NovelToon NovelToon
Namamu Di Mata Yang Salah (Remake Storm)

Namamu Di Mata Yang Salah (Remake Storm)

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:445
Nilai: 5
Nama Author: Kyushine / Widi Az Zahra

Alina Maheswari percaya bahwa cinta selalu menemukan jalannya. Lima tahun bersama Birendra Adhyaksa membuatnya yakin bahwa lelaki itu adalah rumah tempat dimana ia akan pulang selamanya.

Namun sebuah kecelakaan merenggut segalanya.

Ketika sang kakak—Keira Maheswari kehilangan suaminya, dan terjebak dalam trauma yang membuatnya mengira Birenda adalah lelaki yang telah tiada, Alina dihadapkan pada pilihan yang tak pernah ia bayangkan yaitu mempertahankan cintanya atau merelakannya demi menyembuhkan satu-satunya keluarga yang ia miliki.

Disaat pengorbanan mulai mengikis hatinya, masa lalu datang mengetuk, sementara rahasia demi rahasia perlahan mengubah arti cinta, kehilangan, dan kesetiaan. Sebab terkadang, yang menghancurkan sebuah hubungan bukanlah hadirnya orang ketiga, melainkan seseorang yang namamu di mata yang salah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyushine / Widi Az Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 – Hangat yang Sederhana

“Melihat orang yang kita cintai bahagia sering kali membuat kita lupa bahwa hidup bisa berubah hanya dalam satu malam.”

--

Rumah keluarga Maheswari berdiri di sebuah kawasan yang jauh dari hiruk-pikuk pusat kota, tidak besar, juga tidak mewah. Namun halaman kecil didepannya selalu dipenuhi tanaman hijau yang dirawat dengan penuh kesabaran oleh Hendra Maheswari—Ayah Alina.

Di sudut teras, beberapa pot melati dan anggrek tumbuh rapi, menghadirkan aroma lembut yang menyambut siapa pun yang datang. Rumah itu telah menjadi saksi begitu banyak kehilangan.

Dua belas tahun yang lalu, seorang wanita bernama Ratih Maheswari menghembuskan napas terakhirnya akibat komplikasi penyakit yang datang terlalu cepat. Saat itu Alina baru duduk di bangku SMP, sementara Keira sudah mulai kuliah.

Sejak hari itu, hidup mereka berubah. Hendra harus belajar menjadi ayah sekaligus ibu, Keira belajar menjadi kakak yang lebih dewasa dari pada usianya, dan Alina belajar bahwa rindu adalah sesuatu yang tidak pernah benar-benar selesai.

“Kamu akhirnya pulang juga,” suara itu selalu terdengar ceria saat ia mulai membuka pintu rumah bahkan sebelum Alina sempat menekan bel.

Keira berdiri di ambang pintu dengan apron yang masih melingkar di pinggangnya. Rambut panjangnya di ikat asal, beberapa helainya jatuh menutupi pipi. Wajah wanita itu tampak sedikit lelah, tetapi senyumnya selalu berhasil membuat rumah itu terasa lebih hidup.

“Aku kira kamu lembur lagi.” Alina menggeleng seraya berhambur memeluk kakaknya.

“Kalau tiap hari lembur, nanti kakak bisa ngomel.”

“Bukan aku yang ngomel,” Keira lekas menoleh ke arah ruang tengah. “Tapi ayah.” Dari balik koran yang sedang dibacanya, Hendra hanya berdeham pelan.

“Kalau pulang malam terus, nanti siapa yang nemenin ayah ngopi?” Alina tertawa kecil mendengar penuturan itu, karena menurut Alina, kalimat tersebut terdengar seperti sebuah keluhan kecil. Padahal mereka semua tahu, itu hanya cara Hendra menunjukkan rasa khawatirnya.

Rumah mereka memang sederhana, tetapi setiap sudutnya dipenuhi oleh kebiasaan-kebiasaan kecil yang tak pernah berubah. Di rumah itu ada seorang ayah yang selalu menunggu semua anggota keluarga pulang sebelum tidur, Keira yang hampir setiap sore memasak sendiri meski mereka mampu membeli makanan diluar, dan Alina yang selalu membawa roti kesukaan ayahnya setiap Jumat sepulang kerja.

Hal-hal kecil seperti itulah yang perlahan membentuk arti keluarga bagi mereka.

Aroma tumis bawang putih memenuhi ruang makan, Keira masih sibuk mengangkat piring terakhir ketika Alina menghampirinya. “Biar aku saja, kak.” Alina mencoba meraih piring di tangan Keira, namun Keira lekas menolaknya.

“Nggak usah. Kamu baru pulang kerja.” Ucapnya.

“Aku masih punya tenaga.” Akhirnya Keira menyerah seraya tersenyum tipis. Melihat adiknya membantu tanpa diminta selalu menjadi kebiasaan yang membuat hatinya hangat. “Dari tadi aku perhatikan kayaknya senyum-senyum sendiri. Lagi bahagia, ya?” Alina melirik wajah kakaknya.

“Apa sih?” Pipi Keira langsung memerah dan membuat Alina tersenyum jahil.

“Kak Raka, ya?” Goda Alina. Keira tidak menjawab, namun senyum yang semakin lebar itu sudah menjadi jawaban paling jelas atas pertanyaan yang diajukan oleh Alina.

Sudah hampir satu tahun Keira menikah dengan Raka Pradana. Pernikahan mereka jauh dari kata mewah, karena tidak ada pesta besar yang dilakukan maupun gaun rancangan desainer ternama. Hanya ada akad sederhana yang dihadiri keluarga dan sahabat terdekat.

Hingga detik ini, Alina belum pernah melihat kakaknya menangis karena pernikahan itu, karena yang ia lihat justru sebaliknya, Keira selalu semakin sering tersenyum setiap harinya, ia juga semakin sering tertawa, dan semakin terlihat seperti wanita yang benar-benar menemukan tempat pulangnya.

“Aku iri,” ucapan Alina langsung membuat Keira menghentikan aktivitasnya.

“Iri? Kenapa?” Tanya Keira tidak mengerti, dan Alina langsung menyandarkan tubuhnya pada meja dapur.

“Karena kalian keliatannya bahagia terus.” Mendengar itu lekas membuat Keira terkekeh.

“Kamu kira rumah tangga itu isinya bahagia terus?” Alina menatap kakaknya serius. “Tentu tidak. Aku sama Raka juga pernah bertengkar.” Ucapnya lagi yang membuat Alina mengangkat alisnya.

“Serius?” Keira mengangguk pelan. “Soal apa?” Alina pun semakin merasa penasaran.

“Soal odol. Dia pencet odol dari tengah.” Alina sempat terdiam beberapa detik, lalu mereka pun berdua tertawa bersama.

“Ternyata sesederhana itu?”

“Namanya juga hidup bersama.” Keira mengaduk sup perlahan. “Bahagia itu bukan karena tidak pernah bertengkar, karena setelah bertengkar, kami tetap memilih duduk semeja saat makan malam.” Alina memandang kakaknya cukup lama. Kalimat itu terdengar sederhana, namun terasa begitu dalam.

Menjelang maghrib, suara mobil berhenti di depan rumah. Keira langsung menoleh ke arah jendela. Senyumnya kembali muncul bahkan sebelum orang yang ditunggunya masuk.

“Raka.”

Tidak lama kemudian, seorang lelaki bertubuh tinggi memasuki rumah seraya membawa kantong belanja ditangan kanan dan setangkai bunga matahari di tangan kiri.

“Assalamualaikum.” Raka menghampiri Hendra lebih dulu untuk menyalami mertuanya tersebut.

“Walaikumsalam.” Kemudian, Raka berjalan ke arah Keira. Tanpa banyak kata, bunga matahari itu diserahkan begitu saja.

“Buat apa lagi beli bunga?” Keira menerimanya dengan wajah yang sudah memerah.

“Biar rumahnya makin cantik.”

“Rumahnya?” Celetuk Alina dengan niat menggoda dan Raka pun tersenyum seraya menganggukkan kepalanya. Kemudian tatapannya beralih pada sang istri.

“Soalnya yang paling cantik di rumah ini sudah ada.”

Mendengar gombalan itu langsung membuat Keira memukul pelan lengan suaminya. Kedua pipinya sudah semakin memerah karena ucapan Raka sebelumnya, sedangkan Alina hanya terkekeh melihat kakaknya yang sudah benar-benar salah tingkah akibat perlakuan suaminya.

“Tenang. Ngga usah iri, sebentar lagi juga ada yang melamar kamu.” Alina langsung menoleh ke arah Raka, dan Keira yang menyadari itu pun langsung mencubit pelan lengan suaminya. “Eh, aku keceplosan ya?” Raka buru-buru menutup mulutnya sendiri dan hal itu langsung membuat Alina menyipitkan kedua matanya.

“Keceplosan soal apa?” Tanyanya penasaran, karena sejujurnya ia memang tidak mendengarnya dengan jelas.

“Nggak ada.” Raka langsung pura-pura sibuk membuka kantong belanjaan yang masih digenggamnya. Keira justru tertawa melihat wajah adiknya yang penuh rasa penasaran.

Mereka pun akhirnya menghabiskan makan malam dengan obrolan ringan. Membahas soal pekerjaan, rencana liburan kecil setelah masing-masing dari proyek mereka selesai, hingga keinginan Keira dan Raka untuk segera memiliki anak.

Sesekali tawa memenuhi ruang makan, menghapus lelah setelah seharian beraktivitas. Malam itu pun terasa begitu biasa, namun selalu terasa hangat dan sempurna, hingga tak seorang pun menyadari bahwa kenangan sederhana itu kelak akan menjadi kenangan yang paling sering ingin di ulang oleh seseorang yang telah kehilangan segalanya.

Sebab, ada makan malam yang hanya terasa biasa ketika sedang dijalan, namun berubah menjadi kemewahan yang tak ternilai ketika hanya bisa dikenang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!