Yolanda Liem baru 23 tahun ketika menjadi janda.
Suaminya—Kevin Liem, putra sulung keluarga konglomerat Liem—meninggal karena sakit setelah lima tahun pernikahan tanpa cinta (dan tanpa konsumasi). Yola memilih tetap tinggal di mansion keluarga, mengurus rumah tangga, dan menjalani masa berkabung dengan tenang.
Sampai Rayhan Liem kembali.
Adik iparnya. CEO Liem Group. Pria paling dingin dan berbahaya di Jakarta.
Rayhan menatapnya bukan seperti kakak ipar. Tatapannya gelap, posesif, dan penuh rahasia. "Sejak kapan kau melihatku seperti itu?" tanya Yola dengan suara gemetar. Rayhan tidak menjawab. Dia hanya tersenyum — senyum yang membuat Yola ingin berlari.
Dan Yola memang berlari. Dua kali.
Tapi Rayhan selalu menangkapnya kembali.
Di antara ciuman paksa dan pengorbanan diam-diam, di antara luka pisau yang ditanggung demi Yola dan rahasia yang tak pernah ia ucapkan — Yola mulai mempertanyakan segalanya.
Apakah ini obsesi? Atau cinta yang sudah terlalu lama ditahan?
Ketika akhirnya ia berdiri di depan nisan Kevin dan berkata, "Aku sudah jatuh cinta pada orang lain" — apakah dunia akan memaafkannya?
⚠️ Peringatan: Mengandung adegan dewasa (steamy), hubungan possessive, dan grey-area consent di beberapa chapter. HE guaranteed.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
Bab 004
Nyonya Rumah
Pintu mobil dibuka, tetapi Yola tidak langsung turun.
Kotak buku Kevin masih berada di pangkuannya. Dari balik kaca, Liem Mansion terlihat terlalu rapi untuk sebuah rumah yang baru akan dihuni. Tangga marmernya bersih tanpa noda, pot bonsai di kiri kanan pintu dipangkas dengan bentuk sempurna, dan para staf berdiri lurus seperti sudah berlatih sejak subuh.
Sari mendekat ke pintu mobil. "Nona?"
Yola menarik napas, lalu turun sambil tetap memegang kotak itu.
Begitu kakinya menyentuh halaman, semua mata beralih kepadanya. Bukan kepada Mama Liem yang baru turun dari mobil tengah. Bukan kepada Denny yang turun sambil memasang wajah masam. Kepada Yola, janda Kevin yang membawa satu kotak kenangan ke rumah yang dikuasai Rayhan.
Yola menunduk sekilas kepada staf. "Selamat pagi."
Para staf membalas serempak, "Selamat pagi, Nona Yola."
Rayhan berdiri di puncak tangga. Ia tidak menyambut. Tidak memberi penjelasan. Ia hanya menatap dari atas, seolah sudah menempatkan semua orang pada posisinya masing-masing.
Mama Liem menyentuh lengan Yola. "Nak, kotaknya biar dibawa staf."
"Tidak apa-apa, Mama. Saya bawa sendiri sampai ruang memorial."
"Kamu belum makan sejak pagi."
"Nanti setelah barang Kevin tertata."
Mama Liem menatapnya lama. Ada lelah di wajahnya, tetapi juga kepercayaan yang selama lima tahun tidak pernah berubah.
"Kalau begitu, Mama ikut."
Rayhan turun satu anak tangga. "Mama istirahat dulu."
Mama Liem menoleh. "Rayhan, ini rumah baru untuk Yola juga. Dia perlu tahu ruangan memorial Kevin."
"Aku sudah siapkan."
"Menyiapkan ruangan tidak sama dengan menenangkan hati orang yang harus tinggal di dalamnya."
Sunyi sesaat.
Denny yang berada di bawah tangga pura-pura batuk. Sari menunduk dalam-dalam. Pak Wahyu memegang daftar barang lebih erat.
Rayhan menatap ibunya. Suaranya tetap rendah. "Mama belum sarapan."
"Dan kamu belum belajar bicara lebih halus." Mama Liem lalu menggandeng tangan Yola. "Ayo, Nak."
Yola mengikuti Mama Liem masuk.
Interior mansion lebih dingin daripada rumah lama. Langit-langit tinggi, lampu gantung kristal, lantai marmer krem, dinding dengan lukisan tua keluarga Liem. Semua indah. Semua mahal. Namun langkah Yola menggema terlalu jelas, seolah rumah itu memperbesar setiap gerak kecilnya.
Pak Wahyu berjalan di samping mereka. "Ruang memorial sementara di sayap timur, Nyonya. Dekat taman dalam. Pak Rayhan meminta suhu ruangan dijaga stabil untuk buku dan foto lama."
Yola menoleh tanpa sadar.
Rayhan sudah tidak ada di belakang mereka.
Namun instruksinya ada di mana-mana.
Sayap timur ternyata lebih tenang. Ruangan yang disiapkan tidak sebesar ruang memorial lama, tetapi jendelanya menghadap taman kecil dengan kolam batu. Meja altar baru sudah terpasang, bersih, dengan kain putih dan vas kosong.
Yola meletakkan kotak buku Kevin di atas meja samping. Tangannya bergerak otomatis: foto di tengah, buku puisi di sisi kanan, catatan obat di laci kecil, lilin di depan.
Sari membantu membuka pembungkus bingkai. "Nona, vasnya mau diisi bunga apa?"
Yola menatap vas kosong itu.
Di rumah lama, ia biasa memakai bunga putih kecil dari halaman belakang. Di sini, taman terlalu rapi dan asing.
"Pear blossom kalau ada," jawabnya. "Kalau tidak ada, melati putih saja."
Pak Wahyu mencatat. "Baik, Nona."
Mama Liem duduk di kursi dekat jendela. Wajahnya tiba-tiba pucat.
"Mama?" Yola segera mendekat. "Pusing?"
"Sedikit. Mungkin karena buru-buru."
Yola menoleh kepada Sari. "Tolong minta dapur siapkan teh hangat tanpa terlalu banyak gula. Pak Wahyu, apakah jamu pagi Mama ikut dibawa di mobil staf?"
Pak Wahyu melihat tabletnya. "Masih di kardus dapur, Nona."
"Minta dibuka dulu. Jangan tunggu semua barang selesai. Mama harus minum sebelum makan."
"Baik, Nona."
Perintah itu keluar tenang, tanpa meninggikan suara. Namun tiga staf yang berada di pintu langsung bergerak.
Mama Liem memperhatikan Yola dengan mata lembut. "Kamu baru datang, sudah mengurus Mama."
"Mama yang belum sarapan."
"Kamu juga."
"Saya masih kuat."
"Kamu selalu bilang begitu."
Yola tersenyum kecil, lalu mengambil bantal kecil dari kursi lain dan meletakkannya di belakang punggung Mama Liem. "Mama duduk dulu. Setelah jamu, baru sarapan."
"Bagaimana dengan barang-barang?"
"Saya atur."
Yola tidak sadar betapa natural kalimat itu terdengar sampai Pak Wahyu menatapnya dengan lega.
Di rumah lama, Yola memang sering membantu mengatur kebutuhan Mama Liem. Jadwal obat, menu makan, bunga memorial, daftar staf yang harus libur, bahkan stok teh kesukaan Denny. Awalnya ia melakukannya karena ingin berguna di rumah suaminya yang sakit. Setelah Kevin meninggal, pekerjaan kecil itu menjadi cara agar ia tidak tenggelam di kamar sendiri.
Sekarang, di mansion sebesar ini, kebiasaan itu berubah menjadi sesuatu yang lebih besar.
"Pak Wahyu," kata Yola sambil melihat daftar barang di tablet. "Dapur aktif dulu. Kamar Mama dan kamar Denny prioritas. Kamar saya belakangan saja. Untuk staf, pastikan yang ikut dari rumah lama ditempatkan dekat area kerja yang mereka kenal. Jangan semuanya diubah sekaligus."
Pak Wahyu mengangguk cepat. "Baik, Nona Yola."
"Sari, setelah bunga datang, bantu saya bersihkan rak buku. Buku Kevin jangan terkena lembap."
"Iya, Nona."
"Untuk makan siang, jangan terlalu berat. Mama perlu yang hangat. Ayam tim atau sup bening. Denny pasti belum makan, tambahkan mi goreng sedikit kalau dapur sempat."
Suara langkah berhenti di depan pintu.
Yola menoleh.
Rayhan berdiri di sana.
Tidak ada yang tahu sejak kapan ia mendengar.
Pak Wahyu segera menunduk. "Pak."
Rayhan tidak menjawab. Matanya tertuju pada Yola, lalu berpindah ke Mama Liem yang sudah duduk lebih nyaman dengan bantal di punggungnya, kemudian ke staf yang bergerak lebih tertib dari beberapa menit lalu.
"Semua lancar?" tanyanya.
Pertanyaan itu ditujukan kepada Pak Wahyu, tetapi Yola yang menjawab.
"Belum. Dapur belum aktif penuh, jamu Mama masih di kardus, dan kamar staf belum dibagi jelas. Tapi satu jam lagi bisa stabil."
Pak Wahyu menahan napas.
Sari mematung.
Yola baru sadar ia baru saja menjawab Rayhan seperti sedang memberi laporan rumah tangga, bukan seperti perempuan yang semalam diancam di ruang memorial.
Rayhan menatapnya lama.
"Satu jam?"
"Kalau tidak ada instruksi mendadak lagi," jawab Yola.
Dari kursi, Mama Liem menutup senyum dengan ujung jarinya.
Untuk pertama kalinya sejak pulang, Rayhan tampak kehabisan satu kata.
Namun hanya sebentar.
"Kalau butuh sesuatu, minta Ardi."
"Saya akan minta Pak Wahyu."
Tatapan mereka bertemu.
Rayhan tidak tersenyum. Tetapi sesuatu di matanya bergerak, tipis dan asing.
Yola menunduk lebih dulu. "Permisi, saya harus cek dapur."
Ia melewati Rayhan tanpa menyentuhnya, diikuti Sari dan Pak Wahyu.
Rayhan tetap berdiri di depan ruang memorial sampai langkah Yola menghilang di ujung koridor.
Ardi yang muncul di belakangnya menunggu instruksi.
Beberapa detik lewat.
"Pak?" panggil Ardi hati-hati.
Rayhan baru berkedip.
Ia bahkan tidak sadar sejak tadi matanya mengikuti Yola.
up lagi, Author. banyak-banyak!😅