Sejak kecil, Keira hidup jauh dari keluarganya. Ketika akhirnya mereka kembali dan ia berharap menemukan kehangatan yang selama ini dirindukannya, kenyataan justru menghancurkan harapannya.
Di rumah itu, ada seorang anak yang diperlakukan bak permata, sementara Keira hanya dianggap sebagai seseorang yang kebetulan memiliki hubungan darah dengan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
"Keyna menderita penyakit jantung. Jika kalian ingin menjenguknya satu per satu, saya tidak ingin kondisinya memburuk hanya karena terganggu," ujar Bara dingin, lalu berjalan pergi meninggalkan mereka.
"Baik, Om," jawab mereka serentak.
Hendra tiba-tiba terduduk lemas. "Ah, aku baru ingat... Keyna punya penyakit jantung. Bagaimana bisa aku lupa hal sebesar ini?"
"Kita harus bagaimana?" tanya Mahendra cemas.
"Satu-satunya hal yang bisa kita lakukan hanyalah berdoa," jawab Daena datar, namun matanya memancarkan kesedihan yang tulus.
Keira yang berdiri tak jauh dari sana menatap mereka dengan ragu. "Kalian... ada di sini?"
"Keira? Kenapa kau di sini?" Kenzo menghampirinya, lalu menyeka keringat di kening Keira. Ada rasa rindu yang tak ia sangka muncul begitu saja.
Keira berdeham pelan. "Ehm..."
"Duduk dulu, Keira. Kau pasti syok sekali," ajak Kenzo, lalu duduk di sampingnya. "Kenapa wajahmu begitu? Dan kenapa kau ada di sini? Kau mau menjenguk Keyna juga?"
Keira menunduk, lalu perlahan mengangkat wajahnya menatap mata Kenzo. Ia selalu suka menatap mata orang saat berbicara, setidaknya dengan begitu ia merasa dihargai.
"Ada hal yang ingin kukatakan," ucapnya pelan.
"Katakanlah," jawab Kenzo penasaran. Teman-temannya pun ikut menyimak.
"Keyna itu kembaranku."
"Hah?!" Daena melongo tak percaya.
"Ya. Keyna adalah kembaranku," ulang Keira mantap.
"Kenapa kau tak pernah bilang?!" Rafael berseru marah.
"Apakah itu penting?" tanya Keira tenang, tak peduli wajah mereka terlihat kecewa.
"Jadi selama ini kau menyembunyikannya dari kami?"
"Aku tidak menyembunyikannya. Kalian hanya tak pernah bertanya."
"Sama saja!" Mahendra ikut membentak. "Kau tak terbuka pada kami. Setidaknya soal Keyna, kau bisa saja memberi tahu kami!"
Kenzo yang sedari tadi diam akhirnya bersuara. "Kenapa tak mau memberi tahu?"
"Karena menurutku itu bukan hal penting," jawab Keira datar.
"Bukan penting?!" Iren tersulut emosi. "Keyna koma dan kau kembarannya! Bagaimana bisa kau bilang itu bukan hal penting?!"
Keira mengangkat wajahnya, matanya berkaca-kaca namun suaranya meninggi. "TERUS HARUS APA?! HARUS AKU MENDONORKAN JANTUNGKU JUGA?!"
Suaranya menggema di lorong rumah sakit. Selama ini ia selalu tersisih entah di rumah, di sekolah, bahkan di antara mereka yang ia anggap saudara. Kini, mereka pun ikut menuntut pengorbanannya.
Padahal ia berharap, saat menceritakan semuanya, mereka akan mendukungnya. Namun kenyataannya, baru saja ia berbicara soal Keyna, mereka sudah tak bisa menerima.
"Setidaknya beri tahu kami, Keira. Biar kami tak terlihat bodoh begini," ujar Daena dengan nada kecewa.
"Aku kecewa, Keira," kata Kenzo, lalu beranjak pergi.
Keira segera menahannya. "Kapan kalian tak pernah mengecewakan aku? Dari kemarin kalian sudah bilang begitu, kan?"
Hatinya hancur berkeping-keping. Semua yang ia bangun selama ini seakan runtuh dalam sekejap.
"Kak... aku tahu aku salah," ucapnya pelan, namun Kenzo tak berhenti melangkah.
"Jadi selama ini kau tak percaya pada kami?" Rafael bertanya tak percaya.
"Aku hanya selalu waspada," jawab Keira tenang.
"Jadi kau tak pernah percaya pada kami sama sekali?" Mahendra tersenyum getir, emosinya memuncak. "Kau egois, ternyata. Tak kusangka punya adik sepertimu."
"Semoga kau bahagia sendirian," ejek Hendra, lalu pergi diikuti Mahendra dan Iren.
"Lebih baik Keyna daripada kau," umpat Rafael sebelum pergi.
"Untung dulu kami sempat bersamamu. Tapi balasanmu begitu kasar. Seharusnya yang koma itu kau, bukan Keyna!" ucap Mahendra sinis.
"Keyna sudah menderita sejak kecil karena penyakit jantungnya. Sedangkan kau? Kau sehat! Kenapa harus Keyna yang punya kembaran? Tak berguna sekali," timpal Daena, lalu ikut pergi.
Keira tertinggal sendirian di bangku taman, memeluk lututnya erat. Mereka semua pergi. Meninggalkannya sendirian.
Namun benarkah mereka berhak marah? Bukankah setiap orang berhak menyembunyikan masalah pribadinya?
Bahkan sahabat lama pun tak selalu saling tahu segalanya. Keira tak bermaksud menyembunyikan kebenaran, ia hanya takut jika mereka tahu, ia hanya akan diminta berkorban lagi.