NovelToon NovelToon
The Twentieth Concubine Wants To Survive

The Twentieth Concubine Wants To Survive

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Transmigrasi ke Dalam Novel / Fantasi Timur
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Fresh Tea

Ye Xinyue, mahasiswa hukum tingkat akhir, meninggal karena kelelahan mengerjakan skripsi. Namun, bukannya masuk surga, ia justru terbangun sebagai Selir ke-20 Kaisar Tianyu dalam webtoon *** yang sering dibacanya. Mengetahui bahwa tokoh ini akan mati di tengah perebutan kekuasaan, Xinyue bertekad mengubah takdir. Ia memilih hidup tenang, menjauhi kaisar, politik istana, dan para selir. Sayangnya, rencananya gagal ketika Kaisar Tianyu mulai memperhatikannya. Lebih buruk lagi, alur cerita perlahan berubah: tokoh yang seharusnya mati masih hidup dan kejadian baru bermunculan. Kini Xinyue harus bertahan hidup sambil mencari alasan mengapa kedatangannya telah mengubah seluruh takdir Tianyu dan rahasia besar di balik semuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fresh Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

The Emperor Comes to My Palace

Hujan deras membilas pelataran batu Paviliun Bayangan Salju ketika Xinyue melangkah masuk dengan gaun ungu tuanya yang basah di bagian hem bawah. Suara petir menyambar di kejauhan, memancarkan Kilatan cahaya pendek yang memantul di dinding-dinding porselen dingin.

Di dalam kediamannya, Mingzhu bergegas menyambut dengan raut wajah cemas. "Nona! Apa yang terjadi di Menara Bintang? Mengapa Nona pulang dalam keadaan seperti ini?"

Xinyue melepaskan jubah hitam bertudung yang kuyup, lalu menyerahkannya pada Mingzhu. "Mingzhu, kunci pintu utama. Pastikan tidak ada seorang pun termasuk pengawal bayangan biasa yang mendekati area kamar dalam."

"Nona... apakah Yang Mulia..."

"Pria itu bukan sekadar sekutu," potong Xinyue seraya mendudukkan dirinya di kursi kayu cendana. Matanya menatap tajam ke arah lilin yang bergetar. "Dia adalah pemain catur yang siap memakan pionnya sendiri jika itu membantunya memenangkan permainan. Mulai malam ini, kita tidak hanya harus waspada terhadap racun dari para selir, tapi juga terhadap belati bermuka dua dari takhta emas."

Belum sempat Mingzhu menjalankan perintah untuk mengunci pintu, gema langkah kaki yang berat dan tegas terdengar dari lorong luar. Langkah kaki itu tidak berusaha menyembunyikan diri ringan namun berbobot, diiringi ketukan ujung sarung pedang kekaisaran yang menabrak lantai kayu.

Pintu ukiran Paviliun Bayangan Salju terdorong terbuka.

Zhao Fengting berdiri di ambang pintu. Jubah naga bertinta hitam yang dipakainya agak basah di bagian bahu, tersiram air hujan. Di belakangnya, Han Zuo dan para pengawal pribadi berdiri membelakangi ruangan, membentangkan perimeter ketat yang mengisolasi seluruh Paviliun Bayangan Salju dari dunia luar.

Mingzhu refleks berlutut gemetar di lantai. "Y-Yang Mulia..."

"Keluar, Mingzhu. Tinggalkan kami," perintah Zhao Fengting dengan suara rendah yang berat, penuh dominasi tak terbantahkan.

Mingzhu menatap Xinyue dengan ragu, namun Xinyue memberikan anggukan pelan. "Pergilah ke dapur belakang, Mingzhu."

Setelah pintu tertutup rapat, ruangan itu mendadak terasa begitu sempit. Bau harum kayu cendana bercampur dengan aroma hujan dan hawa dingin yang dibawa oleh Zhao Fengting. Sang Kaisar melangkah perlahan mendekati meja perunggu, menatap Xinyue yang tetap duduk tegak tanpa niat sedikit pun untuk memberi hormat secara formal.

"Kau keluar dari menara tanpa izin, Pengawas Ye," ujar Zhao Fengting, menghentikan langkahnya tepat di sisi meja.

"Menara itu terasa terlalu beracun bagi hamba, Yang Mulia," sahut Xinyue dingin, matanya menatap lurus ke dalam iris gelap sang Kaisar. "Dan hamba sudah cukup berurusan dengan racun sepanjang hari ini."

Zhao Fengting tertawa pelan—sebuah tawa yang renyah namun sama sekali tidak menyentuh matanya. Ia menarik kursi di hadapan Xinyue lalu mendudukkan dirinya dengan santai, menyilangkan satu kaki seolah kediaman selir ini adalah ruang intim pribadinya.

"Kau marah karena aku mengujimu?" tanya Zhao Fengting, memiringkan kepalanya sedikit.

"Hamba tidak marah," jawab Xinyue datar. "Hamba hanya melakukan penyesuaian evaluasi risiko. Hamba mengira kita berada di dalam aliansi saling menguntungkan untuk membersihkan Istana Dalam. Ternyata, hamba hanyalah pisau bedah yang ingin Anda gunakan untuk memotong leher musuh politik Anda tanpa mengotori tangan Anda sendiri."

"Bukankah itu fungsi dari sebuah pisau, Xinyue?" Zhao Fengting memajukan tubuhnya, menopang dagunya dengan satu tangan di atas meja. "Aku memberimu sarung berupa gelar Pengawas Hukum Kerajaan. Aku memberimu ketajaman berupa wewenang audit tanpa batas. Apa salahnya jika aku menentukan arah tebasan pisau itu?"

"Salahnya adalah ketika Anda memoles bukti palsu untuk mengarahkan tebasan itu pada target yang salah," tegas Xinyue, matanya berkilat tajam. "Jika Ibu Suri Agung memang bersalah atas korupsi atau pengkhianatan, hamba akan memenjarakannya berdasarkan fakta forensik yang tak terbantahkan. Namun hamba tidak akan pernah menjadi alat propaganda untuk menjatuhkan seorang pahlawan perang hanya karena Anda takut pada pasukan elit utara yang dikendalikannya."

Keheningan kembali merayap di antara mereka. Suara deras hujan di luar seolah menjadi latar musik bagi konfrontasi dua pikiran paling tajam di kekaisaran tersebut.

Zhao Fengting menatap Xinyue lama. Pesona di wajahnya perlahan memudar, berganti dengan kilatan rasa hormat yang mendalam—dan sesuatu yang jauh lebih berbahaya: rasa kepemilikan.

"Kau benar-benar berbeda dari semua wanita yang pernah memasuki istana ini," bisik Zhao Fengting lembut. Jemari panjangnya terulur di atas meja, melingkari pergelangan tangan Xinyue dengan cengkeraman yang hangat namun posesif. "Wanita lain akan berlutut memohon perlindunganku saat tahu ada racun di makanan mereka. Wanita lain akan dengan senang hati memalsukan dokumen apa pun demi menyenangkan hatiku dan mendapatkan gelar Permaisuri."

Xinyue mencoba menarik pergelangan tangannya, namun genggaman Zhao Fengting terlalu kuat dan mantap.

"Tapi kau..." lanjut Zhao Fengting, suaranya makin merendah hingga menyerupai bisikan beracun yang memikat, "kau menatap mataku dan menyebut tindakan kaisarmu sebagai tirani. Kau lebih takut pada kebohongan hukum daripada kematian itu sendiri."

"Lepaskan tangan hamba, Yang Mulia," ujar Xinyue dengan nada penuh peringatan.

"Bagaimana jika aku tidak mau?" Zhao Fengting berdiri perlahan, memutari meja tanpa melepaskan genggamannya, memaksa Xinyue ikut berdiri menghadapnya. Sang Kaisar menundukkan kepala, memangkas jarak di antara wajah mereka hingga Xinyue bisa merasakan helaan napas hangat pria itu di kulit pipinya.

"Kau bilang kau tidak berniat menjadi boneka politikku, Ye Xinyue," tutur Zhao Fengting dengan kelembutan yang mematikan. "Tapi bagaimana jika aku menawarkan kesepakatan baru? Bukan sebagai master dan pion... tapi sebagai dua penguasa yang berjalan bersisian?"

Xinyue merasakan jantungnya berdegup kencang, menolak terpesona oleh paras tampan dan aura memikat dari pria paling berkuasa di negeri ini. Ia menyunggingkan senyum dingin.

"Tawaran yang sangat menggiurkan, Yang Mulia," bisik Xinyue, mengangkat tangan kirinya dan menancapkan ujung kuku jarinya tepat di atas dada kiri Zhao Fengting—tepat di mana jantung sang Kaisar berdetak. "Tapi hamba punya aturan pertama dalam bisnis forensik dan hukum."

"Apa itu?" tanya Zhao Fengting, alisnya terangkat sedikit.

"Jangan pernah mempercayai pria yang menyimpan belati di balik senyumannya," sahut Xinyue tajam. "Jika Anda ingin hamba membongkar jaringan Matahari Hitam yang sebenarnya bukan versi rekayasa Anda maka biarkan hamba bekerja dengan caraku sendiri. Tanpa dokumen palsu. Tanpa manipulasi."

Zhao Fengting menatap Xinyue selama beberapa detik yang terasa menyiksa. Lalu, perlahan-lahan, ia melepaskan cengkeramannya dari pergelangan tangan Xinyue. Sang Kaisar mundur satu langkah, merapikan lengan baju kebesarannya seraya tertawa rendah penuh kepuasan.

"Baiklah, Pengawas Ye," ujar Zhao Fengting, matanya berkilat penuh antisipasi game politik yang makin liar. "Aku berikan kau waktu satu minggu. Buktikan siapa pimpinan sebenarnya dari Matahari Hitam dengan caramu sendiri. Tapi jika dalam satu minggu kau gagal menemukan bukti nyata... kau harus tunduk pada rencanaku untuk Faksi Utara."

"Deal," sahut Xinyue tanpa ragu sedikit pun.

Zhao Fengting berbalik melangkah menuju pintu. Sebelum melangkah keluar ke tengah guyuran hujan, ia menoleh sedikit ke arah Xinyue. "Selamat tidur, Selir ke-20ku. Jangan biarkan racun lain mengganggu tidurmu malam ini."

Pintu tertutup rapat. Xinyue menghela napas panjang, mengusap pergelangan tangannya yang masih memerah bekas genggaman Zhao Fengting. Ia tahu, pertempuran sebenarnya baru saja dimulai.

1
Raizel_0511
crazy up kk,semangat,sehat selalu💪💪💪😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!