Intan adalah gadis yang lugu dan baik hati, dia selalu membantu ibunya yang bekerja sebagai asisten rumah tangga di sebuah rumah mewah. Intan bersama ibunya hanya orang biasa yang tidak memiliki keluarga dan beruntung mereka bertemu dengan bu Ratna yang membawa mereka kerumah nya dan bekerja di sana.
Ratna yang berusia 18 tahun itu nampak cekatan membantu ibunya. Sikap sopan dan paruhnya membantu Ratna dan suami Agung begitu menyukai Intan, 5 tahun sudah berlalu kini intan sudah beranjak menjadi gadis dewasa.
Di mana kisah yang tidak pernah dia bayangkan akan terjadi, kisah pencinta dan tanpa restu akan terlibat dalam kehidupan nya.
Saat pertemuan nya dengan anak tunggal keluarga Wicana yang sudah menampung nya dan ibunya selamat bertahun-tahun lama nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lembayung Senjaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jalan Berdua
Mahendra dan Intan sedang duduk santai di taman melihat matahari yang nampak kian bersinar dengan cerah nya.
" Cantik.. "
" Haa... " Gumam Intan saat pendengaran sedikit mendengar ucapan Mahendra yang hampir tak kedengeran itu.
" Matahari nya cantik. "
" Iyaa cantik, dulu aku punya temen waktu SMP namanya cantik dan dia memang secantik itu entah bagaimana kabarnya sekarang?. Semoga selalu baik baik saja.. "
" Pulang yuk, papa dan bunda pasti nyariin kita.. " Ajak Mahendra dan di sambut anggukan kepala Intan.
***
Ratna nampak meneguk jus apel kesukaan nya sembari membaca koran di pagi hari sedang kan Agung sudah berangkat karena ada rapat di suatu daerah yang sedikit jauh.
Wanita itu tak heran kemana pergi nya putra nya, karena dia tau jika Mahendra menyukai jalan pagi dan tentu saja Intan bersama nya karena sejak tadi dia belum melihat gadis cantik itu.
" Pagi bundaa.. " Mahendra mengecup pipi Ratna membuat wanita itu langsung meletakkan koran nya dan melihat kedatangan putra nya dan Intan.
" Dari mana saja kalian, kok gak bilang sih?. " Raut wajah gadis itu nampak takut jika Ratna marah padanya meski dia sendiri tahu jika wanita itu tidak akan pernah marah marah.
" Iya aku yang meminta Intan untuk ikut aku jogging bun, lagian jalan sendiri tu gak enak jadi aku ajak Intan aja kebetulan dia udah bangun. " Timpal Mahendra.
" Maaf nyonya tadi kak Mahen yang ngajak pergi.." Seru Intan dengan kepala menunduk.
Ratna yang melihat Intan ketakutan jika dia marah kemudian terkekeh pelan membuat Mahendra merasa kesal, kebiasaan lama yang sangat sulit di hilang oleh ibu nya itu. Sedangkan Intan nampak masih diam, dia benar-benar gadis yang polos dan lugu.
" Intan, kamu ini kayak baru kenal sama saya 1 atau 3 jam loh. Sudah sebaiknya kalian mandi kemudian sarapan ikut lah Mahendra kemana kaki nya berjalan kasihan dia pasti rindu menjelajahi setiap tempat di sudut kota ini. " Intan mengangguk patuh mesti dia sendiri tidak paham akan kota itu.
" Papa kemana?. " Ratna menatap putra nya saat Intan sudah pergi berlalu terlebih dulu.
" Papa ada meeting jadi berangkat pagi pagi sekali, kamu punya waktu 1 minggu untuk istirahat sayang setelahnya kamu harus bersiap mengurus beberapa perusahaan papa mu." Ucap Ratna kemudian kembali membawa koran yang dia tinggalkan beberapa saat.
" Hemz, Mahen izin buat ke rumah Bimo sama Aldo ya bun udah lama Mahen gak ketemu sama mereka. Mungkin alamat mereka masih sama atau udah pergi sih.. " Ratna mengangguk pelan kemudian membuat Mahendra beranjak menuju kamar nya.
***
" Kamu sama tuan muda dari mana dan sekarang mau kemana lagi kak?. " Ucap Ami melihat anak nya yang sudah rapi dengan celana jeans panjang usang dan kaos hitam pendek yang semakin membuat nya tambah menawan.
Intan yang sedang mengikat rambut nya kemudian berbalik menatap ibu nya.
" Di suruh sama Nyonya Ratna bu, untuk nemenin kak Mahen pergi keluar jalan jalan. Tadi pagi aku juga di ajak jogging sama kak Mahen maaf gak bilang. " Ami nampak merapikan anak rambut di wajahnya cantik Intan dengan lembut.
" Intan, ibu hanya ingin bilang jangan sampai dan jangan pernah kamu sampai tertarik pada tuan muda nak. Kamu tahu kan selera nyonya itu sangat tinggi dan tidak tergoyahkan ibu tidak ingin anak ibu terluka pada akhirnya. Dan ibu percaya jika kamu tidak akan memiliki perasaan seperti itu kan?. " Intan diam dia bingung kenapa tiba tiba ibunya berbicara seperti itu.
" Gak kok buk gak mungkin juga, lagian Intan masih sibuk menata masa depan kita bukan malah cari laki laki kaya kok. " Gumam Intan pelan.
" Yaaa sudah pergi lah nak, seperti tuan muda sudah siap di bawah bawa motor. Hati hati dan jaga dirimu baik baik. " Intan mencium tangan ibu nya kemudian pergi berlari kecil menuju pintu utama.
Di sana nampak Mahendra dengan kaos hitam dan celana jeans nya sudah ada di atas motor menunggu kedatangan Intan, gadis itu melihat dirinya di pantulan kaca.
" Apa kak Mahen tidak malu jalan sama aku, pakaian lusuh ku ini apa dia tidak mempermasalahkan nya?. " Intan nampak tahu tapi saat tahu Mahendra menatapnya dengan senyuman lebar membuat gadis itu melangkah mendekati nya dengan percaya diri.
" Hanya dengan pakaian seperti itu saja tapi aku terpesona melihat nya, sangat cantik dan natural bagaimana bisa dia menyembunyikan kecantikan nya itu dengan kesederhanaan?. " Batin Mahendra tak lekat memandang Intan.
" Emmmz, maaf kak aku gak ada baju lain yang bagus ini udah yang paling bagus dan jarang aku pakai. " Gumam nya pelan.
Mahendra terkekeh pelan.
" Udah ayo naik bentar lagi bakalan panas banget, mau pakaian apa aja kamu cantik kok terlihat sederhana saja sesuatu dengan kemampuan itu lebih baik Intan. " Pipi gadis itu memerah kontras sekali dengan kulit putih nya membuat Mahendra semakin gemas.
Intan naik ke atas motor dengan berpegangan dengan tangan Mahendra, tubuh mungil nya benar-benar tidak terlihat tertutup oleh tubuh besar dan kekar Mahendra.
" Udah siap?. " Intan mengangguk kemudian Mahendra segera menjalankan motornya meninggal komplek perumahan mewah itu.
Menembus jalanan yang ramai. Jarak diantar mereka benar-benar terlihat nyata meski Intan sendiri takut saat berkendara dengan Mahendra, ini adalah pengalaman pertama nya naik ke atas motor besar dengan seorang pria.
" Dulu aku dan teman teman ku sering duduk di sana, kamu tahu aku dulu berandalan Intan sekarang aja udah banyak berubah nya.. " Gumam Mahendra membuat Intan tercengang.
" Masa sih kak, kok aku gak percaya?. " Mendengar ucapan Intan membuat Mahendra terkekeh pelan.
Tentu saja mereka tidak akan percaya senakal apa dia di masa remaja hingga membuat orang tua nya rela mengirim nya keluar negara bertemu dengan paman nya dan tanpa melihat nya selama 8 tahun lama nya.
Mereka terus berjalan jauh berkeliling kota melihat beberapa tempat dulu di sering singgahi bahkan Mahendra mengajak Intan untuk melihat sekolah nya dulu yang masih beroperasi dengan baik, tempat nongkrong dia dan sahabatnya dahulu.
" Tempat seperti benar-benar banyak banget kenangan nya. " Gumam Mahendra melihat beberapa tempat yang sudah kosong dan hanya menyisahkan kenangan lama yang sulit terlupa kan.
" Terus kemana sekarang mereka? ".
" Entah lah, aku kehilangan kontak mereka selama 8 tahun dan selama itu sama sekali aku tidak mencari keberadaan mereka dan tidak sekalipun melihat keadaan mereka. " Mereka berhenti di sebuah bangunan tua yang tidak terawat itu menghurup udara yang masih segar.
" Mungkin di antar mereka sudah menjadi orang penting dan sukses kak, lagian hidup terus berputar kan. " Gumam Intan menatap sekeliling dan berfikir tempat itu pasti dulu nya sangat populer dan terfavorit.