Banyak sekali yang harus dilakukan Ananta Shakira sebagai bukti baktinya pada orang tuanya. Demi mendapatkan simpati publik, papanya memasukkannya sebagai tenaga pengajar di sebuah Taman Kanak Kanak.yang sudah terkenal dedikasinya dalam menelurkan anak anak pintar yang berbakat.
Kemudian dia juga harus mau dijodohkan dengan Arsen Angkasa, pewaris pengganti yang sedang naik daun, karena pewaris sebelumnya meninggal akibat kecelakaan lalu lintas.
Pewaris pengganti itu butuh power keluarganya yang merupakan pengusaha lokal dan salah satu wakil ketua dewan yang terhormat untuk memperkuat posisinya. Sedangkan keluarganya membutuhkan pewaris ini untuk bisa sejajar di kalangan bisnis dengan menjadikannya sebagai menantu keluarga konglomerat itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Datang ke Pameran Ananta
Melihat anak anak usia pra sekolah bernyanyi dan menari membuat perasaan Ananta jadi lebih tenang dan damai. Masalah masalah menjelang pernikahannya sesaat bisa dia lupakan.
Karya karya anak didiknya pun menenangkan hatinya. Apalagi sekarang sudah cukup banyak yang dibeli pengunjung.
Selagi dia menghitung karya karya yang belum laku, seorang pengajar seperti dirinya tergopoh gopoh menghampirinya.
"Bu Ananta. Bu Juli meminta anda datang ke ruangannya. Nyonya Widari Bintani, konglomerat ternama itu datang ke sekolah kita."
Ya, ampun. Ternyata Nenek Arsen beneran datang.
Dadanya langsung bergemuruh.
Tanpa banyak kata Ananta segera mengikuti pengajar itu menuju ke tempat ruangan Tante Juli.
Ananta akhirnya tiba di ruangan Tante Juli. Ananta melihat Nenek Arsen datang bersama dua orang pengawal wanitanya.
Ananta segera mendekat dan menyalim sopan wanita tua yang bakal jadi nenek mertuanya, membuat kaget para pengajar.
"Arsen belum datang?" tanyanya langsung membuat para pengajar yang ada di sana menatap Ananta heran. Mereka semakin kaget dengan reaksi akrab wanita yang sangat berpengaruh itu pada Ananta. Walaupun mereka sudah tau backgroud keluarga Ananta, tapi ngga semua anak orang kaya mendapat sikap ramah dari Nyonya Widari.
Tadi saja sikap wanita tua super kaya ini datar dan dingin. Tapi sejak bertemu Ananta, sikapnya berubah hangat.
Ananta kenal sama nenek konglomerat ini?
Arsen itu siapa? Batin mereka penuh tanya.
"Belum." Ananta nampak canggung memanggil Widari dengan sebutan nenek di depan teman teman pengajarnya. Lagi pula dia juga merasa takut neneknya Arsen belum nyaman dengannya dan merasa dia sudah bersikap sok akrab. Mereka baru saja kenal tadi malam.
Tante Juli yang sudah tau hubungan Nyonya Widari dan Ananta tersenyum pada gadis itu. Agaknya Ananta sudah mencuri hati kakunya.
"Ananta, antarkan aku untuk melihat pameran ini," perintahnya tegas.
Ananta menatap Tante Juli yang menganggukkan kepalanya. Setuju kalo Ananta saja yang mengurus calon neneknya.
"Ayo, Ananta," ucap Tante Juli yang membuat Ananta menurut, karena tidak mau menyusahkan Tante Juli.
Ananta pun mulai melangkah mengikuti Nyonya Widari yang sudah berjalan lebih dulu. Kedua pengawalnya menyusul bersama Ananta.
Sebenarnya perasaan Ananta saat ini ngga tenang. Dia yakin kedatangan neneknya Arsen pasti punya maksud tertentu selain untuk melihat apa saja yang dipamerkan oleh anak anak usia pra sekolah ini.
Nenek Arsen membeli cukup banyak prakarya anak anak yang dipamerkan. Ada beberapa cangkir yang dibuat dari tanah liat dan sudah melalui proses pembakaran dan pewarnaan. Semua dilakukan oleh anak anak didiknya dengan pengawasan para pengajar.
Neneknya Arsen juga membeli beberapa hiasan dinding yang terbuat dari kain perca.
Kedua pengawal neneknya Arsen yang membawanya barang barang yang dibelinya itu.
Sekarang mereka sedang menonton pertunjukan drama pinokio. Akting anak anak itu terlihat polos dan menggemaskan. Nenek Arsen bahkan bisa tersenyum melihat akting yang seperti air yang mengalir begitu saja.
"Nenek akui kalian para pendidik hebat karena bisa menggali bakat dan minat mereka sampai sejauh ini," pujinya kagum di sela pertunjukan yang masih belum selesai.
"Mereka anak anak yang manis, nek." Tidak terlalu banyak kesulitan untuk mengatur anak anak itu. Yang terpenting mereka juga suka melakukannya. Tanpa ada paksaan.
"Betul. Tapi menurut nenek, kalian tetaplah guru guru yang hebat," puji Widari lagi. Tidak mau dibantah.
"Terimakasih, nek."
Widari tersenyum.
"Semoga mereka bisa memancing kamu dan Arsen untuk bisa cepat cepat punya anak setelah menikah nanti."
Topik itu lagi, keluhnya dalam hati.
Ananta memaksakan senyum. Tujuan kedatangan neneknya Arsen menemuinya di pameran ini akhirnya dikatakannya juga.
"Semoga, nek."
"Arsen sekarang satu satunya cucuku," ucapnya pelan dengan tatapan terfokus ke arah panggung.
Ananta tau.
"Dia kakaknya almarhum Ega. Mungkin Tuhan marah padaku karena tidak pernah mau menganggapnya ada. Jadi Dia mengambil Ega." Suara Widari terdengar bergetar.
Walaupun sudah tau keseluruhan ceritanya, tetap saja Ananta bisa merasakan kesedihan wanita tua di sampingnya. Ananta bisa melihat kerapuhannya yang biasanya tertutup dengan sikap keras tangan besinya
"Ada satu pelajaran yang aku petik dari kejadian akhir akhir ini. Ega meninggal sebelum dia menikah. Ega jadi keturunan terakhirku. Karena itu aku menginginkan Arsen cepat menikah dan kalian segera punya anak. Jadi baru aku akan bisa merasa tenang. " Widari Bintani menarik nafas dalam dalam dan menghembuskannya perlahan.
"Kamu mau, kan, melahirkan anak Arsen?"
Ananta tercekat karena kini Widari mengalihkan fokus tatapannya kepadanya.
Dia hanya bisa mengangguk tanpa bisa berucap sepatah kata pun karena mulutnya mendadak terkunci.
"Lakukan sebaik mungkin agar cepat hamil. Kalo dalam setahun masih belum juga ada tanda tanda hamil, kalian bisa lakukan proses bayi tabung."
Ananta merinding. Dia sudah terjebak.
Kata kata cepat hamil sangat menakutkan untuknya.
Teringat ucapan Arsen yang akan berusaha keras.
Kenapa terasa menakutkan, padahal pernikahan belum terjadi.
Seakan tau kegundahan Ananta, Widari tersenyum.
"Jangan langsung nyerah dulu, Ananta."
Ananta hanya menanggapinya dengan ringisan samar.
*
*
*
Banyak sekali yang sudah diborong neneknya Arsen. Sebelum pulang, beliau pun masih memborong prakarya yang lainnya lagi.
Ananta masih memikirkan kata kata neneknya Arsen. Mungkin dia mengerti yang ditakutkan nenek itu. Tapi tanggung jawab yang dilimpahkan padanya terlalu besar. Harus bisa melahirkan pewaris selanjutnya.
Belum menikah saja Ananta sudah harus menanggung beban yang sangat berat.
"Melamun?"
Ananta tersentak. Arsen sudah berada di sampingnya dan menyapanya barusan.
Hari sudah menjelang sore, Ananta sedang bersiap untuk penutupan pameran. Tadinya dia sudah tidak berharap dengan kedatangan Arsen.
Tangan Arsen menunjukkan dua buah gelas tanah liat berwarna biru yang baru dia beli saat mencari keberadaan Ananta.
"Buat cangkir di apartemen. Satu punyaku dan satunya lagi milikmu."
Lihatlah, dia bahkan sudah menyiapkannya, batin Ananta dengan nyali mulai ciut.
"Aku belum terlalu terlambat, kan?" tanyanya sambil melihat ke arah panggung yang sedang menampilkan paduan suara.
"Hampir."
Arsen menggusar kasar rambutnya.
"Padahal aku sudah berusaha secepatnya datang.ke sini," keluhnya penuh penyesalan.
"Tidak apa apa. Setidaknya masih ada yang bisa kamu lihat dan beli."
Arsen tertawa kecil setelah mendengar perkataan Ananta.
"Yang paling penting masih bisa ketemu kamu," ucap Arsen dengan tatapan penuh arti.
Dasar perayu, cela Ananta dalam hati.
"Masih lama acaranya selesai?" tanya Arsen dengan tatapan ke arah panggung.
"Mungkin sebentar lagi."
"Oooh ...., aku akan mengantarkanmu pulang."
Ananta hanya mengangguk ketika Arsen menatapnya.
"Aku membelikanmu ini." Arsen menyerahkan sebuah goodie bag yang segera diterima Ananta karena melihat Arsen agak kerepotan memegangnya.
"Terimakasih. Ngga perlu repot repot." Dalam hati Ananta penasaran, ingin tau yang diberikan Arsen untuknya.
"Aku ngga merasa repot, kok. Kamu suka?"
"Memangnya ini apa?" Ananta merasakan firasat buruk.
"Lingerie. Aku sengaja menilih yang warnanya hitam," sahut Arsen lugas.
semangat😉
cerita keluarga baru apa?