NovelToon NovelToon
Pewaris Rahasia

Pewaris Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Anak Genius
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Ika Dw

Kecelakaan itu telah membuat Ayuna harus kehilangan ingatannya. Mirisnya dia harus hidup terpisah dari orang tua kandungnya. Dia dibesarkan oleh orang tua angkat dengan penuh tekanan. Suatu hari dia terlibat skandal dengan pria asing hingga membuatnya melahirkan dua bocah kembar.

Perseteruannya dengan orang tua angkat membuatnya tak betah dan memutuskan untuk pergi dan hidup bertiga dengan anaknya.

Mampukah Ayuna hidup dalam kekurangan dengan menafkahi kedua anaknya?

Siapa kira-kira pria yang seharusnya bertanggung jawab atas kelahiran dua bocah kembar tersebut?

Yuk, ikuti kisahnya ekslusif di Noveltoon.

Follow Instagram me: Ika Novelis
Facebook:Ika Dwi Indrawati, Ika Dw (Author)

Tiktok: ikaindrawati73, penulis.novel76

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Dw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13. Dibuat Emosi

"Mama! Kok Mama ada di sini? Sejak kapan Mama datang?"

Erlangga terkejut ketika membuka ruang kerjanya. Dia mendapati ibunya tengah duduk sembari membaca laporan yang ada di meja kerjanya.

"Mama cuma ingin memastikan kalau kamu benar-benar ada di kantor," celetuk Hana dengan menolehnya sekilas.

Erlangga masuk dan menutup pintunya kembali. Dia bergabung dengan menghenyakkan panggulnya di kursi kerjanya.

"Mama pikir aku lagi main-main di luar begitu?" Erlangga  mendengus. "Lagian sejak kapan mama khawatir padaku?"

Hana mendelik. "Kalau aku tidak khawatir padamu tentu aku tidak akan mau tahu dengan kehidupanmu," desisnya. "Kamu memang sudah mandiri, bisa cari uang sendiri, tapi masa depanmu masih suram. Sampai kapan begini terus Erlangga!"

Pria itu diam tak bergeming. Sudah bisa ditebak, kehadiran ibunya hanya ingin mengusik ketenangannya.

"Kenapa diam?" tanya Hana. "Usahakan secepatnya kamu luangin waktu buat menemui Laras Wijaya. Kita sudah memiliki kesepakatan untuk menjalin kerjasama dengan menikahkan kalian. Jangan sampai keluarga Wijaya marah karena ulahmu!"

Lagi-lagi Laras Wijaya disebut dan itu membuatnya muak. "Sejak kapan aku setuju menikah dengan Laras Wijaya," bantah Erlangga. "Aku hanya setuju menikah dengan Luna Wijaya, bukan Laras Wijaya," makinya.

"Tapi Luna Wijaya sudah mati, Erlangga! Dia tidak akan kembali lagi! Sebagai gantinya kamu harus menikahi Laras Wijaya!"

Erlangga menggeleng. "Konyol! Demi kerjasama kalian ingin menghancurkan perasaanku," serunya. "Perlu Mama ketahui saja, Laras Wijaya itu hanya anak angkat keluarga Wijaya, bukan anak kandungnya. Jadi tolong jangan terobsesi dengan perjodohan yang tidak saling menguntungkan!"

Hana terdiam, tapi ia masih takut hubungannya dengan keluarga Wijaya renggang karena batal perjodohan, selebihnya lagi Wijaya dan keluarganya pasti bakalan kecewa.

"Menurutmu kalau perjodohan ini batal, mungkinkah keluarga Wijaya masih mau bekerjasama dengan perusahaan kita?" Tatapan sayu seorang ibu mengisyaratkan agar putranya tak mengambil keputusan sendiri. Selama ini perusahaannya maju karena adanya campur tangan Wijaya group. Jika sampai perjodohan itu batal otomatis Wijaya group akan mundur dan tak lagi memiliki kepedulian terhadapnya.

"Erlangga, kali ini mama mohon sama kamu, jangan buat hidup kita hancur gara-gara keegoisanmu," cicit Hana. "Aku tahu kamu tidak setuju menikah dengan Laras Wijaya, tapi setidaknya kamu jalani dulu perjodohan ini. Urusan perasaan bisa dipikirkan nanti."

Erlangga meraup wajahnya kasar. Entah dengan cara apa ia bisa membuat ibunya sadar bahwa apa yang dilakukannya sebuah kesalahan. Dulu ia memang menerima perjodohan itu karena dari kecil sudah dekat dengan putri Wijaya, tapi setelah wanita itu hilang, ia tidak memiliki niatan untuk menikah dengan siapapun.

"Mama enak ngomong kayak gitu! Perasaan dipikir belakangan," desis Erlangga. "Sekarang aku tanya sama Mama! Dulu Mama menikah dengan Papa itu karena apa? Saling cinta atau perjodohan?"

Hana diam tak menjawab. Dia masih ingat betul bagaimana kondisinya waktu itu, lari dari perjodohan dan menikah dengan pria pilihannya sendiri.

"Aku rasa mama pernah muda," cicitnya. "Mama juga pernah merasakan jatuh cinta. Seharusnya Mama bisa menghormati keputusanku!"

"Erlangga! Jangan keterlaluan kamu! Dunia kita berbeda. Kita ini pebisnis, jangan samakan dengan kehidupan Mama sebelumnya, kamu nggak bakalan mengerti."

Erlangga mengibaskan tangannya geram. "Halah! Nggak usah terlalu over ma! Dulu sekarang apa bedanya! Jangan karena dulu Mama bukan anak pebisnis bisa berpikir seperti itu. Aku punya kehidupan sendiri, aku hanya akan menikah dengan Luna, atau setidaknya bukan Laras."

Seketika Hana teringat dengan seseorang, wanita yang menyerupai Luna Wijaya, dan sekarang ada di kantor putranya.

"Oh..., aku tahu alasan kamu menolak untuk menikahi Laras Wijaya, pasti ini ada hubungannya dengan wanita itu!"

Erlangga menyipitkan matanya. "Wanita mana yang mama maksud?"

"Itu, wanita yang memiliki kemiripan dengan Luna Wijaya, dia karyawan di sini."

Erlangga mengatupkan bibirnya dengan menggumam, 'apa mungkin Mama sudah bertemu dengan Ayuna?'

"Iya kan, kamu nggak mau nikah sama Laras karena ada perempuan yang memiliki kemiripan dengan Luna Wijaya kan? Ayo ngaku!"

Hana beranjak dari tempat duduknya dan langsung disemprot oleh Erlangga.

"Ma, tolong jangan terlalu ikut campur urusan pribadiku! Ini nggak ada kaitannya sama dia," bantah Erlangga.

Wanita tua itu terkekeh. "Hehe..., nggak ada kaitannya sama dia?" Perlahan wanita itu melangkah mengitari meja kerja Erlangga.

"Lalu karena apa?"

Erlangga diam dengan mengedarkan pandangannya ke arah sudut ruangan  yang berisi dokumen yang memenuhi lemari.

"Jangan karena dia memiliki kemiripan dengan Luna kau menaruh perhatian padanya. Dia itu hanya seorang ibu dengan memiliki dua anak, sangat tidak sebanding denganmu!"

Tangan Erlangga mengepal. Entah kenapa dengan ibunya yang terang-terangan menyinggung Ayuna membuatnya kehilangan kesabaran.

"Terus kalau aku menikah dengan Laras menurut Mama sebanding begitu," sungut Erlangga. "Laras itu hadir setelah Luna pergi. Dia bukan keturunan keluarga Wijaya. Dia ada di antara mereka bukan sebagai pewaris, tapi sebagai anak pungut."

Hana menarik nafasnya dengan memelototinya. "Kau ini selalu saja membantah," omelnya. "Biarpun Laras bukan keturunan keluarga Wijaya tapi dia menjadi putri satu-satunya mereka, otomatis dia memiliki kekuasaan yang sama seperti Luna Wijaya."

Begitu percaya dirinya sang ibu yang keukeh ingin menjodohkannya dengan putri Wijaya, tapi tanpa rasa peduli ia juga keukeh menolaknya. Ia tak ingin bermain-main dengan api yang menyala, karena cepat atau lambat akan terbakar juga.

"Aku rasa Om Wijaya tidak sepenuhnya meratukan Laras. Dia memang tinggal di kediaman keluarga Wijaya, tapi bukan sebagai hak warisnya, dan maaf ..., aku sama sekali tidak tertarik!"

Hana mendengus dengan menunjukkan muka masamnya. "Lalu sampai kapan kamu akan sendiri terus? Mama ini sudah tua, Angga! Mama ingin punya cucu. Kalau kamu nggak mau menikah siapa yang akan mewarisi kekayaan kita?!"

"Sudahlah ma! Jangan bahas cucu terus! Aku masih belum ada minat buat menikah. Kalau Mama masih ngotot ingin punya cucu lebih baik suruh Sera menikah, jangan mendesakku buat menikah," cerocos Erlangga. "Kedatangan Mama di sini hanya buat kerusuhan. Mendingan mama pulang aja, tidur di rumah biar tensinya normal."

Hana yang tak bisa  mengendalikan emosinya memutuskan untuk segera pergi. Percuma, kedatangannya berniat baik untuk membujuk namun ditolak mentah-mentah.

"Dasar anak tidak tahu diri! Tidak  bisa diatur! Bikin jengkel orang tua saja!"

Setibanya di lobi Hana kembali bertemu dengan Sofyan. Merasa pria itu lumayan dekat dengan putranya, ia berniat untuk meminta bantuan darinya.

"Hei kamu...!"

"Hah? Saya nyonya?" tanya Sofyan dengan menoleh ke sekelilingnya yang tidak didapati siapapun.

"Ya iya kamu, memangnya siapa lagi," cicit Hana.

"I—iya nyonya." Pria itu bergerak  cepat menghampirinya. "Ada apa nyonya?"

"Kamu kan orang yang paling dekat dengan Erlangga. Tolong bujuk dia untuk segera menikah."

Sofyan membulatkan matanya. "A—apa? Mana berani saya nyonya?"

"Terus tugasmu itu apa? Kamu itu asisten sekaligus penasehatnya. Kalau kamu nggak bisa bujuk dia lebih baik pergi saja dari kehidupannya. Nggak guna banget jadi orang!"

Sofyan terdiam dengan menggaruk kepalanya. 'dasar aneh, situ yang punya anak kok orang lain yang disuruh untuk menasehati. Lalu apa gunanya jadi orang tua?'

1
Rohmi Yatun
sukaaa cerita nya. sat set.. tdk bertele2 👍.. lanjut thor
Rohmi Yatun
cerita yang menarik 👍
Rohmi Yatun
masih teka teki ni.. 🤔sebenarnya apa yg terjadi di masa lalu
Rohmi Yatun
mampir Thor.. sepertinya cerita nya menarik ni.. 👍
Ika Dw: terimakasih kak... 🫰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!