NovelToon NovelToon
Di Ceraikan,Aku Bangkit Jadi Miliarder

Di Ceraikan,Aku Bangkit Jadi Miliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Fahmishodiq Abdullah

Kirana selalu dianggap istri yang "biasa saja" — tak pintar, tak berguna, hanya pantas mengurus rumah. Saat suaminya, Rangga, menceraikannya demi wanita lain di depan keluarga besar, semua orang mengira hidupnya akan hancur.
Mereka salah.
Di balik status "istri biasa" itu, Kirana menyimpan warisan yang selama ini tak pernah ia buka — dan kejeniusan bisnis yang selama ini ia pendam demi keluarga yang tak pernah menghargainya.
Kini, saat Rangga dan selingkuhannya mulai kehilangan segalanya, Kirana justru bangkit sebagai sosok yang tak seorang pun kenali. Pertanyaannya bukan lagi apakah ia akan kembali — tapi apakah Rangga pantas mendapatkan kesempatan kedua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fahmishodiq Abdullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

tawaran yang mencurigakan

Satu bulan sejak Roti Bu Darmi membuka cabang keduanya, kabar tentang "investor misterius" yang membantu UMKM kecil mulai menyebar dari mulut ke mulut di kalangan pengusaha setempat. Tidak banyak yang tahu wajahnya, tidak banyak yang tahu namanya lengkap—hanya inisial K. Broto yang tertera di beberapa dokumen kerja sama.

Justru karena misterius itulah, orang mulai penasaran.

Pagi itu, Kirana baru saja duduk di kursi tua ruko ketika Pak Hadi masuk dengan wajah tegang, memegang selembar surat.

"Ada tawaran," katanya, meletakkan surat itu di meja. "Dari PT Sentosa Abadi Grup. Mereka mau membeli saham kita di Roti Bu Darmi. Nilainya... lumayan besar untuk ukuran kita sekarang."

Kirana membaca surat itu perlahan. Angka yang ditawarkan memang menggiurkan—tiga kali lipat dari modal yang mereka keluarkan bulan lalu. Tapi ada sesuatu yang janggal.

"Kenapa perusahaan sebesar Sentosa Abadi tertarik sama toko roti rumahan yang baru dua bulan berkembang?" tanya Kirana, lebih pada dirinya sendiri daripada pada Pak Hadi.

"Mungkin mereka lihat potensinya," jawab Pak Hadi, meski nadanya juga terdengar ragu.

Kirana membuka laptopnya, mencari nama PT Sentosa Abadi Grup. Hasil pencarian menunjukkan perusahaan itu bergerak di bidang properti dan retail—dan salah satu nama direksinya membuat Kirana terdiam sesaat.

Rangga Wijaya, Direktur Pengembangan Bisnis.

Dadanya berdegup aneh. Bukan karena rindu, bukan karena sakit hati seperti dulu—tapi karena ia sadar, tawaran ini bukan kebetulan.

"Pak Hadi," katanya pelan, "coba cek, siapa yang pertama kali menghubungi kita soal tawaran ini?"

Pak Hadi memeriksa berkas. "Yang menghubungi lewat email adalah staf mereka. Tapi surat penawaran resminya ditandatangani langsung oleh salah satu direktur."

Kirana menunjuk nama di layar laptopnya. "Direktur ini."

Pak Hadi memicingkan mata membaca nama itu, lalu menatap Kirana. "Ini... suamimu?"

"Mantan," koreksi Kirana cepat. "Dan saya rasa dia tidak tahu bahwa K. Broto yang dimaksud di surat kerja sama kita, adalah saya."

Ada dua kemungkinan yang berputar di kepala Kirana. Pertama, Rangga benar-benar hanya melihat Roti Bu Darmi sebagai peluang bisnis biasa, tanpa tahu siapa di baliknya. Kedua—dan ini yang membuat Kirana lebih waspada—perusahaan besar seperti Sentosa Abadi punya kebiasaan membeli bisnis kecil yang sedang naik daun, bukan untuk mengembangkannya, tapi untuk menyingkirkannya sebagai pesaing sebelum sempat tumbuh terlalu besar.

"Kita tolak," kata Kirana akhirnya, tegas.

"Tiga kali lipat modal, Kirana," Pak Hadi mengingatkan, sedikit ragu dengan keputusan itu. "Itu keuntungan besar untuk perusahaan sekecil kita sekarang."

"Keuntungan sesaat," jawab Kirana. "Tapi kalau Bu Darmi kehilangan kendali atas usahanya sendiri, ujung-ujungnya biasanya sama: dikelola asal-asalan sampai akhirnya ditutup, atau resepnya diubah demi efisiensi biaya. Saya tidak mau itu terjadi ke orang yang percaya sama kita di awal."

Sore harinya, Kirana mengunjungi Bu Darmi langsung untuk membicarakan tawaran itu—bukan untuk mengambil keputusan sepihak, tapi karena ia percaya pemilik asli usaha itu berhak tahu dan ikut memutuskan.

Bu Darmi, perempuan berusia lima puluhan dengan tangan penuh bekas luka bakar dari puluhan tahun memanggang roti, mendengarkan penjelasan Kirana sambil sesekali mengangguk.

"Kalau saya jual sekarang," kata Bu Darmi pelan, "saya dapat uang banyak. Tapi resep almarhum suami saya... bakal jadi milik orang yang bahkan nggak kenal rasanya kayak apa yang bikin orang kembali lagi."

"Itu juga yang saya khawatirkan, Bu," jawab Kirana.

Bu Darmi menatap Kirana lama, lalu tersenyum kecil. "Sejak awal Ibu udah bilang ke tetangga-tetangga, Nak Kirana ini beda. Bukan cuma cari untung cepat."

Kirana merasa hangat di dadanya—perasaan yang sudah lama tidak ia rasakan sejak malam perceraian itu. Bukan validasi dari status atau keluarga besar, tapi kepercayaan sederhana dari seseorang yang usahanya baru saja ia bantu tumbuh.

"Kita tolak tawarannya, Bu," kata Kirana mantap. "Kita cari cara lain buat berkembang—yang lebih pelan, tapi tetap milik Ibu sepenuhnya."

Malam itu, sepulang dari rumah Bu Darmi, Kirana menyusun surat penolakan resmi atas nama PT Cahaya Abadi Investama, ditandatangani dengan nama K. Broto—tanpa embel-embel apa pun yang bisa mengarah ke identitas aslinya.

Sebelum mengirim email itu, matanya sempat berhenti lama di kolom penerima: alamat email kantor yang, ia tahu, kemungkinan besar akan dibaca oleh tim Rangga, mungkin bahkan Rangga sendiri.

Ada godaan kecil untuk menuliskan sesuatu yang lebih personal, sesuatu yang bisa membuat Rangga sadar siapa yang baru saja menolak tawarannya. Tapi Kirana menutup godaan itu secepat ia menyadarinya.

Belum waktunya, pikirnya. Biarkan mereka penasaran dulu, siapa "K. Broto" yang berani menolak tawaran sebesar itu.

Ia menekan tombol kirim.

Di sisi lain kota, di kantor PT Sentosa Abadi Grup yang berkilau lampu-lampu malam, Rangga menatap layar laptopnya dengan alis berkerut, membaca surat penolakan yang baru masuk.

"Siapa sebenarnya K. Broto ini?" gumamnya pada stafnya. "Berani sekali menolak tawaran kita."

Staf itu hanya mengangkat bahu. "Belum ada yang tahu identitas aslinya, Pak. Tapi katanya, dia yang bantu banyak UMKM kecil belakangan ini. Orang-orang bilang, sekali dia pegang bisnis, bisnis itu nggak pernah gagal."

Rangga bersandar di kursinya, menatap nama itu lama di layar—tanpa tahu, tanpa bisa membayangkan sedikit pun, bahwa nama yang baru saja membuatnya penasaran itu adalah wanita yang beberapa bulan lalu ia usir dari rumahnya sendiri.

1
Kumbang di taman
semangat selalu 😍
Fahmishodiq Abdullah: terimakasih atas kunjungannya
total 1 replies
Kumbang di taman
sukses selalu Author 👍
Adinda
toko utamanya Kirana atau dimas Dan alya,kalau bisa libatkan toko pemeran utamanya Dan tokoh yang jadi pendamping hidup Kirana,jadi ceritanya makin seru.
Fahmishodiq Abdullah: ok kak masukan saya terima kak,makasih atas masukan dan sarannya
total 1 replies
Detie Kurniawati
cerita yg tak aku pahami ahirnya??
Fahmishodiq Abdullah: terimakasih kak kritiknya,saya akan mencoba memperbaruhinya
total 2 replies
Heny
Hadir thor
Fahmishodiq Abdullah: makasih bang
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!