poin-poin penting di dalam hati, sesekali melontarkan pertanyaan tajam yang langsung menyasar celah-celah yang selama ini luput dari perhatian mereka.
"Proyek pembangunan kawasan industri di utara kota—mengapa biayanya membengkak hampir tiga puluh persen dari rencana awal?" tanyanya tiba-tiba, saat salah satu direktur keuangan sedang membacakan laporan. Pria paruh baya itu tergagap, tak menyangka gadis muda yang baru saja datang ini langsung menyoroti hal yang selama ini mereka tutupi-tutupi.
"Ada... kendala teknis di lapangan, Nona," jawabnya gugup.
"Kendala teknis, atau permainan harga yang tidak terkontrol?" Nadia menatapnya lurus, sorot matanya tajam namun tenang. "Grup Arka tidak berjalan di atas ketidakjujuran. Mulai hari ini, bentuk tim audit khusus yang bekerja langsung di bawah pengawasanku. Setiap pengeluaran, sekecil apapun, harus ada bukti yang sah dan bisa dipertanggungjawabkan. Aku tidak peduli seberapa lama kalian bekerja di sini, siapa kalian, atau seberapa besar kontribusi kalian dulu—siapapun yang merugikan perusahaan, akan aku singkirkan tanpa ampun."
Kalimat itu membuat suasana semakin hening, namun kini hening yang penuh rasa hormat dan segan. Tak ada yang berani meremehkannya lagi. Mereka sadar, sosok yang kini duduk di kursi pemimpin adalah penerus sejati Tuan Arka—tegas, cerdas, dan tak mudah dibohongi.
Siang berganti sore, rapat baru berakhir setelah lebih dari empat jam. Nadia kembali ke ruangan kerja pribadi ayahnya yang kini menjadi miliknya. Ruangan itu luas, berbau wangi kayu cendana yang khas, dilengkapi rak buku yang memenuhi dinding hingga ke langit-langit, serta meja kerja besar yang menghadap langsung ke pemandangan seluruh kota Semarang yang terbentang indah di bawah sana.
Pak Haris masuk membawa secangkir teh hangat dan tumpukan berkas baru. "Nona, semua keputusan Anda hari ini sudah disebarkan ke seluruh cabang perusahaan. Para manajer cabang melaporkan bahwa mereka sangat antusias menyambut kepemimpinan Anda. Selain itu, ini laporan tentang perusahaan-perusahaan yang mengajukan kerja sama proyek tahun ini."
Nadia meletakkan cangkir teh sejenak, lalu mengambil berkas-berkas itu satu per satu. Matanya meneliti nama-nama perusahaan yang tertera, hingga akhirnya berhenti pada satu nama: PT. Rian Abadi.
Jari telunjuknya menyentuh nama itu perlahan. Hati yang dulu sempat berdenyut sakit, kini hanya terasa dingin dan tenang. Rian benar-benar sudah mulai membangun usahanya sendiri, persis seperti yang ia impikan. Namun ia belum tahu, bahwa izin lokasi, dukungan modal, hingga kemudahan perizinan yang ia harapkan—semuanya berada di tangan Nadia.
"Dia mengajukan kerja sama untuk proyek pembangunan perumahan sederhana di pinggir kota," gumam Nadia pelan, membaca isi proposal yang disusun rapi namun terlihat belum matang sepenuhnya. "Modalnya belum cukup kuat, jaringannya belum luas. Tanpa bantuan pihak besar, proyek ini akan terhenti di tengah jalan."
"Apakah Nona ingin saya tolak langsung?" tanya Pak Haris hati-hati.
Nadia menggeleng pelan, menutup berkas itu kembali. "Jangan dulu. Biarkan dia mengajukan diri secara resmi. Biarkan dia datang ke sini, memohon kerja sama pada CEO Grup Arka yang tak ia kenal. Biarkan dia melihat sendiri, siapa sebenarnya wanita yang dulu ia buang dengan alasan aku lemah dan tak berguna."
Malam harinya, berita tentang sosok baru pemimpin Grup Arka sudah menyebar luas di kalangan pebisnis. Berita itu menjadi pembicaraan hangat di restoran mewah tempat Rian sedang makan malam bersama Diana dan beberapa rekan bisnis.
"Kau dengar tidak? Ternyata pewaris tunggal Grup Arka yang selama ini menghilang, sudah kembali dan mengambil alih perusahaan," ucap salah satu teman mereka dengan nada kagum. "Kabarnya dia sangat muda, cerdas, dan sangat tegas. Belum ada yang tahu wajahnya secara pasti, tapi semua bilang dia sosok yang luar biasa."
Diana tersenyum bangga, seolah hal itu ada hubungannya dengan dirinya. "Pantas saja Grup Arka semakin disegani. Kalau saja kita bisa bekerja sama dengan dia, nama Rian pasti akan langsung melesat naik."
Rian mengangguk setuju, matanya berbinar penuh ambisi. "Benar sekali. Wanita seperti itu pasti punya kemampuan luar biasa. Jauh berbeda dengan mantan istriku yang dulu—hanya tahu diam di rumah, tak mengerti apa-apa soal dunia luar. Kalau dia saja sepersepuluh saja seperti CEO itu, aku takkan pernah membiarkannya pergi."
Ucapan itu keluar begitu saja dari mulutnya, tanpa ia sadari bahwa wanita yang ia bandingkan dan ia remehkan itu, adalah sosok hebat yang sedang ia puji-puji setinggi langit.
Di tempat lain, di balik jendela kaca gedung pencakar langit yang masih menyala lampu-lampunya, Nadia mendengar laporan itu dari asisten barunya. Tak ada amarah yang meledak, tak ada tangisan yang tertahan. Hanya senyum tipis yang terukir di bibirnya—senyum yang penuh keyakinan, bahwa takdir sedang menyiapkan pertemuan yang tak akan pernah dilupakan oleh Rian seumur hidupnya.
Hari-hari berlalu dengan cepat. Nadia bekerja dengan sangat tekun, membenahi setiap kekurangan perusahaan, menandatangani kerja sama yang menguntungkan, dan perlahan mulai dikenal luas sebagai pemimpin yang tangguh namun adil. Sementara Rian berusaha sekuat tenaga mengumpulkan segala syarat dan berkas, berharap satu hari nanti bisa bertemu langsung dengan CEO misterius itu, memohon agar namanya dilirik dan diberi kesempatan emas.
Ia tak pernah menyangka, bahwa kesempatan yang ia cari mati-matian itu, sudah lama ia miliki—namun ia buang sendiri, tanpa rasa bersalah sedikitpun. Dan saat pintu itu akhirnya terbuka, Rian akan dihadapkan pada kenyataan yang akan mengguncang seluruh dunianya hingga ke dasar.
(Lanjut ke Bab 5?)