NovelToon NovelToon
Malam Itu, Aku Tidur dengan Dosenku

Malam Itu, Aku Tidur dengan Dosenku

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Dosen / CEO
Popularitas:176
Nilai: 5
Nama Author: Vyrkon

Mabuk semalam di Singapura, Kirana menghabiskan malam terpanasnya dengan pria asing paling memukau yang pernah ia temui—lalu kabur subuh, meninggalkan selembar uang di nakas seolah pria itu cuma "bayaran satu malam".

Ia bersumpah takkan pernah bertemu lelaki itu lagi.

Sampai pagi harinya, pria itu berdiri di depan kelas sebagai **dosen pengganti** mata kuliah keuangannya. Prof. Arya Danuwangsa. Delapan tahun lebih tua, dingin, menyeringai seolah tahu persis apa yang mereka lakukan semalam.

*"Sepertinya malam itu kamu cukup puas, ya?"*

Astaga. Kirana baru saja tidur dengan dosennya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27

Bab 37: Fajar Menyerah

Fajar menunggu Kirana di depan gedung utama dengan buket bunga matahari.

Ia tidak datang diam-diam. Teman-teman basket berdiri beberapa meter di belakang, mahasiswa yang lewat mulai berhenti, dan seseorang sudah membuka kamera sebelum Fajar memanggil nama Kirana.

Winda mendesah. “Ini akan masuk forum lagi.”

“Aku harus menyelesaikannya.”

Kirana berjalan mendekat. Fajar mengenakan jaket tim kampus dan senyum yang terlalu tenang untuk orang yang hendak mengambil risiko terakhir.

“Boleh bicara?” tanyanya.

“Di sini?”

“Supaya tidak ada salah paham.”

Ia menyerahkan bunga, tetapi Kirana tidak langsung menerima.

“Aku sudah pernah bilang perasaanku setelah pentas,” lanjut Fajar. “Waktu itu aku mundur karena tahu matamu memilih orang lain. Tapi rumor pacar misterius membuat semua orang bertanya, dan aku tidak mau terus menyimpan satu kemungkinan.”

Kerumunan bertambah. Winda meminta orang-orang tidak menghalangi pintu, tetapi tidak menghentikan percakapan.

Fajar menarik napas. “Kirana, aku suka kamu. Kalau masih ada ruang, beri aku kesempatan untuk mengenalmu sebagai pasangan.”

Ia tidak berlutut atau membuat pertunjukan berlebihan. Buket di tangannya sederhana, berisi bunga matahari yang pernah Kirana sebut sebagai bunga kesukaan saat rapat teater. Fajar mengingat detail itu sejak semester sebelumnya.

“Aku tahu caraku mungkin terlambat,” katanya. “Dulu aku pikir menjaga jarak akan membuatmu nyaman. Ketika akhirnya berani mendekat, sudah ada orang lain.”

Salah satu teman basket berseru agar Kirana menerima. Fajar langsung menoleh. “Jangan tekan dia. Jawaban apa pun harus dihormati.”

Kerumunan menjadi lebih tenang. Sikap itu membuat keputusan Kirana terasa lebih berat, tetapi juga lebih jelas. Rasa hormat bukan utang yang harus dibayar dengan cinta.

Kirana menatap bunga matahari itu. Fajar baik, jujur, dan tidak pernah menggunakan posisinya untuk menekan. Karena itu ia berhak menerima jawaban yang sama jujurnya.

“Terima kasih,” kata Kirana. “Tapi aku tidak bisa menerima bunga ini sebagai tanda cinta.”

Wajah Fajar menegang, lalu kembali tenang. “Karena dia?”

“Karena pilihanku.”

“Berarti kamu memang sudah punya seseorang?”

Kirana tidak menyebut nama. Ia hanya mengangguk.

Suara gumaman menyebar. Kamera merekam anggukan itu, menjadikan rumor pacar misterius hampir sebuah pengakuan.

Fajar menunduk sebentar. “Dia memperlakukanmu dengan baik?”

“Sangat baik.”

“Kalau begitu aku tidak punya alasan untuk mengganggu.” Ia menyerahkan buket kepada Winda. “Bagikan ke kru teater. Jangan dibuang.”

“Terima kasih sudah mengerti,” kata Kirana.

Fajar tersenyum. “Seperti dialog Raka, jangan minta maaf karena akhirnya jujur.”

Sebelum pergi, ia meminta teman-temannya menurunkan ponsel. “Jangan unggah wajahnya dengan caption yang menyudutkan. Ini keputusan pribadi, bukan pertandingan.”

Seorang mahasiswa bertanya apakah ia kecewa.

“Tentu,” jawab Fajar. “Tapi ditolak tidak memberi saya hak untuk mempermalukan orang yang menolak.”

Jawaban itu membuat beberapa orang bertepuk tangan. Kirana akhirnya menerima satu bunga dari buket, bukan sebagai penerimaan cinta, melainkan penghormatan pada cara Fajar menutup perasaannya.

“Untuk Aluna dan Raka,” katanya.

Fajar mengangguk. “Sampai di panggung saja.”

Ia kemudian meminta Winda membagikan bunga lain kepada seluruh kru perempuan dan laki-laki. Dengan satu keputusan itu, simbol pengakuan pribadi berubah menjadi ucapan selamat untuk kerja bersama.

Kerumunan membuka jalan saat sebuah mobil hitam berhenti di tepi plaza. Arya turun dengan map di tangan, seolah kebetulan lewat setelah rapat. Tatapannya bergerak dari Fajar ke bunga.

“Ada kegiatan yang belum terdaftar?” tanyanya.

“Urusan pribadi, Prof,” jawab Fajar.

“Pastikan tidak menghalangi akses gedung.”

Nada Arya formal, tetapi Fajar jelas membaca sesuatu di baliknya. Ia mengangguk pada Kirana, lalu berbalik menuju lapangan bersama teman-temannya.

“Dia sudah menutup urusan dengan baik,” kata Kirana ketika Arya lewat.

“Saya tidak bertanya.”

“Wajah Mas bertanya.”

Arya tidak membalas sampai mereka berada di mobil. Begitu pintu tertutup, ia menoleh.

“Bunga matahari?”

“Sudah diberikan ke kru.”

“Dia menyatakan cinta di depan satu fakultas.”

“Dan aku menolak di depan satu fakultas.”

“Kamu bilang punya seseorang.”

“Memang.”

“Siapa?”

Kirana menahan senyum. “Pacar misterius.”

Arya meraih pinggangnya dan menarik lebih dekat. “Jawaban yang salah.”

“Prof Arya, kita masih di kampus.”

“Kaca gelap.”

“Setelah foto kemarin, aku tidak percaya kaca.”

Arya berhenti, tetapi ibu jarinya tetap mengusap sisi pinggang Kirana. “Saya tidak suka melihat orang lain memberimu bunga.”

“Aku juga tidak suka Diana mendekati Mas.”

“Saya tidak pernah menerima apa pun darinya.”

“Aku juga tidak menerima bunga Fajar.”

“Bagus.”

Kirana menyentuh rahangnya. “Cemburu?”

“Sangat.”

Arya mengeluarkan sebuah benda dari kompartemen mobil. Sebatang cokelat, sedikit penyok karena disimpan terburu-buru.

“Saya tadinya membawa ini untukmu,” katanya.

Kirana menerima dengan tertawa. “Mas mau melawan bunga dengan cokelat minimarket?”

“Saya tidak tahu akan ada kompetisi.”

“Tidak ada kompetisi.”

Ia membuka bungkus dan menyodorkan satu potong kepada Arya. Pria itu menggigit dari jarinya, tatapannya tidak pernah lepas dari wajah Kirana.

“Kalau Mas memberiku bunga setelah ini, aku akan tahu alasannya.”

“Saya akan memberi sesuatu yang tidak bisa disalahartikan.”

“Apa?”

“Tunggu.”

Kejujuran itu menghapus keinginannya menggoda lebih jauh. Ia mencium pipi Arya singkat.

“Aku memilih Mas.”

Arya menahan tengkuknya, tetapi tidak mencium bibir di parkiran. “Mungkin sudah waktunya saya berhenti menjadi pacar misterius.”

Di luar, video penolakan Kirana mulai menyebar. Di dalam mobil, kalimat Arya terdengar seperti janji bahwa tak lama lagi seluruh kampus akan mengetahui siapa orang yang dipilih Kirana.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!