Dulu kopilot yang satu kokpit dengannya. Lalu istri siri yang dibuang dengan selembar talak. Tapi Anindya kembali—terbang lagi ke maskapai sang Kapten yang mencampakkannya, sambil menyimpan rahasia: dia pemilik Klub Enggar dan pewaris Grup Wicaksana. Ibunya dibunuh ibu tiri dan saudari tirinya. Amara cuma pramugari di kabin; hanya Anindya yang duduk di kokpit. Kini sang Kapten berlutut, menyesal… terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Bab 5
Dua Wajah Anindya
Anindya turun dari ojek online sambil memeluk helm pinjaman agar tidak jatuh.
“Mbak Nindya pulang malam lagi?” sapa seorang tetangga yang sedang menyiram tanaman dalam kaleng biskuit bekas.
“Baru selesai terbang, Bu.”
“Kerja yang kuat, ya. Perempuan kalau sudah tidak punya suami memang harus bisa mengurus diri.”
Nada perempuan itu terdengar prihatin. Namun, sebelum Anindya mencapai tangga kontrakan, suara bisikan sudah mengikuti punggungnya.
“Itu yang katanya ditalak orang kaya, kan?”
“Iya. Kasihan, sekarang tinggal sendirian.”
Anindya membuka pintu unitnya tanpa menoleh.
Kontrakan di Ciputat itu hanya memiliki satu kamar, ruang tamu sempit, dan dapur yang bisa disentuh dari meja makan. Kipas angin di langit-langit berbunyi setiap tiga putaran. Cat di dekat jendela mulai menggelembung karena lembap.
Ia bisa membeli seluruh deret unit itu tanpa memeriksa saldo. Namun, setiap malam ia turun dari ojek, membuka pintu sendiri, dan membiarkan tetangga mengenalnya sebagai perempuan yang kehilangan segalanya.
Ponselnya menampilkan dua puluh tiga pesan pekerjaan dari Klub Enggar. Anindya membalas tiga yang paling mendesak, lalu menyembunyikan aplikasi terenkripsi ketika seseorang mengetuk pintu.
“Kalau kamu belum makan, jangan salahkan aku kalau masuk paksa!” teriak Ratih.
Anindya membuka pintu. Sahabatnya berdiri dengan dua kotak makan dan tas kerja besar menggantung di bahu.
“Aku bawa ayam geprek. Sambalnya dipisah karena terakhir kali kamu sok kuat, terus sakit perut.”
“Itu fitnah.”
“Aku punya bukti chat.”
Ratih masuk, melepas sepatu, lalu langsung duduk di lantai beralas karpet tipis. Lima menit kemudian, kotak makan terbuka dan tas kerjanya tumpah di samping bantal sofa.
Lampu mendadak berkedip. Meteran listrik di dekat pintu berbunyi pendek.
“Tokenmu mau habis,” kata Ratih.
Anindya membuka aplikasi pembayaran biasa, bukan kartu hitam yang terhubung ke rekening Klub Enggar. Saldo dompet digitalnya sengaja ia batasi seperti gaji seorang kopilot yang baru pindah kerja.
“Aku isi seratus ribu dulu.”
“Seratus? Bulan depan tarif bisa naik.” Ratih mengambil ponsel dari tangannya dan memilih nominal dua ratus ribu. “Bedanya nanti aku bayar setelah gajian. Jangan sampai kulkas mati saat kamu sedang terbang.”
Anindya menatap layar pembayaran yang berhasil. Jumlah itu tak berarti bagi dirinya yang lain, tetapi kepedulian Ratih tidak bisa dibeli dengan rekening mana pun.
“Cicilan motor naik, kantor minta lembur, dan ibuku baru mengirim foto anak tetangga yang menikah bulan depan.” Ratih menyuap nasi dengan wajah muram. “Tiga serangan dalam satu hari. Hidupku lengkap.”
“Kamu bisa membalas foto tagihan cicilan ke grup keluarga.”
“Nah, ini baru ide bagus.” Ratih menunjuknya dengan sendok. “Tapi jangan alihkan topik. Kamu bagaimana?”
“Baik.”
“Jawaban orang yang jelas-jelas tidak baik.”
Ratih melirik seragam yang tergantung dekat jendela. Tiga garis di bahunya memantulkan cahaya lampu.
“Aku masih enggak percaya kamu benar-benar masuk ke Adiwijaya. Ketemu dia setiap jadwal terbang itu bukan move on, Nindya. Itu menyiksa diri dengan seragam keren.”
“Aku masuk karena pekerjaannya.”
“Dan karena kamu keras kepala.”
“Itu bonus.”
Ratih berhenti bercanda. “Kalau nikah siri kalian memang sudah selesai, jangan biarkan dia memanggilmu hanya saat dia merasa kehilangan. Kamu bukan barang yang bisa dikeluarkan dari apartemen, lalu dicari lagi ketika raknya terasa kosong.”
Anindya menatap sambal di sudut kotaknya. Ratih satu-satunya orang di luar lingkaran Arka yang tahu tentang akad rahasia mereka. Namun, Ratih tidak tahu siapa pemilik asli Klub Enggar. Ia mengira Anindya hanya sesekali membantu Enggar mengelola relasi bisnis untuk membayar latihan terbang.
Anindya belum sanggup menyatukan kedua dirinya di depan siapa pun. Perempuan yang pernah memohon dicintai Arka dan perempuan yang memberi perintah dari lantai teratas harus tetap tinggal di ruang berbeda.
“Aku tidak akan kembali hanya karena dia memanggil,” katanya.
“Bagus.” Ratih mendorong potongan ayam terakhir ke kotaknya. “Sekarang makan. Balas dendam boleh, maag jangan.”
Ponsel Ratih berbunyi. Wajah Amara muncul di layar melalui video infotainment yang sedang viral.
“Eh, bukannya ini apartemenmu dulu?”
Musik pesta mengalun dari video. Amara berdiri di ruang tamu SCBD dalam gaun putih, mengangkat gelas di depan para tamu. Di belakangnya, sofa abu-abu yang dipilih Anindya masih berada di tempat yang sama. Lampu meja yang pernah ia beli bersama Arka juga belum bergeser.
Keterangan video menyebut Amara sebagai calon nyonya Adiwijaya yang baru menempati rumah masa depannya.
“Cepat banget,” gumam Ratih. “Baru juga...”
“Tujuh belas hari.”
Anindya tidak tahu mengapa ia masih menghitung.
Video beralih pada foto Amara dan Arka. Amara bersandar di bahu pria itu, sementara Arka menatap kamera tanpa senyum. Kolom komentar bergerak cepat.
Cantik banget, cocok jadi pasangan konglomerat.
Kok buru-buru pindah sebelum akad?
Katanya apartemen itu bekas ditempati perempuan lain.
Ratih hendak mematikan layar, tetapi Anindya mengambil ponselnya sendiri. Ia memperbesar satu foto. Di belakang Amara, pin penerbang lama miliknya dipajang dalam bingkai kaca di rak.
Barang yang disebut aset perusahaan itu ternyata tidak kembali ke kantor.
Ia menekan nomor Sisi.
“Bos?”
“Mulai periksa seluruh dana atas nama Amara. Acara, sertifikat, rekening yayasan, semuanya.”
Anindya melirik Ratih. Sahabatnya sedang sibuk membereskan kotak makan dan hanya menangkap bagian akhir percakapan.
“Anggap saja pekerjaan konsultasi,” kata Anindya sebelum ditanya.
Ratih mendengus. “Konsultasi kamu selalu terdengar seperti mau menjatuhkan pemerintah.”
Di ujung telepon, jari Sisi terdengar mengetuk papan ketik.
“Kami sebenarnya sudah menemukan sesuatu, Bos.” Ia berhenti, tak seperti biasanya. “Tapi Anda mungkin tidak ingin mendengarnya sekarang.”