Melalui dinding yang seolah lenyap itu, Chen bisa melihat dengan sangat jelas interior kamar Mei. Dan yang membuat jantungnya hampir melompat keluar dari dada adalah, ia bisa melihat area kamar mandi kecil di dalam sana. Pintu kamar mandinya pun tembus pandang.
Di dalam sana, Mei sedang berdiri di bawah kucuran air shower. Tanpa sehelai pakaian pun.
Chen terpaku di tempatnya, tenggorokannya mendadak kering. Setiap lekuk tubuh tetangganya itu, bulir-bulir air yang mengalir di kulitnya, bahkan warna rambutnya yang basah terlihat dengan detail yang luar biasa jernih. Kemampuan matanya seolah menembus batas ruang dan privasi yang ada.
Chen buru-buru menutup kedua matanya dengan telapak tangan, napasnya memburu, dan wajahnya memerah padam sampai ke telinga.
“A-apa yang terjadi dengan mataku?!” batin Chen menjerit panik sekaligus tidak percaya. “Apakah kakek semalam… benar-benar nyata?”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Undangan Tak Terduga di Penghujung Malam
...KLIK TOMBOL LIKE DAN VOTE YA GAN 😎...
Suara gemercik air di dalam kamar mandi akhirnya berhenti. Tak berselang lama, pintu terbuka dan Mei melangkah keluar dengan handuk yang melilit tubuhnya. Pikirannya tampaknya sedang melantur, fokus pada helai-helai pakaian yang hendak ia pilih di lemari.
Mei baru saja melepas lilitan handuknya ketika sekelebat bayangan di sudut kamar menyentak kesadarannya. Detik itu juga, matanya menangkap sosok Chen yang sedang duduk kaku. Mei membeku. Ia benar-benar lupa kalau ada Chen di dalam kamarnya!
"Aaah!" Mei terpekik kecil, wajahnya seketika merona merah padam hingga ke leher. Dengan perasaan malu dan canggung yang luar biasa, ia menyambar kembali handuknya dan berlari tunggang-langgang masuk ke dalam kamar mandi, lalu membanting pintunya.
Chen sendiri tidak kalah terkejut. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Karena tidak ingin membuat Mei merasa semakin canggung dan tertekan, Chen segera berdiri dari kursinya dan melangkah cepat menuju pintu keluar.
"Mei... aku tunggu di luar, ya," sahut Chen setengah berteriak agar terdengar sampai ke dalam kamar mandi.
Ia menutup pintu kamar kos Mei dengan rapat, lalu bersandar di dinding lorong sambil mengembuskan napas panjang.
Beruntung, ia berhasil menahan kekuatan matanya agar tidak aktif secara tidak sengaja pada saat-saat krusial seperti tadi.
Kecantikan di Balik Rasa Malu
Hampir dua puluh menit berlalu sebelum pintu kamar kos itu kembali terbuka. Mei melangkah keluar dengan pakaian terbaiknya. Wajahnya masih menyisakan rona merah akibat kejadian tadi, tetapi sapuan riasan tipis di wajahnya justru membuat gadis itu terlihat berlipat ganda lebih menawan.
"Chen... maafkan aku atas kejadian tadi, ya. Aku benar-benar tidak ada maksud lain," ujar Mei lirih, menunduk karena masih merasa malu.
"Tidak usah khawatir, Mei. Aku juga tidak melihat apa-apa tadi," jawab Chen lembut sembari melemparkan senyuman hangat untuk menenangkan hati gadis itu. Tak ingin suasana menjadi kaku, Chen memberanikan diri untuk menggoda,
"Lagipula, kau kelihatan begitu cantik hari ini, Mei."
Mendengar pujian itu, Mei mendongak. Rasa canggungnya sedikit mengikis, digantikan oleh binar jahil di matanya. "Oh, jadi maksudmu sebelum-sebelumnya aku tidak cantik, nih?" balas Mei dengan senyuman manis yang justru menambah pesonanya.
Chen terkekeh pelan. "Bukan begitu maksudku..."
Tawa mereka pecah di lorong kos yang sempit itu, mencairkan seluruh sisa kecanggungan yang ada. Tanpa membuang waktu lagi, mereka segera berangkat menuju balai kota untuk menghabiskan hari bersama.
Gangguan di Detik-Detik Krusial
Waktu bergulir begitu cepat ketika dilewati bersama orang yang disukai. Malam pun tiba saat Chen dan Mei akhirnya menapakkan kaki kembali di halaman kos mereka.
Kebahagiaan terpancar jelas dari wajah keduanya; tawa dan obrolan sepanjang hari di pusat kota benar-benar membuat mereka melupakan sejenak penatnya kehidupan.
Langkah mereka terhenti tepat di depan pintu masuk. Suasana malam yang sunyi dan temaramnya lampu halaman menciptakan atmosfer yang mendukung. Chen menatap Mei lekat-lekat.
Tangannya mengepal pelan di dalam saku celana. “Sekarang saatnya,” batin Chen memantapkan tekad. Ia ingin mengungkapkan perasaan cinta yang selama ini ia pendam dalam diam.
"Mei, sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku katakan kepadamu sejak lama..." Chen memulai kalimatnya dengan nada serius.
Mei menoleh, menatap Chen dengan mata bulatnya yang jernih, menunggu kelanjutan kalimat itu.
Namun, tepat ketika Chen baru saja menghirup napas untuk melontarkan isi hatinya, keheningan malam pecah oleh suara dering nyaring dari saku celananya.
Drrr... Drrr...
Chen mengumpat dalam hati. Ia mengeluarkan ponsel retaknya dan melihat nama penelpon. Liu.
"Halo, Chen!" suara nyaring Liu langsung terdengar begitu panggilan diangkat, tanpa memberi celah bagi Chen untuk menyapa. "Ini dengan Liu. Besok aku ingin mengundangmu mengikuti acara lelang yang akan diadakan di hotel milikku. Besok akan ada asistenku yang langsung menjemputmu di tempatmu. Sampai jumpa besok!"
Klik.
Tanpa menunggu jawaban atau persetujuan dari Chen, Liu langsung mematikan sambungan ponselnya begitu saja.
Chen melongo menatap layar ponselnya yang kembali gelap.
"Dasar orang ini... bertingkah seenaknya saja," gumam Chen menggeleng-gelengkan kepala, sedikit kesal karena momentumnya dihancurkan begitu saja oleh sang sahabat baru.
Chen memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku dan berbalik ke arah Mei, berniat melanjutkan ungkapan perasaannya yang sempat tertunda. "Maaf, Mei. Jadi yang mau kukatakan tadi—"
"Chen, maaf ya," potong Mei pelan sambil menutup mulutnya yang menguap kecil. Wajahnya memang menyiratkan guratan lelah yang amat sangat setelah berjalan seharian. "Aku merasa capek sekali malam ini. Aku masuk ke kamar duluan untuk istirahat, ya. Terima kasih banyak untuk hari ini."
Mei tersenyum manis, lalu berbalik dan melangkah masuk ke dalam kos, meninggalkan Chen yang terpaku di halaman.
Chen hanya bisa menghela napas panjang, menatap punggung Mei yang perlahan menghilang di balik pintu. Ungkapan perasaannya terpaksa harus disimpan lagi untuk lain waktu.
Namun, fokusnya kini juga terbagi pada undangan misterius dari Liu. Acara lelang di hotel mewah... tempat yang sangat cocok untuk menguji seberapa jauh sepasang mata barunya bisa melihat harta karun yang tersembunyi.
...KLIK TOMBOL LIKE DAN VOTE YA GAN 😎...
👍😁