Di masa perkuliahan, di sela petualangan dan kebersamaan, benih cinta tumbuh tulus di antara Doni dan Kristin. Hati mereka saling tertaut, menyusun janji dan harapan akan masa depan. Namun setelah lulus, takdir masing-masing membawa mereka berdua ke jalan yang berbeda. Cinta yang sempat bersemi indah pun terpaksa terhenti, dan mereka berpisah — membiarkan waktu dan jarak memisahkan raga, meski perasaan itu tak sepenuhnya hilang. Beberapa tahun kemudian, takdir kembali menyatukan mereka. Saat mata mereka saling bertemu, kenangan lama bangkit seketika. Perasaan yang sempat terpendam seakan kembali menyapa, utuh seperti sedia kala. Namun kini keduanya bukan lagi anak muda yang dulu tanpa beban. Banyak hal telah berubah, banyak hal telah mengisi hidup mereka masing-masing. Di hadapan perasaan yang kembali menyapa, satu pertanyaan menggantung di udara: apakah kali ini mereka akan bersatu, atau justru kembali melanjutkan jalan masing-masing dengan kenangan yang tersimpan rapi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR1991, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BERKHAYAL
Sabtu pagi, sinar matahari mulai menyelinap lembut di antara dahan-dahan pohon yang rindang di halaman depan gedung sekretariat MAPALA. Udara pagi masih terasa segar, membawa aroma tanah yang lembap dan dedaunan hijau yang menyapa siapa saja yang melintas di sana. Di halaman itu, terlihat Nisa, Billy, Rangga, Kevin, Adit, dan Doni berkumpul dengan kesibukan masing-masing. Suasana tampak hidup, penuh percakapan ringan dan tawa yang sesekali terdengar, menandakan bahwa hari itu adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh seluruh panitia maupun calon peserta baru.
Nisa dan Billy berdiri berhadapan dengan Rangga, ketiganya tampak sedang membicarakan sesuatu yang serius namun tetap santai. Nisa memegang buku catatan kecil di tangannya, sesekali menunjuk ke arah baris-baris tulisan yang tertulis rapi di halaman buku itu, sementara Billy sesekali menyisipkan pertanyaan yang membuat Rangga tersenyum dan mengangguk paham. Mereka sedang membahas materi dan tugas-tugas dari salah satu mata kuliah yang cukup menuntut perhatian dan waktu, dan tampaknya ketiganya saling melengkapi satu sama lain dalam diskusi yang berjalan hangat itu.
Tidak jauh dari mereka, Kevin dan Adit berdiri di dekat tumpukan berkas dan papan tulis kecil yang diletakkan di atas meja panjang yang terbuat dari papan kayu. Keduanya tampak sibuk memilah dan menyusun materi-materi yang akan disampaikan dan diajarkan kepada para peserta baru dalam masa pembinaan yang akan dimulai hari itu. Sesekali suara mereka terdengar berdiskusi, menentukan urutan penyampaian, memperjelas hal-hal yang dianggap penting, dan memastikan tidak ada satu pun bagian yang terlewat. Keduanya tampak teliti dan sungguh-sungguh, menyadari bahwa apa yang mereka siapkan hari ini akan menjadi bekal bagi para peserta baru untuk mengenal lebih dalam tentang organisasi yang mereka tekuni.
Sedangkan di sisi lain, duduk seorang pemuda yang tampak tenang dan tak banyak bicara. Itu adalah Doni. Ia duduk di atas bangku kayu panjang yang terpasang di teras gedung, bersandar pada tiang penyangga dengan satu kaki terlipat dan tangan yang memegang sebatang rokok yang menyala pelan. Asap tipis melayang naik dari jemarinya, menyatu dengan udara pagi yang cerah. Matanya menatap lurus ke arah halaman yang luas itu, seakan sedang memandang sesuatu yang jauh di luar jangkauan pandangan orang lain, atau mungkin sedang merangkai rencana-rencana yang tersimpan rapi di dalam kepalanya. Wajahnya tampak tenang, tak terlihat terburu-buru atau gelisah sedikit pun, seakan segala sesuatu telah tertata sempurna di dalam pikirannya.
Tak lama kemudian, Billy berpamitan sebentar dari percakapannya dengan Nisa dan Rangga, lalu melangkah mendekati Doni. Ia berdiri tepat di samping pemuda itu, menatap sejenak ke arah asap yang melayang perlahan, lalu membuka suara dengan nada yang sopan namun tetap penuh hormat, mengingat kedudukan Doni sebagai ketua panitia untuk seluruh kegiatan peserta baru kali ini.
"Doni..." panggil Billy pelan namun jelas terdengar. "Bagaimana soal persiapan secara keseluruhan? Dan berapa lama waktu yang kau butuhkan untuk menyelesaikan seluruh rangkaian kegiatan pembinaan ini?"
Doni perlahan menoleh, menatap Billy sejenak sebelum kembali menatap ke depan sambil menghembuskan napasnya bersama asap rokok yang keluar dari mulutnya. Suaranya terdengar rendah namun tegas, penuh keyakinan seakan segala sesuatu telah dipikirkan matang-matang jauh sebelumnya.
"Aku sudah merancang semuanya dengan matang, Kak. Tidak ada yang terlewat," ucap Doni tenang. "Waktu yang kita butuhkan untuk menyelesaikan seluruh rangkaian pembinaan ini kurang lebih memakan waktu empat bulan. Dan pendakian sekaligus ujian akhir ke puncak gunung yang menjadi penutup kegiatan ini, baru akan kita laksanakan setelah seluruh ujian semester kita selesai. Jadi tidak akan ada benturan waktu antara kegiatan kita dan kewajiban kita sebagai mahasiswa."
Billy mengangguk paham, seakan sangat setuju dengan pengaturan waktu yang telah disusun oleh Doni. Ia kembali menatap Doni dengan tatapan yang tulus dan penuh dukungan.
"Baiklah, aku paham rencananya," ucap Billy. "Namun ingatlah, Doni. Jika di tengah jalan terdapat kendala atau hal-hal yang menyulitkan, jangan sungkan untuk menyampaikannya. Aku dan sebagian senior lainnya akan selalu siap membantu dan membantumu menyelesaikannya."
Doni tersenyum tipis mendengar tawaran itu, lalu mengangguk pelan sebagai tanda terima kasih. "Terima kasih, Kak. Aku hargai niat baik Kakak sekalian. Namun sejauh ini, belum ada kendala yang berarti. Semua berjalan sesuai rencana."
Billy pun tersenyum puas, lalu menepuk pelan bahu Doni sebelum kembali berjalan menuju Nisa dan yang lainnya.
Belum lama berselang, dari arah gerbang masuk terlihat dua orang berjalan mendekat sambil tersenyum ramah ke arah mereka yang telah berkumpul. Itu adalah Joel dan Cintya. Keduanya tampak segar dan bersemangat, berjalan beriringan sambil melambaikan tangan.
"Selamat pagi, Kakak-kakak semua!" sapa Cintya dengan suara ceria yang langsung menyapa pendengar.
"Selamat pagi!" sambut Joel menyusul sambil tersenyum lebar.
Semua orang yang hadir pun membalas sapaan mereka dengan senyum hangat dan sapaan serempak. Suasana menjadi semakin hangat dan penuh keakraban.
Tak lama setelah itu, dari arah yang sama muncul tiga sosok lainnya yang berjalan beriringan. Itu adalah Jeki, Ari, dan Bobi. Ketiganya tampak tak kalah semangatnya, melangkah dengan langkah tegap dan wajah yang penuh senyum. Mereka pun segera menyapa seluruh senior yang ada di sana dengan sopan dan ramah, lalu segera bergabung berdiri bersama Joel dan Cintya. Kini tinggal satu orang yang belum tampak hadir di antara para peserta baru yang diharapkan datang pagi itu.
Kevin yang berdiri di samping Adit tampak melirik sekilas ke arah Doni, lalu berbisik pelan agar hanya didengar oleh Doni saja.
"Doni... sepertinya Kristin tidak akan datang pagi ini," ucap Kevin dengan nada yang penuh keraguan. "Sudah beberapa hari ini ia terlihat menghindar dan memberi alasan yang sama setiap kali dipanggil atau diajak."
Doni tetap diam mendengar bisikan itu. Ia tidak langsung menjawab. Matanya menatap lurus ke arah jalan yang menjadi akses menuju gerbang, sambil menghembuskan sisa asap rokoknya perlahan ke udara. Wajahnya tetap tenang, seakan sudah menduga hal ini akan terjadi. Baru setelah asap itu menyebar tipis di udara, Doni membuka suara dengan nada yang sangat tenang dan penuh keyakinan.
"Jangan khawatir, Kevin. Kristin akan datang. Sudah sesuai dugaananku, ia akan datang tepat waktu."
Belum sempat Kevin menanyakan lebih lanjut maksud perkataan Doni, dari kejauhan terlihat sesosok wanita berjalan terburu-buru menuju gerbang. Ia tampak sedikit terengah-engah, wajahnya terlihat sedikit merah karena tergesa-gesa, namun tetap berusaha tersenyum ramah saat melihat mereka semua menatap ke arahnya. Itu adalah Kristin.
Sesampainya di hadapan mereka semua, Kristin segera menundukkan kepalanya sedikit sebagai tanda hormat sekaligus meminta maaf.
"Selamat pagi, Kakak-kakak semua..." ucap Kristin sedikit terengah-engah sambil menyapu pandang ke seluruh wajah yang menatapnya. "Maafkan aku karena datang terlambat. Ada hal kecil yang harus aku selesaikan di rumah sebelum berangkat, sehingga aku harus bergegas dan akhirnya tiba sedikit terlambat."
"Tidak apa-apa, Kristin. Yang penting kau sudah datang," ucap Nisa dengan senyum lembut yang menenangkan. "Mari segera berkumpul bersama yang lainnya, karena sebentar lagi kita akan mulai menyampaikan hal-hal penting yang perlu kalian ketahui."
Kristin pun mengangguk paham, lalu melangkah berdiri di samping Cintya dan yang lainnya.
Kegiatan pun segera dimulai. Nisa berdiri di depan mereka semua, memegang buku catatan dan menjelaskan dengan rinci mengenai materi-materi dasar yang harus dipahami oleh setiap peserta baru, aturan-aturan yang berlaku selama masa pembinaan berlangsung, serta hal-hal yang berkaitan dengan keselamatan dan tata krama saat berada di alam bebas. Penjelasannya berjalan runtut, jelas, dan mudah dipahami, membuat siapa pun yang mendengarkan merasa terbantu dan mengerti apa yang harus dilakukan.
Namun sepanjang Nisa menjelaskan materi itu dengan sangat rinci dan teratur, mata Kristin sesekali melirik ke arah Doni yang masih duduk tenang di tempatnya. Doni tampak begitu santai, sesekali menghembuskan asap rokoknya, sesekali menatap ke arah langit atau ke arah pepohonan, dan tak banyak menanggapi ketika Kevin maupun Adit sesekali mendekat dan berbicara sesuatu kepadanya. Wajahnya tampak datar, tenang, seakan tak ada satu pun hal yang mampu mengusik ketenangannya pagi itu.
Semakin Kristin memperhatikannya, semakin pula bingung hatinya. Dalam benaknya, sosok Doni yang terlihat begitu santai dan dingin pagi ini, terasa sangat berbeda dengan sosok Doni yang datang ke rumahnya kemarin malam. Doni yang malam itu tampak begitu rapi, sopan, berpenampilan bersih, dan berbicara dengan kata-kata yang begitu dalam serta menyentuh hati. Kini, di hadapan semua orang, Doni kembali terlihat seperti sosok yang berbeda. Dingin, santai, seakan tak memedulikan apa pun yang terjadi di sekelilingnya.
Bagaimana bisa ada manusia dengan dua kepribadian yang begitu berbeda dalam satu waktu? batin Kristin bergumam penuh kebingungan. Terkadang ia tampak begitu perhatian dan tulus, namun di saat yang lain ia bisa terlihat begitu dingin, santai, dan seakan tak peduli pada apa pun. Apakah benar-benar ada orang yang memiliki dua kepribadian yang berbeda sejauh ini?
Pikiran Kristin pun mulai melayang tak menentu. Ia mulai membayangkan sosok Doni seperti tokoh-tokoh dalam film yang pernah ia tonton. Di mana seseorang dikatakan memiliki dua kepribadian yang hidup berdampingan dalam satu tubuh yang sama. Kepribadian pertama yang tampak lembut, sopan, dan penuh perhatian, namun di sisi lain tersembunyi kepribadian kedua yang dingin, tegas, dan tak jarang terasa mengerikan seperti seorang psikopat yang tak terduga. Semakin ia membayangkannya, semakin pula ia merasa tak mampu memahami sosok pemuda itu sepenuhnya.
Pikiran itu terus berputar di kepalanya, membuatnya tak sadar bahwa pandangannya telah kosong melayang jauh, dan ia tak lagi mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Nisa.
"Kristin..."
Panggilan itu terdengar jelas dan cukup keras tepat di dekat telinganya. Kristin tersentak kaget seketika, tubuhnya sedikit meloncat karena terkejut, dan seketika wajahnya memerah padam karena malu. Ia mendongak dengan napas yang tertahan sejenak, dan mendapati Nisa berdiri tepat di hadapannya sambil menatapnya dengan senyum tipis yang penuh pengertian.
"Kristin..." ucap Nisa pelan namun tegas, sambil tersenyum lembut agar gadis itu tidak merasa terlalu malu. "Apa yang sedang kau pikirkan sedalam itu? Aku sudah memanggil namamu tiga kali namun kau seakan tak mendengar. Tetaplah fokus pada penjelasannya ya, Sayang. Jangan sampai ada hal penting yang terlewat."
Kristin menunduk dalam, wajahnya terasa panas menahan malu yang luar biasa. Ia menggumamkan kata maaf dengan suara yang nyaris tak terdengar.
"Maaf, Kak Nisa... Aku... aku hanya sedikit teralihkan pikiranku. Sekali lagi maafkan aku..."
Nisa tersenyum menenangkan, lalu menepuk pelan bahu Kristin sebelum kembali melanjutkan penjelasannya kepada yang lainnya. Kristin pun terus menunduk sejenak, berusaha menenangkan jantungnya yang masih berdebar kencang karena terkejut sekaligus karena malu. Namun di dalam hatinya, ia semakin bingung dan tak habis pikir. Sosok Doni yang duduk tenang di sana seakan memiliki rahasia yang tak pernah terungkapkan kepada siapa pun, dan entah mengapa hal itu justru membuat Kristin semakin tak mampu melupakan pemuda itu.
Beberapa jam pun berlalu begitu saja. Penjelasan materi akhirnya selesai disampaikan oleh Nisa. Semua peserta baru pun tampak lega sekaligus sedikit lelah mendengarkan penjelasan yang cukup panjang dan rinci itu. Mereka pun mulai beranjak berdiri dan bersiap untuk membubarkan diri.
Namun sebelum Kristin sempat melangkah pergi, Ari mendekat ke arahnya dengan senyum ramah yang terukir di wajahnya.
"Kristin..." panggil Ari pelan. "Kalau kau belum ada rencana lain, bagaimana kalau kita pergi ke kafe tidak jauh dari sini untuk duduk-duduk sebentar sambil makan? Aku berniat ke sana dan aku ingin mengajakmu bersamaku."
Kristin menatap Ari sejenak, lalu teringat bahwa pagi itu ia memang bergegas berangkat tanpa sempat menyantap sarapan di rumah. Perutnya pun seketika terasa lapar mendengar ajakan itu.
"Baiklah, Ari. Aku ikut bersamamu," jawab Kristin sambil tersenyum tulus. "Aku memang belum sempat sarapan pagi ini, jadi ajakanmu datang tepat waktu."
Ari pun tersenyum senang mendengar persetujuan itu.
Percakapan ringan antara Kristin dan Ari itu ternyata terdengar oleh Doni yang masih berada tak jauh dari mereka. Doni melirik sekilas ke arah Kristin, matanya menatap gadis itu sejenak tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Tatapannya begitu sulit diartikan, seakan terselip sesuatu yang tak terucapkan di dalamnya. Namun seketika itu juga Doni mengalihkan pandangannya, lalu berbalik badan dan melangkah masuk ke dalam gedung sekretariat MAPALA itu tanpa menoleh kembali sedikit pun.
Kristin menatap punggung Doni yang menjauh dan menghilang di balik pintu gedung itu. Hatinya kembali dipenuhi rasa bingung yang mendalam. Entah mengapa, setiap kali ia melihat sosok pemuda itu, perasaannya selalu menjadi campur aduk antara bingung, tak mengerti, namun sekaligus tak mampu melupakan sedikit pun. Dan pagi itu, di depan gedung sekretariat itu, Kristin semakin yakin bahwa sosok Doni menyimpan sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar dua kepribadian yang berbeda. Sesuatu yang mungkin baru akan ia ketahui seiring berjalannya waktu.