Planet 3212—planet sampah paling melarat.
Tri, bocah tujuh tahun, bertahan dari rongsokan—tapi ia menyimpan ingatan insinyur mecha dewa dari kehidupan sebelumnya. Kesalahan pendaftaran melemparkannya ke jurusan tempur paling brutal. Semua meremehkan bocah sampah ini—sampai ia menghancurkan lawan, rancangan "jelek"nya mengguncang forum maestro, dan kekuatan 3S-Agung yang terpendam mulai terkuak.
Diburu Kabut Hitam, dilindungi rival terkuatnya, Tri harus pilih: tunduk—atau bangkit menelan takhta bintang. Dari tumpukan sampah menuju singgasana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Bab 26 — Menonton dari Bawah
Tidak ada yang bercanda di lapangan utama.
Tri berdiri di barisan belakang, menatap layar raksasa.
Tidak, bahkan Hendra yang biasanya bisa menemukan bahan ejekan dari baut longgar pun diam.
Layar raksasa di lapangan utama Damokles menampilkan arena final Turnamen Agni tahun ini. Ribuan murid berdiri di bawah panas Pasira, bahu saling bersentuhan, seragam mereka berdebu, mata mereka tertancap pada satu tempat: lambang Damokles yang berkedip di sudut kiri bawah layar.
Peringkat sementara:
Akademi Kekaisaran: pertama.
Akademi Samuel: kedua.
Akademi Prajna: ketiga.
Akademi Nusa: keempat.
Akademi Damokles: kelima.
Lagi.
Kata itu tidak muncul di layar.
Tetapi semua orang mendengarnya.
Di layar, tim Damokles yang dipimpin Kunta Setiawan terjebak di celah bukit buatan. Lima puluh Mecha mereka tersisa kurang dari setengah. Di sisi kanan, Akademi Samuel menekan dengan formasi rapat. Di sisi kiri, unit Akademi Kekaisaran bergerak bersih, tidak terburu-buru, seperti mereka hanya menutup pintu yang memang sejak awal milik mereka.
Tri melihat Kunta.
Mecha komando Damokles itu sudah kehilangan pelindung bahu. Satu kaki pincang. Tetapi ia masih berdiri di depan bendera terakhir, menahan dua serangan sekaligus. Gerakannya tidak indah. Terlalu lurus. Terlalu keras. Namun setiap kali ia mundur, orang di belakangnya masih punya satu detik untuk bernapas.
“Dia sudah tiga tahun jadi kapten,” kata Hendra pelan.
“Kunta?”
“Ya. Setiap tahun kalah seperti ini. Setiap tahun tetap berdiri paling akhir.”
Rakha di sisi lain menggenggam botol nutrisi sampai plastiknya penyok. “Samuel sengaja membuka jalur ke kanan.”
Tri mengangguk. “Umpan.”
Di layar, satu skuad Damokles tergoda oleh celah kanan. Mereka baru bergerak dua puluh meter ketika tembakan silang dari Samuel dan Kekaisaran menutup seperti rahang. Tiga Mecha tumbang. Petugas penyelamat memasuki arena dengan cepat, menarik pilot keluar sebelum sistem saraf mereka terkena beban berlebih.
Suara komentator menggema di seluruh lapangan.
“Akademi Damokles kembali kehilangan unit sayap kanan. Kapten Kunta Setiawan kini menjadi target keenam yang terus diburu dua akademi.”
“Target keenam?” bisik seorang murid baru.
Pak Mahar yang berdiri di depan tidak menoleh, tetapi suaranya terdengar jelas. “Dalam Turnamen Agni, setelah lima struktur utama tim, kapten adalah sasaran prioritas berikutnya. Jatuhkan kapten, tim kehilangan tulang.”
Tri menatap layar.
Jadi ini bukan sekadar duel.
Ini bukan Bengkel Hitam yang berisik, satu lawan satu, menang dengan membongkar lawan sampai penonton meledak.
Ini ratusan orang, satu peta, sumber daya terbatas, bendera, waktu, Komandan, Prajurit, Empu, dan keputusan yang membuat orang lain hidup atau keluar arena.
Hendra melihat lebih dalam daripada yang lain.
Tri tahu dari cara mata Hendra tidak mengikuti ledakan. Ia mengikuti garis tak terlihat antara unit-unit Damokles yang tersisa. Daya Indra Komandan utama di layar digambarkan sebagai garis biru tipis, menghubungkan Prajurit yang masih bisa bergerak.
Garis itu pecah-pecah.
Komandan Damokles kelelahan.
Di sisi lain, garis emas Akademi Kekaisaran tetap bersih.
“Komandan mereka kuat,” kata Hendra.
Tidak ada nada iri.
Ada lapar.
Di layar, kamera berpindah ke pusat formasi Kekaisaran.
Seorang gadis berambut hitam berdiri di platform komando Mecha pertahanan berwarna emas pucat. Wajahnya tidak terlihat jelas karena helm taktis, tetapi tubuhnya diam di tengah badai seperti poros yang tidak bisa digeser. Di sekelilingnya, garis emas Daya Indra menyebar ke dua ratus unit lebih, tipis, rapi, tidak saling memakan.
Komentator merendahkan suara.
“Api Kekaisaran kembali menahan garis komando penuh. Selama Nona Adiwangsa tetap berdiri, Akademi Kekaisaran tidak kehilangan pusat.”
Tri menyipit.
Nona Adiwangsa.
Api Kekaisaran.
Gadis berambut hitam itu tidak menoleh ke kamera. Ia hanya mengangkat tangan sedikit. Unit berat Kekaisaran bergerak ke kiri. Unit ringan menutup celah. Satu perintah tanpa suara membuat seluruh peta berubah.
Terlalu bersih.
Terlalu dingin.
Untuk sesaat, Tri teringat lantai beton basah darah di Planet 3212.
Seorang gadis berambut hitam mengambil Kristal Kelabu, berkata selesai, lalu pergi tanpa menoleh.
Bayangan itu tidak punya wajah penuh.
Tetapi punggungnya...
Tri menatap layar lebih tajam.
Hendra meliriknya. “Apa?”
“Tidak apa-apa.”
Di layar, Kunta akhirnya membuat keputusan terakhir.
Ia tidak mundur ke bendera.
Ia maju.
Mecha pincangnya menerjang unit Samuel yang mencoba memotong garis evakuasi. Gerakan itu membuat celah kecil. Tiga murid Damokles yang tersisa berlari membawa bendera cadangan, mengejar satu poin terakhir sebelum keluar.
Kunta menerima serangan dari depan.
Satu tombak Samuel menusuk bahu.
Tembakan Kekaisaran menghancurkan pelindung kakinya.
Ia tetap memukul balik.
Lapangan Damokles di dunia nyata mulai bersuara.
Tidak keras.
Hanya gumaman yang naik dari dada ribuan murid.
“Kapten.”
“Kapten Kunta.”
Di layar, Kunta menjatuhkan satu Mecha Samuel sebelum tubuhnya akhirnya terkunci. Sistem arena menyala merah.
Kapten Tim Damokles tereliminasi.
Petugas penyelamat masuk.
Poin terakhir Damokles berhenti.
Peringkat tidak berubah.
Kelima.
Lagi.
Tidak ada yang bergerak ketika layar menampilkan perayaan Akademi Kekaisaran. Lambang emas mereka naik ke puncak. Akademi Samuel berdiri di tempat kedua dengan wajah puas yang membuat banyak murid Damokles mengepalkan tangan.
Mayor Bara berdiri di sisi lapangan, diam.
Pak Mahar menatap layar tanpa ekspresi.
Kepala akademi, seorang pria tua dengan rambut putih yang ditata rapi, akhirnya berbicara lewat pengeras lapangan.
“Kalian sudah melihatnya.”
Tidak ada jawaban.
“Damokles bukan kurang keras. Kita keras. Kunta Setiawan keras. Para senior kalian keras. Tapi keras saja tidak cukup.”
Tri menurunkan pandangan ke tangannya.
Tangan yang bisa membongkar Mecha satu lawan satu.
Di layar barusan, tangan seperti itu hanya satu bagian kecil dari mesin perang ratusan orang.
Kepala akademi melanjutkan, “Tahun depan, angkatan baru naik. Kita butuh Komandan yang bisa menyatukan tulang yang patah. Kita butuh Prajurit yang tidak hanya berani, tapi tahu kapan menahan dan kapan menebas. Kita butuh Empu yang membuat mesin kita tidak kalah sebelum bertarung.”
Pak Mahar tiba-tiba menoleh ke arah barisan Tri.
Pak Cakra juga.
Hendra tidak menghindar dari tatapan siapa pun.
Rakha menatap layar dengan wajah pucat oleh marah teknis.
Tri melihat semua itu dan memahami satu hal.
Mereka tidak dipanggil untuk menonton kekalahan.
Mereka dipanggil untuk menerima utang.
Utang yang lebih besar daripada 7.000 kredit Pak Ilyas.
Lebih berat daripada pinjaman Damokles.
Utang nama akademi yang sudah terlalu lama diinjak.
“Kandidat awal akan dipanggil minggu depan,” kata kepala akademi. “Hendra Gunawan, jalur Komandan. Tri, jalur Petembak. Rakha Adiwangsa, jalur Empu. Nama lain menyusul sesuai evaluasi.”
Kerumunan bergerak.
Nama mereka disebut di depan semua orang.
Hendra menghela napas pelan. “Tidak ada jalan mundur.”
Tri menatap layar, tempat punggung gadis berambut hitam masih berdiri di bawah hujan konfeti emas.
“Ada,” katanya.
Hendra menoleh.
Tri memasukkan tangan ke saku, menyentuh ujung Kom barunya.
“Tapi mundur tidak bayar utang.”
Rakha tertawa kecil, dingin. “Aku ingin membongkar Mecha Kekaisaran itu.”
“Antre,” kata Tri.
Di layar, komentator menyebut nama juara sekali lagi.
“Akademi Kekaisaran, dipimpin oleh Api Kekaisaran, Nona Anindya Adiwangsa, kembali menjadi puncak Turnamen Agni.”
Nama itu akhirnya muncul utuh.
Anindya Adiwangsa.
Tri mengulangnya dalam hati.
Ia belum tahu apakah punggung itu benar milik gadis di gedung tua tujuh tahun lalu.
Tetapi rasa dingin yang sama bergerak di tulang belakangnya.
Di layar, sang juara tidak menoleh ke kamera.
Sama seperti dulu.
Tri menatap punggung itu sampai layar padam.
“Suatu hari,” gumamnya, hanya cukup didengar Hendra dan Rakha, “dia akan menoleh.”