[Bukan Novel Terjemahan] [Original Karya Penulis]
Seorang mahasiswa melakukan penelitian di hutan, saat dia merasuk lebih dalam ke jantung hutan, dia menemukan sebuah lubang hitam besar. Karena rasa penasaran dia mendekat ke arahnya. Namun, siapa sangka dia akan terseret ke dalam.
Seorang gadis yang dianggap terkenal lemah berencana bunuh diri saat tau akan menggantikan kakak tirinya untuk dinikahkan dengan pangeran yang terkenal gila di seluruh kekaisaran.
***
Bagaimana jika mahasiswa itu menggantikan sang gadis untuk menikah? Akankah mereka berdua bekerja sama untuk balas dendam karena kemiripan wajah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28 : Runtuh
Debu tebal yang mengepul di ambang pintu aula utama perlahan-lahan tersibak oleh angin malam yang menderu masuk. Suasana megah Istana Pusat yang biasanya diselimuti ketenangan semu kini berubah menjadi arena pertumpahan darah dan kekacauan. Para pengawal kekaisaran berlarian kocar-kacir, tak berdaya menghadapi barisan pasukan elit Istana Barat yang menerobos masuk dengan presisi militer luar biasa.
Di tengah aula, Wang Yiche berdiri tegak dengan topeng besi perak yang memantulkan bias cahaya obor. Aura membunuh yang terpancar dari tubuhnya begitu pekat hingga membuat para pejabat istana yang hadir menahan napas ketakutan. Tepat di sampingnya, Fang Hua melangkah tenang, matanya langsung menyapu seisi ruangan dan mendapati sosok Luo Huanran yang terduduk lemas dengan tangan terikat di dekat singgasana.
Permaisuri yang tadinya berdiri anggun kini memucat pasi. Tangannya mencengkeram erat pegangan singgasana emas, sementara Kasim Lu mundur perlahan ke belakang pilar batu dengan kaki bergetar hebat.
"P-Pangeran Kelima?!" teriak Permaisuri dengan suara bergetar yang berusaha ia tutupi di balik nada angkuhnya. "Beraninya kau... beraninya kau membawa pasukan pemberontak menginjakkan kaki di aula suci istana pusat! Penjaga! Tangkap pengkhianat itu!"
Tidak ada satupun pengawal kekaisaran yang bergerak maju. Mereka semua terkapar atau terintimidasi oleh barisan pedang pasukan Istana Barat yang mengepung ruangan.
Wang Yiche sama sekali tidak terusik oleh teriakan murka sang permaisuri. Langkah kakinya terus mendekat, meninggalkan jejak sepatu bot yang berderit di atas lantai marmer. Suara baritonnya terdengar rendah namun menggema tajam, memecah kesunyian aula.
"Suci?" Wang Yiche menyeringai dingin di balik topeng peraknya. "Tempat ini sudah busuk sejak bertahun-tahun lalu, dan kalian lah yang mengubahnya menjadi sarang tikus."
Melihat situasi yang semakin di ambang kehancuran, Kasim Lu mencoba mencari jalan selamat. Dengan wajah pucat, ia menunjuk ke arah Luo Huanran yang masih ketakutan. "Y-Yang Mulia! Gadis rendahan ini! Dia mata-mata yang menyamar! Dia membawa dokumen rahasia kekaisaran! Jika kau mendekat, nyawa gadis ini akan melayang detik ini juga!"
Kasim Lu secara kilat menghunus belati kecil dari balik jubahnya, lalu menempelkan mata pisau tajam itu tepat di leher Luo Huanran. Gadis itu menjerit tertahan, air matanya tumpah semakin deras.
Permaisuri yang melihat tindakan Kasim Lu sedikit bernapas lega, kembali mengangkat dagunya tinggi-tinggi. "Benar! Mundur atau pelayan murahan ini mati di tempat!"
Fang Hua menghentikan langkahnya. Untuk sesaat, suasana di aula terasa membeku. Namun, alih-alih menunjukkan kepanikan, sudut bibir Fang Hua justru terangkat membentuk seulas senyuman miring yang sangat dingin.
"Kasim Lu," panggil Fang Hua dengan suara tenang namun menusuk tajam. "Sebelum kau mengancam nyawa orang lain, pernahkah kau memeriksa lengan kananmu sendiri yang terasa seperti terbakar sejak dua hari lalu?"
Kasim Lu terperanjat kaget. Wajahnya seketika berubah pucat pasi. Sontak, ia melirik sekilas ke arah lengan kanannya yang memang sejak kemarin malam terasa gatal luar biasa dan mulai memerah akibat cairan penanda yang diteteskan Fang Hua pada pemimpin pembunuh beberapa hari lalu.
"K-Kau..." geram Kasim Lu panik, tangannya mulai bergetar hebat memegang belati.
"Formula kimia itu tidak butuh waktu lama untuk melumpuhkan seluruh sistem saraf tanganmu," lanjut Fang Hua melangkah maju selangkah demi selangkah. "Dalam hitungan detik, jari-jarimu akan kehilangan seluruh fungsi rasanya."
Brak!
Seketika itu juga, jari-jari Kasim Lu melemas. Belati di tangannya terlepas dari genggaman dan berdenting nyaring menghantam lantai marmer.
Tanpa membuang waktu sepersekian detik pun, Wang Yiche melesat bagaikan bayangan hitam. Dalam satu gerakan kilat, tangan kokoh sang pangeran sudah mencengkeram leher Kasim Lu dan membantingnya hingga tak sadarkan diri di atas lantai.
Luo Huanran yang terbebas langsung menangis histeris. Fang Hua segera berlari mendekat, melepaskan ikatan tali di tangan gadis itu dan memeluknya erat untuk menenangkan.
Kini, di atas singgasana yang megah, hanya tinggal Permaisuri seorang diri yang gemetar ketakutan, menatap masa kejayaannya runtuh dalam sekejap mata.
***
Happy Reading 🥰
Mohon dukungan untuk Like, Komen, dan Ikuti Penulis yah, terimakasih ❤️