NovelToon NovelToon
Aktris Ceroboh Milik Sang Mafia

Aktris Ceroboh Milik Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Nadinachomilk

Laluna Roselyn memiliki karier yang sempurna sebagai aktris terkenal, sampai sebuah pengkhianatan menghancurkan hidupnya. Ia memergoki kekasihnya berselingkuh dengan asistennya sendiri. Dalam amarah yang tak terkendali, Laluna menyerang keduanya hingga kejadian itu terekam dan tersebar luas.

Dalam sekejap, citranya hancur. Dunia hiburan berbalik meninggalkannya, dan karier yang ia bangun bertahun-tahun berada di ujung kehancuran karena skandal tersebut.
Saat tidak memiliki pilihan lain, Laluna menerima perjodohan dari ibunya dengan Nathan Adikara, seorang pengusaha kaya yang terkenal dingin, kejam, dan sulit didekati.

Pernikahan mereka seharusnya hanya menjadi kesepakatan untuk menyelamatkan nama Laluna. Namun, hidup bersama Nathan membuatnya menemukan sisi lain dari pria itu. Di balik sikap dinginnya, Nathan ternyata adalah satu-satunya orang yang berdiri di sisinya ketika seluruh dunia menentangnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadinachomilk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35 Kesal

Rina menggelengkan kepalanya melihat tingkah Laluna. Ia sudah mengenal wanita itu cukup lama, sehingga bisa dengan mudah mengetahui kapan Laluna sedang berbohong.

"Jangan sok kuat di depanku. Wajah kamu itu sudah seperti orang yang baru ditinggal orang tersayang," goda Rina sambil menoel hidung mancung Laluna.

Laluna mendelik. "Berlebihan sekali. Nathan cuma pergi beberapa hari, bukan pergi selamanya. Dan aku tidak sedih."

"Iya, aku tahu. Tapi masalahnya, biasanya kalau Nathan pergi, kamu malah senang bukan main. Sekarang lihat wajahmu." Rina menunjuk wajah Laluna. "Seperti anak kecil yang kehilangan mainannya."

Laluna langsung memegang pipinya sendiri. "Separah itu?"

"Parah."

Laluna terdiam. Ia tidak bisa membantah ucapan Rina. Bahkan dirinya sendiri merasa aneh dengan perubahan perasaannya. Dulu, Nathan hanyalah pria asing yang tiba-tiba masuk ke dalam hidupnya. Pria yang terpaksa ia nikahi karena keadaan. Pria yang selalu membuatnya kesal karena sikap dinginnya.

Tapi sekarang tanpa sadar, Nathan menjadi seseorang yang selalu ia cari ketika pulang ke rumah. Ia buru buru menutupi wajahnya, ia malu jika Nathan tadi melihatnya sedih karena ditinggal pergi olehnya.

"Kamu mulai suka sama suamimu, ya?" tanya Rina, tiba tiba.

Pertanyaan itu membuat Laluna langsung membelalakkan matanya.

"Apa?! Jangan asal bicara!"

Rina tertawa kecil melihat reaksi berlebihan Laluna. "Kenapa panik? Aku cuma bertanya."

"Karena pertanyaan kamu itu tidak masuk akal. Aku dan Nathan hanya menikah kontrak."

"Kontrak?" Rina mengangkat alis. "Tapi dari yang aku lihat, kalian sudah seperti pasangan sungguhan."

Laluna terdiam. Ia tidak bisa menyangkalnya. Meski awalnya pernikahan itu hanya kesepakatan, hubungan mereka perlahan berubah. Nathan yang awalnya terasa begitu jauh, mulai menunjukkan sisi lain yang tidak pernah ia perlihatkan kepada orang lain.

Pria itu memang jarang mengatakan hal manis. Bahkan terkadang sikapnya masih menyebalkan. Tapi perhatian kecil Nathan selalu membuat Laluna sulit menganggapnya hanya sebagai suami kontrak.

"Aku cuma merasa rumah jadi lebih sepi karena terbiasa ada dia," jawab Laluna akhirnya. "Sudahlah cepat masuk ke apartemenku," ujarnya.

......

Nathan menatap ke arah Jordi yang tengah menyupir mobilnya. Ia mengambil rokok dan menyesapnya untuk menenangkan dirinya.

"Wanita itu sudah ditemukan?" tanyanya, dingin.

Jordi segera menatap ke kaca tengah. Melihat bosnya itu tengah menatapnya sambil menyesap rokok.

"Belum tuan, hanya saja saya menemukan asisten wanita itu. Kita akan menginterogasinya nanti," jelasnya.

Nathan hanya mengangguk, sudah beberapa tahun ia mencari wanita keji yang telah membunuh kakaknya itu. Namun, wanita itu selalu saja berhasil kabur dan menghilang dari pandangannya.

"Aku tidak mau wanita pembunuh itu berkeliaran di dekat keluargaku! Terutama Laluna. Walau pernikahan kita belum di publik, wanita itu pasti akan dengan mudah mengetahui Laluna," jelasnya.

Jordi terdiam mendengar ucapan Nathan. Ia tahu benar bagaimana kebencian pria itu terhadap wanita yang selama bertahun-tahun menjadi bayang-bayang dalam hidupnya.

Bagi orang lain, Nathan mungkin hanya dikenal sebagai pengusaha muda yang dingin dan tidak berperasaan. Namun Jordi tahu, di balik sikap itu ada luka besar yang tidak pernah benar-benar sembuh.

"Tuan, apa Anda yakin wanita itu masih mengincar keluarga Anda?" tanya Jordi hati-hati.

Nathan menatap keluar jendela mobil. Pemandangan jalanan yang terus bergerak tidak mampu mengalihkan pikirannya.

"Dia tidak pernah berhenti. Wanita itu tidak akan berhenti sebelum melihat kehancuran keluargaku. " Suara Nathan terdengar rendah. "Selama bertahun-tahun dia bersembunyi, bukan berarti dia menyerah. Dia hanya menunggu waktu yang tepat."

Jordi mengepalkan tangannya di atas kemudi. Wanita itu memang bukan orang biasa. Ia bukan hanya seseorang yang menghancurkan keluarga Nathan, tetapi juga seseorang yang mampu menghilang tanpa meninggalkan jejak.

"Kita sudah mencari keberadaannya selama bertahun-tahun, tapi dia selalu selangkah lebih maju dari kita," ujar Jordi.

Nathan menatap rokok di tangannya yang mulai habis.

"Itu salahku yang terlalu terlambat." Ada sedikit perubahan dalam suaranya. "Kalau saat itu aku lebih cepat menemukan kebenarannya, kakakku mungkin masih hidup."

Jordi terdiam. Ia tahu rasa bersalah itu selalu menghantui Nathan.

"Tuan..."

"Karena itu kali ini tidak boleh terjadi lagi." Nathan mematikan rokoknya dan menatap lurus ke depan. "Aku tidak peduli berapa lama waktu yang dibutuhkan. Aku akan menemukannya."

Mobil kembali berjalan dalam keheningan. Namun beberapa detik kemudian, ponsel Nathan berbunyi. Nama yang muncul di layar membuat ekspresi dinginnya sedikit berubah.

Laluna.

Jordi yang melihatnya dari kaca spion langsung tersenyum kecil. Nathan menatap layar ponselnya beberapa saat sebelum akhirnya mengangkat panggilan itu.

"Ada apa Luna?" tanyanya.

Laluna yang baru saja tiba di apartemen segera mendudukkan dirinya di sofa. "Maaf, aku baru membuka ponsel. Kamu sudah sampai kan?" tanyanya, basa basi.

Sebenarnya Laluna hanya rindu kehadiran pria itu. Tetapi karena gengsinya yang setinggi langit ia tidak berani mengakuinya. Nathan diam beberapa detik mendengar pertanyaan itu. Ia bisa merasakan nada suara Laluna yang berusaha terdengar biasa saja, padahal wanita itu tidak pandai menyembunyikan perasaannya.

"Saya sudah sampai," jawab Nathan akhirnya.

Laluna mengangguk kecil meskipun Nathan tidak bisa melihatnya.

"Oh... bagus kalau begitu."

Suasana berubah menjadi hening. Tidak ada satu pun dari mereka yang langsung berbicara lagi. Biasanya, percakapan mereka selalu dipenuhi dengan perdebatan kecil. Laluna yang cerewet akan mengomeli Nathan karena sikap dinginnya, sementara Nathan hanya menjawab singkat hingga membuat wanita itu semakin kesal.

Namun kali ini berbeda. Mereka sama-sama diam. Seolah keduanya sedang mencari alasan agar percakapan itu tidak segera berakhir.

"Kamu sudah makan?" tanya Nathan tiba-tiba.

Laluna segera mengangguk, "Aku sudah makan bersama Rina tadi. Kamu sudah makan?" tanyanya.

Namun pria itu tidak menjawab melainkan bunyi tuttt yang terdengar ditelinga Laluna. Laluna menatap ponselnya dengan wajah kesal

" Kenapa dia mematikan teleponnya, "gerutunya.

Wanita itu menyandarkan tubuhnya di sofa sambil menghela napas.

"Aku cuma ingin mengobrol sebentar. Kenapa dia langsung menutup telepon?"

Laluna mengambil bantal kecil di sampingnya lalu memeluknya erat. "Lihat saja, aku tidak akan menjawab teleponmu nanti," kesalnya sambil menunjuk nunjuk ke arah ponselnya.

Sedangkan Rina yang baru saja selesai membersihkan dirinya, menatap ke arah Laluna yang tengah cemberut.

"Kenapa kamu sudah cemberut?" tanyanya.

Laluna tidak menjawab, ia segera bangkit dengan kesal menuju ke arah kamar mandi. Rina yang melihat itu hanya mengernyit, ia segera meraih ponsel Laluna yang masih berada di atas meja.

"Maaf saya matikan teleponnya. Selamat malam Laluna. ."

Nama Nathan terpampang di notifikasi ponsel itu. Rina menggelengkan kepalanya sambil meletakkan kembali ponsel Laluna di atas meja.

"Padahal cuma masalah telepon dimatikan, tapi wajahnya seperti orang yang baru bertengkar besar," gumamnya.

Ia sudah lama mengenal Laluna. Wanita itu selalu terlihat percaya diri dan keras kepala di depan orang lain. Namun ketika menyangkut Nathan, sisi kekanak-kanakannya selalu muncul tanpa sadar. Rina berjalan menuju dapur sambil tersenyum kecil.

Di dalam kamar mandi, Laluna berdiri di depan cermin sambil mencuci wajahnya.

"Kenapa aku harus kesal hanya karena dia mematikan telepon?" Ia menatap bayangannya sendiri di cermin. "Dia memang seperti itu. Dingin. Tidak peka. Dan selalu melakukan sesuatu sesukanya."

1
Longzul Pak
sangat bagus menyentuh suka ceritabya
Sri Sulastri
ceritanya bagus .sngga bosan untuk membacanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!